AKAR YANG MENGUATKAN RANTING: Kolaborasi Sekolah dan Komunitas dalam Melestarikan Budaya Banjar


PENDAHULUAN

            Setiap tanggal 2 mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah momentum yang tidak sekadar mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, melainkan juga menjadi cermin untuk mereflesikan arah pendidikan kita. Pada tahun 2026 ini membawa tema yang bermakna: “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera.” Tema ini seolah mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak pernah tumbuh di ruang yang hampa budaya.

Di Kalimantan Selatan, tepatnya di tanah Banjar yang kaya akan tradisi, bahasa, seni, dan kearifan lokal, terdapat paradoks yang memprihatinkan. Di satu sisi, warisan budaya seperti tari Baksa Kembang, musik panting, tradisi baayun maulud, hingga permainan rakyat seperti hadang dan balogo masih hidup di tengah masyarakat. Di sisi lain, generasi muda semakin asing dengan akar budayanya sendiri. Mereka lebih fasih menyebut nama idol K-pop daripada nama pahlawan Banjar, lebih hafal lirik lagu viral daripada syair pantun bahasa Banjar.

Di sinilah relevansi sub tema "Kolaborasi Sekolah dan Komunitas dalam Melestarikan Budaya Lokal" menjadi tidak hanya penting, tetapi mendesak. Sekolah saja tidak cukup. Komunitas saja pun tidak memadai. Hanya melalui jalinan keduanya, akar budaya akan cukup kuat untuk menopang ranting generasi penerus yang terus tumbuh.

ISI: Analisis, Gagasan, dan Refleksi

Sekolah Sebagai Ruang Kebudayaan, Bukan Sekadar Ruang Pengetahuan

Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed menegaskan bahwa pendidikan yang otentik adalah pendidikan yang berangkat dari realitas kehidupan peserta didiknya. Realitas peserta didik di tanah Banjar adalah realitas budaya Banjar itu sendiri. Maka, memasukkan muatan budaya lokal ke dalam kurikulum bukan sekadar hiasan, melainkan pondasi pedagogis yang sesungguhnya.

Namun kenyataannya, banyak sekolah masih terjebak pada dikotomi antara "pelajaran formal" dan "kegiatan budaya." Tari Banjar diletakkan di ekstrakurikuler, bahasa Banjar diajarkan seadanya, sementara mata pelajaran inti berjalan tanpa sentuhan konteks lokal sama sekali. Akibatnya, budaya dipersepsi sebagai hiburan, bukan sebagai ilmu dan identitas.

Penelitian Rahmawati dan Suyatno (2022) dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran secara signifikan meningkatkan rasa kepemilikan (sense of belonging) siswa terhadap budayanya, sekaligus meningkatkan motivasi belajar. Artinya, budaya lokal bukan beban kurikulum, melainkan energi pembelajaran itu sendiri.

Komunitas: Guru yang Terlupakan

Di luar tembok sekolah, pengetahuan budaya Banjar sesungguhnya masih mengalir deras. Para sesepuh yang hafal ratusan pantun, pengrajin sasirangan yang memahami makna di balik setiap motif, pemusik yang mahir memainkan panting, hingga tabib tradisional yang menyimpan pengetahuan etnobotani, mereka semua adalah perpustakaan hidup yang tidak ditemukan dalam buku teks mana pun.

Sayangnya, keterputusan antara sekolah dan komunitas telah menciptakan jurang yang semakin lebar. Guru tidak selalu memiliki pengetahuan budaya yang mendalam, sementara para pewaris budaya di komunitas tidak memiliki akses ke ruang kelas. Di sinilah letak krisis sesungguhnya: dua pihak yang saling membutuhkan, namun tidak pernah saling berjumpa.

Konsep "community of practice" yang dikembangkan Lave dan Wenger (1991) menawarkan kerangka yang relevan. Belajar, menurut mereka, adalah proses partisipasi dalam komunitas yang memiliki praktik bersama. Ketika siswa belajar membatik sasirangan langsung dari seorang pengrajin, bukan sekadar dari gambar di buku, mereka tidak hanya belajar teknik, mereka memasuki komunitas makna yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Model Kolaborasi yang Mungkin dan Perlu Diwujudkan

Kolaborasi antara sekolah dan komunitas bukanlah utopia. Beberapa model telah terbukti efektif dan layak direplikasi lebih luas di seluruh Kalimantan Selatan.

Pertama, program "guru tamu budaya", di mana seniman, pengrajin, dan tokoh budaya lokal secara rutin diundang ke sekolah untuk berbagi pengetahuan. Model ini telah diujicobakan di beberapa sekolah di Banjarmasin dan hasil menjanjikan yaitu siswa lebih antusias karena belajar langsung dari praktisi nyata, bukan sekadar dari teks semata.

