MENGAJI AL-QUR’AN DIBALIK

 

Langit Mojolawaran masih gelap ketika suara adzan belum juga terdengar. Angin dini hari menyapu pelan halaman Pondok KH Abdul Kholik, membawa hawa dingin yang meresap hingga ke tulang. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.15. Di waktu seperti ini, sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur. Namun tidak bagi para santri di pondok kecil yang penuh berkah itu.

Muhlisin menggeliat dari tikarnya. Ia sudah terbiasa bangun di waktu seperti ini sejak kecil, sejak ia mulai tinggal di rumah sekaligus pondok simbahnya, KH Abdul Kholik, seorang tokoh Tarekat Khalidiyah Mujaddadiyah yang disegani di Desa Mojolawaran, Gabus, Pati. Selain sebagai mursyid tarekat, simbah juga dikenal sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Islam Abadiyah di Kuryokalangan.

Sejak kelas 3 SD hingga Madrasah Aliyah, Muhlisin menjalani hari-harinya di lingkungan pondok tersebut, sejak era 1980-an hingga 1990-an. Ia tumbuh bukan hanya sebagai cucu, tetapi juga sebagai santri yang ditempa dengan disiplin, kesabaran, dan ketekunan.

Pukul 03.30 dini hari, para santri mulai berkumpul di ruang pengajian. Lampu temaram menerangi ruangan sederhana yang dipenuhi suara lirih bacaan Al-Qur’an. Di depan, duduk KH Abdul Kholik dengan penuh wibawa, memegang mushaf yang sudah lusuh dimakan usia.

“Sing wis siap, maju siji-siji,” ujar beliau pelan.

Pengajian dimulai.

Sistem pengajian di pondok ini sangat khas. Para santri maju satu per satu di hadapan simbah, membaca Al-Qur’an secara langsung. Tidak ada pengeras suara, tidak ada metode modern, hanya suara, makhraj, dan ketepatan bacaan yang menjadi perhatian utama.

Namun, bagi Muhlisin dan beberapa santri senior lainnya, pengajian itu memiliki tantangan yang berbeda.

Mereka mengaji dengan sistem Al-Qur’an dibalik.

Artinya, mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan posisi mushaf terbalik, atau membaca dengan urutan yang tidak biasa, sebagai bentuk latihan tingkat lanjut untuk menguji ketepatan makhraj, tajwid, dan kekuatan hafalan visual.

Muhlisin mulai menjalani metode ini sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah. Saat itu, ia sudah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara normal. Simbah kemudian memanggilnya dan berkata singkat:

“Saiki kowe sinau luwih jero. Ngaji dibalik.”

Awalnya, Muhlisin terkejut. Membaca Al-Qur’an saja sudah membutuhkan konsentrasi tinggi, apalagi membaca dalam kondisi terbalik. Huruf-huruf terlihat asing, harakat seolah berubah arah. Lidah terasa kaku.

Namun, di situlah letak latihannya.

Malam itu, Muhlisin maju ke depan. Ia duduk bersila di hadapan simbah, membuka mushaf, lalu membaliknya perlahan.

Santri lain memperhatikan. Ini bukan hal yang bisa dilakukan sembarang orang.

Ia mulai membaca:

“Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin…”

Suaranya sedikit bergetar di awal, tetapi perlahan menjadi stabil. Matanya fokus, mengikuti huruf-huruf yang terbalik. Ia harus benar-benar memahami bentuk huruf, bukan sekadar menghafal posisi.

Simbah mendengarkan dengan seksama. Sesekali beliau mengangguk pelan.

Di sudut ruangan, Agus Subhan berbisik kepada Dul Halim, “Lha iki sing jenenge santri tingkat lanjut. Ora kabeh iso ngene.”

Dul Halim tersenyum, “Iyo, aku wae isih nganggo biasa. Yen dibalik, mumet aku.”

Muji, yang duduk di sebelahnya, menambahkan, “Ngaji dibalik kuwi butuh kesabaran. Ora mung pinter maca, tapi kudu tenang atine.”

Shopii yang sejak tadi diam, ikut berkomentar, “Aku tau nyoba, tapi malah kebalik kabeh. Hurufe dadi ora kenal.”

