Nama: Muhammad Zidan Al Faidl
Program Studi: Tadris Matematika
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan
Dunia pendidikan hari ini tengah berdiri di persimpangan jalan yang krusial antara tuntutan kemajuan teknologi yang masif dan urgensi untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun (Fatimah dkk., 2024). Dalam banyak pengamatan literatur, laju modernisasi sering kali membuat masyarakat terlalu sibuk mengejar ketertinggalan digital hingga tanpa sadar melupakan esensi terdalam dari pendidikan itu sendiri (Normalasarie, 2025). Pendidikan yang bermakna sejatinya adalah sebuah proses sosiokultural yang mampu membuat seorang anak mengenali identitas diri dan budayanya dengan utuh (Fatimah dkk., 2024). Menjaga martabat daerah atau “Banua” tidak cukup diupayakan hanya dengan membangun infrastruktur atau gedung-gedung sekolah yang megah, melainkan harus dibarengi dengan penanaman karakter yang kuat pada setiap jiwa peserta didiknya (Jannah, 2022). Kesejahteraan masyarakat lokal pada akhirnya tidak akan pernah tercapai dengan maksimal jika generasi mudanya justru merasa terasing di tanah kelahirannya sendiri akibat tercerabut dari akar tradisinya (Fadhillah dkk., 2024). Oleh sebab itu, diperlukan sebuah gerakan kolektif yang lebih luas. Tanggung jawab ini tidak bisa lagi disandarkan sepenuhnya pada peran guru di ruang kelas, tetapi juga harus melibatkan komunitas masyarakat secara aktif demi menciptakan ekosistem belajar yang berimbang (Hariani dkk., 2026). Kehadiran komunitas di lingkungan pendidikan formal diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antara teori-teori abstrak di buku teks dengan realitas sosial serta kekayaan budaya yang ada di lingkungan sekitar siswa (Normalasarie, 2025).
Dalam berbagai kajian literatur pendidikan, pengintegrasian antara jalur pendidikan formal dan keterlibatan komunitas lokal dipandang sangat mendesak (Fatimah dkk., 2024). Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sekolah sering kali terbelenggu oleh tuntutan pencapaian kurikulum kognitif yang sangat padat (Fairuz dkk., 2020). Tenaga pendidik kerap kali kehabisan waktu untuk mengeksplorasi dan menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal karena adanya keharusan untuk menuntaskan target materi ujian (Fairuz dkk., 2020). Pada titik inilah tinjauan akademis menempatkan organisasi kemahasiswaan sebagai mitra strategis yang sangat potensial bagi sekolah dalam upaya menghidupkan kembali literasi budaya (Normalasarie, 2025). Organisasi mahasiswa memiliki fleksibilitas operasional yang lebih tinggi untuk merancang berbagai kegiatan pendampingan yang sifatnya luwes dan terbebas dari kekakuan akademis murni (Hariani dkk., 2026). Melalui pendekatan yang tidak terlalu formal, pesan-pesan moral dan kebudayaan dapat tersampaikan dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan mudah diterima oleh siswa (Fadhillah dkk., 2024). Melalui program pengabdian masyarakat atau pendampingan belajar tambahan, kehadiran komunitas mahasiswa ini mengonfirmasi temuan berbagai studi bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian tradisi lokal sejatinya adalah dua hal yang saling bertaut erat (Normalasarie, 2025).
Dalam berbagai studi literatur menunjukkan bahwa mata pelajaran ilmu eksak, seperti matematika, sering kali dianggap sebagai subjek yang kaku, menakutkan, dan terlepas dari realitas kehidupan sehari-hari siswa (Fairuz dkk., 2020). Padahal, kajian tentang etnomatematika telah membuktikan bahwa ilmu hitung dapat menjadi pintu masuk yang sangat efektif untuk mengenalkan kekayaan budaya Banua secara mendalam (Fairuz dkk., 2020). Melalui sinergi bersama komunitas mahasiswa, pendekatan pembelajaran dapat diarahkan untuk membedah berbagai konsep dasar matematika menggunakan objek budaya setempat (Fatimah dkk., 2024). Sebagai contoh empiris, guru maupun pendamping dari komunitas dapat mengajak siswa mempelajari konsep geometri dan simetri melalui pengamatan langsung terhadap pola-pola pada kain Sasirangan, atau menghitung proporsi bangun ruang dengan menganalisis struktur arsitektur Rumah Adat Banjar (Normalasarie, 2025). Melalui metode ini, siswa tidak sekadar dilatih untuk menghafal angka dan rumus, tetapi juga diajak untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap hasil karya dan kecerdasan arsitektural warisan leluhur mereka (Fatimah dkk., 2024). Literatur menyimpulkan bahwa metode pembelajaran yang membumi dan berakar pada budaya lokal seperti ini terbukti lebih membekas dalam memori siswa, serta sukses menyadarkan mereka bahwa proses belajar pada hakikatnya adalah proses mengenali rumah mereka sendiri (Fairuz dkk., 2020).
