Ainun Khulatifatul Jannah
Pendahuluan.
Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan sekadar seremoni
tahunan yang dihiasi dengan upacara formalitas dan pidato retoris. Lebih dari
itu, momentum ini adalah ruang refleksi mendalam atas sejauh mana langkah kaki
kita berpijak pada akar budaya di tengah arus digitalisasi yang kian deras dan
tak terbendung. Di tanah Banua, tantangan pendidikan hari ini telah bergeser
dari sekadar masalah akses fisik menjadi masalah eksistensial: bagaimana
menyelaraskan kecanggihan teknologi tanpa membuat generasi muda kehilangan
"ruh" kebanjarannya. Tema "Belajar Setara, Berbudaya Banua,
Membangun Banjar Sejahtera" menjadi pengingat yang sangat relevan bahwa
transformasi digital tidak boleh menjadi mesin penghancur nilai-nilai lokal,
melainkan harus bertransformasi menjadi alat penguat identitas kolektif kita.
Transformasi digital dalam dunia pendidikan seringkali
dianggap sebagai pedang bermata dua yang menyimpan potensi sekaligus ancaman
yang setara. Di satu sisi, ia menawarkan demokratisasi dan kesetaraan akses
yang luar biasa. Kita berada pada era di mana seorang anak yang tinggal di
pelosok Pegunungan Meratus, yang mungkin sulit dijangkau transportasi darat,
kini memiliki peluang yang sama untuk mengakses literatur global, video
pembelajaran berkualitas tinggi, hingga kursus dari universitas ternama dunia
layaknya anak yang tinggal di pusat kota Banjarmasin. Teknologi telah
meruntuhkan dinding-dinding kelas konvensional dan birokrasi ilmu pengetahuan
yang selama ini membatasi anak-anak di daerah terpencil.
Namun, di sisi lain, terdapat ancaman "homogenisasi
budaya" yang nyata. Konten digital yang bersifat seragam secara
global—yang didominasi oleh nilai-nilai Barat atau budaya pop arus
utama—berisiko tinggi menggerus nilai-nilai kearifan lokal jika tidak difilter dengan
kecakapan kritis. Ketika algoritma media sosial dan platform belajar lebih
sering menampilkan konten yang asing dari realitas sosiologis lokal, maka
perlahan-lahan identitas kedaerahan akan dianggap sebagai sesuatu yang kuno
atau tidak relevan. Persoalan mendasar yang harus kita jawab adalah: mampukah
kita melakukan transformasi digital pendidikan tanpa meninggalkan budaya
Banua?. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan wajah masyarakat Kalimantan
Selatan pada dekade-dekade mendatang.
Integrasi nilai budaya ke dalam platform digital
pendidikan adalah kunci utama untuk menjawab tantangan tersebut. Kita tidak
boleh hanya puas menjadi konsumen teknologi yang pasif, tetapi harus berani
mengambil peran sebagai produsen konten yang bernapaskan nilai Banua. Digitalisasi
pendidikan di Kalimantan Selatan harus didorong untuk menciptakan ekosistem
belajar yang kontekstual. Misalnya, pengembangan aplikasi pembelajaran atau Game-Based
Learning yang menggunakan latar cerita rakyat Banjar, seperti kisah
kepahlawanan Pangeran Antasari atau legenda-legenda lokal, sebagai instrumen
penyampai materi kurikulum nasional.
Lebih teknis lagi, simulasi matematika atau fisika dapat
dikembangkan dengan menggunakan objek lokal yang dekat dengan keseharian siswa,
seperti struktur aerodinamika perahu jukung atau prinsip ekonomi di pasar
terapung. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar mengenai angka, logika,
dan rumus-rumus abstrak, tetapi juga secara bawah sadar menyerap nilai-nilai
estetika, sejarah, dan sosiologis masyarakat Banjar. Pendidikan digital yang
berbasis pada lingkungan sekitar akan terasa lebih hidup dan bermakna bagi
siswa, karena mereka melihat ilmu pengetahuan bukan sebagai benda asing dari
luar sana, melainkan sebagai alat untuk memahami dunia yang mereka huni setiap
hari.
Selain aspek perangkat keras dan pengembangan aplikasi,
transformasi digital harus secara fundamental menyasar pada penguatan karakter
atau akhlakul karimah yang selama ini menjadi ciri khas dan kebanggaan
masyarakat Banua. Pendidikan di Kalimantan Selatan sangat lekat dengan
nilai-nilai religiusitas dan kesantunan yang diturunkan dari tradisi pesantren
dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Literasi digital di sekolah-sekolah
tidak boleh hanya berhenti pada kemahiran mengoperasikan perangkat, tetapi
harus berjalan beriringan dengan nilai "Gotong Royong" dan falsafah
"Kayuh Baimbai".
