Oleh : Prof. Dr. Muhlisin, M.Ag.
Pendahuluan
Ramadlan 1447 Hijriyah hadir di tengah
peradaban manusia yang semakin bising. Di era ini, lisan manusia tidak lagi
hanya mewujud dalam bentuk getaran pita suara, melainkan telah bertransformasi
menjadi ketukan jari di layar ponsel, komentar di media sosial, dan status yang
tersebar dalam hitungan detik. Hakikat puasa yang secara etimologi berarti al-imsak, menahan diri, kini menghadapi tantangan yang
lebih kompleks. Jika dahulu menjaga lisan hanya berarti diam dari ucapan
verbal, kini ia mencakup diamnya jempol dari menebar fitnah dan kegaduhan
digital.
Puasa adalah madrasah ruhani yang bertujuan membentuk pribadi yang bertaqwa. Namun, seringkali kita terjebak pada pemaknaan puasa yang bersifat mekanistik, sekadar memindahkan jam makan. Padahal, inti dari ibadah ini adalah pengendalian diri secara total (self-control). Lisan, sebagai salah satu anggota tubuh yang paling aktif, memegang peranan krusial dalam menentukan apakah puasa seseorang akan naik ke langit sebagai amal shalih atau hanya akan tertahan di tenggorokan sebagai rasa lapar dan haus yang sia-sia. Artikel ini akan mengulas secara mendalam urgensi menjaga lisan di bulan suci Ramadlan, meninjau pandangan Al-Qur'an, Hadits, hikmah para ulama klasik, hingga tinjauan riset modern mengenai dampak kata-kata terhadap psikologi manusia.
Menjaga Lisan di Era
Digital
Al-Qur'an memberikan
peringatan yang sangat tegas mengenai setiap kata yang keluar dari mulut
manusia. Allah SWT berfirman dalam Surat Qaf ayat 18:
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya
melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." Ayat
ini menegaskan adanya sistem pencatatan otomatis yang tidak pernah luput. Di
bulan Ramadlan, kesadaran akan kehadiran pengawas ilahi, muraqabah, ini harus ditingkatkan. Jika kita merasa
malu berbicara kotor di depan orang yang kita hormati, betapa seharusnya kita
lebih malu berbicara buruk sementara Allah dan para malaikat-Nya sedang
mengawasi puasa kita.
Rasulullah SAW juga
menekankan bahwa kualitas puasa seseorang sangat bergantung pada kejujuran
lisannya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, beliau
bersabda:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan
dusta (qauluz-zuur) dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh
dia meninggalkan makan dan minumnya."
Hadits ini adalah alarm keras bagi setiap mukmin. Puasa tanpa penjagaan lisan adalah puasa yang kehilangan jiwanya. Ia
bagaikan bejana yang indah namun bocor di bagian dasarnya. Seberapa banyak pun
pahala yang dituangkan ke dalamnya melalui shalat dan sedekah, ia akan habis
mengalir keluar melalui lubang-lubang ghibah, dusta, dan caci maki (Ahmad
Syarifuddin,2003).
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin membedah secara
rinci tentang "Bahaya Lisan" (Aafat al-Lisan).
Beliau menyatakan: "Lisan adalah nikmat Allah yang agung dan ciptaan-Nya
yang halus. Meskipun bentuknya kecil, namun ketaatan dan kemaksiatan yang
dilakukannya sangat besar." Al-Ghazali mengingatkan bahwa lisan memiliki
daya rusak yang luar biasa jika tidak dikekang dengan kendali iman. Beliau
membagi dosa lisan menjadi beberapa tingkatan, mulai dari membicarakan hal yang
tidak berguna hingga namimah, adu domba.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin juga mengutip sebuah kaidah emas:
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik
atau diam." Diam bukan berarti pasif, melainkan sebuah tindakan aktif
untuk menimbang manfaat dan madharat sebelum berucap. Para ulama berpendapat
bahwa di bulan Ramadlan, diam adalah ibadah yang setara dengan dzikir jika
tujuannya adalah menghindari kemaksiatan lisan.
Penelitian modern
mendukung ajaran Islam mengenai pentingnya menjaga tutur kata. Sebuah studi
yang dipublikasikan dalam jurnal Rooh-e-Tahqeeq oleh Fazeel Eayaz (2025) menunjukkan
bahwa kata-kata yang kita gunakan secara harfiah dapat mengubah otak kita.
