Nama : Lilik Qonitah
NIM : 50225032
Kelas : MPAI B
PENDAHULUAN
Pada hakikatnya pendidikan merupakan
proses sadar untuk membentuk kepribadian manusia agar memiliki kecerdasan,
moralitas, serta keterampilan hidup yang utuh. Sebagaimana dinyatakan oleh
Azizy, pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian peserta
didik (Azizy, 2004), sementara Muslich menegaskan bahwa tujuan
pendidikan adalah agar generasi muda mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai
kehidupan (Muslich, 2011). Pengamalan nilai-nilai kehidupan ini diwujudkan
dalam bentuk sikap manusia terhadap lingkungannya yang diekspresikan dalam
tindakan yang mana kita sebut sebagai karakter (Yaumi, 2014). Karakter sendiri
juga bisa diartikan tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan
atau kebiasaan, ataupun bisa diartikan watak, yaitu sifat batin manusia yang
mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku atau kepribadian (Sulhan, 2010) . Dalam konteks
ini, pendidikan karakter menjadi fondasi penting untuk menciptakan generasi
yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan
sosial.
Namun, realitas pendidikan dewasa ini
menunjukkan tantangan serius. Banyak peserta didik cenderung individualis,
kurang tangguh, dan menginginkan hasil instan. Fenomena ini tidak lepas dari
kemudahan fasilitas keluarga serta percepatan teknologi yang mengubah pola
interaksi sosial. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara nilai yang diajarkan di
sekolah dengan praktik kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, peringatan
Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momentum reflektif untuk meneguhkan
kembali arah pendidikan Indonesia, yakni tidak hanya berorientasi pada capaian
akademik, tetapi juga pada penguatan karakter berbasis nilai-nilai budaya
bangsa.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)
tentang pendidikan yang berpijak pada kodrat alam dan kodrat zaman menjadi
sangat relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Salah satu bentuk
implementasinya adalah melalui pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal, seperti
tradisi Lomba Dayung yang biasa disebut sebagai lomban di Desa Klidang
Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tradisi ini bukan sekadar
perlombaan, melainkan representasi nilai sosial budaya yang kaya akan
pendidikan karakter, khususnya kerja sama (gotong royong) dan ketangguhan.
PEMBAHASAN
Tradisi Lomba Dayung di Klidang Lor yang
telah berlangsung selama kurang lebih 45 tahun dan diselenggarakan selama enam
hari setiap pasca Idul Fitri merupakan warisan budaya yang sarat makna sosial.
Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat lintas desa dengan perahu
yang dirancang secara kreatif. Lebih dari sekadar kompetisi, lomba ini
mencerminkan identitas masyarakat pesisir yang memiliki karakter kuat,
solidaritas tinggi, serta daya juang yang tangguh dalam menghadapi tantangan
alam.
Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara,
pendidikan harus mengembangkan budi pekerti yang meliputi cipta, rasa, dan
karsa. Nilai-nilai tersebut tampak jelas dalam tradisi lomba dayung. Proses
persiapan hingga pelaksanaan lomba menuntut kerja sama tim (gotong royong), ketangguhan
(olah hati), strategi (olah pikir), semangat kebersamaan (olah rasa), serta
kekuatan fisik dan daya tahan (olah raga). Dengan demikian, tradisi ini
mencerminkan pendidikan karakter yang utuh dan holistik karena melibatkan empat
dimensi kemanusiaan: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Nilai kerja sama dan gotong royong
menjadi inti dalam lomba dayung. Tidak ada satu pun peserta yang dapat
memenangkan lomba secara individu; keberhasilan ditentukan oleh kekompakan tim.
Nilai ini sangat relevan untuk mengatasi kecenderungan individualisme pada
peserta didik saat ini. Selain itu, nilai ketangguhan (pantang menyerah) juga
terlihat dari perjuangan peserta dalam mengayuh perahu menerjang tantangan alam,
yang mencerminkan sikap resilien dalam menghadapi kesulitan.
