Affix Ihsan Madani

affixmadani@gmail.com

PENDAHULUAN

Dalam konteks Hari Pendidikan Nasional, refleksi terhadap perjalanan pendidikan di Indonesia menjadi suatu kebutuhan. Pendidikan, sebagaimana digagas oleh Ki Hajar Dewantara, bukan hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi merupakan proses pembangunan karakter dan peradaban bangsa (Niyarci, 2022). Namun, era globalisasi menghadirkan tantangan kompleks bagi pendidikan, termasuk pendidikan agama Islam, yang kini harus beradaptasi dengan nilai-nilai universal, teknologi, dan dinamika sosial yang cepat (Zulkifli Lubis & Dewi Anggraeni, 2019). Di tengah arus global, muncul berbagai isu kontemporer seperti sekularisasi, pluralisme, dan tantangan dalam internalisasi nilai agama pada generasi muda (Romi Mesra, 2023).

Penelitian ini berangkat dari identifikasi celah bahwa pembahasan tentang pendidikan sebagai jalan peradaban sering kali terpisah antara warisan filosofi nasional (Ki Hajar Dewantara) dan respons pendidikan agama Islam terhadap tantangan global. Padahal, kedua aspek tersebut saling terkait dalam membentuk identitas dan karakter bangsa Indonesia. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji konsep pendidikan sebagai jalan peradaban dengan menghubungkan filosofi Ki Hajar Dewantara dengan dinamika pendidikan agama Islam di era global, serta memberikan opini subjektif berdasarkan analisis tersebut.

PEMBAHASAN

Pendidikan sebagai jalan peradaban dapat dipahami sebagai suatu proses sistematis yang tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan individu, tetapi juga untuk membangun tatanan sosial, nilai, dan budaya yang lebih maju dan beradab. Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia, dengan prinsip "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" yang menempatkan guru sebagai teladan, pemotivasi, dan pemberi dukungan dari belakang (Niyarci, 2022). Dalam konteks ini, pendidikan adalah engine penggerak kemajuan suatu bangsa.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), konsep ini mendapat dimensi spiritual dan moral. PAI tidak hanya mengajar tentang ritual, tetapi berperan dalam pembentukan karakter religius yang menjadi pondasi peradaban yang bermoral (Nurrotun Nangimah, 2018). Era globalisasi kemudian memperluas definisi ini, dimana pendidikan harus mampu membentuk individu yang tidak hanya religius dan berkarakter lokal, tetapi juga kompetitif, toleran, dan adaptif terhadap perubahan global (Zulkifli Lubis & Dewi Anggraeni, 2019). Artinya, jalan peradaban kini berjalan di lintasan yang lebih kompleks, menghubungkan nilai lokal, nasional, dan global.

Perkembangan PAI di era kontemporer dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:

1)      Faktor Politik dan Kebijakan Nasional: Sistem pendidikan nasional memberikan kerangka legal bagi penyelenggaraan PAI. Dinamika politik dan kebijakan pendidikan pasca kemerdekaan telah membentuk ruang bagi PAI untuk berkembang, namun juga menghadapkan pada tantangan seperti integrasi nilai agama dalam sistem pendidikan umum yang semakin kompleks (Ahmad Jafarul Musadad, 2021; Siti Mariyah et al., 2022).

2)      Faktor Globalisasi dan Teknologi: Arus globalisasi membawa nilai-nilai universal, informasi bebas, dan pola pikir baru yang kadang bertentangan dengan nilai agama tertentu. Teknologi, terutama digital, menjadi medium baru untuk pembelajaran agama, tetapi juga menjadi sumber distorsi informasi dan degradasi moral yang harus dijawab oleh PAI (Zulkifli Lubis & Dewi Anggraeni, 2019; Romi Mesra, 2023).

3)      Faktor Sosial-Budaya: Masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut pendekatan PAI yang inklusif dan kontekstual. Tradisi lokal seperti "Warak Ngendog" di Semarang menunjukkan bagaimana identitas Muslim urban dibentuk melalui sintesis budaya dan agama, yang merupakan contoh adaptasi PAI dalam konteks sosial spesifik (Cahyono, 2018). Namun, pluralitas juga bisa menjadi sumber konflik nilai jika tidak dikelola dengan pendidikan yang tepat.

4)      Faktor Profesionalisme Guru: Guru PAI adalah aktor utama. Kualitas mereka sebagai pendidik profesional yang memahami konteks global sangat menentukan efektivitas PAI dalam membentuk karakter siswa. Tantangan menjadi guru yang tidak hanya religius, tetapi juga mampu menjadi teladan dan fasilitator di era digital sangat besar (Zulkifli Lubis & Dewi Anggraeni, 2019; Zainur Arifin, 2020).

Interaksi antara filosofi Ki Hajar Dewantara dan tantangan global terhadap PAI menghasilkan beberapa implikasi penting. Implikasi pada Kurikulum dan Metode: Kurikulum PAI perlu direkonstruksi agar tidak hanya doktrinal, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dengan masalah kontemporer seperti lingkungan, keadilan sosial, dan etika digital, sejalan dengan prinsip "Mangun Karsa" Ki Hajar Dewantara yang menekankan pada membangun kemauan dan kreativitas (Niyarci, 2022; Romi Mesra, 2023). Metode pembelajaran harus lebih interaktif dan menggunakan teknologi, mengubah guru dari sumber informasi tunggal menjadi fasilitator.

