Naimatul Khasanah
PENDAHULUAN
Setiap
tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai
momentum refleksi terhadap arah pendidikan bangsa. Pendidikan hari ini tidak
cukup hanya berorientasi pada kecerdasan akademik dan teknologi, tetapi juga
membutuhkan penguatan moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ini, tradisi
haul di masyarakat Pekalongan menjadi ruang pendidikan karakter berbasis budaya
religius yang masih hidup di tengah masyarakat. Tradisi haul bukanlah sekadar
ritual keagamaan saja, tetapi tradisi haul diposisikan sebagai pendidikan
nonformal berbasis masyarakat, menjadi ruang transmisi nilai, benteng budaya
terhadap degradasi moral, dan bentuk pendidikan karakter kontekstual yang khas
di Indonesia.
Sejalan
dengan konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara (1962), bahwa pendidikan
sebagai upaya untuk menjadikan seseorang memiliki budi pekerti, berwawasan yang
luas, dan tanggap terhadap budaya guna melestarikan dan memajukan kebudayaan
serta mencapai kebahagiaan sebagai kodrat manusia (Putri & Akhwani, 2023).
Dari konsep ini, pendidikan dimaksudkan untuk membentuk manusia yang dapat
memanusiakan manusia lainnya dan membentuk perilaku atau budi pekerti yang baik.
Namun,
saat ini banyak sekali tantangan pendidikan di zaman modern terutama pada
generasi muda seperti individualisme pendidikan, cyberbullying, krisis adab, rendahnya empati sosial, adanya budaya
yang instan, hedonisme media sosial, dan lain sebagainya, yang mana
permasalahan-permasalahan ini perlu untuk kita renungi bersama, kemudian
mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Di tengah derasnya arus
digitalisasi dan krisis moral pada generasi muda tersebut, masihkah tradisi
lokal-religius (dalam hal ini tradisi haul), memiliki daya pedagogis untuk
membentuk karakter? Apalagi banyak penelitian membahas haul sebagai tradisi
budaya atau ritual keagamaan, tetapi masih sedikit yang melihat haul sebagai
media pendidikan karakter pada generasi Z terlebih dalam konteks Hardiknas dan
krisis moral digital.
Dalam
situasi tersebut, tradisi keagamaan lokal seperti haul di Pekalongan menarik
untuk dikaji apakah pendidikan karakter berbasis kearifan religius mampu
menjadi counter culture terhadap arus
degradasi moral kontemporer?
ISI
Tradisi
merupakan kebiasaan yang dilakukan secara berulang dari satu generasi ke
generasi selanjutnya dan turun-menurun. Sedangkan Haul, secara istilah berarti
tradisi peringatan kematian seseorang atau beberapa orang yang diadakan setahun
sekali. Haul disini untuk memperingati hari kematian dan mendo’akan para ulama
dan sesepuh sebagai orang yang berjasa dalam menyebarkan ajaran islam pada
masanya dan sangat disegani oleh masyarakat (Santria). Di pekalongan sendiri,
banyak sekali warga nahdliyin baik orang tua maupun generasi muda memperingati
dan melestarikan tradisi haul. Tradisi haul biasanya dilakukan untuk
menghormati para ulama dan leluhur yang telah memberi kontribusi besar terhadap
penyebaran ajaran agama Islam kepada masyarakat.
Dalam
konsep pendekatan sosiologi pengetahuan menurut Peter L. Berger merumuskan
hubungan timbal balik antara realitas sosial yang bersifat objektif dengan
pengetahuan yang bersifat subjektif pada konsep dasar tentang tiga momen
dialektis: eksternalisasi, objektvasi, dan internalisasi. Realitas sosial, yang
pada dasarnya merupakan hasil konstruksi manusia (melalui mekanisme
eksternalisasi dan objektivasi), “berbalik” membentuk manusia (melalui
mekanisme internalisasi) (Hanif). Maksudnya ialah haul tidak serta merta
ziarah, akan tetapi terdapat acara inti yang lebih bermakna sosiologis, yaitu
refleksi sosial religius. Masyarakat menghadirkan kembali sejarah tokoh yang
diperingati melalui ceramah agama yang telah diwakilkan salah seorang dari
mereka untuk dapat mengambil pelajaran dalam kehidupan mereka, terutama
berkaitan dengan kehidupan beragama. Dalam hal ini, seakan-akan mereka merasa
sosok tokoh tersebut hadir secara utuh bersama mereka, meskipun lebih dirasakan
secara subjektif dengan cara masing-masing individu. Sehingga masyarakat dapat
mengambil hikmah dengan mencontoh prestasi atau meneladani sifat-sifat baik
tokoh tersebut.
