DARI RUANG KELAS KE RUANG KEMANUSIAAN: MENUMBUHKAN KEMBALI GOTONG ROYONG DALAM PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN

Nama: Thoyibah
NIM: 53325004
Program: Doktor Pendidikan Agama Islam (S3) UIN K.H.Abdurrahman Wahid Pekalongan

PENDAHULUAN
           Bukan sekadar ungkapan simbolik yang bersifat seremonial, tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera” dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 merepresentasikan suatu seruan etis untuk merekonstruksi orientasi pendidikan agar tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal sekaligus responsif terhadap dinamika zaman. Pendidikan dalam perspektif kontemporer tidak lagi dipahami sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial dan relasi kemanusiaan (Freire, 2021: 72; Biesta, 2022: 15).

          Gagasan ini sejatinya telah lama ditegaskan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrati anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Dewantara, 2013: 20). Artinya, pendidikan sejak awal tidak pernah dimaksudkan sebagai proses individual semata, melainkan sebagai upaya membentuk manusia yang hidup dalam kebersamaan.

           Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, kemajuan kecerdasan buatan, serta kecenderungan pola pembelajaran yang semakin individualistik, dunia pendidikan menghadapi paradoks baru: akses terhadap pengetahuan semakin terbuka luas, tetapi ruang interaksi kolektif justru kian menyempit (Selwyn, 2021: 98; OECD, 2023: 44). Kondisi ini membentuk generasi yang adaptif secara teknologi, tetapi belum tentu kuat dalam relasi sosial.

           Dalam situasi tersebut, nilai gotong royong menjadi semakin relevan. Lebih dari sekadar tradisi, gotong royong merupakan modal sosial yang memperkuat kohesi dan solidaritas masyarakat (Putnam, 2020: 134). Akan tetapi, ketika sistem pendidikan lebih menekankan capaian individual dan kompetisi, nilai tersebut perlahan mengalami erosi (Ball, 2021: 56). Padahal, masa depan bangsa sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam membangun kolaborasi, empati, dan kontribusi sosial (UNESCO, 2021: 23). Oleh karena itu, Hari Pendidikan Nasional 2026 harus dimaknai sebagai momentum reflektif untuk menegaskan kembali esensi pendidikan yang memanusiakan manusia.

PEMBAHASAN

1.      Pendidikan yang Kehilangan Ruang Kebersamaan

           Fenomena pendidikan kontemporer menunjukkan semakin terpinggirkannya semangat kolektivitas. Sistem evaluasi yang menitikberatkan pada capaian personal membentuk budaya kompetisi yang kuat, bahkan secara implisit menanamkan persepsi bahwa keberhasilan identik dengan kemenangan individu semata (Biesta, 2022: 47).

           Kehadiran teknologi digital turut memperkuat kecenderungan tersebut. Peserta didik lebih sering berinteraksi melalui perangkat layar, menyelesaikan tugas secara mandiri, dan minim dialog bermakna. Akibatnya, muncul ketidakseimbangan antara kecerdasan akademik dan keterampilan sosial-emosional (OECD, 2023: 67). Secara kasat mata, sistem ini memang efisien, tetapi menyimpan risiko serius: lahirnya generasi yang unggul secara kognitif, namun rapuh dalam kehidupan sosial.

           Ketika kemampuan bekerja sama, empati, dan kepekaan sosial tidak terasah, pendidikan kehilangan dimensi kemanusiaannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas kehidupan sosial masyarakat secara luas.

2.      Revitalisasi Gotong Royong sebagai Transformasi Pendidikan

           Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan perubahan paradigma menuju pembelajaran yang kolaboratif dan transformatif. Gotong royong harus diposisikan bukan sekadar nilai budaya, tetapi sebagai strategi pendidikan yang relevan dalam menghadapi tuntutan abad ke-21.

           Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah project-based learning, yang memungkinkan peserta didik menyelesaikan masalah nyata secara bersama-sama (Boss & Larmer, 2021: 102). Dalam model ini, pembelajaran tidak lagi berpusat pada individu, melainkan pada proses kolaboratif yang melibatkan diskusi, negosiasi, dan kerja tim.

           Selain itu, peer learning dan peer tutoring terbukti efektif dalam membangun interaksi sosial sekaligus menumbuhkan empati dan kepemimpinan (Topping, 2021: 88). Peserta didik tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga menjadi sumber belajar bagi sesamanya.

           Lebih jauh, pendidikan perlu terhubung dengan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas agar lebih kontekstual (Ainscow, 2020: 59). Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus diposisikan sebagai satu ekosistem pendidikan yang saling menguatkan. Dalam kerangka ini, nilai budaya lokal seperti gotong royong tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam praktik nyata.

           Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Tilaar yang menekankan bahwa pendidikan harus bersifat transformatif, yakni mampu melahirkan individu yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap perubahan masyarakat (Tilaar, 2012: 45). Dengan demikian, revitalisasi gotong royong bukan sekadar upaya romantisme masa lalu, melainkan strategi masa depan.

3.      Belajar dari Ruang Kebersamaan

           Pengalaman empiris menunjukkan bahwa nilai gotong royong sebenarnya masih hidup dalam praktik pendidikan. Dalam kegiatan pendampingan guru, misalnya, solidaritas muncul secara spontan ketika menghadapi situasi darurat. Guru, siswa, dan orang tua bahu-membahu memberikan bantuan, menunjukkan bahwa empati dapat tumbuh kuat ketika diberi ruang.

           Pengalaman ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus dihidupkan melalui praktik nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan konstruktivisme sosial bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi (Daniels, 2021: 41).

           Dalam pengalaman akademik, ide-ide terbaik justru sering lahir dari diskusi sederhana, pertukaran gagasan, dan keberanian untuk saling belajar. Ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan hanya nilai sosial, tetapi juga metode belajar yang efektif dan manusiawi.

4.      Pendidikan Memerdekakan dalam Makna yang Lebih Dalam

           Makna pendidikan yang sejati tidak dapat dilepaskan dari upaya pembebasan manusia secara utuh. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun potensi manusia agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya (Dewantara, 2013: 20). Dalam konteks ini, gotong royong menjadi medium penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri.

           Kesadaran ini perlu diarahkan pada pemahaman bahwa nilai tertinggi dari keberhasilan individu terletak pada kemampuannya memberi manfaat bagi orang lain. Perspektif ini selaras dengan Tilaar (2012: 45) yang menekankan pentingnya pendidikan transformatif dalam membangun kesadaran sosial.

           Dengan demikian, pendidikan yang memerdekakan bukan hanya membebaskan dari ketidaktahuan, tetapi juga dari egoisme dan keterasingan sosial. Gotong royong menjadi fondasi untuk membentuk manusia Indonesia yang utuh: cerdas secara intelektual, sekaligus peka secara sosial.

PENUTUP

1.      Kesimpulan
           Revitalisasi nilai gotong royong dalam pendidikan bukan sekadar upaya menjaga tradisi, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan esensi pendidikan Indonesia. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan individu, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepekaan sosial, empati, dan tanggung jawab kolektif.

           Di tengah arus individualisme dan disrupsi digital, gotong royong menjadi jangkar yang menjaga pendidikan tetap berakar pada nilai kemanusiaan. Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 harus dimanfaatkan untuk meneguhkan kembali arah tersebut.

2.      Pesan Inspiratif

           Masa depan pendidikan Indonesia akan tetap menemukan arah selama nilai gotong royong terus hidup dalam setiap ruang pembelajaran. Dari ruang kelas yang sederhana, dari keteladanan guru, dan dari interaksi antarsiswa, tumbuh harapan akan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli.

           Pendidikan yang ideal bukan hanya melahirkan individu unggul, tetapi manusia yang mampu berjalan bersama, berbagi, dan membangun masa depan secara kolektif. 

Post a Comment

0 Comments