Sayidatul Muflicha
Pendahuluan
Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan hanya seremoni
tahunan, tetapi momen refleksi tentang arah pendidikan yang sedang kita jalani.
Dalam realitas saat ini, pendidikan sering kali lebih menekankan pada capaian
akademik dan penguasaan teknologi, sementara nilai-nilai budaya perlahan mulai
terpinggirkan. Padahal, pendidikan yang baik bukan hanya mencetak individu
cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki identitas dan karakter yang kuat.
Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak zaman sekarang
lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan dengan budaya daerahnya sendiri.
Lagu daerah mulai jarang dinyanyikan, permainan tradisional tergantikan oleh
gawai, dan cerita rakyat mulai terlupakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada
jarak yang semakin lebar antara generasi muda dan akar budayanya. Jika kondisi
ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan identitas sebagai
bangsa yang kaya akan budaya.
Dalam konteks tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua,
Membangun Banjar Sejahtera”, pendidikan seharusnya menjadi jembatan yang
menghubungkan kemajuan zaman dengan kearifan lokal. Artinya, pendidikan tidak
boleh meninggalkan budaya, melainkan harus menjadikannya sebagai fondasi utama
dalam proses pembelajaran.
Isi
Pendidikan berbasis budaya lokal bukan sekadar wacana,
tetapi kebutuhan yang mendesak. Budaya lokal mengandung nilai-nilai luhur
seperti gotong royong, rasa hormat, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang
sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Ki Hadjar Dewantara menegaskan
bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa sendiri agar mampu
membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin
Dalam praktiknya, integrasi budaya lokal dapat dimulai
dari hal-hal sederhana, terutama dalam pendidikan anak usia dini. Misalnya,
melalui kegiatan bercerita tentang legenda daerah, mengenalkan permainan
tradisional, atau menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari.
Pendekatan ini terasa lebih dekat dan bermakna bagi anak karena mereka belajar
dari lingkungan yang mereka kenal. Selain itu, pembelajaran seperti ini juga
lebih menyenangkan dan tidak membebani anak secara kognitif.
Saya percaya bahwa pengalaman belajar yang dekat dengan
kehidupan anak akan lebih mudah melekat. Ketika anak diajak bermain permainan
tradisional bersama teman-temannya, sebenarnya mereka sedang belajar tentang
kerja sama, kejujuran, dan sportivitas. Nilai-nilai ini sering kali tidak
didapatkan jika anak hanya berinteraksi dengan layar gawai. Hal ini sejalan
dengan pandangan bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan seluruh aspek
perkembangan anak, tidak hanya intelektual tetapi juga sosial dan emosional
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa belum semua
pendidik mampu mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran. Banyak guru
yang masih fokus pada target kurikulum tanpa mengaitkannya dengan konteks
kehidupan peserta didik. Padahal, pembelajaran yang kontekstual justru lebih
efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa
Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran yang tidak
kalah penting. Orang tua adalah lingkungan pertama bagi anak dalam mengenal
nilai-nilai kehidupan. Jika di rumah anak sudah terbiasa diperkenalkan dengan
budaya lokal, maka sekolah hanya tinggal memperkuat dan mengembangkannya. Namun,
jika keluarga abai, maka pendidikan di sekolah akan berjalan lebih berat. Hal
ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah,
keluarga, dan masyarakat
Menariknya, di era digital saat ini, budaya lokal justru
memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui teknologi. Media sosial,
video pembelajaran, hingga aplikasi edukasi dapat menjadi sarana untuk
memperkenalkan budaya secara lebih luas dan menarik. Dengan pendekatan yang
kreatif, generasi muda tidak akan merasa bahwa budaya itu kuno, tetapi justru
bangga dan ingin melestarikannya.
Dengan demikian, kunci dari pendidikan masa kini bukan
memilih antara modernitas atau budaya, tetapi bagaimana mengintegrasikan
keduanya secara harmonis. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman
sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Kesimpulan
Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang tidak
tercerabut dari akar budayanya. Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2026,
sudah saatnya kita kembali menegaskan bahwa budaya lokal bukan penghambat
kemajuan, melainkan kekuatan yang harus dijaga dan dikembangkan.
Melalui integrasi budaya dalam pembelajaran, anak-anak
tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga memiliki karakter dan identitas yang
kuat. Mereka akan tumbuh sebagai generasi yang tidak mudah terpengaruh oleh
arus globalisasi karena memiliki pegangan nilai yang jelas.
Bagi saya, menjaga budaya melalui pendidikan adalah
bentuk tanggung jawab bersama. Mulai dari hal kecil, dari lingkungan terdekat,
dan dari kesadaran diri bahwa apa yang kita ajarkan hari ini akan menentukan
seperti apa generasi di masa depan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan
hanya tentang masa kini, tetapi tentang masa depan yang sedang kita siapkan.
Referensi
Annisa,
A. N., Ismail, M. S., & Mabruri. (2024). Pendidikan Karakter Persepektif
Thomas Lickona (Analisis Nilai Islami Dalam Buku Educating for Character). El-Madib:
Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 4(1).
https://doi.org/10.51311/el-madib.v4i1.611
Arifin. (2018). Ki Hadjar Dewantara.
Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1962),
hlm. 14. Journal of Materials Processing Technology, 1(1).
Laksitarini,
N. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Terpadu Dan Kemandirian Belajar
Terhadap Kemampuan Menulis Deskripsi. Jurnal Pendidikan Dasar, 7(2).
Mashuri, Jailani, M. S., & Isma, A.
(2024). Perubahan Sosial dan Pendidikan. Dirasah : Jurnal Studi Ilmu Dan
Manajemen Pendidikan Islam, 7(2).
https://doi.org/10.58401/dirasah.v7i2.1299
Suyadi. (2010). Psikologi Belajar PAUD. Jurnal
Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 1(1).
.png)
0 Comments