MENJEMBATANI GENERASI: MENABUH GENDERANG GOTONG ROYONG DI SEKOLAH ZAMAN NOW

Wilda Salsabila

A.    Pendahuluan

Prinsip gotong royong di Indonesia khususnya pada zaman dahulu secara eksplisit ditekankan pada kurikulum  1964 (Rentjana Pendidikan 1964). Pada masa ini, kurikulum tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran yang disebut gotong royong terpimpin. Siswa diajarkan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah secara kolektif. Kurikulum ini berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang bertujuan membentuk manusia Indonesia Pancasilais yang memiliki sifat kekeluargaan dan gotong royong. Pemerintah menetapkan hari Sabtu sebagai "Hari Krida," di mana peserta didik dibebaskan untuk berlatih kegiatan kebudayaan, kesenian, dan olahraga, yang bertujuan memupuk semangat kerja sama (Anitasari & Cahyono, 2023).

Dahulu saat bel istirahat berbunyi, halaman sekolah berubah menjadi panggung kebersamaan. Terdapat banyak momen-momen sederhana tetapi penuh makna, seperti berbagi bekal dengan teman yang lupa membawa, meminjamkan catatan kepada yang kemarin sakit, atau sekadar mengajari teman yang kesulitan memahami rumus matematika. Kini, pemandangan itu mulai langka. Saat bel istirahat berbunyi, yang terdengar justru denting layar gawai masing-masing. Anak-anak duduk sendiri-sendiri, mata tertuju pada ponsel, telinga tersumbat earphone. Interaksi sosial yang dulu menjadi ciri khas kehidupan sekolah perlahan tergusur oleh dunia maya.

Survei yang dilakukan oleh Studi Save the Children Indonesia 2025 tentang penguatan perlindungan digital dan kesejahteraan anak mencatat hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu antara tiga hingga enam jam per hari di depan gawai, dengan puncak penggunaan terjadi pada pukul 18.00 hingga 21.00. Temuan tersebut disampaikan Save the Children Indonesia dalam diskusi media awal tahun 2026 yang mengangkat hasil berbagai kajian perlindungan dan kesejahteraan anak di Indonesia (Oxtora, 2026). Apabila kebiasaan ini terus dibiarkan tanpa intervensi yang serius, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara individu namun lemah secara kolektif serta generasi yang hebat dalam kompetisi tetapi gagal dalam kolaborasi.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk bertanya sudah sejauh mana kita berhasil mewujudkan cita-cita pendidikan nasional? Tahun 2026, tema Hardiknas diharapkan mengangkat semangat "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua". Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak seperti pemerintah, masyarakat, dan industri untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan akses pendidikan di Indonesia. Di sinilah nilai gotong royong menemukan relevansinya yang paling mendesak. Seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani" bahwa seorang pendidik harus mampu menjadi teladan, membangkitkan semangat, dan memberikan dorongan dari belakang (Suparlan, 2014). Ketiga peran ini tidak mungkin dijalankan secara individual ia membutuhkan jaringan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Dengan kata lain, inti dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah gotong royong itu sendiri. Maka, dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2026, sudah saatnya kita bertanya apakah semangat gotong royong masih hidup di sekolah-sekolah kita? Dan jika tidak, apa yang harus kita lakukan untuk menghidupkannya kembali?

Sekolah adalah jembatan antara generasi muda saat ini dengan masa depan yang akan mereka bangun kelak. Jembatan ini harus kokoh, tidak hanya menstransfer pengetahuan dari guru ke murid, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kebangsaan. Salah satu nilai yang paling mendasar adalah gotong royong. Namun, jembatan itu mulai rapuh. Individualisme merangkak masuk ke ruang-ruang kelas, sistem penilaian yang terlalu kompetitif mengubah teman menjadi saingan, dan pengaruh dunia digital semakin menjauhkan anak dari interaksi sosial yang autentik. Karena itu, kita membutuhkan revitalisasi menghidupkan kembali gotong royong tidak dalam bentuk yang kuno dan dipaksakan, tetapi dalam kemasan yang relevan dengan dunia anak zaman now. Gotong royong harus ditabuh seperti genderang keras, menggema, dan membangkitkan semangat. Esai ini akan mengupas mengapa gotong royong harus direvitalisasi di sekolah, bagaimana format baru gotong royong yang sesuai dengan tantangan abad 21, serta siapa saja yang bertanggung jawab menjadi penabuh genderang tersebut. Pada akhirnya, tulisan ini hendak mengajak seluruh elemen pendidikan untuk menjadikan Hari Pendidikan Nasional 2026 sebagai titik balik saat kita serius menjembatani generasi dengan menabuh genderang gotong royong di setiap sudut sekolah.

