Nanda Nayla Nabila
Pendahuluan
Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum
penting untuk merefleksikan peran strategis pendidikan dalam membentuk generasi
masa depan. Tema “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar
Sejahtera” menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan
oleh kemajuan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas generasi mudanya.
Di era globalisasi, generasi muda dihadapkan pada
tantangan besar berupa derasnya arus budaya asing, perkembangan teknologi
digital, serta perubahan sosial yang cepat. Penelitian menunjukkan bahwa
globalisasi berpotensi menggeser nilai-nilai budaya lokal dan menyebabkan
krisis identitas di kalangan generasi muda (Sangapan et al.,
2025). Oleh karena itu, pendidikan harus mampu membekali generasi muda dengan
karakter kuat berbasis budaya lokal agar mereka tidak kehilangan jati diri.
Isi
Generasi muda memiliki potensi besar sebagai motor
penggerak perubahan sosial. Mereka lebih adaptif terhadap teknologi, inovatif,
dan memiliki semangat untuk menciptakan perubahan. Dalam konteks pendidikan,
generasi muda harus didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan,
tetapi juga produsen ide dan solusi.
Penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki
peran strategis dalam mengintegrasikan teknologi dengan pelestarian budaya
lokal (Gangga et al., n.d.). Hal ini berarti mereka dapat menjadi jembatan
antara tradisi dan modernitas.
Namun, tanpa pendidikan yang tepat, potensi tersebut
dapat terarah ke hal negatif, seperti individualisme, hedonisme, dan kehilangan
nilai sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi kunci dalam
mengarahkan generasi muda agar berkontribusi positif bagi masyarakat.
Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menjadi
fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang berintegritas. Nilai-nilai
seperti gotong royong, toleransi, tanggung jawab, dan cinta tanah air merupakan
bagian dari kearifan lokal yang harus diwariskan.
Penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai
kearifan lokal dalam pendidikan mampu mencegah dekadensi moral dan memperkuat
identitas generasi muda (Saputra et al.,
2024). Selain itu, pendidikan karakter berbasis budaya lokal juga efektif
dalam menumbuhkan rasa nasionalisme (Rinovian et al.,
2025).
Dalam konteks Banua, nilai-nilai lokal tidak hanya
menjadi identitas budaya, tetapi juga pedoman dalam kehidupan sosial. Oleh
karena itu, pendidikan harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai tersebut
dalam proses pembelajaran.
Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk
generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki
karakter kuat. Hal ini dapat dilakukan melalui:
- Integrasi budaya lokal dalam
kurikulum
- Penguatan pendidikan karakter di
sekolah
- Penggunaan metode pembelajaran
kontekstual
Penelitian menunjukkan bahwa sekolah memiliki peran
penting sebagai sarana penanaman nilai budaya dan karakter bangsa (Aspiani, 2025). Selain itu, pendidikan yang mengintegrasikan nilai
budaya lokal terbukti mampu meningkatkan kesadaran sosial dan kepedulian
terhadap lingkungan (Fatoni, 2025). Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi
sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan
identitas.
Era digital membawa peluang sekaligus tantangan. Di
satu sisi, teknologi memudahkan akses informasi dan membuka peluang inovasi.
Namun, di sisi lain, generasi muda rentan terhadap pengaruh negatif seperti
budaya instan, disinformasi, dan degradasi moral. Penelitian menunjukkan bahwa
generasi muda cenderung lebih mengenal budaya asing dibandingkan budaya lokal,
sehingga terjadi fenomena cultural alienation (Budaya et al., n.d.). Hal ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan
budaya lokal.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan
pendidikan yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai budaya. Misalnya,
melalui penggunaan media digital berbasis budaya lokal dalam pembelajaran. Untuk
mewujudkan generasi muda yang mampu membangun masyarakat sejahtera, diperlukan
beberapa strategi, antara lain:
- Penguatan pendidikan karakter sejak
dini
- Pelibatan keluarga dan masyarakat
dalam pendidikan
- Pemanfaatan teknologi untuk
pelestarian budaya
- Pemberdayaan generasi muda dalam
kegiatan sosial dan budaya
Penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara
pendidikan formal, keluarga, dan masyarakat sangat penting dalam membentuk
karakter generasi muda (Ayunitha, 2025). Selain itu, revitalisasi kurikulum berbasis
kearifan lokal juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya
(Hekmatyar et al.,
n.d.).
Penutup
Generasi
muda merupakan kunci dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Namun, tanpa
fondasi karakter yang kuat dan pemahaman terhadap budaya lokal, mereka berisiko
kehilangan arah di tengah arus globalisasi. Melalui pendidikan yang
mengintegrasikan nilai budaya Banua, generasi muda dapat tumbuh menjadi
individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, berbudaya, dan
bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Dengan
demikian, cita-cita “Belajar Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar
Sejahtera” dapat terwujud secara nyata. Hari Pendidikan Nasional 2026 harus
menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam mencetak generasi muda yang
mampu menjaga budaya sekaligus membawa perubahan menuju masa depan yang lebih
baik.
Daftar Pustaka
Aspiani, A.
(2025). Sekolah Sebagai Sarana Menanamkan Nilai Budaya dan Karakter Bangsa.
3(3), 554–560.
Ayunitha, M. (2025). Revitalisasi Pendidikan Karakter
untuk Membentuk Generasi Berintegritas di Era Modern. 3(4), 1–8.
Budaya, D. A. N. S., Yudha, N., Widyari, A., & Si, M.
(n.d.). GENERASI MUDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN TRANSFORMASI DIGITAL DALAM
MEMBANGUN MASA DEPAN INDONESIA MELALUI TEKNOLOGI, SENI, DAN SOSIAL BUDAYA.
1–16.
Fatoni, I. (2025). JHP : Jurnal Harmoni Pendidikan
Membangun Generasi Berkarakter : Pendidikan Berbasis Nilai sebagai Pilar Bangsa.
1(1), 36–44.
Gangga, M., Maruti, D., Komang, N., & Puja, A. (n.d.). Peran
Strategis Generasi Muda dalam Penguasaan Teknologi dan Pelestarian Budaya
Berlandaskan Tri Hita Karana Menuju Indonesia Emas 2045.
Hekmatyar, G., Fatikawati, O., Wicaksono, D., Magister, S.,
Pendidikan, T., Pendidikan, T., & Jakarta, M. (n.d.). Revitalisasi
Kurikulum Sekolah Berbasis Kearifan Lokal : Strategi Meningkatkan Identitas dan
Karakter Bangsa. 01, 287–294.
Rinovian, R., Wahyono, T. T., & Riyadi, S. (2025). Pendidikan
Karakter Berbasis Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Kearifan Lokal Sebagai Upaya.
4(2), 9056–9065.
Sangapan, L. H., Paryanti, A. B., & Manurung, A. H.
(2025). Tantangan Globalisasi terhadap Pelestarian Budaya Nusantara di Dunia
Pendidikan : Sebuah Kajian Sistematis Literatur. 3(3), 147–158.
Saputra, D. G., Malintang, J., Wulandani, N., Rachman, A.,
& Husain, D. L. (2024). Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi
Entrepreneur Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah Menengah Atas Character
Education in Forming a Generation of Entrepreneurs Based on Local Wisdom in
High Schools. 8(2), 1239–1246.
.png)
0 Comments