Cantika Iva Faulina
Pemberdayaan Guru dalam Mengembangkan
Pembelajaran Berbasis
Budaya Lokal
PENDAHULUAN
Pendidikan tidak hanya
bertujuan untuk meningkatkan kompetensi perserta didik pada konsep-konsep
bidang ilmu (aspek pengetahuan) , namun juga untuk menghasilkan generasi muda yang memiliki
kemampuan menjadi agent of change, berkarakter, dan berbudaya dalam
menghadapi tantangan masa depan.Pendidikan karakter dan budaya teklah menjadi
penting isu penting dalam kurikulum level, khususnya mengembangkan kompetensi
peserta didik untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan
melaksanakan peranannya di masa yang akan datang. Selanjutnya secara khusus, sekolah
berperan penting dalam membangun karakter dan budaya peserta didik, khususnya
menghadapi permasalahan di masyarakat yang semakin kompleks serta multikultur.
Dengan demikian pengembangan
generasi masa depan yang holistik dalam hal karakter, budaya dan kompetensi
masa depan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan
Bangsa Indonesia
merupakan bangsa, salah satunya aspek yang dapat mengembangkan identitas budaya
sebagai sarana untuk melestarikan budaya, khususnya pada generasi muda adalah
melalui pendidikan. Tantangan pendidikan pada era globalisasi telah mendorong
pemerintah mengembangkan berbagai upaya untuk mengembangkan identitas budaya
peserta didik. Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013
melalui pelajaran muatan lokal untuk dapat mengenalkan peserta didik dengan lingkungan
sosial, alam dan budayanya.
Pendidikan karakter yang
menjadi landasan kurikulum 2013 memberikan kesempatan untuk membawa unsur
identitas budaya dan pembentukan karakter di dalam proses pembelajaran.
Pendidikan dapat menjadi unsur penting dalam upaya melestarikan budaya bangsa,
karena tanpa adanya keterlibatan pendidikan, budaya lokal akan dihilangkan oleh
modernitas Masyarakat. Implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013
tentunya memiliki tantangan, dalam steakholder pendidikan terutama guru sebagai
objek vital dalam pendidikan. Guru sebagai tenaga professional memiliki tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik (Undang-undang Nomor 20 tahun 2003). Untuk menunjang
profesinya, sebagaimana yang diamanatkan dalam Permeneg PAN dan RB Nomor 16
tahun 2009 (Daniel, S, 2007) tentang jabatan fungsional guru dan angka
kreditnya, seorang guru juga dituntut memiliki kewajiban, dan bertanggungjawab
untuk meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara
berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(Rahmawati
et al., 2020)
ISI
Pembelajaran berbasis
budaya lokal telah dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran bermakna adalah
dengan mengaitkan pembelajaran dengan latar belakang budaya peserta didik,
Pendidik harus menyadari bahwa
terdapat kaitan erat antara budaya dengan cara berpikir peserta didik. Integrasi
latar belakang budaya peserta didik merupakan upaya untuk mendekatkan peserta
didik dengan konteks pembelajaran dan kesadaran peserta didik terhadap
identitas budayanya.
Menurut Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan hal
tersebut diperlukan suatu usaha bersama antara pemerintah, sekolah dan
masyarakat. Dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan sikap demokratis,
berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Oleh karena dalam penyelenggaraan
pendidikan perlu adanya suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat. Maka dari itu perlu adanya lembaga pendidikan
yang menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan undang-undang sistem
pendidikan nasional, terutama yang terkait dengan nilai kultural atau budaya
dan kemajemukan bangsa. Dalam menerapkan nilai-nilai kultural
atau budaya di lembaga pendidikan terdapat berbagai kendala.
Salah satu kendala dalam proses pembudayaan melalui pendidikan yaitu
minimnya penerapan nilai-nilai kultural serta budaya lokal pada proses
pembelajaran pada peserta didik. Pendidik lebih bangga dan senang jika mengajar dengan
mengadopsi media dan strategi dari bangsa lain. Contohnya dengan menggunakan
media komputer atau sejenisnya. Sementara menurut Dewantara (2004, p.242) dalam
pembelajaran tidak perlu meniru bangsa lain jika bangsa ini mempunyai cara dan
metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran, karena barang tiruan belum
tentu sesuai dengan bangsa ini. Oleh karena itu pendidik perlu untuk memahami
budaya-budaya lokal yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi
peserta didik, salah satu budaya lokal yang dapat digunakan dalam mendukung
proses pembelajaran perserta didik (Muzakki & Fauziah, 2015)
budaya lokal
merupakan salah satu
upaya penting dalam
menjaga identitas dan keunikan
suatu bangsa , Di Indonesia,
warisan budaya lokal, seperti
seni, kerajinan, dan
tradisi, menjadi aset
yang harus dijaga
agar tidak hilang
di tengah perkembangan zaman.
Di tingkat pendidikan,
peran guru sangat
signifikan dalam mentransfer pengetahuan
tentangbudaya lokal kepada
generasi muda. Pendidikan
dasar, sebagai fondasi pendidikan
formal, memiliki potensi
besar dalam menanamkan
nilai-nilai budaya kepada siswa. Namun, tidak semua guru memiliki
pengetahuan atau keterampilan yang memadai
untuk mengintegrasikan budaya
lokal ke dalam
proses pembelajaran. Kondisi
ini mencerminkan adanya kebutuhan
untuk memberikan pelatihan
kepada para guru
dalam upaya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari media
pembelajaran.
Guru di sekolah juga membutuhkan strategi
yang efektif untuk
menggabungkan warisan budaya lokal
dalam materi pembelajaran, sehingga perserta didik dapat
mengenal dan menghargai budaya lokal daerah mereka masing-masing ,
anpa adanya pelatihan
yang memadai, banyak potensi
budaya lokal yang
bisa terabaikan dalam
proses pendidikan.