Menurut Lickona (1991), karakter terdiri
dari moral knowing, moral feeling, dan moral behavior yang harus
dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari (Hendarman, 2019). Tradisi lomba dayung menyediakan ruang nyata untuk
internalisasi nilai tersebut secara langsung melalui pengalaman, bukan sekadar
teori. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan karakter akan efektif
jika diterapkan secara kontekstual dan berbasis pengalaman nyata.
Relevansi dengan Hari Pendidikan
Nasional 2026 terletak pada pentingnya mengembalikan pendidikan kepada akar
budayanya. Tema pendidikan nasional ke depan tidak cukup hanya menekankan
literasi dan numerasi, tetapi juga literasi budaya dan karakter. Tradisi lokal
seperti lomba dayung dapat menjadi “media hidup” untuk membangun karakter
peserta didik yang kontekstual dan berakar pada nilai-nilai bangsa.
Dalam konteks implementasi di sekolah,
nilai-nilai dari tradisi ini dapat diintegrasikan melalui berbagai kegiatan
pembelajaran. Misalnya, pembagian piket kebersihan kelas berbasis kelompok
untuk menanamkan tanggung jawab dan kerja sama. Pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik dengan metode diskusi kelompok juga dapat memperkuat interaksi
sosial dan solidaritas. Selain itu, penggunaan permainan kelompok (game
kolaboratif) yang disertai tantangan, dapat menjadi sarana efektif untuk
membangun kebersamaan, mengurangi sikap individualis serta menumbuhkan jiwa
tangguh dalam menghadapi kesulitan.
Namun demikian, implementasi pendidikan
karakter menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya integrasi dalam
kurikulum, lemahnya sinergi antara sekolah dan keluarga, serta dominasi
pendekatan kognitif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi
antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Hendarman (2019) menekankan bahwa
pendidikan karakter harus melibatkan semua pihak agar terjadi keselarasan nilai
yang diajarkan dan dipraktikkan .
Masyarakat pesisir Klidang Lor sendiri
dapat menjadi “laboratorium sosial” bagi pendidikan karakter. Lingkungan yang
terbiasa dengan kerja keras, solidaritas, dan kebersamaan menjadi contoh nyata
bagi peserta didik. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berlangsung di
ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.
PENUTUP
Pendidikan karakter berbasis tradisi dan
adat lokal merupakan pendekatan strategis dalam membangun generasi yang berakar
pada nilai budaya sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman. Karakter
bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terbentuk dan berkembang melalui
lingkungan sosial (Saroni, 2020). Tradisi Lomba Dayung di Klidang Lor menunjukkan
bahwa kearifan lokal memiliki potensi besar sebagai sumber pendidikan karakter,
terutama dalam menanamkan nilai kerja sama dan ketangguhan sebagai bagian dari
pilar pendidikan karakter (Hamid & Saebani,
2013).
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang
keseimbangan antara kodrat alam dan kodrat zaman memberikan arah yang jelas
bahwa pendidikan harus kontekstual, relevan, dan berpijak pada budaya bangsa.
Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional 2026, refleksi ini menjadi penting
untuk mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian
akademik, tetapi juga dari kualitas karakter generasi penerus bangsa.
Akhirnya, keberhasilan pendidikan
karakter sangat bergantung pada sinergi antara sekolah, keluarga, dan
masyarakat. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya lokal dalam
pendidikan, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membentuk
generasi yang tangguh, kolaboratif, dan berakhlak mulia dalam menghadapi
tantangan zaman.
Referensi
Azizy,
Q. (2004). Membangun Integritas Bangsa. Renaisan.
Hamid, H., & Saebani, B. A.
(2013). Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Pustaka Setia.
Hendarman. (2019). Pendidikan
Karakter Era Milenial. Remaja Rosdakarya.
Muslich, M. (2011). Pendidikan
Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Bumi Aksara.
Saroni, M. (2020). Pendidikan
Karakter Tanpa Kekerasan. Arruz Media.
Sulhan, N. (2010). Pendidikan
Berbasis Karakter. PT JePe Press Media Utama.
Yaumi, M. (2014). Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi. Prenada Media Group.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

0 Comments