Naura Diva Triwardani
Pendahuluan
Pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan, pola pikir kritis, serta kesiapan dalam menghadapi dunia kerja. Dalam era globalisasi seperti sekarang, kualitas pendidikan menjadi salah satu faktor penentu kemajuan suatu negara. Permasalahan kesenjangan pendidikan ini memiliki relevansi yang kuat dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Melalui momentum tersebut, masyarakat diingatkan akan pentingnya pemerataan fasilitas dan kualitas pendidikan bagi seluruh mahasiswa di Indonesia. Pada realitanya, kesenjangan yang cukup signifikan masih terjadi. Sangat terlihat perbedaan antara perguruan tinggi di kota dengan daerah terpencil. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dari segi fasilitas, tetapi juga dari kualitas pendidikan yang dihasilkan. Perguruan tinggi di kota cenderung lebih maju karena didukung adanya sarana dan prasarana yang memadai, sementara di daerah terpencil masih menghadapi berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi di kota memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan di daerah terpencil karena didukung oleh fasilitas yang lebih lengkap dan akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber belajar.
Isi
Salah satu
elemen utama yang membedakan perguruan tinggi di kota dan daerah terpencil
adalah sarana pendidikan yang ada. Universitas di daerah perkotaan umumnya
menyediakan fasilitas yang modern dan lengkap, seperti laboratorium dengan
peralatan mutakhir, ruang kelas yang nyaman, perpustakaan dengan koleksi buku
beragam, serta akses internet yang cepat dan andal. Fasilitas itu sangat
membantu proses pembelajaran karena mahasiswa dapat dengan mudah mengakses
berbagai informasi, baik secara langsung maupun melalui media digital. Selain
itu, suasana yang teratur di perguruan tinggi juga menghasilkan atmosfer
belajar yang mendukung. Di sisi lain, universitas di lokasi terpencil sering
kali menghadapi kekurangan sarana. Sebagian perguruan tinggi masih mengalami
kekurangan ruang belajar yang memadai, fasilitas praktikum yang cukup, dan
akses internet yang stabil. Situasi ini sangat mempengaruhi proses pembelajaran
yang tidak maksimal. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan
oleh Rashanta, dkk. (2025), bahwa sebanyak 92,8% responden beranggapan
fasilitas pendidikan yang ada belum seluruhnya merata. Oleh karena itu, sarana
pendidikan memiliki dampak yang signifikan terhadap mutu proses belajar
mengajar.
Selain
fasilitas, kualitas pengajar juga merupakan faktor krusial dalam menetapkan
standar pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Perguruan tinggi di kota umumnya
memiliki pengajar dengan kualifikasi akademis yang tinggi dan pengalaman lebih
luas dalam bidangnya. Sebagian besar dari mereka terlibat dalam penelitian,
penerbitan ilmiah, dan berbagai aktivitas akademik lainnya. Mereka pun
mendapatkan akses yang lebih mudah untuk berpartisipasi dalam pelatihan,
seminar, dan konferensi, baik di tingkat lokal maupun global. Ini memungkinkan
pengajar untuk terus meningkatkan keterampilan dan memperbarui pengetahuan
mereka yang sejalan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, institusi pendidikan
tinggi di wilayah terpencil sering mengalami kekurangan dalam jumlah tenaga
pengajarnya. Jumlah dosen yang ada umumnya lebih sedikit, dan peluang untuk
mengikuti pengembangan profesional juga lebih terbatas. Keadaan ini
mempengaruhi mutu pembelajaran yang diperoleh oleh mahasiswa. Materi yang
disajikan mungkin kurang bervariasi dan tidak selalu sesuai dengan perkembangan
terkini. Karena itu, kualitas pengajar memiliki dampak besar terhadap kualitas
pendidikan secara umum
Dalam era
digital saat ini, teknologi memainkan peran yang sangat krusial dalam bidang
pendidikan. Perguruan tinggi di kota umumnya memiliki akses yang lebih baik
terhadap teknologi dan data. Mahasiswa bisa menggunakan berbagai platform
belajar digital, jurnal ilmiah daring, serta sumber-sumber belajar lain yang
banyak tersedia di internet. Selain itu, penerapan teknologi dalam pendidikan,
seperti kelas online dan sistem manajemen pembelajaran, juga telah menjadi hal
yang biasa. Ini mendukung mahasiswa untuk belajar dengan cara yang lebih
fleksibel dan mandiri. Sebaliknya, institusi perguruan tinggi di wilayah
terpencil masih menghadapi berbagai tantangan terkait akses teknologi. Koneksi
internet yang tidak stabil atau lambat seringkali menjadi penghalang utama. Menurut
Wijayanti, dkk. (2024), kurangnya akses terhadap teknologi dan internet di
banyak daerah menambah kesenjangan digital, memperburuk ketidaksetaraan
pendidikan di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, mahasiswa di wilayah terpencil
mengalami kendala dalam memperoleh informasi yang terkini dan sesuai dengan
kemajuan pengetahuan. Sehingga, akses terhadap teknologi dan informasi
merupakan elemen krusial yang mempengaruhi mutu pendidikan.