Sutrisno tertawa kecil, “Yo jelas, wong kebalik kok. Tapi iki latihan sing luar biasa.”

Muslimin mengangguk, “Iki cara simbah nglatih kita supaya ora mung iso moco, tapi ngerti tenan huruf lan harakat.”

Huda, yang dikenal pendiam, hanya berkata pelan, “Sing penting istiqomah. Ora kabeh kudu iso dibalik, tapi kudu terus belajar.”

Tidak semua santri mendapatkan kesempatan mengaji dengan sistem ini. Hanya mereka yang sudah benar-benar menyelesaikan Al-Qur’an secara tartil yang diperbolehkan. Metode ini bukan sekadar teknik, tetapi simbol bahwa seseorang telah mencapai tingkat kematangan tertentu dalam membaca Al-Qur’an.

Muhlisin merasakan sendiri betapa beratnya latihan ini. Berkali-kali ia salah membaca, berkali-kali pula simbah membetulkan dengan sabar.

“Sabar, le. Iki latihan ati lan pikiran,” kata simbah suatu malam.

Pelan tapi pasti, Muhlisin mulai terbiasa. Huruf-huruf yang dulu terasa asing kini mulai akrab. Ia tidak lagi hanya membaca, tetapi benar-benar memahami struktur bacaan Al-Qur’an.

Suasana pengajian dini hari itu selalu meninggalkan kesan mendalam. Di tengah sunyi, suara bacaan Al-Qur’an menjadi pengisi ruang. Tidak ada gangguan, tidak ada hiruk pikuk dunia.

Hanya ada santri, guru, dan kitab suci.

Setelah selesai mengaji, para santri biasanya melanjutkan dengan dzikir. Simbah memimpin dengan suara pelan, tetapi penuh kekuatan. Setiap kalimat dzikir terasa meresap ke dalam hati.

Muhlisin sering merenung di momen-momen seperti itu. Ia menyadari bahwa apa yang diajarkan simbah bukan hanya tentang membaca Al-Qur’an, tetapi tentang membentuk jiwa.

Tahun demi tahun berlalu. Dari seorang anak kecil yang belajar mengeja huruf hijaiyah, Muhlisin tumbuh menjadi santri yang mampu membaca Al-Qur’an dalam berbagai kondisi, bahkan dalam posisi terbalik.

Namun lebih dari itu, ia belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan.

Ia juga belajar bahwa setiap metode yang diajarkan simbah memiliki makna yang dalam. Mengaji dengan sistem dibalik bukan sekadar latihan teknis, tetapi juga simbol bahwa dalam hidup, kita harus siap melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Suatu pagi, setelah pengajian selesai, Dul halim mendekati Muhlisin.

“Lis, kowe hebat. Iso ngaji dibalik ngono,” katanya.

Muhlisin tersenyum, “Ora hebat, Dul. Iki kabeh amarga latihan.”

Sutrisno menimpali, “Aku pengin nyoba, tapi durung wani.”

Muhlisin menepuk bahunya, “Sing penting terus ngaji. Nanti waktune pasti datang.”

Simbah yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum. Ia tahu, setiap santri memiliki waktunya masing-masing.

Kini, kenangan itu menjadi bagian dari perjalanan hidup Muhlisin. Pengajian dini hari, suara lembut simbah, serta tantangan membaca Al-Qur’an dalam posisi terbalik, semuanya membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.

Ia menyadari bahwa menjadi santri bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana ilmu itu membentuk karakter.

Dan di antara semua kenangan itu, satu hal yang paling ia ingat adalah kesabaran simbah dalam membimbing.

Di setiap huruf yang dibaca, di setiap kesalahan yang diperbaiki, terdapat cinta yang tak pernah terucap, tetapi selalu terasa.

Maka ketika kini ia membaca Al-Qur’an, dalam kondisi apa pun, ia selalu teringat pada satu momen di dini hari, pukul 03.30, di sebuah pondok sederhana di Mojolawaran, Saat seorang kakek dengan penuh kasih berkata, “Saiki kowe wis siap. Ngaji dibalik.”

 


Post a Comment

0 Comments