Kartika setiati
Pendahuluan
Kita sedang berada di
sebuah titik balik sejarah di mana dunia terasa melipat. Kemajuan teknologi
informasi telah melahirkan era yang memaksa setiap individu untuk terhubung
dengan realitas global secara instan. Hanya melalui layar ponsel di genggaman,
masyarakat Indonesia kini dapat mengonsumsi tren, gaya hidup, hingga
nilai-nilai dari belahan bumi lain mulai dari budaya pop Korea hingga gaya
hidup liberal Amerika Serikat hanya dalam hitungan detik. Fenomena ini
menciptakan paradoks; di satu sisi kita menjadi warga dunia yang sangat
terhubung, namun di sisi lain, kita sedang berdiri di tepi jurang krisis
identitas yang mengkhawatirkan.
Risiko terbesar yang
kita hadapi saat ini bukanlah sekadar masuknya pengaruh asing ke dalam ruang
domestik, melainkan memudarnya kemampuan kita dalam menyaring (filtering)
informasi tersebut. Tanpa adanya saringan yang kuat, masyarakat cenderung
menyerap budaya luar secara mentah-mentah dan kehilangan daya kritis untuk
membedakan mana yang memperkaya diri dan mana yang justru mengikis jati diri
asli. Jika dibiarkan, kita tidak lebih dari sekadar "peniru" atau
bayang-bayang dari tren luar yang tidak memiliki akar. Kita akan menjadi bangsa
yang maju secara teknologi namun hampa secara jiwa karena kehilangan
keterikatan dengan tanah airnya sendiri.
Di sinilah urgensi
literasi budaya menjadi sangat vital. Literasi budaya tidak boleh lagi dimaknai
secara sempit sebagai upaya menghafal nama-nama tarian atau benda-benda di
museum yang sering kali dianggap membosankan oleh generasi muda. Sebaliknya,
literasi budaya adalah sebuah kecakapan hidup (life skill) untuk memahami,
menghargai, dan mengaktualisasikan warisan leluhur ke dalam konteks kekinian.
Ia adalah instrumen yang memungkinkan kita untuk mengadopsi kemajuan zaman
tanpa harus menanggalkan nilai-nilai moral dan etika yang telah diwariskan
secara turun-temurun.
Isi
Di
era sekarang, kita hidup di dunia yang serba cepat. Lewat HP, kita bisa melihat
gaya hidup orang dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Tapi,
sadar atau tidak, kemudahan ini membuat kita berisiko kehilangan jati diri.
Masalahnya bukan soal masuknya budaya luar, tapi bagaimana kita menyaringnya
supaya identitas kita nggak hilang. Di sinilah pentingnya literasi budaya,
yaitu cara kita memahami dan mencintai warisan leluhur agar tetap bisa tegak
berdiri di tengah arus globalisasi.
Strategi
kedua yang paling efektif dimulai dari sekolah, tapi caranya jangan terlalu
kaku. Mengacu pada penelitian di Jurnal Obsesi (2022) oleh Pradana dkk.,
belajar budaya itu paling menyenangkan lewat praktik langsung atau proyek
nyata. Bayangkan kalau di pelajaran sekolah kita diajak melihat gimana hebatnya
rumah adat tahan gempa atau gimana pola batik punya hitungan matematika yang
rumit. Kalau kita tahu bahwa nenek moyang kita itu cerdas, rasa bangga bakal
muncul sendiri. Kita nggak perlu lagi dipaksa buat cinta budaya, karena kita
sudah kagum duluan.
Selain
sekolah, kita juga harus "perang" di media sosial. Hampir semua waktu
kita habis di depan layar. Sejalan dengan temuan di Jurnal Komunikasi ISKI
(2023) oleh Saputra dkk., kita perlu membawa budaya ke platform digital dengan
cara yang asyik. Misalnya, membuat video pendek yang estetik soal kuliner lokal
atau pakai teknologi Virtual Reality buat jalan-jalan ke candi. Budaya harus
terlihat "keren" di mata anak muda. Kalau kita bisa membuat konten
yang menarik, budaya kita nggak bakal dianggap kuno, tapi justru jadi
kebanggaan yang dipamerkan ke seluruh dunia.
Lebih
jauh lagi, paham budaya sendiri sebenarnya bisa jadi modal buat cari uang dan
berkarya. Dalam artikel di Jurnal Kebijakan Publik (2024) karya Wulandari,
dijelaskan kalau industri kreatif yang sukses itu biasanya yang punya ciri
khas. Kalau kita paham budaya kita secara mendalam, kita bisa membuat produk,
film, atau musik yang unik dan nggak bisa dibuat oleh orang luar negeri. Inilah
yang bikin kita punya daya saing tinggi. Kita tidak cuma jadi penonton
kesuksesan orang lain, tapi jadi pemain yang membawa nama Indonesia ke level
dunia.
Penutup
Sebagai
penutup, globalisasi itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi ombak yang
harus kita selancari. Kita tidak perlu menutup diri dari dunia luar, tapi kita
butuh "jangkar" yang kuat supaya nggak terbawa arus. Seperti yang
banyak dibahas dalam jurnal-jurnal terbaru, bangsa yang hebat adalah yang
berani maju tapi tetap ingat dari mana mereka berasal. Dengan literasi budaya
yang kuat, kita bisa bilang ke dunia bahwa kita adalah bagian dari warga
global, tapi tetap punya gaya dan karakter Indonesia yang tak tergantikan.
Daftar Pustaka
Hidayat, dkk. (2023). Literasi budaya di era adaptasi: Kemampuan
adaptasi tanpa membuang nilai lokal.
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora.
Pradana, dkk. (2022). Strategi pembelajaran budaya berbasis proyek dan
praktik langsung di sekolah. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.
Saputra, dkk. (2023). Representasi budaya lokal melalui platform digital
dan media sosial. Jurnal Komunikasi ISKI.
Wulandari. (2024). Peran pemahaman budaya dalam meningkatkan daya saing
industri kreatif nasional. Jurnal Kebijakan Publik.
.png)
0 Comments