Di era modern ini, fenomena
permasalahan sosial semakin sering terjadi di kehidupan masyarakat. Dari
beberapa faktor yang ada, salah satu
faktor yang mempengaruhinya adalah globalisasi. Globalisasi ini membuat ideologi,
teknologi, bahkan kebudayaan dari luar dapat mengubah tatanan kehidupan
masyarakat. Dampak yang paling terasa adalah kemerosotan moral pada generasi
muda. Hal ini ditandai dengan adanya berbagai pelanggaran dan tindakan
kejahatan seperti pencurian, perkataan kasar, maupun hilangnya rasa hormat
kepada orang yang lebih tua. Penyebab dari adanya tindakan tersebut adalah
karena mereka meniru kebiasaan dan kebudayaan luar yang menyimpang melalui
internet dan media sosial yang sulit dicegah. Kondisi ini menjadi kekhawatiran
bersama, mengingat generasi muda adalah penerus bangsa yang seharusnya memiliki
karakter kuat dan berakar pada nilai-nilai luhur. Di sinilah kearifan lokal
seperti Tri Hita Karana menemukan relevansinya sebagai filosofi hidup yang
telah terbukti membentuk karakter harmonis selama berabad-abad, dan menawarkan
jawaban yang lebih mengakar.
Tri Hita Karana merupakan
falsafah hidup umat Hindu yang membangun sikap hidup seimbang dan harmonis
untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia lahir dan batin. Konsep ini
dikelompokkan ke dalam tiga nilai, yaitu hubungan yang harmonis dengan Tuhan
Yang Maha Esa (Parhyangan), hubungan yang harmonis dengan sesama manusia
(Pawongan), dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan (Palemahan).
Ketiga nilai ini intinya mengajarkan kita untuk menjaga keharmonisan terhadap
sesama, menaati aturan dalam pendidikan, meningkatkan rasa hormat kepada orang
yang lebih tua, menumbuhkan rasa bakti kepada Tuhan, serta mencintai dan
melestarikan alam lingkungan. Dan yang patut diketahui, ketiga nilai ini tidak
berdiri sendiri, melainkan nilai ini saling menopang satu sama lain. Seperti
halnya seseorang yang hubungannya dengan Tuhan baik cenderung lebih mudah
menghormati sesama dan menjaga lingkungannya. Inilah yang menjadikan Tri Hita
Karana relevan sebagai sistem pendidikan karakter yang holistik, bukan parsial.
Parhyangan berarti manusia
sebagai makhluk tertinggi yang memiliki Tri Premana (sabda, bayu, dan idep),
yang artinya kita wajib membayar hutang kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan hal ini
diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah, doa, serta sikap syukur dalam kehidupan
sehari-hari. Pawongan berarti hubungan antar sesama manusia harus dijalin atas
dasar saling asah, saling asih, dan saling asuh sagilik, salunglung sabayantaka
yang bermakna saling menghargai, mengasihi, dan membimbing. Nilai ini
menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, sehingga sikap empati,
toleransi, dan kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan
bermasyarakat. Sedangkan Palemahan berarti manusia tidak pernah lepas dari alam
lingkungannya, sehingga harus selalu menjaga dan memeliharanya, bukan
merusaknya. Melalui ketiga nilai ini, Tri Hita Karana memperkenalkan nilai
religius, sosial, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, demokratis, daya juang,
serta penghargaan terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebutlah yang dibutuhkan
generasi muda untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat kayanya nilai karakter
dalam Tri Hita Karana, muncul pertanyaan penting: bagaimana filosofi ini dapat
diintegrasikan secara nyata ke dalam pendidikan formal? Krena arus globalisasi
sendiri nyatanya telah melunturkan kecintaan remaja terhadap budaya lokal
mereka, padahal yang mereka tidak mengerti, justru di dalamnya terdapat
nilai-nilai kebijaksanaan yang menjadi fondasi pembentukan karakter generasi
muda. Banyak remaja saat ini lebih mengenal budaya asing dibandingkan kearifan
lokal yang sebenarnya jauh lebih kaya makna. Oleh karena itu, nilai-nilai Tri
Hita Karana perlu diintegrasikan ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran,
misalnya melalui diskusi kelas, tugas proyek, maupun pembiasaan sikap
sehari-hari di lingkungan sekolah. Peran guru disini dapat menjadi teladan
dalam menerapkan nilai-nilai tersebut, sementara sekolah dapat menciptakan
budaya yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sehingga siswa tidak hanya
memahami materi akademik tetapi juga dapat menyerap nilai karakter secara alami.
Tri Hita Karana mengajarkan
bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih melalui keseimbangan harmonis
dengan Tuhan, sesama, dan alam. Filosofi ini bukan sekadar warisan budaya masa
lalu, melainkan jawaban nyata atas krisis karakter generasi muda di era globalisasi.
Di tengah arus perubahan yang begitu deras, nilai-nilai yang berakar dari
kearifan lokal inilah yang mampu menjadi penopang bagi identitas dan moral
generasi muda. Oleh karena itu, sudah saatnya para pendidik dan tenaga yang
mengatur para pendidik menjadikan kearifan lokal seperti Tri Hita Karana
sebagai sumber belajar yang setara dengan ilmu pengetahuan modern, karena
karakter yang kuat tidak lahir dari hafalan teori, melainkan dari nilai-nilai
yang telah hidup dan teruji dalam tradisi masyarakat.
Referensi :
Suryawan, I. P. P., Sutajaya, I. M., & Suja, I. W. (2022). Tri Hita Karana sebagai kearifan lokal dalam pengembangan pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Multikultural Indonesia, 5(2), 50-65.
Wijayanti, I. (2021). Kemerosotan nilai moral yang terjadi pada generasi muda di era modern. Sustainability (Switzerland), 11, 1-14.
Sari, N. K., & Puspita, L. D. (2019). Implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Jurnal Dikdas Bantara, 2(1).
Mahendra, PRA, & Kartika, IM (2021). Membangun karakter berlandaskan
Tri Hita Karana dalam perspektif kehidupan global. Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan Undiksha , 9 (2), 423-430.
.png)
0 Comments