Terdapat Dampak Neurologis. Ketika kita menggunakan kata-kata
positif dan penuh kasih di bulan Ramadlan, seperti doa dan dzikir, lobus
frontal otak kita menjadi lebih aktif, yang meningkatkan kemampuan kognitif dan
kontrol emosi (Fazeel Eayaz,2025). selain itu juga ada Dampak Hormonal. Sebaliknya, kata-kata negatif atau
keterlibatan dalam konflik verbal memicu pelepasan hormon kortisol, hormon
stres. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang banyak mengeluh atau mencela saat
puasa merasa lebih cepat lelah dan emosional. Robert E. Thayer, (1996)
Riset lain mengenai Social Contagion menunjukkan bahwa perilaku lisan di
lingkungan sosial sangat menular. Jika dalam satu lingkaran pertemanan terdapat
satu orang yang memulai ghibah, maka anggota lain cenderung akan ikut serta
José Luis Estévez (2022). Ramadlan menjadi momen penting
untuk memutus rantai penularan negative ini dengan menciptakan lingkungan
bicara yang positif (positive speech environment).
Di tahun 2026 ini, menjaga lisan berarti juga
menjaga jari-jari dari mengetik hoaks, memicu cyber-bullying, atau
menyebarkan kebencian. Kita harus menyadari bahwa lisan tulisan memiliki dampak
yang lebih abadi karena jejak digitalnya yang sulit dihapus. Salah satu bentuk
menjaga lisan di era ini adalah dengan melakukan Digital Fasting atau
puasa digital dari konten-konten yang memancing emosi negative ( Abdy Nur
Muhammad, 2025). Menjaga lisan berarti tidak ikut mengomentari urusan orang
lain yang tidak kita ketahui kebenarannya, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Isra ayat 36:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan,
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Penutup
Menjaga lisan di bulan
suci Ramadlan bukan sekadar menahan diri dari kata-kata kasar, melainkan sebuah
upaya sadar untuk memurnikan jiwa. Lisan yang terjaga adalah tanda
dari hati yang khusyuk. Jika kita
berhasil menundukkan lisan kita selama sebulan ini, maka kita telah memenangkan
pertempuran melawan ego yang paling liar. Mari jadikan setiap ucapan kita di
bulan ini sebagai jembatan menuju ridha Allah. Gunakan lisan untuk bertasbih,
mendoakan kebaikan bagi sesama, dan menebarkan kedamaian. Ingatlah bahwa puasa
yang sempurna adalah puasa yang melibatkan seluruh anggota badan, dengan lisan
sebagai panglimanya.
Sebagai langkah nyata, mari kita berkomitmen
untuk, berhenti sejenak sebelum berbicara atau membalas pesan untuk memastikan
manfaatnya. Kita juga perlu Mengganti kebiasaan mengeluh dengan kalimat Alhamdulillah. Kita juga mesti memperbanyak diam jika
tidak ada hal mendesak yang perlu disampaikan. Semoga Allah SWT menerima amal
ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kembali fitrah dengan
lisan yang terjaga dan hati yang suci.
Referensi
Abdy Nur Muhammad, Puasa di Era Digital:
Relevansi Tasawuf dalam Menghadapi Tantangan Spiritual Kontemporer, Jurnal
Peradaban dan Pemikiran Islam, Volume 9 Number 1, June 2025, hal. 78-98
Ahmad Syarifuddin,(200, Puasa Menuju Sehat Fisik – Psikis,
Jakarta : Gema Insani Press.
Al-Qur'an al-Karim.
Al-Ghazali, Abu Hamid. (Reprint
2020). Ihya Ulumuddin: Kitab
Bahaya Lisan. Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Riyadhus Shalihin: Bab Menjaga Lisan.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari: Kitab ash-Shaum.
Fazeel Eayaz,
Islamic Spiritual Practices and Mental Health: A Neurotheological Approach to
Sufism, Rooh-e-Tahqeeq, , Vol.03, No.04, Serial No. 10, October
-December2025, hal.30-40.
José Luis Estévez, Workplace gossip
and the evolution of friendship relations: the role
of complex contagion, Social Network Analysis and Mining, (2022)
12:113, hal.1-24, https://doi.org/10.1007/s13278-022-00923-7
Robert E. Thayer, (1996). The Origin of
Everyday Moods: Managing Energy, Tension, and Stress, Oxford university
Press

0 Comments