Kedua, "kelas berbasis komunitas" atau community-based learning, di mana sebagian proses pembelajaran dilaksanakan di luar sekolah: di galeri sasirangan, sanggar tari, pasar terapung, atau di rumah adat Banjar. Pendekatan ini sejalan dengan program Merdeka Belajar yang memberikan ruang lebih luas bagi kontekstualisasi pendidikan.

Ketiga, “proyek dokumentasi budaya lintas generasi”, di mana siswa bertugas merekam, mendokumentasikan, dan mempresentasikan pengetahuan budaya dari narasumber yang lebih tua di komunitas mereka. Model ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga melatih keterampilan abad ke-21: riset, komunikasi, dan literasi digital. Sumarmi et al. (2021) dalam Jurnal Pendidikan Geografi membuktikan bahwa proyek berbasis komunitas mampu meningkatkan kesadaran budaya sekaligus kompetensi akademik siswa secara bersamaan.

Refleksi: Pendidikan yang Memulihkan Akar

Ada seorang nenek di Kandangan yang hafal ratusan mamanda, seni pertunjukan tutur Banjar yang sarat filosofi hidup. Setiap malam, cucu-cucunya berkumpul mendengar kisah-kisah itu. Namun ketika sang nenek telah tiada, siapa yang akan mewarisinya? Sekolah tidak mengajarkannya. Tidak ada yang pernah mendokumentasikannya. Kekayaan itu perlahan lenyap bersama orang-orang yang menyimpannya.

Inilah yang disebut Nababan (1991) sebagai language and culture shift: sebuah pergeseran bahasa dan budaya yang terjadi diam-diam, satu generasi demi satu generasi, hingga suatu hari kita menoleh ke belakang dan tidak menemukan apa-apa lagi. Pendidikan yang tidak merawat akar budaya, pada akhirnya, hanya akan menghasilkan generasi yang pandai namun kehilangan dirinya sendiri.

Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar perayaan seremonial dengan upacara dan pidato, melainkan komitmen nyata untuk membangun sistem pendidikan yang berani menjadikan budaya lokal sebagai jantungnya. bukan sekadar hiasannya.

PENUTUP

Kolaborasi antara sekolah dan komunitas dalam melestarikan budaya lokal bukan sekadar solusi pragmatis, ia adalah jawaban filosofis atas pertanyaan mendasar pendidikan: mengapa kita belajar? Kita belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menjadi manusia yang utuh; manusia yang tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.

Budaya Banjar, dengan segala kekayaan bahasa, seni, tradisi, dan nilai-nilainya, adalah modal sosial yang tidak ternilai harganya. Ia bukan penghalang modernitas, melainkan fondasi yang justru memperkuat kemampuan generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Maka, kepada para guru, kepala sekolah, tokoh adat, seniman lokal, orang tua, dan para pengambil kebijakan pendidikan di Kalimantan Selatan: mari kita akhiri keterpisahan yang tidak perlu ini. Buka pintu sekolah untuk komunitas. Bawa siswa ke tengah-tengah komunitas. Jadikan budaya Banjar bukan pelajaran yang dihafal, melainkan kehidupan yang dihayati.

Pohon yang berakar dalam tidak gentar diterpa badai. Begitu pula generasi muda Banjar yang tumbuh dengan akar budayanya, mereka akan menjadi manusia yang tangguh, berintegritas, dan mampu membangun Banjar yang sejahtera. Itulah hakikat dari tema pendidikan kita tahun ini: belajar setara, berbudaya banua, dan membangun Banjar sejahtera.

REFERENSI

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

Lave, J., & Wenger, E. (1991). Situated Learning: Legitimate Peripheral Participation. Cambridge: Cambridge University Press.

Nababan, P. W. J. (1991). Language in education: The case of Indonesia. International Review of Education, 37(1), 115–131. https://doi.org/10.1007/BF00598168

Rahmawati, Y., & Suyatno, S. (2022). Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Rasa Kebanggaan Budaya Siswa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(1), 45–62. https://doi.org/10.24832/jpnk.v7i1.1823

Sumarmi, S., Amirudin, A., & Aliman, M. (2021). Project-Based Learning Berbasis Komunitas dalam Meningkatkan Kesadaran Budaya Lokal. Jurnal Pendidikan Geografi, 26(1), 1–14. https://doi.org/10.17977/um017v26i12021p001

Wenger, E. (1998). Communities of Practice: Learning, Meaning, and Identity. Cambridge: Cambridge University Press.

 

 

Post a Comment

0 Comments