REVITALISASI NILAI-NILAI GOTONG ROYONG DALAM DUNIA PENDIDIKAN


Dimas Seno Aji

PENDAHULUAN

Gotong royong merupakan salah satu nilai luhur yang menjadi identitas budaya bangsa Indonesia. Nilai ini mencerminkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks pendidikan, gotong royong tidak hanya penting sebagai bagian dari budaya, tetapi juga sebagai fondasi dalam membentuk karakter peserta didik. Hal ini sejalan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional, yang tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan manusia yang berkarakter dan berkepribadian.

Namun, perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi membawa dampak signifikan terhadap perubahan pola pikir dan perilaku generasi muda. Arus modernisasi dan masuknya budaya asing cenderung menyebabkan meningkatnya sikap individualisme, kompetisi berlebihan, serta berkurangnya interaksi sosial secara langsung (Azis & Tamimi, 2025). Kondisi ini menyebabkan nilai-nilai gotong royong mulai mengalami pergeseran dan perlahan memudar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan (Rifaldi et al., 2023).

Padahal, dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya. Oleh karena itu, diperlukan upaya revitalisasi nilai-nilai gotong royong agar tidak hanya dipahami secara konseptual , tetapi juga diimplementasikan dalam praktik nyata di lingkungan sekolah. Revitalisasi ini menjadi penting untuk membentuk generasi yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan karakter sosial yang kuat di tengah tantangan era digital

ISI

            Nilai-nilai gotong royong dalam dunia pendidikan saat ini masih dapat ditemukan, namun cenderung mengalami penurunan dalam penerapannya. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya interaksi antarsiswa dalam bekerja sama yang efektif, khususnya dalam bekerja kelompok. Tugas yang harusnya dikerjakan bersama malah cenderung dikerjakan oleh sebagian anggota saja, sebagian lainnya bersikap pasif dan bahkan terkadang tidak ikut berkontribusi sama sekali. Di sisi lain, penggunaan teknologi untuk pembelajaran sekarang lebih dominan, sehingga dapat mengurangi interaksi sosial secara langsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsep gotong royong masih diajarkan dalam pendidikan,tetapi mulai melemah dalam praktik nyata di dunia pendidikan.

            Adanya pengaruh dari globalisasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai gotong royong dalam dunia pendidikan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Interaksi sosial yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini mulai tergantikan oleh komunikasi berbasis digital, seperti penggunaan media sosial dan platform pembelajaran daring. Perubahan ini secara tidak langsung memengaruhi pola hubungan antarsiswa yang cenderung menjadi lebih individual dan kurang terlibat dalam kerja sama tim. Selain itu, sistem pendidikan yang semakin kompetitif juga mendorong siswa untuk lebih fokus pada pencapaian pribadi dibandingkan dengan keberhasilan bersama. Akibatnya, nilai gotong royong tidak sepenuhnya hilang, melainkan mengalami transformasi dalam bentuk yang lebih terbatas dan kurang terlihat dalam aktivitas nyata di lingkungan sekolah.

            Pudarnya nilai gotong royong dalam dunia pendidikan disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Secara internal, masih banyak siswa yang kurang sadar akan pentingnya kerja sama dan cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadi. Sementara itu, dari sisi eksternal, sistem pendidikan yang lebih fokus pada nilai akademik serta pengaruh teknologi membuat interaksi sosial antarsiswa menjadi berkurang (Putri et al., 2023). Akibatnya, dalam kerja kelompok sering ditemukan hanya beberapa siswa yang aktif, sedangkan yang lain kurang berkontribusi. Hal ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong mulai melemah baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan pendidikan itu sendiri.

            Dalam hal ini, dunia pendidikan punya peran yang cukup besar untuk menanamkan kembali nilai gotong royong pada siswa. Sekolah bukan hanya tempat belajar materi pelajaran, tetapi juga tempat membentuk sikap dan kebiasaan sosial. Melalui interaksi di kelas, peran guru, serta suasana lingkungan sekolah, nilai gotong royong sebenarnya bisa dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, guru dapat membiasakan siswa untuk saling membantu dalam kegiatan belajar atau mendorong kerja sama saat mengerjakan tugas. Dengan begitu, nilai gotong royong tidak hanya dipahami, tetapi juga mulai diterapkan secara nyata.

            Upaya menghidupkan kembali nilai gotong royong bisa dimulai dari proses pembelajaran di kelas. Guru dapat menggunakan metode yang melibatkan kerja sama, seperti diskusi kelompok atau tugas berbasis proyek. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar berbagi tugas dan bertanggung jawab bersama. Namun, pelaksanaannya perlu diperhatikan agar semua anggota kelompok ikut berkontribusi, bukan hanya sebagian saja. Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga membangun sikap kerja sama antarsiswa.

            Selain di dalam kelas, nilai gotong royong juga bisa dikembangkan melalui kegiatan di luar pembelajaran. Kegiatan seperti kerja bakti, ekstrakurikuler, atau program sosial di sekolah dapat menjadi sarana untuk melatih kerja sama secara langsung. Dalam kegiatan tersebut, siswa bisa merasakan pentingnya kebersamaan dan saling membantu. Hal ini penting karena nilai gotong royong tidak cukup hanya dipelajari secara teori, tetapi perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar benar-benar tertanam.

PENUTUP

            Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa nilai gotong royong dalam dunia pendidikan saat ini mulai mengalami pergeseran akibat pengaruh globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan pola pikir siswa yang cenderung lebih individual. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong tidak hilang sepenuhnya, tetapi mulai melemah dalam praktik sehari-hari di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan upaya revitalisasi yang tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui berbagai kegiatan di luar kelas yang melibatkan kerja sama secara langsung. Peran guru dan lingkungan sekolah juga sangat penting dalam membiasakan sikap saling membantu dan bekerja sama. Dengan adanya upaya tersebut, diharapkan nilai gotong royong dapat kembali berkembang dan menjadi bagian dari karakter peserta didik dalam menghadapi tantangan di era modern.

REFRENSI

Azis, A. R., & Tamimi, A. R. (2025). REVITALISASI KONSEP GOTONG ROYONG DAN BERAKHLAK MULIA DALAM PROFIL PELAJAR PANCASILA BERBASIS NILAI AL-QUR’AN 1. TARBIYA ISLAMIA: Jurnal Pendidikan Dan Keislaman, 15, 41–53. https://doi.org/10.36815/tarbiya.v15i1.3609

Putri, A., Salsabila, A., & Prabayunita, A. (2023). Memudarnya Nilai Nilai Gotong Royong pada Era Globalisasi. Indigenous Knowledge, 2(3), 96–103.

Rifaldi, M. N., Hidayatissalam, A. S., & Turnip, K. D. (2023). Lunturnya Nilai Gotong Royong Di Era Globalisasi. September, 1–17. https://doi.org/10.11111/nusantara.xxxxxxx

 

Post a Comment

0 Comments