Dalam
pelaksanaannya, rangkaian tradisi haul di Pekalongan meliputi acara doa
bersama, pembacaan shalawat, dzikir, serta kajian tentang kehidupan dan ajaran
tokoh yang di haul-kan. Melalui kegiatan haul, masyarakat, santri, dan generasi
muda diingatkan akan pentingnya memperbaiki diri dan memperdalam iman mereka. Haul
mengajarkan tentang pentingnya membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada
Tuhan. Haul juga mengandung pesan moral untuk menjalani kehidupan dengan penuh
adab, rendah hati, dan menghormati orang tua dan guru. Haul mengingatkan kita
semua akan hakikat kehidupan dan kematian, serta pentingnya mempersiapkan diri
untuk akhirat (Arifin, et.al, 2025).
Dari
penjelasan mengenai tradisi haul di atas, ada nilai-nilai pendidikan karakter
yang terkandung dalam tradisi tersebut yaitu penghormatan kepada ulama maupun
leluhur dengan cara mendoakan mereka agar ditempatkan disisi terbaik Allah
swt., mengajarkan kita semua untuk memiliki adab dan tawadhu’, kemudian
meningkatkan solidaritas sosial, meningkatkan spiritualitas, disiplin
sosial-keagamaan, dan penghargaan terhadap sejarah serta identitas budaya.
Nilai-nilai dalam tradisi haul ini nyatanya selaras dengan tujuan pendidikan
nasional UU RI no 20 tahun 2003yaitu membentuk manusia yang beriman, berakhlak
mulia, bertanggung jawab sosial, pengendalian diri, kecerdasan, kepribadian
yang baik, berbudi pekerti luhur, sehat jasmani rohani, serta berguna bagi
masyarakat, bangsa dan negara (Lusiana, 2024).
Maka,
nilai-nilai pendidikan karakter inilah sangat dibutuhkan untuk meng counter budaya digital pada generasi Z
masa kini. Jelas kita ketahui budaya digital cenderung bersifat serba cepat
(informasi dapat diakses dengan mudah dan sangat luas), individualistik,
kehilangan otoritas moral, dan minim akan interaksi spiritual kolektif.
Kemudian dari budaya digital ini telah menyebabkan berbagai permasalahan
pendidikan karakter pada generasi muda.
Momentum
Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan
pendidikan formal, tetapi juga refleksi terhadap pentingnya menghidupkan
sumber-sumber pendidikan karakter yang tumbuh dari budaya dan tradisi
masyarakat. Tradisi haul di Pekalongan menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak
selalu hadir dari ruang kelas, melainkan juga dari ritual sosial-keagamaan yang
dapat membentuk kesadaran spiritual, solidaritas, dan adab generasi muda.
KESIMPULAN
Tradisi
haul di Pekalongan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi merupakan media
pendidikan karakter berbasis budaya religius yang relevan di tengah krisis
moral generasi Z. Nilai-nilai seperti adab, spiritualitas, dan solidaritas
sosial yang terkandung di dalamnya mampu menjadi counter culture
terhadap dampak negatif budaya digital yang individualistik dan minim nilai
moral.
Oleh
karena itu, dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, tradisi haul perlu
dipandang sebagai sumber pendidikan nonformal yang strategis untuk memperkuat
karakter generasi muda dan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Putri, V.A.R., Akhwani. 2023. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang
Pendidikan. NATIONAL CONFERENCE FOR UMMAH (NCU) 1 (1). https://conferences.unusa.ac.id/index.php/NCU2020/article/download/1038/622
Santria, A.A. Tradisi Haul Dan Solidaritas Masyarakat (Studi tentang Tradisi Haul
Sesepuh di Desa Sembayat Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik). Hasil
Proceeding UIN Sunan Ampel Surabaya https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/SSUIT/article/download/2240/1409/
Hanif, A. 2015. Tradisi Peringatan Haul Dalam Pendekatan Sosiologi Pengetahuan Peter L.
Berger. Artikel Filsafat Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/dialogia/article/download/283/240
Arifin, Z., Masyarafatul, S., &
Sulalah, A.A. 2025. Tradisi Haul Sebagai
Internalisasi Nilai Spiritual Di Pesantren. Ambarsa : Jurnal Pendidikan
Islam 5 (1). https://ejournal.stitta.ac.id/index.php/ambarsa/article/download/262/192/1623
Lusiana. 2024. Tujuan Pendidikan Di
Indonesia (Sisdiknas) Analisis Dalam Perspektif Psikologi Pendidikan. Jurnal
Darussalam: Jurnal Ilmiah Dan Sosial 25 (2). https://jurnal.iaidarussalam.ac.id/index.php/darussalam/article/download/144/108

0 Comments