Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi dan Adat Lokal


Arfanda Maulana Saputra

Pendahuluan

            Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang mana bukan hanya sekedar seremonial tahunan. Melainkan interopeksi bangsa di tengah banyaknya permasalahan yang menyimpang nilai moral pendidikan di Indonesia dan tantangan arus global. Peringatan ini menegaskan kita sebagai bangsa Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua. Yang mana Pendidikan tersebut harus mengandung nilai-nilai luhur, kejujuran, dan tanggung jawab.

            Pendidikan Karakter dibangun sejak dini dimulai dari nilai etika inti yang bersumber dari nilai-nilai agama, falsafah Negara dan budaya. Pendidikan karakter menghadirkan para peserta didik yang memiliki nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Namun realiatanya menunjukkan bahwa nilai- nilai luhur budaya bangsa, mengalami banyak tantangan, disebabkan derasnya nilai-nilai budaya asing yang masuk dan mengintervensi nilai-nilai asli budaya bangsa serta penggunaan teknologi khususnya di media sosial. Yang mana menyebabkan penyebar hoax, sarkasme, kata-kata tidak sopan, memaki, menghujat, memfitnah, cyber bullying

            Membahas tentang nilai-nilai tinggi budaya bangsa keberadaannya dapat kita temukan pada kearifan lokal di beberapa kelompok/masyarakat adat. Hal ini disebabkan karena dalam Masyarakat adat identitas dan karakter komunitas masih sangat kuat serta mempertahankan nilai-nilai tradisi nenek moyang dalam berbagai aspek kehidupan. Namun disisi lain, nilai-nilai kearifan lokal tersebut seringkali mendapatkan respon yang dibiarkan begitu saja karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman.  Padahal sejatinya nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat dijadikan model dalam pengembangan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Kearifan lokal pada masyarakat adat merupakan kunci yang sering terlupakan. Meskipun dianggap kuno oleh sebagian orang, nilai-nilai tradisi tersebut mengandung identitas dan karakter kuat yang sangat relevan untuk dijadikan model pengembangan pendidikan karakter di era modern.

Pembahasan

Pendidikan Karakter

            Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter. Muhibbin (2008:28), mengartikan pendidikan sebagai proses perubahan perilaku, sikap dari seseorang dalam proses pendewasaan dirinya melalui pelatihan dan pengajaran. Selanjutnya, pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan moral, watak, budi yang tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dalam kata lain, pendidikan karakter meliputi moral reasoning, moral behaviour, dan moral feeling (Mulyasa, 2011:32). Sejalan dengan Mulyasa,Lickona (1992:37) memandang pendidikan karakter dalam tiga tahapan:

1. Moral Knowing, pada tahap ini disebut juga sebagai knowing the good. Mengetahui dan memahami tentang mana yang baik dan mana yang buruk.

2. Moral Feeling, pada tahap ini seseorang sudah memiliki niat dan ketertarikan pada kebaikan, dalam pengertian lain disebut dengan nurani. Tahap ini sebagai cikal bakal munculnya empati. (Desiring the good).

3. Moral Action, merupakan tahap puncak dari implementasi moral, melakukan suatu kebaikan atas dasar kemauannya sendiri, atas dorongan motivasi internalnya. Lebih lanjut Ki Hajar Dewantara (Jurnal Studi Islam, 2015:169), menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya untuk memajukan pikiran, budi pekerti, dan jasmani agar selaras dengan masyarakat dan alam sekitarnya.

            Melalui pengajaran nilai-nilai moral, siswa akan memperoleh kemampuan intelektual dan kemampuan emosional yang unggul. Para pakar menyatakan bahwa kemampuan emosional adalah modal utama untuk mencapai kesuksesan. Dengan memiliki kemampuan emosional yang kuat, individu akan dapat menghadapi berbagai tantangan dan menyelesaikan masalah dengan efektif. Proses pengajaran nilai-nilai moral akan berjalan dengan baik di sekolah jika siswa, pengajar, kepala sekolah, dan seluruh staf pendidikan turut serta dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Pengajaran nilai-nilai moral adalah proses menanamkan benih agar siswa nantinya bisa menyebarkan hasil dari nilai-nilai positif yang ada dalam karakter mereka kepada orang lain. Dengan demikian hal ini dapat kita lihat bahwa pendidikan karakter memiliki peran penting dalam memperbaiki pendidikan.

Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Adat dan Tradisi Lokal

            Pentingnya pendidikan karakter yang melibatkan tidak hanya aspek akademis, tetapi juga moral dan sosial, harus terus ditekankan. Namun, tidak semua institusi pendidikan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung antara pengajar dan siswa untuk membangun karakter yang sejalan dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang dinyatakan oleh Alfi (2021), banyak institusi pendidikan menghadapi kesulitan dalam membangun hubungan yang baik antara pengajaran dan pengembangan karakter, sehingga hasil dari pendidikan karakter seringkali kurang memuaskan. Ini menunjukkan bahwa peran sekolah lebih dari sekedar sebagai tempat belajar teori, tetapi juga harus menjadi wadah untuk menumbuhkan karakter anak. Keberhasilan dalam pendidikan karakter tidak hanya tergantung pada kurikulum, melainkan juga pada bagaimana pengajar membimbing dan memotivasi siswa untuk menjadi individu yang memiliki integritas dan empati terhadap orang lain.

            Pendidikan karakter yang mengandalkan nilai-nilai lokal dapat mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dalam era global. Di zaman ini, pengaruh budaya luar yang kuat dapat memengaruhi sikap dan tindakan generasi muda. Syamsijulianto (2020) mengungkapkan bahwa globalisasi memang membawa beberapa manfaat, tetapi juga bisa mengikis nilai-nilai tradisional yang ada. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang berlandaskan kearifan lokal sangat krusial untuk melestarikan budaya daerah serta mempersiapkan generasi muda agar tetap memiliki identitas budaya yang kuat di tengah arus globalisasi yang cepat. Pendidikan karakter yang mengutamakan kearifan lokal memberi siswa pondasi moral yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman, juga meningkatkan rasa kebanggaan dan cinta tanah air.

            Kearifan lokal adalah sumber nilai yang didasarkan pada tradisi dan filosofi masyarakat. Apabila tidak dirawat dengan baik, nilai-nilai kearifan lokal bisa memudar dan berakibat pada penurunan moral. Sesuai dengan pernyataan Rachmadyanti, (2017), nilai-nilai budaya sangat berpengaruh dalam membentuk norma serta perilaku sosial di dalam suatu masyarakat. Tanpa pengertian yang mendalam mengenai nilai-nilai kearifan lokal, sebuah bangsa akan kehilangan tujuan dan terpuruk dalam krisis moral. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menjamin bahwa nilai-nilai lokal yang menanamkan kebijaksanaan, kebenaran, dan kejujuran tetap diakui dalam pendidikan.

Kesimpulan

            Pendidikan karakter yang berakar pada tradisi dan adat lokal merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia agar dapat bertahan di masa depan. Setiap tahun, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya dimanfaatkan sebagai momen untuk merenungkan sejauh mana nilai-nilai luhur dari budaya bangsa telah ditransfer kepada generasi mendatang.

            Dengan mengangkat kembali prinsip-prinsip bijaksana, kebenaran, dan kejujuran yang berakar dari budaya lokal, Indonesia mampu menciptakan generasi yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga memiliki harga diri, rasa empati, dan mencintai negara. Pendidikan yang berlandaskan kearifan lokal merupakan investasi jangka panjang untuk mempertahankan integritas moral bangsa di tengah tantangan zaman yang semakin rumit.

Referensi

            Graha, P. H., Malihah, E., & Andari, R. (2022). Pendidikan karakter berbasis budaya lokal di kampung adat Cireundeu. Jurnal Inovasi Penelitian, 3(1), 4657-4666.

            Agung, B. (2023). Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal: Studi Lapangan di Kampung Adat Salapan Desa Gempol Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang Jawa Barat.

            Ependi, N. H., Pratiwi, D., Ningsih, A. M., Kamilah, A., Wijayanto, P. W., Dermawan, H., ... & Wibowo, T. P. (2023). Pendidikan karakter. Sada Kurnia Pustaka.

            Trisno, M., Muhammadiah, M. U., & Bahri, S. (2024). Strategi implementasi pendidikan karakter berbasis nilai kearifan Lokal Ma’ata’a Suku Ciacia Laporo dalam muatan lokal sekolah dasar di Kota Baubau. Bosowa Journal of Education, 5(1), 164-169.

Post a Comment

0 Comments