Muhammad Mufid
Mahasiswa Program Doktoral/PAI Semeter II
Waktu
itu, masa indah di sekolah ketika hari minggu datang kembali, setelah sarapan
pukul 07:00 pagi, mulai asik menyetel telivisi, menyaksikan tontonan film
kartun mulai dari dragon ball, superman hingga ninja hatori, bukan sekedar
kisah fiksi, esok hari kita berkumpul menceritakan kembali cerita yang
sebetulnya semua teman menontonya, bahkan kebanyakan menjadi sumber ispirasi,
ada teman yang selalu ingin menolong orang layaknyaa wukong ketika dalam
perjalanan mencari kitab suci, ada juga yang disiplin masuk kelas paling pagi
dengan mengenakan sarung yang diikat dikepala sebagaimana ninja hatori, belum
lagi superman yang terbang tinggi yang menyajikan kecanggihan teknologi untuk
menyelamatkan bumi.
Apakah tontonan tersebut sekadar basa-basi? Ataukah negara China, Jepang, sedang melakukan ekspansi narasi budaya melalui film animasi? Begitu juga Amerika yang konsisten memproduksi mitologi pahlawan super yang dipersenjatai teknologi tingkat tinggi? Bukankah mereka sedang membangun ekosistem ‘rasa memiliki’, ‘ini lo negaraku, hebat, keren, kuat, bangga’, sehingga kebanggaan ini di kemudian hari bermutasi menjadi loyalitas sebagai identitas diri. Di Hari Pendidikan Nasional 2026 ini, kita diajak berpikir kembali. Memang benar kita harus berlari kencang mengejar kompetensi di era digitalisasi, namun bangsa-bangsa besar hari ini justru tidak membangun kemajuan di atas kehampaan budaya. Artinya kita butuh sayap untuk terbang ke masa depan dengan fondasi akar yang tidak tumbang oleh keadaan.
Digitalisasi
sebagai Sayap, Budaya sebagai Kompas
Kita
diingatkan oleh pemikiran Joseph Nye mengenai Soft Power, di mana kekuatan
sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari militer (hard power),
melainkan dari daya tarik budayanya (Nye & Power, 2004). Bukankah
tayangan animasi Jepang mengekspor nilai kedisiplinan dan keadaban melalui
karakter Ninja Hattori? Bukankah pula keteguhan hati dan kecanggihan teknologi
dalam memerangi kriminalitas diperagakan dengan apik oleh sosok pahlawan super
seperti Superman? Langkah aktif diplomasi budaya ini membuat masyarakat dunia
mengadopsi nilai-nilai tersebut secara sukarela. Artinya, bagi pendidikan kita,
digitalisasi seharusnya menjadi instrumen soft power untuk
memperkenalkan identitas bangsa, bukan justru terjebak dalam arus konsumsi game
online atau dominasi narasi asing yang mengaburkan jati diri bangsa.
Berbicara masalah identitas bangsa bukanlah
sekedar romantisme masa lalu, atau bukan pula nostalgia materi pelajaran PPKN, masa
indah seragam abu-abu. Dalam kacamata sosiologi pendidikan, Pierre Bourdieu
mengemukakan bahwa Cultural Capital atau Modal Budaya adalah aset
krusial yang menentukan posisi dan keberhasilan sebuah bangsa (Suminar, 2013). Bangsa-bangsa
besar yang kita kagumi kemajuannya hari ini, tidak membangun teknologi mereka
di atas ruang hampa. Mereka membangunnya di atas kebanggaan identitas. Ketika
seorang anak di Jepang atau Amerika merasa bahwa bangsa mereka adalah
"bangsa pahlawan" atau "bangsa inovator", muncul sebuah
loyalitas organik yang menjadi bahan bakar etos kerja.
Fondasi
dibalik kemajuan Bangsa
Di
Hari Pendidikan Nasional ini, pendidikan kita tidak boleh terjebak dalam memacu
skill digital, namun kehilangan kecintaan terhadap budaya bangsa. Mereka akan
tumbuh dan melahirkan tenaga kerja teknis yang cakap secara kognitif, namun
rapuh secara mental, karena tidak memiliki rasa saling memiliki terhadap jati
diri bangsa, sehingga bisa jadi talenta digital terbaik kita akan lebih memilih
membangun perusahaan di luar negeri daripada mengabdi kepada Bumi Pertiwi. Manuel
Castells (2025) dalam The Power of Identity menekankan bahwa di
era informasi yang serba cepat, masyarakat tanpa identitas yang kokoh akan
kehilangan arah dan mudah terfragmentasi (Cheriti, 2025).
