Essai Hari Pendidikan Nasional 2026
Wahyu Taufiqur Rohman
Program Doktor UIN KH. Abdurrahamn Wahid Pekalongan
Pendahuluan
Momentum perjalanan pendidikan di Indonesia
akan kembali di kenang, tanggal 2 bulan Mei disetiap tahunnya selalu
diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Peringatan tersebut
selalu menyisakan pertanyaan lanjutan, seperti halnya apakah pendidikan di
Indonesia sudah berhasil? Jika sudah, apa tolak ukurnya? dan berbagai
pertanyaan-pertanyaan lainnya. Apalagi pertanyaan-pertanyaan seperti itu
sekarang dihadapkan dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu luar
biasa mempengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk pada sektor pendidikan. Maka
mendiskusikan hal tersebut, menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai
penduduk sebangsa dan setanah air yang memiliki cita-cita mulia bahwa Indonesia
harus terbebas dari pengaruh bodoh dan kebodohan. Untuk itu mari kita pelajari
seksama dimulai dari budaya sederhana yang semakin terkikis dikarenakan
pengaruh zaman, budaya tersebut adalah budaya gotong royong.
Budaya gotong royong merupakan warisan
tradisi dari pendahulu bangsa ini yang menanamkan nilai kerja sama, kepedulian
antar sesama, dan target yang ingin dicapai bersama, pada umumnya jejak tradisi
yang baik ini disebut local wisdom(Sukmawati
et al. 2025) . Namun, dewasa ini nilai gotong royong
semakin luntur terbawa arus globalisasi dan sikap individualistis. Kehidupan
modern yang syarat dengan budaya serba cepat, seolah menggiring manusia menjadi
mesin-mesin yang dituntut serba cepat untuk meninggalkan arti kebersamaan,
kerukunan dan gotong royong. Semua itu, tentunya juga berdampak pada sektor
pendidikan. Pendidik dan peserta didik semakin kehilangan rasa kemanusiaannya.
Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk menjadikan manusia
menjadi pribadi yang bermoral, seakan hari ini kehilangan perannya. Semakin
hari manusia semakin dipenuhi dengan sikap individualistis, prilaku serba
instan, dan ego yang semakin membabi buta.
Persoalan tersebut diatas tentulah masih bisa dicarikan solusi. Karena sampai hari ini gelombang dan arus pendidikan Indonesia masih kearah gelombang positif dan bisa diharapkan, karena banyak tokoh sepakat bahwa diujung sana pasti ada cahaya yang akan membawa pendidikan Indonesia menjadi lebih terang dan cemerlang. Terlebih Indonesia akan menuju tahun 2045, yang mana banyak tokoh menyebut tahun tersebut dengan Indonesia emas. Menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia harus menyiapkan pendidikan karakter sebagai jawaban atas masalah yang akan dihadapi(Saripah, Herlambang, and Muhtar 2025). Pendidikan karakter berbasis gotong royong menjadi salah satu pilar utama untuk mencapai visi tersebut. Namun, masih ada beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di Indonesia saat ini. Untuk itu perlu pembahasan mendalam dan persiapan yang menyeluruh sebelum semuanya terlambat.
Pembahasan
Nilai gotong royong di dunia pendidikan
Nilai gotong royong
dalam dunia pendidikan merupakan sikap bekerja sama dan saling membantu
antarindividu untuk mencapai tujuan bersama dalam proses pembelajaran. Nilai
ini menekankan pentingnya kebersamaan daripada kepentingan pribadi. Dalam
lingkungan sekolah, gotong royong tercermin melalui aktivitas belajar kelompok
dan interaksi sosial yang positif. Siswa diajarkan untuk berbagi pengetahuan,
pengalaman, dan keterampilan dengan teman-temannya(Maulana 2020). Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih efektif dan
menyenangkan. Selain itu, gotong royong juga melatih siswa untuk memiliki rasa
empati terhadap orang lain. Mereka belajar memahami kesulitan teman dan
berusaha memberikan bantuan. Nilai ini juga memperkuat rasa persatuan di dalam
kelas. Tidak ada siswa yang merasa tertinggal karena semua saling mendukung.
Oleh karena itu, gotong royong menjadi bagian penting dalam pembentukan
karakter peserta didik.
