BELAJAR DARI AKAR: Menjaga Budaya Lokal Di Tengah Arus Pendidikan Modern

Sayidatul Muflicha

Pendahuluan

Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momen refleksi tentang arah pendidikan yang sedang kita jalani. Dalam realitas saat ini, pendidikan sering kali lebih menekankan pada capaian akademik dan penguasaan teknologi, sementara nilai-nilai budaya perlahan mulai terpinggirkan. Padahal, pendidikan yang baik bukan hanya mencetak individu cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki identitas dan karakter yang kuat.

Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan dengan budaya daerahnya sendiri. Lagu daerah mulai jarang dinyanyikan, permainan tradisional tergantikan oleh gawai, dan cerita rakyat mulai terlupakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada jarak yang semakin lebar antara generasi muda dan akar budayanya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan identitas sebagai bangsa yang kaya akan budaya.

Dalam konteks tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera”, pendidikan seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan kemajuan zaman dengan kearifan lokal. Artinya, pendidikan tidak boleh meninggalkan budaya, melainkan harus menjadikannya sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran.

Isi

Pendidikan berbasis budaya lokal bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan yang mendesak. Budaya lokal mengandung nilai-nilai luhur seperti gotong royong, rasa hormat, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa sendiri agar mampu membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin (Arifin, 2018).

Dalam praktiknya, integrasi budaya lokal dapat dimulai dari hal-hal sederhana, terutama dalam pendidikan anak usia dini. Misalnya, melalui kegiatan bercerita tentang legenda daerah, mengenalkan permainan tradisional, atau menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Pendekatan ini terasa lebih dekat dan bermakna bagi anak karena mereka belajar dari lingkungan yang mereka kenal. Selain itu, pembelajaran seperti ini juga lebih menyenangkan dan tidak membebani anak secara kognitif.

Saya percaya bahwa pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak akan lebih mudah melekat. Ketika anak diajak bermain permainan tradisional bersama teman-temannya, sebenarnya mereka sedang belajar tentang kerja sama, kejujuran, dan sportivitas. Nilai-nilai ini sering kali tidak didapatkan jika anak hanya berinteraksi dengan layar gawai. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak, tidak hanya intelektual tetapi juga sosial dan emosional (Suyadi, 2010).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa belum semua pendidik mampu mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran. Banyak guru yang masih fokus pada target kurikulum tanpa mengaitkannya dengan konteks kehidupan peserta didik. Padahal, pembelajaran yang kontekstual justru lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa (Laksitarini, 2016). Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kompetensi guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan budaya sebagai sumber belajar.

Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Orang tua adalah lingkungan pertama bagi anak dalam mengenal nilai-nilai kehidupan. Jika di rumah anak sudah terbiasa diperkenalkan dengan budaya lokal, maka sekolah hanya tinggal memperkuat dan mengembangkannya. Namun, jika keluarga abai, maka pendidikan di sekolah akan berjalan lebih berat. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Annisa et al., 2024).

Menariknya, di era digital saat ini, budaya lokal justru memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui teknologi. Media sosial, video pembelajaran, hingga aplikasi edukasi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya secara lebih luas dan menarik. Dengan pendekatan yang kreatif, generasi muda tidak akan merasa bahwa budaya itu kuno, tetapi justru bangga dan ingin melestarikannya. (Mashuri et al., 2024) menyebutkan bahwa pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Dengan demikian, kunci dari pendidikan masa kini bukan memilih antara modernitas atau budaya, tetapi bagaimana mengintegrasikan keduanya secara harmonis. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Kesimpulan

Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang tidak tercerabut dari akar budayanya. Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2026, sudah saatnya kita kembali menegaskan bahwa budaya lokal bukan penghambat kemajuan, melainkan kekuatan yang harus dijaga dan dikembangkan.

Melalui integrasi budaya dalam pembelajaran, anak-anak tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga memiliki karakter dan identitas yang kuat. Mereka akan tumbuh sebagai generasi yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi karena memiliki pegangan nilai yang jelas.

Bagi saya, menjaga budaya melalui pendidikan adalah bentuk tanggung jawab bersama. Mulai dari hal kecil, dari lingkungan terdekat, dan dari kesadaran diri bahwa apa yang kita ajarkan hari ini akan menentukan seperti apa generasi di masa depan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang masa kini, tetapi tentang masa depan yang sedang kita siapkan.

Referensi

Annisa, A. N., Ismail, M. S., & Mabruri. (2024). Pendidikan Karakter Persepektif Thomas Lickona (Analisis Nilai Islami Dalam Buku Educating for Character). El-Madib: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 4(1). https://doi.org/10.51311/el-madib.v4i1.611

Arifin. (2018). Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1962), hlm. 14. Journal of Materials Processing Technology, 1(1).

Laksitarini, N. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Terpadu Dan Kemandirian Belajar Terhadap Kemampuan Menulis Deskripsi. Jurnal Pendidikan Dasar, 7(2).

Mashuri, Jailani, M. S., & Isma, A. (2024). Perubahan Sosial dan Pendidikan. Dirasah : Jurnal Studi Ilmu Dan Manajemen Pendidikan Islam, 7(2). https://doi.org/10.58401/dirasah.v7i2.1299

Suyadi. (2010). Psikologi Belajar PAUD. Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 1(1).

 

Post a Comment

0 Comments