Merawat Akar di Tengah Gelombang Digital: Transformasi Pendidikan Banjar yang Tetap Berbudaya


Karya : Aulia Zulfa Ramadhani

PENDAHULUAN

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang dunia pendidikan bangsa. Pada tahun 2026, peringatan ini hadir dengan tema yang sarat makna: "Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera." Tema ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah amanat yang menuntut kita untuk berpikir jernih di tengah derasnya arus transformasi digital yang melanda dunia pendidikan, apakah kita masih mampu berpijak pada akar budaya Banua yang telah lama menjadi fondasi peradaban Kalimantan Selatan?

Data Badan Pusat Statistik (2023) mencatat bahwa penetrasi internet di Kalimantan Selatan telah mencapai lebih dari 73%, dengan pertumbuhan pengguna perangkat mobile yang pesat di kalangan pelajar dan mahasiswa.[1] Sementara itu, laporan Kemendikbudristek (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 85% sekolah di perkotaan Kalimantan Selatan telah mengintegrasikan platform digital dalam proses pembelajaran.[2] Angka-angka ini menyenangkan dari sisi akses, namun sekaligus memunculkan pertanyaan kritis di mana posisi budaya Banua dengan seluruh kearifan, bahasa, seni, dan nilai gotong royong dalam  digitalisasi yang terus bergerak?

Esai ini berargumen bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak harus menjadi pisau yang memotong tali budaya lokal. Sebaliknya, jika dikelola dengan bijak dan visioner, digitalisasi justru dapat menjadi kapal yang membawa budaya Banua berlayar lebih jauh, dikenal lebih luas, dan diwariskan lebih kokoh kepada generasi yang akan datang.

ISI

1.    Transformasi Digital: Peluang Besar yang Menyimpan Risiko Kultural

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan cara manusia dalam belajar. Inovasi seperti blended learning, pembelajaran daring, kecerdasan buatan (AI), hingga metaverse pendidikan kini bukan lagi sekadar konsep, melainkan telah menjadi praktik nyata yang dijalani oleh banyak pelajar di Indonesia. Perubahan ini mencerminkan pergeseran menuju sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi.[3] Penelitian yang dilakukan oleh (Hakeu et al., 2023) menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis gamifikasi dapat meningkatkan keterampilan sosial serta kemampuan kolaborasi siswa, khususnya pada jenjang sekolah dasar.[4]

Namun, di balik efisiensi dan inovasi yang ditawarkan, transformasi digital menyimpan risiko yang sering luput dari perhatian: homogenisasi budaya. Ketika konten pendidikan digital didominasi oleh nilai-nilai dan referensi budaya global, anak-anak Banua tumbuh dalam lingkungan belajar yang asing dari identitas mereka sendiri. Bahasa Banjar terancam semakin terpinggirkan. Permainan tradisional seperti balogo dan hadang terlupakan. Nilai-nilai seperti haram manyarah (pantang menyerah) dan baiman (kepercayaan dan kejujuran) pelan-pelan terkikis tanpa kita sadari.

Model Pendidikan Digital Berbudaya Banua

Pertanyaan yang sesungguhnya bukan "apakah kita harus berdigital atau berbudaya?", melainkan "bagaimana kita merancang ekosistem pendidikan digital yang merayakan budaya Banua?" Saya menawarkan tiga strategi konkret yang dapat diimplementasikan.

Pertama, digitalisasi konten budaya Banua secara masif dan berkualitas. Guru, mahasiswa, dan komunitas budaya perlu berkolaborasi menciptakan konten digital video, podcast, animasi, game yang menampilkan bahasa Banjar, cerita rakyat, seni musik, dan kearifan lokal dalam kemasan yang menarik bagi generasi Z.

Google Classroom, Moodle, maupun aplikasi lokal dapat diperkaya dengan konten berbasis konteks Banjar soal matematika dengan setting pasar terapung, latihan bahasa Indonesia melalui pantun Banjar, atau proyek sains berbasis kearifan ekologi rawa Kalimantan. Pendekatan ini sejalan dengan teori Contextual Teaching and Learning yang terbukti efektif meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa.[5]

Ketiga, pemberdayaan guru sebagai kurator budaya digital. Guru tidak hanya perlu melek teknologi, tetapi juga melek budaya—mampu memilih, mengadaptasi, dan menciptakan konten digital yang bernilai kultural tinggi. Pelatihan guru yang mengintegrasikan kompetensi digital (TPACK) dengan pemahaman mendalam tentang budaya lokal menjadi investasi pendidikan yang tidak boleh ditunda.

Model sintesis ini sejalan dengan konsep Glocal Education yang dikembangkan oleh UNESCO (2023), yaitu pendidikan yang berpikir global namun berakar local global in thinking, local in rooting. Banjar yang berbudaya dan melek digital bukanlah kontradiksi; ia adalah visi pendidikan yang paling relevan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

PENUTUP

Transformasi digital dalam pendidikan adalah keniscayaan yang tidak dapat kita bendung. Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa gelombang digital ini tidak menyapu habis akar budaya yang telah lama menopang identitas dan karakter masyarakat Banjar. Merawat budaya Banua di era digital bukan nostalgia masa lalu, melainkan investasi masa depan. Sebagaimana dawuh para tetua Banjar: "Batang kayu ulin tahan banya air, tapi akarnya masih mancari tanah." Kayu ulin yang paling kuat pun tetap membutuhkan akarnya. Demikian pula pendidikan Banjar yang paling canggih secara digital sekalipun, harus tetap berakar dalam budaya, nilai, dan jati diri Banua.

Mari kita jadikan Hari Pendidikan Nasional 2026 ini sebagai titik tolak kesepakatan bersama: bahwa kita akan membangun generasi Banjar yang menguasai teknologi dengan tangan, namun memegang erat budaya dengan hati. Belajar setara, berbudaya Banua, membangun Banjar sejahtera bukan sekadar tema, tetapi komitmen peradaban.

 REFERENSI

[1] Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2023. BPS RI. Jakarta. [Open Access] https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/15/telekomunikasi-indonesia-2023.html

[2] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2024). Laporan Kinerja Kemendikbudristek 2023: Merdeka Belajar dan Transformasi Digital Pendidikan. Kemendikbudristek. Jakarta. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2024/01/laporan-kinerja-kemendikbudristek-2023

[3] Hrastinski, S. (2019). What do we mean by blended learning? TechTrends, 63(5), 564–569. https://doi.org/10.1007/s11528-019-00375-5

[4] Hakeu, F., Pakaya, I. I., & Tangkudung, M. (2023). Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Gamifikasi dalam Proses Pembelajaran di MIS Terpadu Al-Azhfar. Awwaliyah: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 6(2), 154–166. https://doi.org/10.58518/awwaliyah.v6i2.1930

 [5] Johnson, E. B. (2021). Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (Edisi Revisi). Kaifa Learning. Bandung. https://scholar.google.com/scholar?q=johnson+contextual+teaching+learning+bermakna+2021









Post a Comment

0 Comments