Loyalitas
bangsa yang lahir dari rasa bangga terhadap budaya adalah 'jangkar' yang
memastikan kemajuan teknologi tetap memiliki tujuan sosiologis yang jelas, Loyalitas
inilah yang kemudian bertransformasi menjadi semangat inovasi, sebuah keinginan
untuk menciptakan solusi digital yang tidak hanya canggih, tetapi juga bernapas
dan berjiwa lokal. Negara maju telah lama memahami bahwa identitas adalah bahan
bakar inovasi. Melalui Ninja Hattori, Jepang menanamkan disiplin, melalui
Dragon Ball, mereka merayakan kegigihan, dan melalui Superman, Amerika Serikat
mengukuhkan peran teknologi dalam menjaga kebebasan. Mereka tidak membiarkan
generasi mudanya tumbuh dalam kehampaan nilai. Hasilnya, muncul generasi yang
tidak hanya ingin menjadi ahli teknologi, tetapi juga ingin membuktikan bahwa
bangsa mereka adalah pemimpin peradaban.
Estetika
Adab: Merangkul Ekoteologi dalam Digitalisasi
Kemajuan
pendidikan di era digital sering kali terlalu bertumpu pada solusi teknokratis,
seperti penyediaan perangkat keras atau pembaruan perangkat lunak, namun
mengabaikan hal-hal mikro yang bersifat fundamental, yakni adab. Di sinilah
pendidikan nasional perlu menyerap "estetika presesi" dari kearifan
lokal kita. Sebagai contoh, bagaimana seorang figur Kiai di pesantren atau
tokoh adat di pedalaman menanamkan perilaku menjaga alam bukan melalui ancaman
denda administratif atau aturan tertulis, melainkan melalui habituasi spiritual
bahwa merusak Bumi adalah merusak amanah Sang Pencipta. Sebagaimana kita
diingatkan oleh pemikiran Seyyed Hossein Nasr bahwa pendidikan harus mampu
memulihkan kesucian alam di mata peserta didik melalui pendekatan ekoteologi (Nasr, 1968).
Artinya
apa? Dalam konteks pendidikan digitalisasi, estetika adab ini harus
bertransformasi menjadi etika digital. Jika Ninja Hattori memiliki disiplin dan
Superman memiliki integritas, maka pelajar Indonesia harus memiliki adab
ekoteologis, sebuah kecerdasan digital yang digunakan untuk menjaga harmoni
sosial dan kelestarian Bumi Pertiwi. Teknologi harus diposisikan sebagai
pendukung nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan budaya, bukan sebagai
pengganti kearifan lokal (Azizah & Khasanah, 2025). Lebih dari
sekadar kemahiran teknis, adab ekoteologis menuntut siswa untuk memandang
setiap jejak digital yang mereka tinggalkan sebagai kontribusi terhadap
ekosistem kehidupan yang lebih luas. Dengan landasan ini, digitalisasi
pendidikan di Indonesia akan melahirkan inovator yang kompetitif yang dijiwai
dengan kebanggaan identitas diri sebagai anak bangsa (Sadri & Temaja, 2025).
Menenun
Akar dalam Sayap Masa Depan
Belajar
dari ketangguhan Goku (Wukong), kedisipilan Hattori, dan integritas Superman,
kita memahami bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan karakter adalah
pengemudinya. Transformasi digital bukanlah proses penyeragaman budaya,
melainkan penegasan identitas. Kita sedang mendidik generasi untuk memiliki "ruh" kebangsaan.
Pendidikan nasional harus mampu memastikan bahwa setiap anak didik merasa
bangga dengan jati dirinya, sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton di
tengah kemajuan bangsa lain. Hanya pohon dengan akar yang dalamlah yang mampu
menahan badai dan memberikan perlindungan bagi sekitarnya. Selamat Hari
Pendidikan Nasional 2026. Terus maju dengan teknologi, tetap membumi dengan
tradisi.
Referensi
Azizah, P. N., & Khasanah, N. (2025). Trasformasi nilai
sosial melalui pendidikan formal di era digital. Al Ikhlas Jurnal Pendidikan
Agama Islam, 2(2). https://doi.org/10.64677/ppai.v2i2.219
Cheriti, F. (2025). AI Society Theory: Re-imagining
Castells’ Network Society in the Algorithmic World. 0–10.
https://doi.org/10.20944/preprints202509.1157.v1
Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis
of modern man.
Nye, J., & Power, S. (2004). The means to success in
world politics. New York: Public Affairs, 193.
Sadri, N. W., & Temaja, I. G. B. W. B. (2025). Local
Wisdom-Based Education in Indonesian School. The Eastasouth Journal of
Learning and Educations, 3(03), 226–236.
Suminar, P. (2013). Bringing in Bourdieu’s theory of
Practice: Understanding Community-Based Damar Agroforest Management in Pesisir
Krui, West Lampung District, Indonesia. International Journal of Humanities
and Social Science, 3(6), 201–213.
)%20(2).png)
0 Comments