Institusi
perguruan tinggi di kota juga menyediakan lebih banyak kesempatan bagi
mahasiswa untuk tumbuh di luar aktivitas akademis. Mahasiswa dapat
berpartisipasi dalam berbagai aktivitas seperti seminar, lokakarya, pelatihan,
dan program magang di berbagai perusahaan atau lembaga. Di samping itu, mereka
juga bisa mengembangkan jaringan profesional yang luas melalui berbagai acara
organisasi dan komunitas. Lingkungan yang penuh dinamika ini menawarkan
pengalaman belajar yang lebih variatif dan mendukung mahasiswa untuk bersiap
menghadapi dunia kerja. Sebaliknya, mahasiswa di kawasan terpencil mengalami
kesulitan dalam mendapatkan kesempatan tersebut. Tempat yang terpencil dari
pusat aktivitas ekonomi dan pendidikan menjadikan akses ke berbagai kegiatan
pengembangan diri semakin sulit. Kegiatan akademik yang ada juga cenderung
lebih sedikit. Akibatnya, pengalaman belajar mahasiswa tidak seoptimal
mahasiswa di perkotaan. Oleh sebab itu, kesempatan dan pengalaman yang diraih
mahasiswa juga merupakan faktor yang memengaruhi mutu pendidikan
Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang cukup signifikan antara universitas di kota dan daerah terpencil,
terutama dalam aspek sarana prasarana dan mutu pendidikan. Perguruan tinggi di
kota umumnya lebih baik karena didukung oleh fasilitas yang memadai, pengajar
yang berkualitas, serta akses lebih luas terhadap teknologi dan berbagai
kesempatan untuk pengembangan diri. Di sisi lain, perguruan tinggi di wilayah
terpencil masih mengalami berbagai kendala yang berdampak pada mutu pendidikan
yang disajikan. Oleh sebab itu, diperlukan usaha yang serius untuk meratakan
fasilitas dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh daerah. Pendidikan yang
berkualitas harus menjadi hak bagi setiap mahasiswa, bukan hanya bagi mereka
yang berada di daerah perkotaan. Pemerintah serta pihak-pihak terkait harus
berkolaborasi untuk menjamin bahwa semua mahasiswa, tanpa melihat lokasi,
memiliki kesempatan setara untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Dengan cara demikian, kesenjangan dalam pendidikan bisa diminimalkan dan
kualitas manusia di Indonesia dapat berkembang secara merata
Referensi
Rashanta, A. R., Fadhil, A., Sehabudin, I., Matanah, M. Al,
& Najmuddin, M. F. (2025). Jurnal Penelitian Nusantara Pandangan
Masyarakat Terhadap Pendidikan Di Indonesia Menulis : Jurnal Penelitian
Nusantara. 1(2021), 163–168.
Wijayanti, A., Darmawan,
A. W., & Marwan, I. (2024). Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Indonesia :
Kesenjangan Pendidikan. 2(3), 187–192.
.png)
0 Comments