Dalam Rangka Hari Pos Dunia dan Hari Surat-Menyurat Sedunia

اﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ، اﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ اﻟَّﺬِي أَوْﺻَﻞَ اﻟْﻤُﻘْﺒِﻠِﻴﻦَ إِﻟَﻴْﻪِ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻪِ إِﻟَﻰ اﻟْﻤَﺮَاﺗِﺐِ اﻟْﻌَﻠِﻴَّﺔِ، وَﺑَﻠَّﻐَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﺮَﻛَﺔِ ﻧَﺒِﻴِّﻪِ ﻛُﻞَّ أُﻣْﻨِﻴَّﺔٍ. وَﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ وَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺒِﻴﺒِﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، اﻟْﻌَﺒْﺪِ اﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ اﻟْﻘَﺎﺋِﻢِ ﺑِﻤَﺎ اﺳْﺘَﻄَﺎعَ ﻣِﻦْ ﺣَﻖِّ اﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ، وَﻋَﻠَﻰ آﻟِﻪِ وَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺧَﻴْﺮِ اﻟْﺒَﺮِﻳَّﺔ.أَﺷْﻬَﺪُ أَنْ ﻻَ إِﻟَﻪَ إِﻻَّ اﻟﻠَّﻪُ وَﺣْﺪَهُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ، وَأَﺷْﻬَﺪُ أَنَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧَﺎ وَﻣَﻮْﻻَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًا ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ وَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﺎﺣِﺐُ اﻷَْﺧْﻼَقِ اﻟﺴَّﻨِﻴَّﺔِ، اﻟَّﺬِي ﻻَ ﻧَﺒِﻲَّ ﺑَﻌْﺪَهُ. أَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ، ﻓَﻴَﺎ ﻋِﺒَﺎدَ اﻟﻠَّﻪِ، أُوﺻِﻴﻨِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻲ وَإِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَى اﻟﻠَّﻪِ، ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎزَ اﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮنَ. ﻗَﺎلَ اﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻪِ اﻟْﻜَﺮِﻳﻢِ: ﺑِﺴْﻢِ اﻟﻠَّﻪِ اﻟﺮَّﺣْٰﻤَﻦِ اﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ وَﻣَﺎ أَرْﺳَﻠْﻨَﺎكَ إِﻻَّ رَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga setiap langkah, perkataan, tulisan, dan pesan yang kita sampaikan menjadi amal saleh yang mendatangkan rida Allah Swt.

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, kita bertepatan dengan peringatan Hari Pos Dunia dan Hari Surat-Menyurat Sedunia. Momentum ini mengajak kita merenungkan betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia. Dahulu, manusia menyampaikan kabar melalui surat yang dibawa kurir dan petugas pos. Kini, pesan dapat dikirim dalam hitungan detik melalui telepon genggam dan media digital.

Namun, jamaah sekalian, kemajuan teknologi tidak selalu menjamin kemajuan akhlak. Pesan dapat terkirim dengan cepat, tetapi belum tentu membawa kebenaran. Surat dapat menyampaikan kasih sayang, tetapi kata-kata juga dapat melukai perasaan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar urusan menyampaikan pesan, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Pertama, Islam mengajarkan pentingnya tabayun dan kebenaran informasi.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

ﻳَﺎ أَﻳُّﻬَﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦَ آﻣَﻨُﻮا إِنْ ﺟَﺎءَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa setiap berita harus diperiksa sebelum dipercaya dan disebarluaskan. Dalam konteks masa kini, kita tidak boleh sembarangan meneruskan pesan WhatsApp, berita media sosial, surat elektronik, ataupun informasi yang belum jelas sumbernya.

Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada pikiran kita, dan jangan sampai pesan yang kita sebarkan menjadi sebab permusuhan, fitnah, serta perpecahan di tengah masyarakat.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, ketika membahas bahaya lisan, mengingatkan pentingnya menjaga ucapan dari kebohongan, ghibah, adu domba, dan perkataan yang menyakiti orang lain. Pelajaran ini juga berlaku bagi tulisan. Apa yang dahulu diucapkan dengan lisan, sekarang dapat dituliskan dan disebarkan melalui perangkat digital.

Karena itu, marilah kita bertanya sebelum mengirim pesan: benarkah informasi ini, bermanfaatkah isinya, dan pantaskah cara penyampaiannya?