Implikasi pada Pembentukan Karakter: PAI di era global harus mampu membentuk karakter yang "glocal" – memiliki akar religius dan budaya lokal yang kuat, tetapi juga memiliki sikap terbuka, toleran, dan kompetitif di tingkat global. Ini merupakan perwujudan dari tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara untuk memanusiakan manusia dalam konteks yang lebih luas (Niyarci, 2022; Nurrotun Nangimah, 2018).

Implikasi pada Sistem Manajemen Pendidikan: Pengelolaan pendidikan, termasuk di madrasah dan sekolah umum yang menyelenggarakan PAI, perlu berbasis pada paradigma manajemen yang profesional dan adaptif. Guru perlu didukung dengan pengembangan kapasitas terus-menerus untuk menghadapi tantangan baru, sebagaimana ditekankan dalam studi manajemen berbasis guru profesional (Zainur Arifin, 2020).

Implikasi pada Kebijakan Makro: Kebijakan pendidikan nasional perlu secara strategis memasukkan visi PAI yang relevan dengan tantangan global sebagai bagian dari upaya membangun peradaban bangsa. Kebijakan harus mampu mengintegrasikan kekuatan filosofi nasional dengan strategi menghadapi disrupsi global (Nana Suyana et al., 2024).

 

Gambar 1. Guru Menjadi Fasilitator Pembelajaran di Era Global

Pendidikan, khususnya PAI, saat ini berada di persimpangan yang menarik. Di satu sisi, kita memiliki warisan filosofi yang sangat kuat dari Ki Hajar Dewantara yang humanis dan kontekstual dengan budaya Indonesia. Di sisi lain, dunia global menawarkan (dan kadang memaksa) nilai-nilai yang berbeda. Jalan peradaban yang ideal bukanlah memilih salah satu, tetapi melakukan sintesis kreatif.

PENUTUP

Penulis melihat bahwa prinsip "Tut Wuri Handayani" (memberi dukungan dari belakang) dari Ki Hajar Dewantara sangat relevan untuk guru PAI di era digital. Dukungan itu sekarang bukan hanya secara fisik, tetapi juga berupa literasi digital, kemampuan membimbing siswa menyaring informasi dari internet, dan memberikan penguatan moral di ruang-ruang virtual. Guru PAI harus "ngguyub" (menyatu) dengan dunia siswa yang sudah sangat berbeda.

Namun, Penulis juga merasa ada kelemahan. Diskusi tentang pendidikan dan globalisasi sering kali terlalu abstrak dan teoritis. Implementasi di sekolah masih banyak yang gagap. Kurikulum PAI, menurut penulis, masih terlalu berat pada hafalan dan pengetahuan normatif, kurang pada pembentukan sikap kritis dan kemampuan adaptasi. Faktor profesionalisme guru juga masih menjadi masalah serius; banyak guru PAI yang hebat secara spiritual tetapi kurang terampil dalam metodologi pembelajaran modern.

Pada akhirnya, opini penulis adalah bahwa "jalan peradaban" ini harus dibangun dengan fondasi yang kuat dari nilai-nilai kita sendiri (termasuk nilai agama), tetapi menggunakan "kendaraan" dan "jalan raya" yang sesuai dengan era global. Kita tidak bisa berjalan dengan delman di jalan tol. Pendidikan Agama Islam perlu menjadi "pendidikan agama yang smart", yang cerdas secara teknologi, empatik secara sosial, dan mendalam secara spiritual. Hari Pendidikan Nasional harus menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang Ki Hajar Dewantara, tetapi juga untuk berkomitmen mengaktualisasikan filosofinya dalam bentuk tindakan nyata yang relevan dengan dunia sekarang.

REFERENSI

Niyarci, N. (2022). Perkembangan Pendidikan Abad 21 Berdasarkan Teori Ki Hajar Dewantara. Pedagogika Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan, 2(1). https://doi.org/10.57251/ped.v2i1.336

Zulkifli Lubis, & Dewi Anggraeni. (2019). Paradigma Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi Menuju Pendidik Profesional. Jurnal Studi Al-Quran, 15(1). https://doi.org/10.21009/jsq.015.1.07

Romi Mesra. (2023). ISU-ISU KONTEMPORER PENDIDIKAN ISLAM. Unknown Journal. https://doi.org/10.31219/osf.io/z834j

Nurrotun Nangimah. (2018). Peran guru PAI dalam pendidikan karakter religius siswa SMA N 1 Semarang. Walisongo Repository (Walisongo State Islamic University).

Zainur Arifin. (2020). PARADIGMA STUDI MANAJEMEN BERBASIS MADRASAH DAN GURU PROFESIONAL. Muróbbî Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(1). https://doi.org/10.52431/murobbi.v4i1.305

Rahmawati, N. L. N., & Abi Aufa, A. (2025). MANAJEMEN SUMBER DAYA PENDIDIKAN ISLAM. Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam6(3), 760-767.

Purnomo, S. (2020). Manajemen Pendidikan Islam Ditinjau Dari Tripusat Pendidikan. Jurnal Alasma: Media Informasi Dan Komunikasi Ilmiah2(1), 43-58.



Post a Comment

0 Comments