MATEMATIKA DAN BUDAYA : PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS TARI SIMO GRINGSING DI KABUPATEN BATANG


Fika Safnatunnajah

Pendahuluan

Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi momentum untuk melakukan refleksi terhadap arah pendidikan Indonesia. Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 mengusung tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera” yang bermakna bahwa pendidikan saat ini harus menekankan pada inklusivitas yakni semua orang berhak mendapatkan pendidikan tidak peduli siapapun dan dimanapun, sehingga diperlukan pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Berbudaya Banua mengingatkan kita bahwa pendidikan haruslah diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya bangsa agar pembelajaran lebih bermakna dan mendorong generasi muda untuk melestarikan budaya. Tema ini menunjukkan adanya visi jangka panjang bahwa pendidikan yang berkualitas dan berkarakter akan menjadi fondasi utama dalam meningkatkan taraf hidup dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, pendidikan sering kali berorientasi pada hasil akademik tanpa memperhatikan pentingnya memahami dan menjaga budaya lokal. Padahal, identitas lokal merupakan fondasi penting dalam membangun karakter generasi bangsa. Oleh karena itu, penguatan identitas lokal melalui pembelajaran kontekstual menjadi sangat relevan, terutama dalam dunia pendidikan saat ini. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis etnomatematika. Etnomatematika memandang matematika tidak hanya sebagai ilmu abstrak, tetapi juga sebagai bagian dari budaya yang hidup dalam masyarakat. Kabupaten Batang merupakan kabupaten yang berada di pesisir utara Jawa Tengah. Kabupaten Batang memiliki kekayaan budaya yang beragam mulai dari tarian dan batiknya yang dapat dijadikan sumber pembelajaran kontekstual. Integrasi budaya dalam pembelajaran matematika ini tidak hanya mendorong para siswa untuk melestarikan budaya lokal, tetapi juga membuat matematika terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Isi

Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik. Dalam prakteknya pembelajaran dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa guna menciptakan pemahaman yang lebih mendalam.(Dayanti et al., 2020). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Faizal Amir (2015) mengenai pengaruh pendekatan pembelajaran kontestual pada pemahaman materi matematika di sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan hasil signifikan yang mana dilihat dari hasil post test menunjukkan perkembangan daripada pretest. Hal tersebut membuktikan bahwa pendekatan ini sangat efektif dalam membantu siswa memahami makna materi matematika dengan cara menghubungkannya secara langsung pada konteks kehidupan sehari-hari yang mereka alami. Dalam implementasinya, budaya lokal muncul sebagai salah satu instrumen konteks yang paling relevan dan dekat dengan kehidupan siswa. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, tradisi, serta fenomena sosial di lingkungan sekitar ke dalam kurikulum, proses pembelajaran tidak lagi bersifat abstrak, melainkan menjadi lebih konkret dan bermakna. Hal ini tidak hanya mempermudah penguasaan konsep-konsep rumit melalui contoh yang familiar, tetapi sekaligus memperkuat identitas budaya dan kebanggaan siswa terhadap warisan leluhur mereka di tengah arus modernisasi pendidikan.

Etnomatematika, menurut D’Ambrosio (1985), adalah studi tentang hubungan antara matematika dan budaya. Pendekatan ini menekankan bahwa konsep matematika sebenarnya telah lama hadir dalam praktik budaya masyarakat, seperti dalam seni, arsitektur, dan tradisi. Di Kabupaten Batang, Tari Simo Gringsing menjadi contoh nyata bagaimana matematika terintegrasi dalam budaya.

Tari Simo Gringsing merupakan salah satu tarian khas Kabupaten Batang. Kata “Simo” berarti macan atau harimau yang melambangkan kekuatan dan keteguhan hati serta memiliki nilai simbolis dalam masyarakat Gringsing. Gerakan dalam Tari Simo Gringsing didominasi gerakan enerjik dan tegas. Dalam tarian ini, terdapat pola gerak yang berulang, simetri, serta pola lantai yang dapat dianalisis secara matematis. Misalnya, pola lantai yang digunakan dalam tari ini sering membentuk sebuah bangun datar yakni segitiga, trapesium dan lingkaran yang mencerminkan konsep geometri. Selain itu, terdapat konsep sudut yang ditemukan pada setiap gerakan para penari.(Faridh et al., 2024)

