BELAJAR SETARA, BERAKAR PADA BUDAYA: JALAN PENDIDIKAN MENUJU BANUA SEJAHTERA

Nama: Ika Mustaufiqoh

Kelas: Tadris Matematika B

PENDAHULUAN

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei bukan hanya ritual rutin, tapi kesempatan untuk merenungkan visi pendidikan Indonesia. Di tahun 2026, dengan tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera”, penekanan diberikan pada pendidikan yang menjamin akses merata sambil turut menjaga warisan budaya daerah.

Sebagaimana dikatakan Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan upaya membimbing potensi alamiah anak agar mencapai derajat kebahagiaan dan keselamatan tertinggi. Pemikiran ini menggarisbawahi bahwa pendidikan melampaui pencapaian akademik semata, mencakup pembentukan watak serta jati diri budaya. Dengan demikian, pendidikan masa kini yang tepat sasaran adalah yang inklusif, relevan dengan konteks lokal, dan tertanam kuat pada akar budaya setempat.

ISI

H.A.R. Tilaar menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi sebagai instrumen transformasi sosial yang berkeadilan (Tilaar, 2012). Jika disparitas akses dan mutu dibiarkan berlanjut, pendidikan malah bisa memperdalam ketidakadilan sosial yang sudah ada. Karenanya, konsep “belajar setara” harus dihayati secara mendalam, bukan sekadar jargon, melainkan komitmen konkret dalam kebijakan dan pelaksanaan pendidikan.

Meski demikian, dalam upaya mencapai kesetaraan itu, timbul isu krusial lain: keterpisahan pendidikan dari realitas budaya lokal. Kurikulum yang terlalu condong ke arah globalisasi sering membuat proses belajar terasa asing bagi kehidupan siswa. Sebaliknya, pendekatan berbasis konteks lokal justru bisa memperkaya pemahaman dan partisipasi mereka.

Studi etnomatematika membuktikan bahwa penanaman unsur budaya dalam pengajaran memudahkan penguasaan konsep-konsep ilmiah (Rosa & Orey, 2011). Di masyarakat Banjar, ini terwujud melalui beragam tradisi budaya yang sarat nilai pendidikan. Misalnya, tradisi baimbai atau gotong royong di kalangan Banjar menanamkan semangat kolaborasi dan kebersamaan, yang cocok diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis kerja kelompok. Begitu pula aktivitas di pasar terapung, yang bisa menjadi bahan ajar autentik untuk matematika dan ekonomi, seperti hitung-menghitung transaksi serta dinamika sosial.

Lebih lanjut, Rumah Bubungan Tinggi sebagai warisan budaya Banjar menawarkan peluang belajar unik. Bentuk arsitekturnya ideal untuk mengajarkan geometri, sementara makna filosofisnya mendukung pembentukan karakter melalui refleksi. Pendekatan ini mengubah pembelajaran dari sekadar penyampaian pengetahuan menjadi proses penciptaan makna.

Penelitian Suryadi (2018) pun mengonfirmasi bahwa pengajaran yang berpijak pada kearifan lokal memperkuat karakter siswa, termasuk rasa tanggung jawab dan empati sosial. Ini menegaskan bahwa penggabungan budaya bukan tambahan semata, tapi elemen esensial pendidikan menyeluruh.

Akan tetapi, di tengah disrupsi digital, tantangan utama adalah arus informasi global yang membanjiri generasi muda. Tanpa strategi bijak, budaya lokal berisiko tersisih. Transformasi digital pendidikan sehingga harus difokuskan tidak hanya pada peningkatan efisiensi, tapi juga konservasi budaya—seperti konten digital bertema lokal atau proyek eksplorasi warisan daerah.

Pada akhirnya, pendidikan ideal bukan yang terpaku pada prestasi akademik atau iklim global belaka. Ia adalah pendidikan yang harmonis mengintegrasikan akses adil, kemajuan teknologi, dan pemeliharaan nilai budaya—dengan ketiganya saling melengkapi, bukan bertentangan.

PENUTUP

Hari Pendidikan Nasional 2026 patut dijadikan momentum awal untuk memperteguh visi pendidikan yang inklusif dan kaya budaya. Perjuangan kesetaraan akses harus digencarkan agar tiap anak bangsa mendapat peluang setara dalam mengembangkan diri. Sementara itu, warisan budaya lokal seperti budaya Banjar wajib tetap menyatu dalam dinamika pendidikan.

Lewat kemitraan pemerintah, institusi sekolah, orang tua, dan komunitas, pendidikan bisa bertransformasi menjadi wadah yang tak hanya membuka wawasan, tapi juga membentuk kemanusiaan. Tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua” pada hakikatnya bukan sekadar konsep, melainkan amanah kolektif.

Sebagai generasi muda, kita bukan hanya penerima manfaat pendidikan, tapi juga pelopor yang membentuk trajektori masa depannya. Dengan menyeimbangkan kemajuan ilmu dan pelestarian nilai budaya, pendidikan sungguh mampu membawa bangsa menuju kemakmuran, karakter mulia, dan identitas yang kokoh.

REFERENSI

Dewantara, K. H. (1936). Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Kebijakan Merdeka Belajar.

Rosa, M., & Orey, D. C. (2011). Ethnomathematics: The cultural aspects of mathematics. Revista Latinoamericana de Etnomatemática, 4(2), 32–54.

Suryadi, D. (2018). Pembelajaran berbasis kearifan lokal dan penguatan karakter siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia, 7(1), 45–56.

Tilaar, H. A. R. (2012). Perubahan Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

 


Post a Comment

0 Comments