Strategi Penguatan Literasi Budaya di Era Globalisai

Nama:  Nurul Hikmah

Kelas: Tadris Matematika

Pendahuluan

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hajar Dewantara sekaligus menjadi momen refleksi terhadap arah pendidikan nasional. Pada peringatan tahun 2026, pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks akibat perkembangan globalisasi. Kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, serta terbukanya interaksi antarbudaya telah membawa perubahan besar dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.

Globalisasi memberikan banyak manfaat, terutama dalam hal akses pengetahuan. Peserta didik kini dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber seperti video pembelajaran, jurnal ilmiah, maupun kelas daring. Namun di sisi lain, globalisasi juga menimbulkan tantangan, salah satunya adalah berkurangnya perhatian generasi muda terhadap budaya lokal. Banyak anak muda yang lebih mengenal budaya populer luar negeri dibandingkan budaya daerahnya sendiri.

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari bahasa daerah, kesenian tradisional, adat istiadat, hingga nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Jika generasi muda mulai menjauh dari budayanya sendiri, maka identitas bangsa dapat  diperkuat.

Literasi budaya tidak hanya berarti mengetahui budaya, tetapi juga memahami, menghargai, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Literasi budaya merupakan kompetensi penting untuk menjaga identitas nasional di tengah globalisasi (Nawir dkk., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa penguatan literasi budaya sangat relevan untuk dibahas dalam konteks pendidikan saat ini.

Isi

Memahami Makna Literasi Budaya di Era Modern

Literasi budaya dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengenal, memahami, dan menghargai keberagaman budaya. Tidak hanya sebatas mengetahui simbol budaya seperti tarian atau pakaian adat, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, toleransi, dan rasa kebersamaan.

Menurut penelitian dalam J-CEKI, literasi budaya mencakup beberapa aspek, yaitu pengetahuan, kesadaran, kepekaan, kompetensi, dan kecerdasan budaya (Nawir dkk., 2025). Artinya, seseorang yang memiliki literasi budaya tidak hanya mengetahui budaya, tetapi juga mampu memahami makna dan menerapkannya dalam kehidupan sosial.

Di era globalisasi, kemampuan ini menjadi semakin penting karena generasi muda tidak hanya berinteraksi dengan budaya lokal, tetapi juga budaya global melalui media digital. Tanpa pemahaman yang kuat, mereka berpotensi kehilangan identitas budayanya.

Tantangan Penguatan Literasi Budaya

Salah satu tantangan utama adalah perkembangan teknologi digital. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Melalui platform tersebut, budaya global masuk dengan sangat cepat dan memengaruhi gaya hidup serta pola pikir mereka.

Akibatnya, banyak peserta didik lebih familiar dengan budaya luar dibandingkan budaya lokal. globalisasi dapat menggeser identitas budaya jika tidak diimbangi dengan literasi budaya yang kuat (Yuliana dkk., 2024).

Selain itu, kurangnya praktik budaya dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi tantangan. Penggunaan bahasa daerah mulai berkurang, permainan tradisional semakin ditinggalkan, dan kegiatan seni budaya tidak lagi menjadi bagian dari keseharian generasi muda.

Strategi Penguatan Literasi Budaya melalui Pendidikan

Sekolah menjadi tempat yang strategis dalam membangun literasi budaya. Guru memiliki peran penting dalam mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran. Misalnya, cerita rakyat dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, sementara konsep budaya dapat diterapkan dalam mata pelajaran lain seperti matematika dan seni.

Penelitian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan literasi budaya sekaligus membentuk karakter siswa (Luthfia dkk., 2024).

Selain itu, program dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melalui projek penguatan profil pelajar Pancasila juga dapat menjadi sarana efektif. Melalui kegiatan ini, siswa dapat terlibat langsung dalam kegiatan budaya, seperti observasi, dokumentasi, dan praktik budaya di masyarakat.

Pemanfaatan Teknologi Digital

Teknologi tidak selalu menjadi ancaman, tetapi juga dapat menjadi peluang. Generasi muda dapat memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal melalui konten kreatif, seperti video, blog, atau podcast.

Penelitian dalam Indo-MathEdu Intellectuals Journal menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam literasi budaya dapat meningkatkan kesadaran budaya generasi muda (Amelia dkk., 2024).Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, budaya lokal dapat dikenal lebih luas, bahkan hingga ke tingkat global.

Peran Keluarga dan Masyarakat dalam penguatan Literasi Budaya 

Penguatan literasi budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga memiliki peran penting sebagai lingkungan pertama dalam mengenalkan budaya kepada anak. Orang tua dapat menanamkan nilai budaya melalui kebiasaan sederhana, seperti menggunakan bahasa daerah atau mengenalkan tradisi keluarga.

Masyarakat juga memiliki peran melalui kegiatan budaya seperti sanggar seni, festival, dan kegiatan adat. Penelitian dalam Pedagogy menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal dapat memperkuat identitas budaya peserta didik (2024).

Refleksi Pribadi sebagai calon pendidik

Sebagai mahasiswa dan calon pendidik, saya menyadari bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Saya melihat bahwa generasi muda sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap budaya lokal, namun cara penyampaiannya sering kali kurang menarik.

Berdasarkan pengalaman di lingkungan sekitar, peserta didik lebih antusias jika budaya dikenalkan melalui cara yang interaktif, seperti praktik langsung atau media digital. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang tepat sangat berpengaruh terhadap minat mereka.

Sebagai calon guru, saya ingin berperan dalam mengenalkan budaya dengan cara yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Penutup

Globalisasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari, tetapi identitas budaya harus tetap dijaga. Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan, namun tidak boleh menghilangkan nilai-nilai budaya bangsa.

Literasi budaya menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan jati diri. Penguatan literasi budaya dapat dilakukan melalui pendidikan, pemanfaatan teknologi, serta dukungan keluarga dan masyarakat.

Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pelestarian budaya. Generasi yang maju adalah generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan identitasnya.

Referensi Nawir, M., dkk. (2024). Gerakan Literasi Budaya di Masyarakat. Jurnal Pendas.  Nawir, M., dkk. (2025). Literasi Budaya sebagai Kecakapan Hidup di Era Globalisasi. J-CEKI. Supriatna, M. N., & Atikah, C. (2024). Penguatan Kewargaan melalui Literasi Budaya di Era Digital. Jurnal Pendas.  Amelia, D. P., dkk. (2024). Integrasi Literasi Budaya melalui Media Sosial pada Generasi Z. Indo-MathEdu Intellectuals Journal.  Luthfia, R. A., dkk. (2024). Projek Berbasis Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Literasi Budaya. Jurnal Pendidikan Tambusai.  Yuliana, dkk. (2024). Literasi Budaya dan Kewargaan: Tantangan Globalisasi terhadap Identitas Nasional. Jurnal Sindoro Cendikia Pendidikan.  Analysis of Cultural Literacy Learning Based on Local Wisdom. (2024). Pedagogy. 

Post a Comment

0 Comments