ROMANTISME KUCING IRENG

 

Kabut tipis selalu turun perlahan di Desa Mojolawaran, Gabus, Pati, setiap menjelang dini hari. Udara terasa dingin, seolah mengajak siapa pun yang terlelap untuk tetap tenggelam dalam selimut panjang malam. Namun di salah satu sudut desa itu, ada sebuah rumah tua sekaligus pondok sederhana yang tak pernah benar-benar tidur. Dari sanalah, suara lirih ayat-ayat Al-Qur’an kerap mengalun sejak pukul tiga dini hari.

Rumah itu milik KH Abdul Kholik—seorang tokoh Toriqoh Khalidiyah Mujaddadiyah yang disegani, sekaligus pendiri Yayasan Pendidikan Islam Abadiyah di Kuryokalangan, Gabus, Pati. Wajahnya teduh, sorot matanya tajam namun penuh kasih. Ia dikenal bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai pembimbing ruhani bagi banyak orang. Dan di rumah itulah, seorang anak bernama Muhlisin tumbuh.

Sejak kelas 3 SD/MI, sekitar awal tahun 1980-an, Muhlisin sudah tinggal bersama kakeknya. Ia tidur di rumah sekaligus pondok KH Abdul Kholik, berbaur dengan para santri yang datang dari berbagai desa sekitar. Dari kecil hingga masa Madrasah Aliyah Abadiyah di tahun 1990-an, hidupnya tak pernah jauh dari lingkungan itu. Namun, di balik kedisiplinan pondok, ada satu cerita yang selalu dikenang, kisah tentang “kucing ireng”.

Setiap hari, tepat pukul tiga dini hari, KH Abdul Kholik akan bangun. Dengan langkah pelan, beliau berjalan menyusuri lorong rumah, membangunkan para santri satu per satu.

“Bangun… waktunya mengaji…”

Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk menggugah siapa pun yang sudah terbiasa.

Ketika sampai di tempat tidur Muhlisin, beliau akan berhenti sejenak.

“Lis… bangun…”

Muhlisin menggeliat, menarik selimut hingga menutupi kepala.

“Nggih, Mbah…” jawabnya lirih, antara sadar dan tidak.

Namun begitu langkah kakeknya menjauh, Muhlisin membuka sedikit matanya, memastikan keadaan aman. Lalu, dengan gerakan pelan, ia bergeser ke sisi lain, mencari posisi paling nyaman… dan kembali tertidur.

Beberapa menit kemudian, KH Abdul Kholik kembali.

“Lho… kok pindah?”

Ia menggeleng pelan.

“Dasar kucing ireng…”

Sejak saat itu, julukan itu melekat: kucing ireng.

 Julukan itu bukan sekadar gurauan. Muhlisin memang punya kebiasaan unik, selalu berpindah tempat ketika dibangunkan untuk mengaji.

Kadang ia tidak hanya bergeser di tempat lain. Ia benar-benar pindah tempat yang agak jauh.

Pernah suatu malam, setelah dibangunkan, ia diam-diam bangkit, berjalan pelan keluar kamar, lalu tidur lagi di ruang tamu.

Di malam lain, ia berpindah ke sudut bagian belakang rumah yang masih gelap, memanfaatkan dinginnya lantai untuk kembali terlelap. Pernah juga ia bersembunyi di balik tumpukan kitab di salah satu sudut pondok. Seperti seekor kucing hitam yang lihai, diam, cepat, dan sulit ditemukan.

Namun KH Abdul Kholik bukan orang yang mudah dikelabui.

Suatu dini hari, setelah tidak menemukan Muhlisin di tempat tidurnya, beliau hanya tersenyum kecil.

“Kucing ireng pasti pindah lagi…”

Beliau berjalan menyusuri ruang demi ruang. Dari kamar, ke ruang tamu, lalu ke serambi, hingga ke bagian belakang rumah. Dan benar saja.

Di sudut ruangan, Muhlisin terlihat meringkuk, tertidur lelap.

“Sin…”

Tak ada jawaban.

“Sin!”

Muhlisin terbangun kaget. Matanya masih berat, tubuhnya menggigil.

“Mbah…”

“Kalau jadi kucing ireng, jangan lupa… tetap harus bangun,” kata kakeknya sambil menahan senyum.

Tahun demi tahun berlalu. Kebiasaan itu masih terus terjadi.

Di tahun-tahun 1980-an, ketika listrik belum merata, lampu minyak menjadi saksi rutinitas mereka. Cahaya temaram menerangi wajah KH Abdul Kholik yang tekun membimbing, dan wajah Muhlisin yang sering kali masih setengah mengantuk.

“Baca lagi,” kata kakeknya setiap kali Muhlisin salah.

“Ulangi…”

Tidak ada bentakan, tapi juga tidak ada kompromi.

Di tengah kantuk yang berat, Muhlisin sering kali hampir tertidur sambil duduk.

Kepalanya terangguk-angguk.

“Sin…” tegur kakeknya.

 Ia tersentak, lalu kembali membaca.

Memasuki masa Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah Abadiyah di tahun 1990-an, Muhlisin mulai berubah, termasuk pikirannya semakin matang.