Penerapan nilai gotong royong dalam pendidikan dapat dilakukan
melalui berbagai kegiatan yang melibatkan kerja sama. Misalnya, siswa bekerja
dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas atau proyek tertentu. Dalam kegiatan
tersebut, setiap anggota memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Hal
ini melatih siswa untuk disiplin dan menghargai kontribusi orang lain. Selain
itu, kegiatan gotong royong juga dapat dilakukan dalam bentuk kerja bakti di
lingkungan sekolah. Kegiatan ini menumbuhkan rasa kepedulian terhadap
kebersihan dan kenyamanan bersama. Guru juga berperan penting dalam menanamkan
nilai gotong royong melalui metode pembelajaran yang kolaboratif. Dengan
demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik tetapi juga
keterampilan sosial. Nilai gotong royong juga membantu menciptakan suasana
belajar yang harmonis. Hubungan antar siswa menjadi lebih erat dan saling
menghargai. Pada akhirnya, nilai ini membentuk generasi yang peduli,
bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Implementasi
Budaya Gotong Royong di Lembaga Pendidikan
Teladan dari
pendidik
Nasihat paling mulia bukanlah untaian kata-kata mutiara, akan
tetapi teladan nyata dari para pendidik. Pendidik adalah seorang yang memiliki
kedudukan sebagai orang tua di lembaga pendidikan, tentulah peserta didik baik
itu (siswa, mahasiswa, ataupun santri) melihat dan akan mencontoh prilaku para
pendidik. Oleh karenanya, menjadi pendidik berarti harus siap menjadi teladan.
Dalam rangka menumbuhkan budaya gotong royong di lembaga pendidikan (sekolah,
kampus, dan pesantren), maka haruslah dimulai dari teladan para pendidiknya.
Mau tidak mau, suka tidak suka budaya gotong royong terlebih dahulu harus
tumbuh dilingkungan pendidik nya, mengakar kuat dan berbuah perilaku nyata.
Sebagai pendidik, hindarilah perilaku individualistis, acuh terhadap sesama,
dan menumbuhkan egosentrisme diantara sesama pendidik. Sadarilah bahwa untuk
menghadirkan pendidikan yang humanis harus dilandasi perasaan humanis dan
pandangan kasih sayang kepada peserta didik.
Pandangan kasih sayang dari pendidik akan menumbuhkan empati bahwa
setiap masalah akan selalu mendapatkan jalan keluar jika dilandasi nilai
kebersamaan dan kerukunan. Out-put dari itu semua adalah peserta didik
merasakan kehadiran guru dalam setiap proses pendidikannya di lembaga
pendidikan tersebut. Dalam konteks pendidik sebagai teladan nilai gotong royong
semua itu bisa tercerminkan dari sikap :
1.
Kolaborasi
aktif antar pendidik
2.
Jiiwa
tanggung jawab bersama
3.
Menghargai
keberagaman
Penanaman budaya gotong royong kepada
peserta didik
Penanaman budaya gotong royong kepada peserta didik akan mudah diwujudkan ketika
lembaga pendidikan hadir secara maksimal. Ini semua memerlukan konsentrasi dan
kesungguhan dalam upaya nya. Adapun upaya tersebut bisa diwujudkan dengan
hal-hal sederhana, antara lain:
1. Menumbuhkan
rasa empati dalam bergotong royong baik dikelas dan diluar kelas
Dalam rangka menumbuhkan rasa empati
peserta didik, pendidik bisa menyampaikan materi-materi tentang kepedulian
sosial dengan muatan yang ringan dan bisa dipraktikkan dalam kegiatan
sehari-hari. Penanaman tersebut jika dilakukan dengan konsisten maka akan
menghasilkan sesuatu yang maksimal (Almira et
al. 2022). Tentu tidak berhenti pada proses dikelas
saja, akan tetapi pendidik harus memberikan teladan nyata diluar kelas seperti
halnya, ketika ada peserta didik yang sedang mengalami kesulitan pendidik harus
hadir sebagai orang yang peduli atas masalahnya. Ketika hal tersebut disaksikan
oleh peserta didik, maka mereka akan merekam kejadian tersebut dan tertanam
pada dirinya bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan adalah perbuatan
terpuji yang dicontohkan oleh para pendidik.
2. Menumbuhkan
rasa tanggung jawab kepada peserta didik.
