SING PENTING SAHUR

 

Langit Mojolawaran masih pekat ketika suara kayu dipukul perlahan terdengar dari serambi rumah. Tok… tok… tok… ritmenya khas, tidak tergesa, tetapi cukup untuk membangunkan siapa pun yang telah terbiasa. Di antara sunyi yang menyelimuti desa mojolawaran  Gabus, Pati, suara itu seperti panggilan yang melintasi waktu—panggilan untuk bangun, untuk makan sahur, untuk mengingat Tuhan.

Di dalam pondok yang sederhana, Muhlisin kecil menggeliat. Ia menarik sarungnya lebih rapat, mencoba menutup telinga dari suara yang sebenarnya sudah sangat dikenalnya. Namun suara itu semakin dekat.

“Sin… bangun. Wis jam telu,” suara lembut tapi tegas itu terdengar.

Itu suara simbahnya, KH Abdul Kholik.

Muhlisin membuka mata setengah, memandang lampu teplok yang redup di sudut kamar. Udara dingin menusuk tulang. Jam tiga dini hari, waktu yang bagi anak seusianya terasa terlalu kejam untuk bangun.

“Simbah… Kulo boten poso…” gumamnya lirih.

Namun simbah hanya tersenyum. Wajahnya yang teduh terlihat samar dalam cahaya lampu. Ia tidak pernah marah, tidak pernah memaksa dengan keras. Tetapi ada sesuatu dalam suaranya yang selalu membuat Muhlisin bangkit, meski dengan setengah hati.

“Ora opo-opo. Sing penting sahur,” jawab simbah singkat.

Kalimat itu selalu sama. Tidak berubah. Tidak perlu penjelasan panjang. Bagi simbah, sahur bukan sekadar makan, tetapi latihan jiwa.

Sejak kelas 3 SD hingga masa Madrasah Aliyah di Abadiyah, Muhlisin memang lebih sering  tidur di pondok milik simbahnya. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat pengajian, tempat para santri belajar, dan ruang spiritual bagi jamaah Tarekat Khalidiyah Mujaddadiyah yang dipimpin oleh KH Abdul Kholik.

Simbah bukan orang biasa. Ia dikenal luas sebagai tokoh tarekat yang disegani di daerah Gabus dan sekitarnya. Selain itu, ia juga pendiri Yayasan Pendidikan Islam Abadiyah di Kuryokalangan. Banyak orang datang kepadanya, bukan hanya untuk belajar agama, tetapi juga untuk mencari ketenangan hati.

Namun di mata Muhlisin kecil, simbah tetaplah kakek yang membangunkannya setiap jam tiga dini hari.

Di dapur, aroma nasi hangat dan sayur lodeh sudah tercium. Simbah duduk bersila di atas tikar, di depannya dua piring sederhana.

“Ayo, Sin…,” katanya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.

Muhlisin duduk dengan mata masih berat. Tangannya mengambil nasi, tetapi pikirannya masih tertinggal di kasur.

“Kalau ndak puasa, ngapain sahur, mbah?” tanyanya suatu malam.

Simbah tersenyum, lalu menjawab pelan, “Sahur iku berkah. Sing penting awakmu sinau disiplin, sinau ngalahke hawa nafsu. Poso iku urusanmu karo Gusti Allah.”

Jawaban itu sederhana, tetapi entah mengapa selalu membekas.

Muhlisin tidak selalu berpuasa. Kadang ia benar-benar tidak kuat, terutama jika keesokan harinya ada pelajaran olahraga di sekolah. Berlari di lapangan di bawah terik matahari tanpa makan dan minum terasa sangat berat.

Atau saat ayahnya, H. Nur Salim, memintanya membantu di sawah. Menyemprot padi, matun, atau sekadar mengangkat hasil panen, semua itu membutuhkan tenaga. Dalam kondisi seperti itu, sering kali ia memilih untuk tidak berpuasa.

Belum lagi ketika ia harus ikut membantu jualan di pasar. Pasar Gabus, pasar Karaban, atau pasar Winong, semuanya ramai sejak pagi buta. Ia harus bangun lebih awal, menata dagangan, melayani pembeli. Di tengah hiruk pikuk pasar, rasa haus dan lapar sering kali tak tertahankan.

Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah: ia tetap dibangunkan untuk sahur.

Ada satu malam Senin yang selalu diingat Muhlisin.

Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah. Muhlisin benar-benar tidak ingin bangun. Ia menarik selimut, menutup kepala, berharap simbah melewatkannya.

Namun suara ketukan itu tetap datang.

“Sin… bangun. Malem Senin iki.”

Muhlisin pura-pura tidur. Ia menahan napas, berharap simbah mengira ia benar-benar terlelap.

Beberapa saat hening. Lalu langkah kaki simbah mendekat. Tangannya yang hangat menyentuh bahu Muhlisin.

“Sin… urip iku kudu dilatih. Ayo sahur.”

Tidak ada paksaan, tidak ada bentakan. Hanya kalimat sederhana yang penuh makna.

Dengan berat hati, Muhlisin bangun. Ia mengikuti simbah ke dapur. Malam itu mereka makan lebih banyak dari biasanya. Simbah bahkan menambahkan lauk tempe goreng kesukaan Muhlisin.

“Besok poso, mbah?” tanya Muhlisin.

Simbah tersenyum. “Nek kuat, yo poso. Nek ora kuat, yo ora opo-opo. Sing penting awakmu wis sinau.”

Hari-hari terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Dari anak kecil yang sering mengeluh bangun sahur, Muhlisin perlahan tumbuh menjadi remaja yang mulai memahami makna di balik kebiasaan itu.

Ia mulai menyadari bahwa sahur jam tiga dini hari bukan sekadar rutinitas. Itu adalah latihan disiplin, latihan kesadaran, dan latihan spiritual.

Ia juga mulai lebih sering berpuasa, meskipun tidak selalu penuh. Ada hari-hari di mana ia tetap tidak berpuasa karena alasan tertentu. Tetapi kebiasaan sahur itu tetap ia jalani.

Di pondok, ia melihat para santri lain juga bangun pada waktu yang sama. Mereka juga ada yang sahur, membawa bekal dari rumag, meskipun kebanyakan tidak melakukannya. Namun pemandangan seperti  membaca alquran, memabaca dzikir dan wirid selalu berkumandang dari para santri lainnya. Suasana itu tenang, penuh kekhusyukan.

Simbah sering duduk di antara mereka, memimpin dzikir dengan suara pelan tetapi penuh kekuatan.

Suatu hari, ketika Muhlisin sudah duduk di bangku Madrasah Aliyah, ia memberanikan diri bertanya sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.

“Mbah, kenapa harus selalu sahur, meskipun tidak puasa?”

Simbah memandangnya lama, lalu berkata, “Sin..., sahur iku dudu mung kanggo wong poso. Sahur iku latihan urip. Wong sing iso tangi jam telu, kuwi wong sing iso ngalahke awake dhewe.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Yen awakmu wis biasa tangi wengi, awakmu bakal luwih cedhak karo Gusti Allah. Uripmu bakal luwih tertata.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa dalam.

Muhlisin terdiam. Ia mulai memahami bahwa yang diajarkan simbah bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi pembentukan karakter.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan itu tetap hidup dalam ingatan Muhlisin. Suara ketukan kayu di dini hari, aroma nasi hangat, dan wajah teduh simbah yang selalu tersenyum.

Ia mungkin tidak selalu berpuasa pada masa kecilnya. Ia mungkin sering mengeluh, sering malas. Tetapi kebiasaan sahur itu telah membentuk dirinya.

Ia belajar tentang disiplin dari bangun di waktu yang tidak nyaman. Ia belajar tentang keikhlasan dari makan tanpa kepastian akan berpuasa. Ia belajar tentang spiritualitas dari kebersamaan di waktu sunyi.

Dan yang paling penting, ia belajar tentang cinta, cinta seorang kakek yang tidak pernah memaksa, tetapi selalu membimbing dengan kelembutan.

Di setiap malam Senin dan malam Kamis, ketika jarum jam mendekati pukul tiga dini hari, kenangan itu sering kembali. Seolah-olah suara simbah masih terdengar:

“Sin..…! bangun. Wis jam telu…”

Dan dalam hati, Muhlisin menjawab pelan, “Inggih, mbah… kulo tangi…”

Post a Comment

0 Comments