Nama: Fidya Desi Aryani
NIM:
20624060
Mata Kuliah: Etika Profesi Keguruan A
Pendidikan
selalu menjadi pilar penting dalam membentuk arah peradaban. Di tengah derasnya
arus teknologi digital, peran guru justru semakin strategis dalam menentukan
kualitas generasi mendatang. Transformasi sosial dan perkembangan teknologi
yang bergerak cepat menuntut guru untuk terus menyesuaikan diri, memahami
perubahan zaman, serta menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan
peserta didik. Tantangan pendidikan hari ini tidak lagi bersifat tunggal,
melainkan kompleks dan saling berkaitan: integrasi teknologi, keragaman budaya,
pemenuhan kecakapan abad ke-21, hingga dinamika emosional siswa yang semakin
beragam. Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan Artificial Intelligence
(AI) menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam dunia pendidikan. AI
kini mampu menyajikan materi adaptif, memberikan koreksi otomatis, hingga
menganalisis pola belajar siswa secara lebih akurat sebagaimana dijelaskan oleh
Hanis & Wahyudin (2024)¹. Bahkan, penelitian Batubara dkk. (2024)²
menegaskan bahwa penggunaan AI di sekolah dasar telah membantu guru
mengefektifkan proses pembelajaran dan mengurangi beban administratif. Meski
demikian, kemampuan guru dalam mengadopsi teknologi belum merata. Ada pendidik
yang sudah akrab dengan perangkat digital, namun tidak sedikit yang masih
kesulitan karena minimnya pelatihan atau fasilitas. Ketimpangan ini
memperlihatkan urgensi peningkatan literasi digital guru secara berkelanjutan
agar pemanfaatan teknologi tidak hanya dinikmati sebagian sekolah.
Selain
tantangan teknologi, keberagaman budaya dalam kelas juga memengaruhi dinamika
belajar. Peserta didik hadir dari latar belakang sosial, nilai keluarga, dan
pengalaman hidup yang sangat beragam. Guru berperan membangun ekosistem belajar
yang inklusif sekaligus menghargai perbedaan. Perbedaan budaya dapat menjadi
kekuatan apabila dikelola dengan baik melalui pendekatan pedagogis yang
menempatkan keberagaman sebagai sumber pembelajaran. Penelitian Putra dkk.
(2024)⁴ menekankan bahwa penerapan teknologi dalam kelas tetap harus diimbangi
dengan penguatan nilai-nilai karakter, sehingga keberagaman tidak menjadi
hambatan melainkan modal pembentukan sikap saling menghormati. Tuntutan
kecakapan abad ke-21 juga semakin menegaskan bahwa siswa perlu dibekali kemampuan
berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan melek digital. Hal ini sejalan
dengan temuan Huda dkk. (2024)³ yang menyatakan bahwa teknologi berpotensi
meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi apabila digunakan melalui
pendekatan pembelajaran yang tepat. Guru harus mengarahkan kegiatan belajar
menuju eksplorasi gagasan, diskusi, dan pemecahan masalah nyata. Namun,
keterbatasan fasilitas dan tingginya beban administratif sering membuat guru
kesulitan menerapkan model pembelajaran yang inovatif. Dukungan kebijakan dan
lingkungan sekolah menjadi faktor penting agar guru dapat menerapkan metode
kreatif sesuai kebutuhan siswa.
Selain aspek
akademik, perhatian terhadap kondisi emosional siswa juga semakin sentral.
Paparan digital yang berlebihan, tekanan akademik, serta perubahan sosial
membuat sebagian siswa mengalami kecemasan, stres, atau penurunan motivasi.
UNICEF (2023)⁶ menegaskan bahwa kesehatan mental pelajar merupakan faktor kunci
keberhasilan proses belajar, sehingga guru perlu peka terhadap perubahan
perilaku siswa, sekalipun mereka bukan konselor profesional. Dalam berbagai
kasus, guru sering menjadi figur pertama yang dihubungi siswa ketika menghadapi
kesulitan emosional, sehingga kepekaan sosial menjadi kompetensi yang sangat
penting dalam pendidikan modern. Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,
guru membutuhkan dukungan sistemik yang konsisten. Pemerintah memiliki peran
besar dalam menyediakan pelatihan berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan
lapangan, sebagaimana disarankan Yulianti dkk. (2024)⁵ mengenai peningkatan
produktivitas guru melalui pemanfaatan AI. Pelatihan yang efektif bukan hanya
bersifat teknis, tetapi juga strategis, agar guru mampu memadukan teknologi
dengan pedagogi secara seimbang. Selain itu, pemerataan fasilitas digital di
seluruh sekolah menjadi kebutuhan mendesak agar setiap guru memiliki kesempatan
yang sama untuk berkembang. Sekolah sebagai ruang profesional guru juga
memegang peranan penting. Institusi pendidikan perlu membangun budaya
kolaboratif melalui komunitas belajar, forum refleksi, serta praktik berbagi
pengalaman. Hidayah (2024)⁶ menunjukkan bahwa manajemen sekolah yang memanfaatkan
teknologi, termasuk AI, dapat meningkatkan efektivitas administrasi sehingga
guru dapat memfokuskan waktu mereka pada inovasi pembelajaran. Lingkungan kerja
yang suportif mendorong guru untuk lebih percaya diri dalam menerapkan
pendekatan baru, bereksperimen dengan strategi pembelajaran, dan beradaptasi
dengan perkembangan digital.