Rasa tanggung jawab peserta didik bisa
ditumbuhkan dengan kegiatan sederhana, namun terkadang hal tersebut luput dari
pantuan pendidik. Seperti halnya, tanggung jawab terhadap kebersihan kelas,
toilet, dan halaman. Maka peran pendidik disini sangat diperlukan. Peran
tersebut bisa dicerminkan ketika ada peserta didik yang malas untuk menjaga
kebersihan harus ditegur dan diarahkan. Sering terjadi bahwa peserta didik yang
menjalankan piket kelas hanya dilakukan oleh peserta didik putri, hal tersebut
tentu tidak dibenarkan. Ketika hal tersebut terjadi maka, pendidik harus
berupaya untuk menegur dan memberikan arahan bahwa, tanggung jawab seperti itu
adalah tanggung jawab bersama. Rasa tanggung jawab seperti itu juga perlu teladan
dari para pendidik, jika pendidik memiliki rasa tanggung jawab yang penuh dan
diekspresikan dalam kegiatan nyata, maka mudah bagi peserta didik untuk meniru
dan meneladaninya.
3. Menumbuhkan rasa
kebersamaan melalui proyek kelompok.
Setiap anggota kelompok memiliki peran dan tanggung jawab
masing-masing, sehingga mereka belajar untuk saling bergantung dan mendukung
satu sama lain. Proses diskusi, berbagi ide, serta pemecahan masalah secara
bersama-sama mendorong terciptanya komunikasi yang baik antar siswa. Selain
itu, siswa juga belajar menghargai perbedaan pendapat dan latar belakang dalam
kelompok. Kebersamaan yang terjalin membuat suasana belajar menjadi lebih
menyenangkan dan tidak membosankan. Melalui proyek kelompok, siswa tidak hanya
mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan sosial. Mereka
menjadi lebih peduli terhadap keberhasilan bersama daripada kepentingan
individu. Hal ini secara tidak langsung memperkuat rasa persatuan dan
solidaritas di antara siswa. Dengan demikian, proyek kelompok menjadi sarana
penting dalam menanamkan nilai kebersamaan di sekolah
Penutup
Indonesia emas 2045 akan mudah diwujudkan,
jika pendidik dan seluruh pihak yang bertanggung jawab atas proses pendidikan
di Indonesia sadar bahwa, hal baik tersebut akan terwujud jika pendidikan di Indonesia
kembali kepada prinsip gotong royong. Sudah terlalu jauh pendidikan di
Indonesia terbuai atas modernitas dan globalisasi yang berefek pada sikap
individualistis baik dari pendidiknya maupun peserta didiknya. Seakan-akan
lembaga pendidikan, menciptakan manusia-manusia robot yang jauh dari kata
humanis dan pendidikan humanis. Pendidik harus menjadi teladan utama dalam hal
ini, singkirkan jauh-jauh konsep individualistis, egosentrisme, dan sikap yang
tidak menghargai perbedaan.
Referensi
Almira,
Yulia, Azwar Ananda, Isnarmi Moeis, and Susi Fitria Dewi. 2022. “Upaya
Meningkatkan Sikap Kepedulian Sosial Siswa Di SMAN 1 Ranah Batahan.” Journal
of Education, Cultural and Politics 2(2). doi:10.24036/jecco.v2i2.55.
Maulana,
Irwan. 2020. “MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER GOTONG ROYONG .”
Jurnal Isema : Islamic Educational Management 5(1).
doi:10.15575/isema.v5i1.5393.
Saripah,
Nati, Yusuf Tri Herlambang, and Tatang Muhtar. 2025. “Reorientasi Pendidikan
Karakter Dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045: Sebuah Tinjauan Dalam
Perspektif Pedagogik Kritis.” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru 10(2).
doi:10.51169/ideguru.v10i2.1461.
Sukmawati,
Sukmawati, Jamaludin Jamaludin, Shofia Nurun Alanur, Andi Alda Septianingsi, Ni
Made Febyanti, Risnawati A Lasaka, Aditya Aditya, et al. 2025. “Integrasi Nilai
Budaya Lokal Ke Dalam Pembelajaran PPKn SMPN 9 Palu.” QISTINA: Jurnal
Multidisiplin Indonesia 4(1). doi:10.57235/qistina.v4i1.6172.
.png)
0 Comments