Teknologi, pada hakikatnya, seharusnya memudahkan
kolaborasi dan mempererat ikatan sosial, bukan malah menciptakan
individu-individu yang teralienasi dan asyik dengan dunianya sendiri dalam
gelembung digital. Dalam ruang kelas digital, peran guru mengalami pergeseran
yang sangat krusial. Guru bukan lagi sekadar instruktur teknis atau pemindah
informasi—karena informasi sudah tersedia melimpah di internet—melainkan sebagai
kurator nilai. Guru harus mampu memastikan bahwa interaksi siswa di dunia maya
tetap menjunjung tinggi etika kesantunan masyarakat Banjar yang dikenal rendah
hati dan menghargai orang lain (adab). Transformasi digital yang tanpa
didasari oleh pembangunan karakter hanya akan melahirkan generasi yang cerdas
secara kognitif namun hampa secara spiritual.
Lebih jauh lagi, sinergi antara teknologi dan budaya
dapat menjadi motor penggerak untuk mendorong kesejahteraan masyarakat secara
luas. Pendidikan bukanlah sebuah pulau terpencil; ia harus memiliki dampak
ekonomi dan sosial bagi lingkungannya. Ketika pendidikan berbasis budaya lokal
diperkuat dengan kemampuan digital yang mumpuni, generasi muda Banua akan
memiliki kepercayaan diri dan alat yang tepat untuk mempromosikan kekayaan
daerahnya ke panggung internasional.
Siswa yang dibekali dengan kemampuan literasi digital dan
pemahaman budaya yang kuat akan mampu mengemas ekonomi kreatif—seperti
kerajinan sasirangan, kuliner khas, hingga potensi pariwisata sungai—melalui
konten kreatif di platform global. Mereka tidak hanya menjadi pekerja digital,
tetapi menjadi duta budaya yang mampu mengapitalisasi nilai-nilai lokal menjadi
nilai tambah ekonomi tanpa harus menjual jati diri. Inilah esensi sejati dari
membangun Banjar sejahtera: sebuah kemakmuran yang lahir dari pendidikan yang
relevan dengan perkembangan zaman namun tetap setia pada jati diri dan akar
sejarahnya.
Dalam konteks filsafat pendidikan, upaya ini sejalan dengan konsep pendidikan yang memanusiakan manusia sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Kodrat zaman kita saat ini adalah digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), namun kodrat alam kita adalah sebagai manusia Banua yang hidup di lingkungan lahan basah dengan tradisi sungai yang kuat. Memisahkan keduanya adalah sebuah kesalahan sejarah. Transformasi digital tanpa budaya akan menghasilkan manusia robot, sementara budaya tanpa transformasi digital akan membuat kita tergilas oleh roda zaman.
Penutup
Transformasi digital adalah keniscayaan yang harus kita
peluk dengan cerdas. Namun, teknologi hanyalah alat, sementara budaya adalah
kompasnya. Pendidikan di Banua harus mampu mencetak generasi yang mahir
mengoperasikan kecerdasan buatan, namun tetap memiliki hati yang bergetar saat
mendengar lantunan madihin atau melihat kemegahan budaya sungai kita. Mari kita
jadikan Hari Pendidikan Nasional 2026 ini sebagai tonggak untuk mewujudkan
pendidikan yang setara, modern, namun tetap "harum" dengan wangi
budaya Banua.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai tonggak sejarah
untuk mewujudkan pendidikan yang modern dan setara, namun tetap memiliki
keharuman budaya Banua. Kita mendambakan sebuah sistem pendidikan yang tidak
sekadar mencetak lulusan siap kerja, melainkan manusia-manusia yang bangga akan
identitasnya dan siap berkontribusi bagi dunia. Dengan semangat Kayuh Baimbai,
mari kita bawa perahu pendidikan ini melintasi samudera digital tanpa sedikit
pun melupakan dermaga budaya tempat kita berasal
Referensi
Hasnida, S. S. (2024). Transformasi Pendidikan di Era
Digital: Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia 2 (1), 110-116.
Soedjono, S. (2022). Transformasi Digital Manajemen
Pendidikan: Media Penelitian Pendidikan: Jurnal Penelitian Dalam Bidang
Pendidikan Dan Pengajaran 16 (1), 103-107.
Hutahaean,
A, N, P, S. (2020). Peran Filosofi Budaya Batak Toba dalam Dunia Pendidikan: Jurnal
Sosial dan Budaya 9 (3), 113-324.

0 Comments