Ditulis
oleh: Zakiya Very Ayu Suryatina, M.Pd
(Mahasiswa
S3 PAI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)
Ada sesuatu yang sering terasa terlalu cepat disepakati
ketika kita membicarakan generasi muda: mereka disebut sebagai agen perubahan,
seolah-olah posisi itu sudah final dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Padahal,
jika dicermati lebih perlahan, klaim tersebut justru membuka lebih banyak
pertanyaan daripada jawaban. Perubahan seperti apa? Dalam kondisi struktural
yang bagaimana? Kesejahteraan masyarakat tidak pernah lahir dari satu energi
tunggal. Ia tumbuh dari relasi yang kompleks antara pendidikan, distribusi
kesempatan ekonomi, dan kapasitas institusi dalam merespons kebutuhan warganya.
Di tengah konfigurasi itu, generasi muda memang menempati posisi yang penting. Tetapi penting tidak
selalu berarti menentukan.
Pendidikan
sebagai Titik Awal, Bukan Sekadar Instrumen
Jika ada satu ruang yang paling menentukan bagaimana
generasi muda berkontribusi, maka itu adalah pendidikan. Bukan hanya sebagai
tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai arena pembentukan cara berpikir.
Masalahnya, pendidikan kita sering berhenti pada fungsi instrumental
(menghasilkan tenaga kerja) tanpa cukup memberi ruang bagi pembentukan nalar kritis.
Dalam beberapa studi mutakhir, terlihat bahwa
keterlibatan pemuda dalam pembangunan sosial berkorelasi kuat dengan kualitas
pendidikan yang mereka terima, terutama dalam hal kemampuan reflektif dan
partisipatif (Checkoway & Aldana, 2021). Artinya, yang dibutuhkan bukan
sekadar akses pendidikan, tetapi pengalaman belajar yang memungkinkan mereka
memahami realitas sosial secara lebih utuh.
Di sini muncul ketegangan yang menarik. Di satu sisi,
generasi muda didorong untuk inovatif dan adaptif. Di sisi lain, sistem
pendidikan masih cenderung reproduktif, mengulang pola
lama, menekankan kepatuhan, dan kurang memberi ruang pada eksperimentasi
intelektual. Ketika dua hal ini bertemu, hasilnya sering kali tidak produktif:
energi besar, tetapi arah yang kabur.
Ekonomi
Pemuda: Antara Narasi Kewirausahaan dan Realitas Rapuh
Belakangan, diskursus tentang peran generasi muda hampir
selalu bersinggungan dengan kewirausahaan. Ada optimisme bahwa anak muda mampu
menciptakan lapangan kerja baru, terutama melalui ekonomi digital. Optimisme
ini tidak sepenuhnya keliru. Banyak contoh konkret yang mendukungnya.
Namun, jika kita berhenti hanya pada kisah sukses, kita
kehilangan gambaran yang lebih luas. Sebagian besar generasi muda justru
berhadapan dengan kondisi kerja yang tidak stabil seperti kontrak
jangka pendek, minim perlindungan, dan rentan terhadap fluktuasi ekonomi
(Standing, 2021). Dalam konteks ini, kewirausahaan sering kali bukan pilihan
bebas, melainkan respons terhadap keterbatasan.
Pendidikan kembali menjadi variabel kunci. Mereka yang
memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas cenderung lebih mampu
memanfaatkan peluang ekonomi digital. Sebaliknya, mereka yang tidak, sering
kali hanya menjadi pengguna, bukan pencipta. Di titik ini, ketimpangan tidak
hanya bertahan, ia direproduksi.
Digitalisasi:
Ruang Baru, Masalah Lama
Sulit menyangkal bahwa generasi muda adalah aktor utama
dalam lanskap digital. Mereka membangun jejaring, menciptakan wacana, bahkan
menggerakkan mobilisasi sosial melalui platform yang sebelumnya tidak
terbayangkan. Tetapi digitalisasi tidak secara otomatis demokratis. Ia
membuka peluang, sekaligus mempertegas batas. Penelitian terbaru menunjukkan
bahwa kesenjangan digital bukan hanya soal akses, tetapi juga kemampuan untuk
mengolah dan memanfaatkan informasi (van Dijk, 2022). Ini kembali mengarah pada
pendidikan, khususnya literasi digital sebagai bagian dari kurikulum
yang masih sering dipinggirkan.
Ada kecenderungan untuk merayakan aktivisme digital
sebagai bentuk baru partisipasi pemuda. Namun, tanpa basis pengetahuan yang
kuat, aktivisme tersebut mudah terjebak dalam siklus reaktif,
cepat muncul, juga cepat hilang. Yang tersisa bukan perubahan struktural,
melainkan jejak wacana yang tidak berkelanjutan.
