Oleh : Prof. Dr.
Muhlisin, M.Ag.
Pendahuluan
Ramadhan bukan
sekadar siklus tahunan menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga petang. Lebih
dari itu, ia adalah laboratorium kemanusiaan yang dirancang untuk mengasah
ketajaman rasa dan kepedulian. Di tengah dunia yang kian individualistis dan
terfragmentasi oleh realitas digital, puasa hadir sebagai instrumen vital untuk
mengembalikan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki empati.
Esai ini akan
membedah bagaimana puasa mentransformasi kesadaran individu menjadi kepedulian
kolektif melalui tinjauan teologis, pendapat ulama, riset ilmiah, dan realitas
sosial media saat ini.
Puasa sebagai Latihan
Empati Sosial
Empati dalam
Islam bukanlah sekadar konsep humanisme sekuler, melainkan perintah langsung
dari Sang Pencipta. Puasa diwajibkan sebagai sarana meraih takwa (QS.
Al-Baqarah: 183), di mana salah satu indikator utama takwa adalah kesediaan
berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. Ali
Imran: 134). Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ma’un ayat 1-3:
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan
agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong
memberi makan orang miskin."
Ayat ini menegaskan bahwa
kesalehan ritual (shalat dan puasa) menjadi hampa jika tidak melahirkan empati
terhadap penderitaan sosial. Puasa memaksa mereka yang berpunya untuk merasakan
perihnya perut yang kosong, yang bagi sebagian orang adalah realitas harian di
luar bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW
sebagai uswatun hasanah memberikan teladan bahwa kedermawanan beliau di
bulan Ramadhan meningkat tajam. Hadits riwayat Bukhari menyebutkan:
"Rasulullah SAW
adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan
Ramadhan... beliau lebih murah hati dalam kebaikan daripada angin yang
berhembus."
Para ulama telah
lama membedah bahwa rasa lapar dalam puasa adalah kunci pembuka pintu hati.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu
rahasia puasa adalah mematahkan syahwat yang menjadi penghalang empati
(Al-Ghazali, 1095). Menurutnya, perut
yang kenyang cenderung membuat hati keras dan buta terhadap penderitaan orang
lain. Dengan merasakan lapar, seseorang akan teringat pada mereka yang
menderita, sehingga muncul dorongan alami untuk menolong.
Syekh Izzuddin bin Abdissalam, yang dijuluki Sultanul
Ulama, menyatakan bahwa puasa memiliki manfaat sosial yang nyata: "Orang
yang berpuasa ketika merasakan lapar, ia akan teringat dengan rasa lapar yang
dialami oleh orang miskin, sehingga hal itu mendorongnya untuk memberi makan
kepada mereka" (Izzuddin, 1262). Di sini, puasa dipandang sebagai
jembatan psikologis yang menghubungkan kesenjangan kelas sosial melalui
pengalaman ragawi yang seragam.
Dunia sains
modern mulai memvalidasi manfaat psikologis dan neurologis dari puasa terhadap
perilaku prososial. Riset menunjukkan bahwa praktik menahan diri dan refleksi
meningkatkan aktivitas pada anterior cingulate cortex dan insula,
bagian otak yang bertanggung jawab atas pengenalan emosi orang lain (Marfita
Hikmatul Aini, 2024). Penelitian dari Universitas Islam Negeri Makasar
menunjukkan bahwa individu yang memiliki kontrol diri yang baik, seperti yang
dilatih dalam puasa, cenderung lebih mampu menunjukkan perilaku altruistik (Nabila
Farhana Sabir, 2025). Secara
psikologis, pengalaman Bersama, shared experience, dalam menahan lapar
menciptakan rasa solidaritas kelompok, ingroup solidarity, yang meluas
menjadi empati universal.
Hasil riset Andik Isdianto (2025), dalam
studinya mengenai hormon dan perilaku, mencatat bahwa puasa dapat memodulasi
kadar dopamin dan serotonin yang memengaruhi suasana hati dan keinginan untuk
berinteraksi secara positif dengan lingkungan sosial. Ketika seseorang mampu
mengendalikan impuls lapar, ia secara otomatis melatih otot pengendalian diri
yang krusial dalam merespons konflik sosial dengan empati, bukan agresi.
Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS,
2024) menunjukkan peningkatan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS)
hingga 40-50% selama bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Riset Public
Interest Research and Advocacy Center (PIRAC, 2022) juga mengonfirmasi
bahwa motivasi utama masyarakat Indonesia berdonasi adalah dorongan
religiusitas yang menguat saat puasa. Ini membuktikan secara empiris bahwa puasa di Indonesia
berhasil mengonversi rasa lapar menjadi aksi nyata pengentasan kemiskinan dan
bantuan sosial.
Di era digital,
puasa sebagai latihan empati menghadapi tantangan sekaligus peluang unik. Media
sosial menjadi panggung di mana empati dan pamer, riya, beririsan tipis.