Pelatihan pelestarian budaya
lokal tidak hanya
membantu meningkatkan kesadaran
guru tentang pentingnya budaya, tetapi juga menyediakan
metode pembelajaran yang menarik dan interaktif. Penggunaan
budaya lokal sebagai
media pembelajaran tidak
hanya membuat pembelajaran lebih
kontekstual, tetapi juga
membantu peserta didik bisa memahami keterkaitan
antara pelajaran sekolah dan kehidupan sehari-hari mereka. Ini juga dapat meningkatkan rasa
bangga terhadap warisan budaya
mereka dan mendorong
mereka untuk ikut
melestarikan warisan
tersebut. Selain itu,
pelatihan ini berperan
penting dalam memperkuat
hubungan antara sekolah dan
komunitas lokal (Muzakki
& Fauziah, 2015).
Nilai-nilai budaya lokal
dapat berperan sebagai filter moral dan pedoman dalam membangun karakter
digital anak. Integrasi antara literasi digital dan budaya lokal diharapkan
melahirkan generasi yang melek teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai
moral. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pemberdayaan siswa dalam
menggunakan teknologi perlu mempertimbangkan konteks sosial-budaya tempat
mereka belajar(Putri
et al., 2026)
Pelestarian warisan
budaya lokal merupakan
salah satu aspek
penting yang harus diperhatikan dalam
pembangunan karakter generasi
muda. Di Indonesia,
budaya lokal sangat beragam dan
kaya akan nilai-nilai
yang tidak hanya
bersifat estetik, tetapi
juga edukatif. Budaya lokal
meliputi tradisi, seni,
adat istiadat, bahasa,
hingga produk kerajinan yang mencerminkan identitas suatu daerah. Namun, seiring dengan
perkembangan globalisasi dan
teknologi, perhatian terhadap pelestarian
budaya lokal semakin
berkurang, terutama di kalangan
generasi muda. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan
mengintegrasikan budaya lokal ke dalam
proses pembelajaran di
sekolah. Namun, permasalahan
yang sering dihadapi
adalah kurangnya pemahaman dan
kemampuan guru dalam
memanfaatkan warisan budaya
lokal sebagai media pembelajaran.
Permasalahan utama
yang menjadi fokus ini Adalah kurangnya
pengetahuan dan keterampilan guru
dalam menggunakan warisan budaya lokal sebagai bagian dari media
pembelajaran di sekolah . Di banyak
sekolah , materi pembelajaran
masih cenderung bersifat akademik
dan kurang kontekstual
dengan kehidupan sehari-hari
perserta didik , termasuk
dalam hal pelestarian
budaya lokal. Banyak
guru yang tidak
mengetahui cara efektif
untukmenggabungkan
elemen-elemen budaya lokal
ke dalam pelajaran, sehingga
potensi pembelajaran berbasis budaya menjadi tidak optimal. Hal ini
dapat disebabkan oleh kurangnya pelatihan
yang berfokus pada
pelestarian budaya lokal,
serta kurangnya wawasan
guru mengenai pentingnya budaya
lokal sebagai sarana
pembelajaran yang kontekstual
dan interaktif (Mulyani
et al., 2024)
KESIMPULAN
pembelajaran berbasis budaya lokal
punya peran penting dalam membentuk karakter danidentitas peserta didik, bukan
cuma sekadar menambah pengetahuan saja. Guru jadi kunci utama dalam proses ini,
karena mereka yang menentukan bagaimana budaya lokal bisa masuk ke dalam
pembelajaran sehari-hari. Tapi kenyataannya, masih banyak guru yang belum
maksimal karena kurang pengetahuan dan pelatihan tentang cara mengintegrasikan
budaya lokal ke dalam materi belajar. udaya lokal bisa bikin pembelajaran jadi
lebih dekat dengan kehidupan siswa, lebih menarik, dan juga bisa menumbuhkan
rasa bangga terhadap budaya sendiri. Jadi, penting banget adanya pemberdayaan
guru lewat pelatihan dan dukungan supaya pembelajaran berbasis budaya lokal
bisa berjalan dengan maksimal dan nggak kalah sama pengaruh globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyani, E., Fauza, N., Charlina, C., Putra, Z. H.,
Hadriana, H., Novianti, R., & Barokah, R. G. S. (2024). Persepsi Guru dalam
Pemberdayaan Pelestarian Warisan Budaya Lokal Sebagai Media Pembelajaran di
Sekolah Dasar. Journal Of Human And Education (JAHE), 4(6),
290–297. https://doi.org/10.31004/jh.v4i6.1786
Muzakki, M., & Fauziah, P. Y. (2015). Implementasi
pembelajaran anak usia dini bMuzakki, M., & Fauziah, P. Y. (2015).
Implementasi pembelajaran anak usia dini berbasis budaya lokal di PAUD full day
school. Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2(1), 39.
https://doi.org/10.21831/jppm. Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat,
2(1), 39.
Putri, I. S., Haq, M. S., & Kristanto, A. (2026).
Pemberdayaan Keterampilan Digital Siswa Sekolah Dasar Berbasis Budaya Lokal. Jurnal
Education and Development, 14(1), 49–54.
https://doi.org/10.37081/ed.v14i1.7715
Rahmawati, Y., Ridwan, A., & Agustin, M. A. (2020).
Pengembangan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Berbasis Budaya: Culturally
Responsive Transformative Teaching (CRTT). ABDI: Jurnal Pengabdian Dan
Pemberdayaan Masyarakat, 2(1), 48–57.
https://doi.org/10.24036/abdi.v2i1.33
.png)
0 Comments