KETIKA PEREMPUAN CHINA BERJASA BAGI KITA

Oleh: Prof. Dr. Muhlisin, M.Ag

Rabu, 12 Agustus 2026, menjadi hari yang tidak akan mudah saya lupakan. Perjalanan menuju Banjarmasin yang semula kami bayangkan sebagai perjalanan dinas biasa, ternyata berubah menjadi sebuah cerita penuh ketegangan, kejutan, pertolongan, dan rasa syukur. Di balik perjalanan itu, ada seorang perempuan keturunan China yang tidak kami kenal, tetapi jasanya begitu besar bagi kami. Ia hadir pada saat kami sedang membutuhkan pertolongan, menunjukkan jalan, dan secara tidak langsung membantu menyelamatkan perjalanan kami menuju Banjarmasin.

Pagi itu, sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan lima orang dari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan berangkat dari Kampus Kusuma Bangsa menuju Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Rombongan terdiri atas saya, Prof. Muhlisin, selaku Dekan, bersama Wakil Dekan, Kepala Bagian Tata Usaha Saiful Anam, serta Muhammad Jaeni, Abdul Basit, dan Ely Mufidah. Kami hendak menuju Banjarmasin untuk melaksanakan sejumlah agenda kegiatan.

Perjalanan kami tempuh melalui jalan tol. Suasana pagi cukup nyaman. Kami sempat berhenti di rest area untuk membeli kartu e-Toll sekaligus beristirahat sejenak. Kami menikmati kopi, snack, dan sebatang rokok sambil berbincang ringan. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa saat kemudian perjalanan kami akan berubah menjadi sebuah perlombaan melawan waktu.

Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Semarang. Kami akhirnya memasuki Kota Semarang melalui exit tol Krapyak sekitar pukul 10.39 WIB. Dari Krapyak, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandara Ahmad Yani melalui kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta.

Saat itu kami merasa masih mempunyai waktu yang cukup. Namun, perkiraan manusia ternyata tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan.

Begitu sampai di kawasan jalan arteri, tepatnya di sekitar jembatan pertama, kami melihat antrean kendaraan yang sangat panjang. Semakin mendekat, semakin jelas bahwa lalu lintas benar-benar macet total. Kendaraan hampir tidak bergerak. Barisan mobil, bus, dan kendaraan lainnya memenuhi jalan.

Kami mulai gelisah.

Waktu terus berjalan. Jarum jam tidak pernah mau berhenti menunggu kami. Sementara pesawat yang akan membawa kami ke Banjarmasin sudah semakin dekat waktu keberangkatannya.

Akhirnya kami mengambil keputusan: putar balik.

Mobil kami diarahkan melalui jalur bawah dengan harapan dapat menemukan jalan alternatif menuju bandara. Kami berpikir, yang penting kendaraan terus bergerak dan tidak terjebak dalam kemacetan.

Tetapi persoalan baru muncul.

Setelah beberapa saat berjalan, pengemudi mulai bingung. Jalur yang kami lewati terasa seperti jalan buntu. Kami tidak mengenal medan tersebut dengan baik. Jalan yang kami pilih ternyata tidak memberikan kepastian ke mana arah selanjutnya.

Saya kemudian memutuskan turun dari mobil.

Tidak jauh dari tempat kami berhenti, saya melihat tiga orang sedang duduk. Mereka terdiri atas seorang laki-laki dan dua perempuan. Saya menghampiri mereka dan bertanya dengan sopan mengenai arah menuju Bandara Ahmad Yani.

Salah seorang perempuan kemudian menjawab pertanyaan saya. Ia menunjukkan arah ke kanan, kemudian ke kiri, lalu menjelaskan jalur berikutnya yang harus kami tempuh.

Saya mendengarkan penjelasannya.

Tetapi terus terang, saya masih bingung.

Saya bukan orang yang mengenal setiap sudut Kota Semarang. Penjelasan arah tersebut memang memberikan gambaran, tetapi saya masih belum yakin apakah kami dapat menemukan bandara dengan cepat. Apalagi waktu semakin sempit.

Perempuan itu rupanya melihat kebingungan saya.

