Riznu Nur Rosyidah
PENDAHULUAN
Pendidikan
dapat dipahami sebagai proses berkelanjutan dalam membentuk pengetahuan, sikap,
dan karakter individu yang tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah,
tetapi juga dimulai dari keluarga sebagai ruang pertama pembelajaran. Dalam
konteks Peran Orang Tua sebagai Fondasi Utama Pelestarian Budaya Banua di Era
Modern. Pendidikan memiliki makna yang lebih luas, yakni sebagai sarana
pewarisan nilai-nilai budaya lokal, norma, dan identitas kepada generasi muda. Dalam
hal ini, orang tua memiliki peran sentral dalam menanamkan kebiasaan,
penggunaan bahasa, serta nilai-nilai luhur budaya Banua sejak usia dini. Dengan
demikian, anak tidak hanya berkembang dari sisi intelektual, tetapi juga tumbuh
dengan karakter yang kuat dan tetap berakar pada budayanya, meskipun berada di
tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan zaman.
Seiring
dengan perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin pesat,
tantangan dalam melestarikan budaya lokal kian kompleks. Anak-anak generasi
sekarang tumbuh dalam lingkungan yang sangat terbuka terhadap berbagai pengaruh
budaya luar melalui media digital. Jika tidak diimbangi dengan penguatan
nilai-nilai budaya dari lingkungan keluarga, kondisi ini berpotensi menyebabkan
tergerusnya identitas lokal serta menurunnya rasa cinta terhadap budaya
sendiri. Oleh karena itu, peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi
kebutuhan fisik dan pendidikan formal anak, tetapi juga sebagai agen utama
dalam menanamkan kesadaran budaya dan karakter kebangsaan.
Selain
itu, keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki keunggulan dalam
membentuk kebiasaan dan pola pikir anak secara lebih mendalam dan
berkelanjutan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua juga menjadi teladan
utama bagi anak, sehingga perilaku dan kebiasaan mereka cenderung ditiru oleh
anak dalam proses tumbuh kembangnya, mulai dari masa kanak-kanak, remaja,
hingga dewasa (Putri et al; 2025) Interaksi yang
terjadi secara intensif dalam kehidupan sehari-hari memungkinkan proses
internalisasi nilai berlangsung secara alami. Orang tua dapat menjadi teladan
langsung dalam menerapkan nilai-nilai budaya Banua, seperti sikap gotong
royong, kesopanan, dan penghormatan terhadap tradisi. Melalui pembiasaan
tersebut, anak akan lebih mudah memahami dan menghayati makna budaya sebagai
bagian dari identitas dirinya.
Dengan
demikian, penting untuk menempatkan peran orang tua sebagai fondasi utama dalam
pelestarian budaya Banua di era modern. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan
masyarakat juga perlu diperkuat agar proses pendidikan berjalan secara seimbang
dan berkesinambungan. Melalui upaya bersama ini, diharapkan generasi muda tidak
hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi juga tetap memiliki
jati diri yang kuat serta bangga terhadap budaya lokal yang diwarisinya.
PEMBAHASAN
Pendidikan
sering kali disalah pahami hanya sebatas aktivitas transfer pengetahuan di
dalam ruang kelas yang dibatasi oleh dinding sekolah. Namun, menyambut Hari
Pendidikan Nasional 2026, kita perlu merefleksikan kembali bahwa kurikulum
pertama bagi seorang anak bermula dari meja makan dan interaksi di ruang
keluarga. Nilai-nilai budaya lokal menjadi dasar utama dalam membentuk
kepribadian dan karakter peserta didik (Andrian et al; 2025: 307) Dalam konteks
masyarakat lokal, keluarga bukan sekadar unit terkecil dalam tatanan sosial,
melainkan benteng utama dalam membentuk karakter anak serta menjaga kelestarian
"Budaya Banua". Dalam konteks globalisasi, masuknya budaya asing
melalui media digital kerap menggeser nilai-nilai lokal yang telah lama
diwariskan oleh para leluhur. Dampaknya, semangat gotong royong mulai memudar,
sikap hormat terhadap guru dan orang tua cenderung menurun, serta karakter
kebangsaan pada sebagian peserta didik menjadi semakin lemah (Mulyana, 2019;
Susanto, 2017). Oleh karena itu, Di
tengah gempuran arus globalisasi dan transformasi digital yang begitu masif, peran
keluarga menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa identitas lokal generasi
muda tidak tergerus, melainkan tetap mengakar kuat meski mereka hidup di era
modern.