Implementasi etnomatematika dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai strategi. Misalnya, guru menampilkan video Tari Simo Gringsing di dalam kelas, lalu mengarahkan para siswa untuk menganalisis konsep geometri apa saja yang terdapat dalam Tari Simo Gringsing. Kegiatan ini tidak hanya membuat matematika menjadi lebih konkret, namun dapat menarik rasa ingin tahu siswa dan membantu siswa mengenal budayanya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Sarwoedi et al (2018) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis etnomatematika dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika sekaligus memperkuat identitas budaya siswa. Hal ini terbukti bahwa dari hasil penelitian menyatakan bahwa ada pengaruh etnomatematika terhadap kemampuan pemahaman matematika siswa, yaitu dalam hal mengidentifikasi, menafsirkan simbol, memahamai dan menerapkan ide matametis, membuat suatu eksplorasi (perkiraan) serta menyelesaikan masalah matematika. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan etnomatematika tidak hanya relevan secara teoritis, tetapi juga efektif dalam praktik pembelajaran.

Namun, penerapan pembelajaran berbasis etnomatematika di lapangan masih memiliki banyak kendala. Salah satu hambatan utama adalah rendahnya pemahaman guru terhadap konsep etnomatematika itu sendiri. Tidak sedikit guru yang masih memandang matematika sebagai ilmu yang bersifat kaku, formal, dan harus diajarkan secara abstrak tanpa mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, termasuk budaya lokal siswa. Pandangan ini membuat proses pembelajaran menjadi kurang kontekstual dan sulit dipahami oleh peserta didik. Selain itu, keterbatasan sumber belajar yang mampu mengintegrasikan unsur budaya lokal dengan materi matematika juga menjadi tantangan tersendiri. Referensi yang ada umumnya masih bersifat umum dan belum banyak mengintegrasikan kekayaan budaya daerah sebagai media pembelajaran. Akibatnya, guru mengalami kesulitan dalam merancang kegiatan belajar yang menarik dan relevan bagi siswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut, baik dalam bentuk pelatihan bagi guru maupun pengembangan bahan ajar, agar pembelajaran berbasis etnomatematika dapat diimplementasikan secara optimal.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Guru perlu diberikan pelatihan tentang pembelajaran berbasis etnomatematika agar mampu mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran. Selain itu, integrasi budaya dalam kurikulum dan pengembangan bahan ajar yang berbasis budaya lokal juga perlu dilakukan secara sistematis. Masyarakat sebagai pemilik budaya juga perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran, misalnya melalui kegiatan kunjungan budaya atau workshop sehingga peserta didik dapat mengamati budayanya secara langsung dan menangkap inti pembelajaran. Penguatan identitas lokal melalui pembelajaran kontekstual ini sejalan dengan visi pendidikan Indonesia yang menekankan pada pengembangan karakter. Dengan mengenalkan budaya lokal melalui pembelajaran, siswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki rasa cinta terhadap budaya sendiri. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang dapat menggeser identitas budaya bangsa.

Penutup

Penguatan identitas lokal melalui pembelajaran kontekstual berbasis budaya merupakan langkah strategis dalam membangun pendidikan yang terintegrasi pada budaya bangsa. Integrasi etnomatematika dalam pembelajaran matematika, khususnya melalui Tari Simo Gringsing Kabupaten Batang, menjadi contoh nyata bagaimana budaya dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang bermakna. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi juga memahami dan menghargai budaya lokal mereka. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus lebih serius dalam mengintegrasikan budaya lokal dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, Hari Pendidikan Nasional bukan sekedar perayaan simbolis, melainkan benar benar menjadi momentum nyata untuk menghadirkan pendidikan yang berbudaya, kontekstual, dan berkarakter.

Referensi

Sarwoedi, Marinka, D. O., Febriani, P., & Wirne, I. N. (2018). Efektifitas Etnomatematika dalam Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematika Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika Raflesia, 03(02), 171–176. https://ejournal.unib.ac.id/index.php/jpmr/article/view/7521

Amir, M. F. (2015). Pengaruh Pembelajaran Konsektual terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan: Tema “Peningkatan Kualitas Peserta Didik Melalui Implementasi Pembelajaran Abad 21", 2011, 34–42.

Faridh, A., Fahmy, R., Alwi, M., Saputra, A., & Fredika, K. (2024). Ethnomathematics Exploration of Simo Dance and Gringsing Batik Dance from Batang Central Java in Mathematics Learning. 189–206.

Dayanti, E., Maulani, I., Mukhlish, I., Rizki, M. H., Isa, H. M., & Amin, I. M. (2020). Pembelajaran kontekstual dalam mewujudkan merdeka belajar. 1(3), 161–164.

 

Post a Comment

0 Comments