Namun satu hal yang masih sering terjadi: ia tetap menjadi “kucing ireng”.

Hanya saja, kini ia lebih cerdik.

Ia tidak lagi sembarangan berpindah. Ia memilih tempat-tempat tertentu, Lorong rumah bagian belakang, serambi belakang, atau ruang kosong yang jarang dilewati.

Suatu malam, ia merasa sangat lelah. Aktivitas sekolah dan pondok membuat tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga.

Ketika pukul tiga tiba, ia dibangunkan seperti biasa.

“Sin… bangun.”

“Nggih…”

Namun kali ini, ia punya rencana.

Begitu kakeknya pergi, ia segera bangkit, berjalan keluar, lalu menuju salah satu sudut rumah bagian belakang  yang gelap dan sepi.

“Di sini pasti aman,” pikirnya.

Ia pun tidur kembali, dengan perasaan puas.

Namun beberapa menit kemudian…

“Sin…”

Suara itu terdengar lagi.

Muhlisin membuka mata perlahan. Di depannya, KH Abdul Kholik sudah berdiri.

“Kalau sembunyi, jangan di tempat yang biasa,” kata beliau santai.

Muhlisin hanya bisa tersenyum kecut.

Ada satu kejadian yang sangat membekas dalam ingatan Muhlisin.

Suatu malam di musim hujan, angin bertiup kencang. Suasana dingin membuat semua orang enggan bangun.

Ketika dibangunkan, Muhlisin benar-benar tidak ingin bangkit.

Ia berpura-pura tidur lebih dalam.

Namun tiba-tiba, ia merasakan air dingin menyentuh wajahnya.

 “Ah!”

Ia terbangun kaget.

KH Abdul Kholik berdiri sambil membawa air wudhu.

“Kucing ireng kalau susah bangun, ya harus disiram,” katanya ringan.

Malam itu, Muhlisin tidak berani lagi berpindah.

Ia duduk, mengaji dengan mata terbuka lebar, meski hati masih bergetar.

Namun justru di malam itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Di tengah dingin, di antara suara hujan dan lantunan ayat suci, hatinya terasa tenang.

Seolah ada kehangatan yang tidak berasal dari selimut, tapi dari sesuatu yang lebih dalam.

Sejak saat itu, perlahan-lahan perubahan terjadi.

Muhlisin mulai belajar bangun tanpa dipaksa. Awalnya masih sesekali terlambat, masih sesekali menjadi “kucing ireng”.

Namun semakin lama, ia mulai menikmati waktu dini hari.

Ia mulai merasakan keheningan yang sakral.

Ia mulai memahami bahwa mengaji di waktu itu bukan sekadar rutinitas, tetapi perjalanan jiwa.

Suatu pagi, ia bangun lebih dulu dari kakeknya.

Ia duduk di ruang tengah pondok, membuka mushaf, dan mulai membaca.

Ketika KH Abdul Kholik keluar kamar, beliau terkejut.

“Lho… kucing ireng sudah bangun duluan?”

Muhlisin tersenyum.

“Sudah tidak jadi kucing ireng lagi, Mbah…”

KH Abdul Kholik tersenyum lebar.

“Alhamdulillah…..

Namun bagi Muhlisin, julukan itu tidak pernah hilang dari ingatannya.

Justru itulah yang menjadi pengingat perjalanan hidupnya.

Bahwa ia pernah malas, pernah menghindar, pernah lari dari tanggung jawab.

Namun melalui kesabaran seorang kakek, ia belajar untuk bangkit.

Suatu sore, menjelang ia lulus dari Madrasah Aliyah Abadiyah, ia duduk bersama kakeknya.

 “Mbah…”

“Ya, Sin..?”

“Kalau dulu saya tidak dipanggil kucing ireng… mungkin saya tidak seperti sekarang.”

KH Abdul Kholik tersenyum.

“Julukan itu bukan untuk merendahkan, tapi untuk mengingatkan.”

Muhlisin mengangguk.

Air matanya menetes perlahan.

Tahun-tahun berlalu. Muhlisin tumbuh menjadi pribadi yang matang, disiplin, dan berilmu.

Namun setiap kali ia bangun pukul tiga dini hari, kenangan itu selalu kembali.

Tentang rumah dan pondok sederhana di Mojolawaran.

Tentang pondok yang penuh perjuangan.

Tentang sudut-sudut gedung tempat ia pernah bersembunyi.

Dan tentang seorang kakek yang dengan sabar membangunkannya, meski ia selalu berpindah seperti kucing hitam.

Kini, di setiap sujudnya, ia selalu berdoa:

“Ya Allah… sebagaimana Mbah dulu membangunkan saya untuk mengaji… bangunkanlah hati saya untuk selalu dekat kepada-Mu.”

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Seolah membawa kembali suara itu..

“Sin… bangun…”

Dan di dalam hatinya, ia menjawab dengan penuh kesadaran:

“Nggih, Mbah… saya sudah bangun.”

Bukan lagi sebagai “kucing ireng” yang lari dari panggilan.

Tetapi sebagai manusia yang telah menemukan jalannya menuju cahaya


Post a Comment

0 Comments