Setelah memperhatikan kondisi kami dan mungkin menyadari bahwa kami sedang terburu-buru mengejar pesawat, ia kemudian memberikan sebuah tawaran yang sangat sederhana, tetapi pada saat itu terasa seperti pertolongan besar.

"Ikuti saya saja. Mobil saya diikuti dari belakang, ya."

Saya mengangguk.

Tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Kami percaya kepadanya.

Perempuan tersebut segera menuju mobilnya. Kami mengikuti dari belakang. Kemudian mobilnya melaju cukup cepat.

Kami pun mengikuti.

Ia membawa kami menyusuri Jalan Raya Sudirman. Mobilnya melaju lurus, kemudian berbelok menuju jalan raya di sebelah Sungai Banjir Kanal Barat. Kami terus mengikuti dari belakang, berusaha jangan sampai kehilangan jejak.

Dalam situasi seperti itu, perempuan tersebut benar-benar menjadi penunjuk jalan bagi kami.

Kami tidak tahu namanya.

Kami tidak tahu dari mana asalnya.

Kami hanya tahu bahwa perempuan itu adalah seorang keturunan China yang kebetulan berada di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat.

Ia tidak bertanya banyak tentang kami. Ia juga tidak meminta apa-apa.

Ia hanya membantu.

Setelah menyusuri jalan di sebelah sungai, perempuan tersebut kemudian berbelok ke kiri. Jalur yang kami tempuh semakin jelas mengarah menuju kawasan Bandara Ahmad Yani.

Rasa cemas kami mulai berkurang.

Namun, perjalanan bersama perempuan tersebut akhirnya harus berakhir. Di tengah jalan, ia menghentikan mobilnya. Ia kemudian memberi tahu kami bahwa setelah titik tersebut kami harus terus berjalan lurus ke arah barat menuju bandara.

 "Setelah ini lurus saja ke arah barat, menuju bandara," kira-kira demikian pesan yang disampaikannya.

Kami mengucapkan terima kasih.

Setelah itu, kami berpisah.

Perempuan tersebut kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju bandara.

Sampai saat itu, kami bahkan belum sempat berkenalan.

Saya tidak sempat menanyakan namanya.

Tidak sempat pula meminta nomor telepon atau sekadar mengabadikan pertemuan singkat tersebut.

Dalam hati saya hanya berkata, "Terima kasih, Cacik."

Panggilan "Cacik" menjadi ungkapan spontan rasa terima kasih saya kepada perempuan keturunan China tersebut.

Namun, perjuangan kami ternyata belum berakhir.

Sesampainya di Bandara Ahmad Yani, kami kembali dikejar waktu. Informasi yang kami dapatkan membuat jantung berdebar. Waktu menuju pesawat tinggal sekitar 19 menit.

Kami langsung bergerak cepat.

Kami berlima berusaha berlari sekencang-kencangnya menuju terminal. Sementara Saiful Anam, yang menjadi driver sekaligus Kepala Bagian Tata Usaha, masih harus memarkirkan mobil.

Kami yang sudah turun terlebih dahulu langsung menuju area pemeriksaan.

Bagasi harus diperiksa, Barang bawaan harus dicek.

Badan juga harus melewati pemeriksaan keamanan.

Situasi semakin menegangkan karena waktu benar-benar terbatas.

Saya sempat menyampaikan kepada petugas bahwa masih ada empat penumpang lain di belakang yang sedang menuju pemeriksaan.

Setelah itu, kami kembali berlari menuju pesawat.

Alhamdulillah, sekitar pukul 11.02 WIB, saya berhasil masuk ke dalam pesawat.

Namun, rasa lega itu belum sempurna.

Saya menoleh ke arah pintu pesawat. Empat anggota rombongan lainnya belum terlihat. Hati kembali waswas.

Saya berdoa agar mereka segera menyusul.

Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 11.05 WIB, tiga anggota rombongan akhirnya masuk ke dalam pesawat. Mereka adalah Muhammad Jaeni, Abdul Basit, dan Ely Mufidah.

"Alhamdulillah..." Tiga orang sudah masuk.

Tetapi masih ada satu yang belum terlihat, Saiful Anam.

Kami kembali menunggu dengan perasaan tegang. Saiful sebelumnya harus memarkirkan kendaraan dan menyelesaikan perjalanan menuju terminal.

