Gotong Royong sebagai Napas Pendidikan: Menghidupkan Kembali Nilai Kebersamaan di Tengah Perubahan Zaman

Selsa yulianingsih 

Pendahuluan

Pendidikan senantiasa merupakan jalur utama bagi suatu bangsa dalam merancang masa depan. Akan tetapi, pendidikan tidak hanya menciptakan siswa yang unggul dalam bidang akademis. Pendidikan juga harus membentuk individu yang memiliki kepedulian, mampu bergotong royong, dan siap untuk hidup berdampingan dalam masyarakat. Di Indonesia, nilai yang paling berkaitan erat dengan semangat kebersamaan adalah gotong royong. Nilai ini bukan hanya sekadar warisan tradisi, melainkan juga bagian dari identitas bangsa yang memungkinkan masyarakat Indonesia untuk bertahan dalam berbagai situasi.

Menurut Hanafiah et al 2023, Karakter gotong royong adalah karakter yang mencerminkan sikap saling menghargai dan membantu satu sama lain. Beberapa indikator dari karakter gotong royong meliputi solidaritas yang menunjukkan rasa kebersamaan, saling membantu tanpa pamrih, menghargai, kerjasama dalam menciptakan tujuan bersama, empati terhadap perasaan orang lain, anti terhadap diskriminasi, anti terhadap kekerasan, serta sikap relawan. Penerapan gotong royong dapat dilihat kegiatan belajar seperti diskusi kelompok dan lainnya.

Tema Hari Pendidikan Nasional 2026, yaitu “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera”, menyampaikan pesan bahwa pendidikan harus menciptakan individu yang memiliki kesempatan yang sama, kuat dalam jati diri budaya, serta mampu membangun kehidupan yang lebih sejahtera bagi bersama. Oleh karena itu, subtema Revitalisasi Nilai-Nilai Gotong Royong dalam Dunia Pendidikan sangat penting untuk dipikirkan. Di tengah masyarakat yang semakin mengutamakan kepentingan individu, pendidikan perlu menekankan kembali bahwa keberhasilan yang sesungguhnya tidak hanya tergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kemampuan untuk hidup rukun, saling mendukung, dan bekerjasama.

Pembahasan

Gotong royong dalam bidang pendidikan dapat dipahami sebagai sikap saling membantu untuk mencapai tujuan bersama. Di sekolah, nilai ini terlihat dalam aktivitas kelompok, diskusi di kelas, proyek sosial, menjaga kebersihan lingkungan, serta partisipasi orang tua dan masyarakat dalam membantu proses pembelajaran. Gotong royong memberikan dampak dalam membangun rasa solidaritas dan kebersamaan di antara para siswa. Penelitian Noppitasari et al 2023, mengindikasikan bahwa karakter gotong royong dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan pembelajaran lainnya dapat berkembang melalui kerjasama, rasa peduli, serta kebiasaan berbagi. Dengan kata lain, gotong royong bukan sekadar konsep yang dijelaskan, melainkan perilaku yang perlu dilatih secara terus-menerus.

Namun, kehidupan di era sekarang sering kali membuat nilai-nilai ini tidak terlihat. Banyak pelajar lebih mengenal perangkat elektronik dibandingkan interaksi langsung. Mereka dapat terhubung secara online dengan cepat, tetapi belum tentu terbiasa untuk saling membantu dalam kenyataan. Penelitian tentang perubahan perilaku kerjasama pada siswa menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan pergeseran gaya hidup bisa mengurangi kebiasaan bekerja sama secara langsung. Oleh karena itu, sekolah perlu berfungsi sebagai tempat yang seimbang antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter sosial. Tanpa langkah ini, generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang namun, namun kurang peka terhadap kebutuhan orang lain.

Di sinilah peran guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga teladan dalam membangun budaya kerja sama. Melalui model pembelajaran kooperatif, guru dapat melatih siswa untuk berbagi tugas, menghargai pendapat, dan memecahkan masalah secara bersama. Pembelajaran kolaboratif mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, saling membantu, dan menghargai pendapat. Hal ini juga terlihat pada Profil Pelajar Pancasila yang dapat mengimplemetasikan gotong royong dengan baik melalui perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Ini membuktikan bahwa gotong royong dapat diajarkan secara sistematis, bukan hanya diharapkan muncul secara tiba – tiba dan alami.

Selain dari peran guru, sekolah juga menjadi tempat untuk menanamkan gotong royong nafas pendidikan. Penerapan gotong royong di sekolah dapat dilihat saat siswa membersihkan kelas (piket), menyiapkan acara sekolah, mengikuti proyek sosial, atau membantu teman yang kesulitan belajar. Pengalaman seperti ini jauh lebih teringat dan pasti akan dipraktikan dikehidupan nantinya daripada sekadar nasihat. Dengan kata lain, sekolah yang membiasakan gotong royong sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial.

Selain peran guru dan sekolah, ada juga yang paling berperan dalam hal ini yaitu keluarga dan masyarakat. Anak-anak tidak akan mudah memahami nilai gotong royong jika di rumah mereka hanya melihat sikap individualisme. Karena itu, orang tua perlu memberi teladan melalui kebiasaan saling membantu, berdiskusi, dan terlibat dalam kegiatan sosial. Masyarakat juga perlu menjadi ruang praktik bagi nilai gotong royong agar anak-anak melihat bahwa kebersamaan benar-benar hidup dalam kehidupan nyata. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, gotong royong akan berjalan lebih utuh dan konsisten.

Penutup

Revitalisasi nilai – nilai gotong royong dalam dunia pendidikan merupakan suatu kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Di tengah era modernisasi dan sifat individualisme, sekolah juga perlu menjadi sarana untuk mengembangkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Selain itu peran dari orang tua, guru dan masyarkat juga sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan kembali nilai – nilai gotong royong.

Dengan pendidikan yang menumbuhkan kerja sama, empati dan rasa saling bantu. Generasi muda akan tumbuh dengan mengembangkan nilai – nilai yang terkandung dalam gotong royong, tidak hanya cerdas tetapi juga peduli terhadap sesama. Oleh karena itu, menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam dunia pendidikan adalah langkah untuk menyiapkan masa depan yang lebih beradab, harmonis, dan bermartabat.

Referensi

Hanafiah, D., Martati, B., & Mirnawati, L. B. (2023). Nilai Karakter Gotong Royong Dalam Pendidikan Pancasila Kelas IV di Sekolah Implementasi Dasar. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah7(2), 539-551.

Noppitasari, N., Riyadi, R., & Budiharto, T. (2023). Implementasi profil pelajar pancasila dimensi gotong royong dalam pembelajaran matematika kelas IV sekolah dasar. Didaktika Dwija Indria11(6), 13-17.

Post a Comment

0 Comments