Di luar
sekolah, keterlibatan orang tua dan masyarakat turut menentukan keberhasilan
proses pendidikan. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga membantu memastikan
bahwa nilai dan kebiasaan belajar tetap terbentuk di rumah. Masyarakat juga
dapat berperan melalui kegiatan literasi, mentoring, hingga penyediaan ruang
kreatif bagi siswa. Penelitian Untu dkk. (2024)⁷ menunjukkan bahwa penggunaan
AI untuk menyesuaikan materi pembelajaran dapat membantu siswa dengan kemampuan
yang berbeda-beda, sehingga dukungan keluarga menjadi penting untuk memastikan
keberlangsungan proses belajar. Dengan demikian, pendidikan merupakan upaya
bersama yang membutuhkan harmoni antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Melihat
keseluruhan dinamika tersebut, tantangan di era digital seharusnya dipahami
sebagai peluang besar untuk memperkuat pendidikan Indonesia. Teknologi dapat
memperkaya proses belajar bila digunakan secara bijak. Keberagaman menjadi
sumber pembentukan karakter inklusif. Keterampilan abad ke-21 membuka jalan
bagi generasi yang adaptif dan kreatif. Bahkan pendidikan usia dini, menurut
Noviyanti dkk. (2023)⁸, dapat memanfaatkan AI sebagai media stimulasi yang aman
dan efektif apabila pendampingan orang tua berjalan optimal. Pada titik inilah
peran guru tetap tak tergantikan. Sentuhan empati, nilai, dan keteladanan tidak
dapat digantikan oleh mesin apa pun. Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah,
guru, orang tua, dan masyarakat, pendidikan Indonesia dapat bergerak menjadi
sistem yang lebih adaptif, bermartabat, dan selaras dengan kebutuhan zaman
modern. Guru sebagai pusat perubahan akan mampu menjalankan perannya secara
optimal ketika seluruh elemen pendidikan memberikan dukungan yang konsisten.
Masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita memperkuat
posisi guru dalam menghadapi realitas baru di era kecerdasan buatan.
Kesimpulan
Di era
ketika teknologi digital dan kecerdasan buatan berkembang dengan sangat cepat,
pendidikan Indonesia berada pada titik krusial yang menuntut respons adaptif
dari semua pihak. Guru sebagai aktor utama dalam proses Pendidikan memegang
peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. AI dapat mempercepat
analisis, mempermudah penyajian materi, dan meningkatkan efektivitas
administrasi; namun sentuhan kemanusiaan berupa empati, bimbingan moral, dan
keteladanan tetap hanya bisa diberikan oleh guru. Karena itu, transformasi
pendidikan membutuhkan dukungan menyeluruh: pelatihan berkelanjutan dari
pemerintah, budaya kolaboratif di sekolah, serta keterlibatan aktif keluarga
dan masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, menghargai
keberagaman, dan memperkuat kecakapan abad ke-21, pendidikan Indonesia memiliki
kesempatan besar untuk tumbuh menjadi sistem yang inklusif, adaptif, dan
berdaya saing. Masa depan pendidikan akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita
memperkuat posisi guru sebagai pengarah utama perkembangan generasi di tengah
arus perubahan AI yang tidak pernah berhenti.
Referensi
¹
Hanis, M., & Wahyudin, D. (2024). Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI)
Dalam Penyusunan Asesmen Pembelajaran.
²
Batubara, H. A., Ghazali, A., & Bangun, O. (2024). Pemanfaatan Artificial
Intelligence dalam Pembelajaran Sekolah Dasar.
³
Huda, Y. S., dkk. (2024). Implementasi Penggunaan AI dalam Proses Pembelajaran
Mahasiswa Teknologi Pendidikan.
⁴
Putra, A. P., dkk. (2024). Analisis Pemanfaatan AI terhadap Kualitas
Pembelajaran di Sekolah Dasar
⁵
Yulianti, E., dkk. (2024). Penerapan AI dalam Meningkatkan Produktivitas Guru
Sekolah Dasar.
⁶
Hidayah, A. T. (2024). Optimalisasi Manajemen Sekolah melalui Pemanfaatan AI
dalam Administrasi Pendidikan.
⁷
Untu, H. I., dkk. (2024). Dampak Penggunaan AI dalam Menyesuaikan Materi
Pembelajaran bagi Siswa Sekolah Dasar.
⁸
Noviyanti, A. I., dkk. (2023). Pembelajaran Berbasis AI untuk Anak Usia Dini.
0 Comments