Kedua, tulisan adalah amanah dan dapat menjadi amal jariyah. 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Allah Swt. berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْلٍ إِﻻَّ ﻟَﺪَﻳْﻪِ رَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).

Ayat ini mengingatkan bahwa perkataan manusia berada dalam pengawasan Allah. Walaupun ayat tersebut menyebut perkataan, pesan moralnya mengingatkan kita agar bertanggung jawab atas komunikasi, termasuk tulisan, surat, komentar, dan pesan digital yang kita buat. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Apabila lisan harus dijaga, tulisan pun harus dijaga. Jangan menggunakan surat untuk mengancam, pesan untuk menghina, atau media sosial untuk menyebarkan kebencian. Sebaliknya, gunakanlah komunikasi untuk memberikan nasihat, menyampaikan ilmu, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menguatkan orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, melalui pembahasan tentang menjaga lisan, menghimpun hadis-hadis yang mengajarkan pentingnya perkataan baik dan menjauhi ucapan yang merugikan. Prinsip ini dapat kita terapkan dalam budaya menulis: tulislah sesuatu yang benar, sampaikan dengan santun, dan sebarkan sesuatu yang membawa kemaslahatan.

Bayangkan, jamaah sekalian, sebuah surat dari seorang anak kepada orang tuanya dapat mengobati kerinduan. Sebuah pesan permohonan maaf dapat mendamaikan dua saudara yang berselisih. Sebuah tulisan ilmiah dapat mencerdaskan masyarakat. Sebuah pesan sederhana yang menguatkan orang yang sedang berduka dapat menjadi jalan hadirnya harapan.

Ketiga, jadikan komunikasi sebagai sarana silaturahmi dan pelayanan kemanusiaan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Peringatan Hari Pos Dunia setiap tanggal 9 Oktober berkaitan dengan berdirinya Universal Postal Union pada tahun 1874. Peringatan ini mengingatkan kita akan peran layanan pos dalam menghubungkan masyarakat, menyampaikan surat dan barang, serta mendukung kehidupan sosial dan ekonomi. Di balik setiap surat yang sampai kepada penerimanya, terdapat tanggung jawab, ketelitian, dan pengabdian para petugas. Maka, kita patut menghargai orang-orang yang bekerja melayani masyarakat, termasuk petugas pos dan para pengantar kiriman.

Islam mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia harus dibangun dengan

kasih sayang dan kepedulian. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 36 agar kita berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga, dan sesama manusia. Rasulullah saw. juga bersabda:

ﻣَﻦْ ﻻَ ﻳَﺮْﺣَﻢُ ﻻَ ﻳُﺮْﺣَﻢُ

Artinya: “Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Marilah kita jadikan kemajuan komunikasi sebagai jalan memperluas kasih sayang. Hubungilah orang tua kita, sapa tetangga kita, damaikan saudara yang berselisih, dan kirimkan pesan yang menumbuhkan optimisme. Jangan sampai kita mampu mengirim pesan kepada ribuan orang, tetapi lupa menanyakan kabar orang tua sendiri. Jangan sampai kita aktif di dunia digital, tetapi abai terhadap tetangga yang membutuhkan pertolongan.

Jamaah yang berbahagia,

Ada tiga pelajaran penting yang dapat kita bawa pulang dari khutbah ini: pertama, periksa kebenaran sebelum menyebarkan berita; kedua, jaga tulisan dan pesan sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah; ketiga, gunakan komunikasi untuk mempererat silaturahmi dan menebarkan manfaat.

Semoga setiap kata yang kita ucapkan, setiap surat yang kita tulis, dan setiap pesan yang kita kirim menjadi saksi kebaikan, bukan sumber penyesalan di hadapan Allah Swt.

ﺑَﺎرَكَ اﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻲ وَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ اﻟْﻘُﺮْآنِ اﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ، وَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲ وَإِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦَ اﻵْﻳَﺎتِ وَاﻟﺬِّﻛْﺮِ اﻟْﺤَﻜِﻴﻢِ. أَﻗُﻮلُ ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻫَﺬَا وَأَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ اﻟﻠَّﻪَ اﻟْﻌَﻈِﻴﻢَ ﻟِﻲ وَﻟَﻜُﻢْ، ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُوهُ، إِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ اﻟْﻐَﻔُﻮرُ اﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ.


Post a Comment

0 Comments