Kolaborasi yang terjalin antara institusi sekolah dan komunitas luar mampu menghidupkan kembali roh gotong royong atau semangat “baimbai” yang senantiasa menjadi ciri khas interaksi sosial masyarakat Banjar (Jannah, 2022). Dari kacamata sosiologis, ketika elemen mahasiswa turun langsung ke sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk mendampingi adik-adik tingkatnya, wujud nyata dari pengabdian sosial yang tulus dan tanpa pamrih sedang diaplikasikan di lapangan (Hariani dkk., 2026). Interaksi sosial yang hangat dalam forum bimbingan ini secara bertahap mampu menciptakan sebuah ekosistem belajar yang sangat inklusif, di mana setiap siswa merasa dirangkul dan didukung secara penuh oleh lingkungan yang peduli pada kemajuan akademisnya (Normalasarie, 2025). Nilai-nilai luhur seperti kesantunan, rasa saling menghormati, dan kepedulian sosial terpancar secara langsung dari interaksi bersama para mentor mahasiswa tersebut (Fadhillah dkk., 2024). Sikap-sikap positif ini kemudian diserap dan menjadi teladan nyata bagi para siswa untuk diterapkan dalam keseharian mereka (Jannah, 2022). Budaya saling mengangkat dan mendukung sesama ini dicatat dalam banyak literatur sebagai fondasi esensial dalam upaya menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang dan tangguh secara emosional (Hariani dkk., 2026).
Tercapainya kesejahteraan sebuah daerah pada akhirnya sangat ditentukan oleh seberapa kuat rasa kepemilikan dan keterikatan generasi mudanya terhadap tanah kelahirannya (Fatimah dkk., 2024). Literatur pembangunan sosial menegaskan bahwa generasi yang makmur dan sejahtera adalah mereka yang mampu beradaptasi serta berinovasi di tengah derasnya arus globalisasi, tanpa harus mengorbankan jati dirinya sebagai masyarakat Banua yang beradab dan berbudaya (Normalasarie, 2025) Sinergi yang kokoh antara institusi sekolah dan berbagai elemen komunitas memastikan bahwa setiap tahapan transformasi digital di ranah pendidikan akan selalu memiliki napas lokal yang terjaga (Normalasarie, 2025). Dengan adanya keterlibatan aktif dari semua pemangku kepentingan, kemajuan bangsa pada dasarnya sedang dibangun untuk menghadirkan masa depan Banjar yang jauh lebih cerah, mandiri, dan bermartabat tinggi (Hariani dkk., 2026). Oleh karena itu, berbagai organisasi kemahasiswaan harus terus didorong secara konsisten agar menjadi motor penggerak utama yang mampu menarik perhatian publik untuk kembali merawat dan melestarikan kekayaan tradisi melalui jalur pendidikan yang berkesinambungan (Fairuz dkk., 2020).
Sebagai kesimpulan dari berbagai tinjauan di atas, pelestarian budaya lokal di lingkungan sekolah terbukti merupakan sebuah tanggung jawab kolektif yang menuntut adanya kolaborasi dan sinergi tanpa batas. Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 seyogianya diposisikan sebagai momentum pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus mempererat kemitraan antara lembaga pendidikan formal dan komunitas-komunitas penggerak di luarnya. Melalui upaya sinergis yang terarah dan konsisten, dapat dipastikan bahwa setiap anak di Banua akan mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan yang setara tanpa harus kehilangan akar budayanya. Sudah saatnya setiap ruang kelas dan setiap rancangan kegiatan komunitas dimaksimalkan fungsinya sebagai medium utama untuk menyemai nilai-nilai luhur Banjar demi tercapainya kemakmuran bersama. Hanya dengan langkah yang beriringan, cita-cita untuk mewujudkan transformasi pendidikan yang tidak sekadar modern secara teknologi, melainkan juga luhur secara karakter, dapat benar-benar diwujudkan.
DAFTAR REFERENSI
Fadhillah, M. D., Ulhaq, D. F., Marina, R., Anwar, S., & Saumantri, T. (2024). Peran Mahasiswa Dalam Meningkatkan Gotong Royong dan Kebersihan Lingkungan di Desa Japurabakti Kab.Cirebon. Jurnal Pengabdian dan Pendampingan Masyarakat, 4(2), 74-85.
Fairuz, F. R., Fajriah, N., & Danaryanti, A. (2020). Pengembangan LKPD Materi Pola Bilangan Berbasis Etnomatematika Sasirangan di Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika, 8(1). https://doi.org/10.20527/edumat.v8i1.8343
Fatimah, N., Setiawati, E., & Suharto, T. H. (2024). Integrasi Etnomatematika Budaya Banjar dalam Pembelajaran Bangun Datar untuk Siswa Kelas 2 SD. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori, Penelitian dan Inovasi, 4(6). https://doi.org/10.59818/jpi.v4i6.1004
Hariani, M., Fitria, E. Z., Putra, A. R., Mardikaningsih, R., & Darmawan, D. (2026). Penguatan Peran Mahasiswa dalam Menciptakan Lingkungan Kampus yang Bersih dan Peduli Lingkungan: Pengabdian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(3), 18790–18798. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i3.4927
Jannah, R. (2022). Karakter Religius dalam Budaya Kelahiran Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 4(1), 1. https://doi.org/10.18592/msr.v4i1.6557
Normalasarie, N. (2025). Penguatan Karakter Kejujuran pada Siswa Sekolah Dasar Melalui Nilai-Nilai Budaya Lokal Banjar. ALACRITY : Journal of Education, 201–212. https://doi.org/10.52121/alacrity.v5i1.565
.png)
0 Comments