1. Sisi Positif, Digital
Philanthropy. Media sosial memperluas jangkauan empati. Kampanye Berbagi Takjil
atau Donasi untuk Palestina dan Yaman di platform seperti Instagram dan TikTok
mampu menggerakkan jutaan orang dalam hitungan jam. Fenomena influencer
yang menggalang dana untuk dhuafa selama Ramadhan menunjukkan bahwa teknologi
bisa menjadi pengeras suara bagi empati yang lahir dari rahim puasa.
2. Sisi Negatif, Paradoks
Mukbang dan Konten Kemewahan. Namun, terdapat fenomena kontradiktif di mana
media sosial justru menjadi tempat pamer kemewahan saat berbuka puasa. Konten fine
dining atau mukbang berlebihan di saat jutaan orang berpuasa dengan
keterbatasan ekonomi menunjukkan adanya diskonempati. Algoritma media sosial
yang mengutamakan visual seringkali mengaburkan substansi puasa. Realitas ini
menuntut kita untuk melakukan Puasa Digital, menahan diri dari pamer kemewahan
sebagai bentuk empati kepada mereka yang berbuka hanya dengan segelas air
putih.
Mengambil spirit
KH Abdurrahman Wahid, puasa seharusnya melahirkan empati yang melintasi sekat
agama dan etnis. Gus Dur mengajarkan bahwa kemanusiaan itu satu. Puasa yang
berhasil adalah puasa yang membuat seorang Muslim peduli pada tetangganya yang
kelaparan, tanpa bertanya apa agamanya. Di media sosial, empati ini diuji
ketika kita melihat ketidakadilan; apakah kita hanya peduli pada kelompok kita,
atau pada kemanusiaan secara umum?
Puasa sebagai
latihan empati harus melewati tiga tahapan:
- Tahap Sensorik, yaitu Merasakan lapar secara fisik.
- Tahap Kognitif, yaitu Menyadari bahwa ada orang lain
yang merasakan lapar ini setiap hari secara permanen.
- Tahap Psikomotorik, yaitu Melakukan aksi nyata
(sedekah, bantuan, advokasi) untuk meringankan beban tersebut.
Jika seseorang berpuasa
namun tetap kasar pada asisten rumah tangga, pelit pada fakir miskin, atau hobi
menghujat di media sosial, maka puasanya baru sebatas tahap sensorik, sebagaimana
diperingatkan Nabi SAW: "Banyak orang yang berpuasa namun tidak
mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga" (HR. Ahmad).
Penutup
Puasa adalah
momentum tahunan untuk me-reset radar empati kita yang mungkin telah tumpul
oleh kesibukan duniawi. Ia adalah sekolah kemanusiaan yang mengajarkan bahwa
rasa lapar kita bersifat sementara, namun rasa lapar dhuafa adalah perjuangan
hidup mati. Melalui integrasi antara ketaatan teologis, pemahaman ulama,
validasi riset ilmiah, dan kesadaran dalam bermedia sosial, puasa diharapkan
mampu melahirkan masyarakat yang lebih inklusif, peduli, dan berkeadilan.
Mari jadikan
Ramadhan 1447 H ini bukan sekadar tentang memindahkan jam makan, tapi tentang
memindahkan beban penderitaan orang lain ke dalam pundak kepedulian kita.
Bangunlah sinyal-sinyal masa depan yang penuh kasih, dimulai dari selembar
rupiah dan seulas senyum empati yang lahir dari perut yang lapar namun hati
yang kenyang dengan cahaya Tuhan.
Referensi
Al-Ghazali, Imam. (1095). Ihya Ulumuddin: Jilid 1 (Kitab Asrar
ash-Shaum). Kairo: Darul Ma’arif.
Andik Isdianto dkk, Dampak Psikospiritual Puasa Ramadan Terhadap
Stres, Kecemasan, Dan Ketahanan Mental, Indonesian Journal of Islamic
Studies (IJIS), Vol. 1 No. 2 (2025): Vol. 1 No. 2 Edisi Juli
2025, hal 243-260
BAZNAS. (2024). Laporan
Pengelolaan Zakat Nasional Triwulan I. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional.
Izzuddin bin Abdissalam, Syekh. (1262). Maqashid ash-Shaum.
Damaskus: Darul Fikr.
Marfita Hikmatul Aini, Dampak Meditasi dan Mindfulness terhadap
Struktur dan Fungsi Otak yang Berhubungan dengan Pengurangan Kecemasan,
Jurnal Ilmiah Nusantara (JINU) Vol.1, No.4 Juli 2024
Nabila Farhana Sabir dkk. Falsafah Ibadah Puasa: Upaya Pembentukan dan
Penguatan Pengendalian Diri di Era Modern, AL-Ikhtiar: Jurnal Studi Islam, Vol. 2 No. 4 (2025) hal. 568-580
PIRAC. (2022). Potret Filantropi Keagamaan di Indonesia:
Motivasi dan Tren. Jakarta: Public Interest Research and Advocacy Center.
Wahid, Abdurrahman. (2006). Islamku, Islam Anda, Islam Kita:
Menjaga Kemanusiaan dalam Beragama. Jakarta: The Wahid Institute.

0 Comments