Keluarga
dapat dipandang sebagai “madrasah” pertama dalam menanamkan nilai-nilai budaya
Banua. Pendidikan berbasis budaya tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk
teori atau mata pelajaran di sekolah. Nilai-nilai seperti religiusitas,
kesantunan dalam bertutur dan bersikap, serta semangat gotong royong perlu
ditanamkan melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seperti,
kebiasaan menggunakan bahasa daerah yang santun ketika berbicara dengan orang
yang lebih tua bukan sekadar bentuk komunikasi, melainkan juga cerminan
penghormatan terhadap norma sosial dan adat istiadat. Hal-hal sederhana seperti
ini memiliki dampak besar dalam membentuk karakter anak yang beretika dan
beradab. Selain itu, orang tua juga dapat mengenalkan budaya Banua melalui aktivitas
kontekstual, seperti melibatkan anak dalam kegiatan adat, perayaan tradisional,
atau bahkan sekadar menceritakan kisah-kisah lokal yang sarat makna. Pendekatan
ini membuat anak tidak hanya mengetahui budaya sebagai informasi, tetapi juga
merasakan dan memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ketika anak
memahami filosofi di balik tradisi, seperti pentingnya kebersamaan dan gotong
royong dalam kehidupan masyarakat Banua, mereka akan tumbuh menjadi individu
yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan rasa tanggung jawab terhadap
lingkungan sekitarnya.
Transformasi
digital pendidikan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun,
tantangannya adalah bagaimana kemajuan teknologi ini tidak meninggalkan atau
mengabaikan budaya lokal. Di sinilah keluarga berperan sebagai filter utama.
Orang tua harus mampu membimbing anak-anak mereka dalam menggunakan teknologi
tanpa melupakan jati diri sebagai masyarakat Banua. Literasi budaya di era
globalisasi harus dimulai dari penguatan pondasi karakter di rumah. Sinergi
antara pendidikan di rumah dan di sekolah akan menciptakan konsep "Belajar
Setara" yang sejati. Hal ini sejalan dengan pendapat KH Dewantara, Keluarga
berperan dalam membentuk karakter (jiwa), sekolah mengembangkan intelektual
(pikiran), dan lingkungan masyarakat membentuk perilaku sosial, ketiga unsur
tersebut harus berjalan selaras dalam suatu sistem pendidikan yang humanis.
Ketika orang tua aktif menanamkan karakter berbasis tradisi, sekolah akan lebih
mudah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kurikulum pendidikan.
Pemberdayaan keluarga dalam proses pendidikan ini merupakan wujud nyata dari
upaya membangun masyarakat Banjar yang sejahtera, di mana kemajuan ekonomi
kreatif lokal didukung oleh sumber daya manusia yang mencintai dan menghargai
tanah airnya.
KESIMPULAN
Keluarga
adalah pemegang kunci keberhasilan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.
Tanpa keterlibatan aktif dari orang tua, upaya revitalisasi nilai-nilai Banua
di lingkungan sekolah akan terasa hambar dan kehilangan ruhnya. Oleh karena
itu, momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 harus menjadi titik balik untuk
memperkuat komitmen bersama bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kolektif
yang dimulai dari keluarga. Dengan kolaborasi yang harmonis antara keluarga,
sekolah, dan komunitas, kita dapat mewujudkan generasi muda Banua yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara budi pekerti dan
tetap bangga akan identitas budayanya.
REFERENSI
Andrian,
M., Kayyis, I. I., Djedjen, & Jenuri. (2025). Systematic literature
review: Pendidikan berbasis
budaya lokal untuk penguatan karakter siswa. Pendas: Jurnal Ilmiah
Pendidikan Dasar, 10(4).
Wati,
N. K., Hamidha, S. H., Azzahro, T. A., & Musthofa, M. B. (2024). Strategi
pengembangan karakter budaya literasi pada siswa kelas 4 di SD Wachid Hasjim 2
Surabaya pada era globalisasi. EBTIDA’: Jurnal Pendidikan Dasar Islam,
4(2), 484–495.
Putri,
S.H. et al. (2023). Peran Orang Tua dalam Pembentukan Pendidikan Karakter Pada
Anak. Jurnal Pendidikan Seroja, 2(2)
.png)
0 Comments