Banua Berdaya Melalui Literasi Budaya Di Era Globalisasi: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026


Putri Intan Suryani

Pendahuluan

Di zaman sekarang, karena teknologi makin canggih dan orang-orang makin mudah terhubung, dunia pendidikan juga ikut berubah. Cara belajar, isi pelajaran, sampai kemampuan yang dibutuhkan juga jadi berbeda. Pendidikan sekarang penting banget buat nyiapin orang menghadapi tantangan yang makin rumit. Maka dari itu, sistem pendidikan perlu disesuaikan supaya cocok dengan kebutuhan zaman sekarang. Sekarang, literasi itu bukan cuma soal bisa baca dan nulis saja. Lebih dari itu, kita juga harus bisa ngerti informasi, mikir kritis, dan bisa menyesuaikan diri sama perubahan. Literasi jadi hal penting buat berkembang, baik secara pribadi, kerja, maupun di kehidupan sosial, apalagi di zaman yang serba cepat dan terhubung seperti sekarang.

Di sisi lain, perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan kerja, dan tuntutan skill zaman sekarang bikin dunia pendidikan punya banyak tantangan. Masih ada masalah seperti akses informasi yang belum merata, pelajaran yang kadang kurang sesuai sama kebutuhan nyata, dan skill yang diajarkan belum sepenuhnya cocok sama dunia kerja (Frisnoiry, 2024).  Ini semua jadi hal penting yang perlu dibenahi. Literasi budaya itu bukan cuma soal tahu adat atau tradisi saja. Lebih dari itu, literasi budaya juga berarti kita bisa memahami, menghargai, dan menerapkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Pendidikan itu jadi pengingat kalau sekolah bukan cuma soal nilai atau pelajaran, tapi juga tentang membentuk sikap dan jati diri kita. Di zaman sekarang yang serba global dan teknologi berkembang cepat, kita jadi mudah banget terhubung dengan budaya dari luar. Ini memang bagus, tapi juga bisa bikin budaya sendiri jadi kurang diperhatikan kalau tidak dijaga.

Karena itu, literasi budaya jadi hal yang penting dalam pendidikan. Literasi budaya bukan cuma mengenal budaya Banjar, tapi juga paham maknanya dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, sekolah tidak hanya membuat siswa pintar, tapi juga punya karakter dan tetap bangga dengan budaya sendiri.

Melalui Hari Pendidikan ini, kita diingatkan lagi untuk kita menjaga budaya lewat literasi budaya itu penting banget supaya Banua bisa maju dan kuat tanpa kehilangan identitasnya.

Isi

Di zaman digital sekarang, literasi budaya juga bisa diperkuat lewat teknologi. Media sosial dan platform online bisa dipakai untuk mengenalkan budaya Banjar ke lebih banyak orang, Penelitian oleh (Jenkins, 2016) menekankan bahwa ikut berpartisipasi dalam budaya di dunia digital bisa membantu memperkuat identitas, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan orang dari berbagai negara. Konten kreatif yang menampilkan budaya lokal bisa jadi penghubung antara tradisi lama dan kehidupan modern. Lebih dari itu, literasi budaya juga bisa memberi dampak ke ekonomi. Budaya lokal bisa dikembangkan jadi peluang usaha, misalnya lewat kerajinan tangan, makanan khas, sampai wisata budaya. Menurut laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ekonomi kreatif yang berbasis budaya punya peran penting dalam membantu pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa budaya bukan hanya untuk dilestarikan, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan.

Lebih dari itu, literasi budaya juga bisa memberi dampak ke ekonomi. Budaya lokal bisa dikembangkan jadi peluang usaha, misalnya lewat kerajinan tangan, makanan khas, sampai wisata budaya. Literasi budaya itu nggak cuma sekadar tahu adat atau tradisi aja, tapi juga ngerti makna di baliknya. Misalnya nilai gotong royong, sopan santun, dan kebersamaan, itu semua sebenarnya penting banget dan bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari (UNESCO., 2017). Kalau nilai-nilai itu terus dijaga, identitas daerah juga tidak akan hilang walaupun zaman terus berubah dan berkembang. Anak muda punya peran besar di sini, Mereka hidup di zaman serba digital, jadi gampang banget terpengaruh budaya dari luar. Tapi kalau mereka punya paham budaya sendiri dengan baik, mereka tidak akan gampang kehilangan jati diri. Mereka tetap bisa ikut perkembangan zaman, tapi tetap bangga sama budaya yang dimiliki.

Pendidikan itu juga penting banget buat memperkuat literasi budaya. Sekolah bukan cuma tempat belajar pelajaran, tapi juga tempat buat kenal budaya sendiri. Kalau budaya daerah ikut diajarkan di sekolah, siswa jadi lebih ngerti dan bisa lebih sayang sama budayanya. Selain itu, sekarang teknologi juga bisa dimanfaatkan (Suyitno., 2019). Media sosial bisa jadi cara yang bagus buat ngenalin budaya Banjar ke banyak orang dengan cara yang lebih kreatif dan menarik.

Budaya juga bukan cuma soal identitas saja, tapi bisa jadi peluang untuk mencari penghasilan. Misalnya lewat kerajinan, makanan khas, atau wisata budaya yang bisa dikembangkan jadi usaha. Jadi, budaya itu bukan cuma dilestarikan, tapi juga bisa membantu meningkatkan kehidupan masyarakat jadi lebih sejahtera.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa literasi budaya punya peran yang sangat penting di era digital seperti sekarang. Literasi budaya tidak hanya membuat kita tahu tentang adat atau tradisi, tetapi juga membantu kita memahami nilai-nilai di dalamnya seperti gotong royong, sopan santun, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini penting agar identitas budaya tetap terjaga meskipun zaman terus berubah. Jadi, literasi budaya merupakan kunci untuk membangun banua yang berdaya di tengah arus globalisasi. Dengan memahami dan mencintai budaya sendiri, kita bisa tetap maju tanpa kehilangan jati diri. Sudah saatnya generasi muda jadi pelaku utama dalam menjaga dan mengembangkan budaya, demi masa depan banua yang lebih sejahtera.

Daftar Pustaka

Frisnoiry, S. (2024). Transformasi pendidikan menuju literasi di era globalisasi: Tantangan dan peluang. Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh, 53-63.

Jenkins, H. I. (2016). Participatory culture in a networked era: A conversation on youth, learning, commerce, and politics. Polity Press.

Suyitno. (2019). Penguatan pendidikan karakter melalui budaya lokal. . jurnal pendidikan, 123-124.

UNESCO. (2017). Literacy in a digital world. . UNESCO Publishing.

 

Post a Comment

0 Comments