Partisipasi
Sosial-Politik: Antara Keterlibatan dan Keterputusan
Generasi muda hari ini tidak apatis. Mereka terlibat,
tetapi dengan cara yang berbeda. Banyak yang memilih jalur non-formal komunitas,
gerakan berbasis isu, atau kampanye digital daripada
institusi politik konvensional (Loader et al., 2021). Pilihan
ini bisa dibaca sebagai bentuk kreativitas, tetapi juga sebagai sinyal
keterputusan. Ketika institusi formal tidak cukup responsif, generasi muda
mencari ruang lain. Masalahnya, ruang alternatif ini tidak selalu memiliki daya
tawar dalam proses pengambilan kebijakan. Di sini,
pendidikan politik menjadi krusial. Bukan dalam arti indoktrinasi, tetapi
sebagai upaya membangun pemahaman tentang bagaimana sistem bekerja dan
bagaimana mengintervensinya. Tanpa
itu, partisipasi akan tetap berada di pinggiran.
Menempatkan
Generasi Muda Secara Lebih Realistis
Ada kecenderungan untuk membebankan terlalu banyak
harapan pada generasi muda. Harapan itu tidak salah, tetapi sering kali tidak
proporsional. Mereka diminta untuk menjadi inovatif, kritis, sekaligus solutif sementara
struktur yang ada tidak selalu mendukung
Mungkin yang perlu dikoreksi adalah cara kita membingkai
peran mereka. Generasi muda bukan “penyelamat” masyarakat. Mereka adalah bagian dari proses yang lebih besar, yang
melibatkan pendidikan, kebijakan publik, dan dinamika ekonomi. Dalam
kerangka ini, pendidikan tidak bisa lagi diposisikan sebagai sektor pelengkap.
Ia harus menjadi pusat. Pemuda penyulut api semangat perjuangan dalam dunia
pendidikan. Bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan, tetapi untuk
membentuk kapasitas berpikir yang memungkinkan generasi muda membaca realitas
secara lebih jernih, dan bertindak secara lebih strategis. Jika
kesejahteraan masyarakat adalah tujuan, maka generasi muda memang tidak bisa
diabaikan. Tetapi lebih dari itu, mereka perlu dipahami secara lebih konkret dalam
keterbatasan sekaligus potensinya. Dan
mungkin di situlah letak tantangan sebenarnya: bukan sekadar mendorong generasi
muda untuk berubah, tetapi memastikan bahwa sistem terutama
pendidikan tidak terus-menerus menahan kemungkinan perubahan itu
sendiri.
Penutup
Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang terasa belum
sepenuhnya selesai, dan mungkin memang tidak perlu diselesaikan secara tergesa.
Peran pemuda dalam pendidikan, terutama dalam konteks Hari Pendidikan Nasional
2026, tampaknya lebih tepat dipahami sebagai proses yang terus bergerak, bukan
posisi yang mapan. Ada dinamika yang tidak bisa dipaksakan rapi.
Di satu sisi, pemuda dituntut untuk lebih berani mengambil peran.
Bukan hanya menyuarakan aspirasi, tetapi juga menguji gagasan dalam praktik,
sekecil apa pun ruangnya. Namun di sisi lain, ada realitas struktural yang
sering kali membuat langkah itu terasa tertahan, entah oleh birokrasi, budaya
akademik, atau bahkan keraguan internal. Saya kira, di titik ini, yang menjadi
penting bukan sekadar hasil akhir, melainkan keberanian untuk tetap berada
dalam proses itu sendiri. Terus bertanya, terus mencoba, dan mencari kejelasan
arah pencarian jati dirinya.
Mungkin justru di situlah makna keterlibatan pemuda: bukan sebagai
jawaban, tetapi sebagai kemungkinan. Sebuah energi yang belum sepenuhnya
terdefinisi, tetapi terus mendorong pendidikan untuk tidak berhenti menjadi
ruang yang hidup, terbuka, dan meskipun perlahan berubah. Keyakinan bahwa
pendidikan yang tinggi sebagai energi pemuda untuk membawa bangsa Indonesia
berjaya.
Daftar Bacaan
- Checkoway, B., & Aldana,
A. (2021). Youth participation and community change. Journal of
Community Practice, 29(3), 243–256.
- Loader, B. D., Vromen, A.,
& Xenos, M. (2021). The
networked young citizen. Information, Communication & Society,
24(4), 590–607.
- OECD. (2023). Youth and the
Future of Work. Paris: OECD Publishing.
- Putnam, R. D. (2022). The
Upswing: How America Came Together and How We Can Do It Again. Simon
& Schuster.
- Standing, G. (2021). The
Precariat: The New Dangerous Class. Bloomsbury.
- van Dijk, J. (2022). The
Digital Divide. Polity Press.
- Sari, D. P., & Nugroho, Y.
(2022). Peran pemuda dalam pembangunan sosial di Indonesia. Jurnal
Sosiologi Reflektif, 16(2), 145–160.
- Prasetyo, A., &
Kurniawan, B. (2023). Kewirausahaan pemuda dan ekonomi digital. Jurnal Ekonomi dan
Pembangunan Indonesia,
23(1), 55–70.
- Wibowo, H., & Santoso,
R. (2021). Partisipasi politik generasi muda. Jurnal Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, 25(3), 210–225.
- Lestari, N. (2024). Digital
literacy and youth empowerment. Journal of Development Studies,
60(2), 310–325.
.png)
0 Comments