Waktu terasa berjalan begitu lambat.

Akhirnya, sekitar pukul 11.08 WIB, Saiful Anam muncul dan berhasil masuk ke dalam pesawat.

Hati kami langsung terasa plong. Semua anggota rombongan telah lengkap. Pintu pesawat kemudian ditutup.

Tepat sekitar pukul 11.11 WIB, pesawat mulai bergerak menuju runway. Beberapa saat kemudian, pesawat bersiap untuk terbang menuju Banjarmasin.

Saat pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan, saya kembali mengingat kejadian sejak pagi.

Saya membayangkan bagaimana jika kami tetap terjebak di Jalan Arteri Sukarno-Hatta.

Bagaimana jika kami tidak memutuskan untuk putar balik?

Bagaimana jika saya tidak turun dari mobil dan bertanya kepada tiga orang yang sedang duduk itu?

Dan yang paling penting, bagaimana jika perempuan keturunan China itu tidak mengatakan, "Ikuti saya saja"?

Mungkin ceritanya akan berbeda.

Mungkin kami akan terlambat.

Mungkin kami akan kehilangan penerbangan.

Dan mungkin seluruh agenda kami di Banjarmasin akan terganggu.

Tetapi Allah mempertemukan kami dengan seseorang yang tidak kami kenal.

Ia hadir hanya beberapa menit.

Namun pertolongannya sangat berarti.

Ia tidak mengenal kami. Ia tidak tahu bahwa kami adalah rombongan dari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ia tidak tahu bahwa kami sedang mengejar pesawat. Ia juga tidak tahu bahwa kami mempunyai agenda penting di Banjarmasin.

Tetapi ia memilih membantu.

Bagi saya, kejadian itu memberikan pelajaran yang sangat dalam: kebaikan tidak mengenal suku, etnis, agama, maupun latar belakang.

Seorang perempuan keturunan China telah membantu kami menemukan jalan ketika kami kehilangan arah. Ia mungkin menganggap apa yang dilakukannya sebagai hal sederhana. Namun bagi kami, pertolongannya menjadi bagian penting yang menentukan perjalanan.

Kami tidak sempat berkenalan.

Kami tidak sempat mengetahui namanya.

Kami hanya bisa mengingat wajahnya, mobilnya, dan kalimat sederhananya:

"Ikuti saya saja."

Kalimat pendek itu ternyata menjadi jalan keselamatan bagi perjalanan kami.

Karena itu, dari dalam pesawat yang membawa kami menuju Banjarmasin, saya ingin menyampaikan satu pesan yang mungkin tidak pernah sampai kepadanya:

"Terima kasih, Cacik."

Terima kasih telah membantu kami ketika kami kebingungan.

Terima kasih telah menunjukkan jalan ketika waktu kami semakin sempit.

Terima kasih telah mengantar kami sampai menemukan jalur menuju bandara.

Dan terima kasih karena kebaikanmu telah menjadi bagian dari perjalanan kami menuju Banjarmasin.

Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu.

Semoga perjalananmu menuju tempat kerja selalu dimudahkan.

Semoga hidupmu selalu dilimpahi kesehatan, keselamatan, dan keberkahan.

Kami memang tidak sempat berkenalan. Tetapi kami akan selalu mengenangmu sebagai perempuan China yang berjasa bagi kami.

Hari itu kami belajar bahwa pertolongan Tuhan dapat datang melalui siapa saja. Kadang melalui orang yang sudah kita kenal, tetapi kadang justru melalui seseorang yang sama sekali tidak kita kenal dan mungkin tidak akan pernah kita jumpai lagi.

Bagi kami, perempuan itu bukan sekadar orang yang menunjukkan jalan.

Ia adalah sahabat perjalanan yang hadir tepat pada waktunya.

Dan berkat bantuannya, kami akhirnya berhasil sampai ke Bandara Ahmad Yani, masuk ke dalam pesawat, dan melanjutkan perjalanan menuju Banjarmasin.

Terima kasih, Cacik. Kami tidak sempat berkenalan, tetapi jasa dan kebaikanmu akan selalu kami kenang.





Post a Comment

0 Comments