B.     Isi

Mengapa gotong royong memudar? Memudarnya nilai gotong royong di sekolah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama sikap individualisme yang merangkak masuk (Hanifa et al., 2024). Anak-anak zaman now tumbuh dalam lingkungan yang menekankan pentingnya pencapaian individu, Dimana mereka sering diingatkan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Akibatnya, mereka menjadi pribadi yang malu bertanya, enggan membantu, dan memiliki perasaan urusan teman bukanlah urusannya. Kedua, sistem penilaian yang terlalu kompetitif. Sekolah sering kali tanpa sadar menciptakan "medan perang" melalui peringkat kelas, persaingan nilai, dan seleksi berdasarkan angka. Teman duduk di samping bukan lagi rekan belajar, tetapi saingan yang harus dikalahkan (Oktaiani & Perianto, 2022). Ketiga, pengaruh dunia digital yang masif. Ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi di dunia maya, maka dapat berdampak buruk pada psikologi, soaial, dan moral seperti kehilangan latihan untuk membaca ekspresi wajah, merasakan empati, dan bernegosiasi secara langsung. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan pada situasi yang membutuhkan kerja sama nyata, mereka canggung, menurun kedisiplinannya, menurun rasa empatinya dan cenderung menarik diri (Afriantoni et al., 2025).

Jika gotong royong terus dibiarkan tergerus, dampaknya tidak akan ringan. Dampak paling nyata adalah tergerusnya empati (Afriantoni et al., 2025). Anak yang terbiasa dengan dunia maya cenderung sulit merasakan apa yang dirasakan temannya yang sedang kesulitan. Akibat lain adalah lemahnya kemampuan kerja tim. Selain itu, budaya "cari aman sendiri" akan menguat. Anak akan berpikir, "Yang penting tugasku selesai, urusan orang lain bukan masalahku". Yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya rasa memiliki terhadap sekolah dan masyarakat. Sekolah hanya akan dipandang sebagai tempat untuk mengejar nilai, bukan sebagai komunitas tempat ia tumbuh dan belajar bersama.

Revitalisasi gotong royong bukan hanya tentang kerja bakti membersihkan selokan atau mengecat pagar sekolah secara bersama-sama. Inti gotong royong adalah tiga hal yaitu saling memberi, saling membutuhkan, dan berbagi tanggung jawab. Prinsip ini bisa dikemas dalam bentuk yang relevan dengan dunia anak zaman now. Kuncinya adalah kreativitas. Guru dan sekolah perlu berpikir ulang bagaimana caranya agar anak-anak hari ini merasakan bahwa membantu orang lain itu menguntungkan dan menyenangkan? Bagaimana cara agar kolaborasi tidak terasa sebagai beban tambahan, tetapi sebagai bagian yang menyenangkan dari proses belajar?

Ada setidaknya empat format gotong royong yang dapat diterapkan di sekolah masa kini. Pertama, proyek kolaboratif digital atau project based learning (pjbl). Anak-anak diajak membuat proyek video pendek, presentasi bersama, atau konten kreatif secara tim. Mereka belajar berbagi peran ada yang mencari bahan, ada yang mengedit, ada yang menjadi narator. Hal tersebut terbukti mampu meningkatkan indikator kolaborasi, kepedulian, dan berbagi (Widhiasmara & Chumdari, 2025). Kedua, tutor sebaya (peer tutoring) berkelompok. Biasa disebut dengan model pembelajaran cooperative learning. Anak yang pintar di suatu mata pelajaran diajak membantu temannya yang kurang pintar, tetapi tidak dalam suasana menggurui, melainkan dalam kerangka "kita belajar bersama" (Mukhlis, 2016). Ketiga, penilaian berbasis tim (peer assessment). Nilai kelompok tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh proses membantu satu sama lain (Suratno, 2009). Misalnya, ada komponen penilaian untuk "seberapa sering kamu menjelaskan pada temanmu". Keempat, jeda digital (digital break) yang diisi aktivitas bersama (Marpaung & Hotnauli, 2026). Sekolah menyediakan waktu khusus di mana gawai dimatikan dan diganti dengan permainan tradisional atau diskusi ringan.

Refleksi/Pengalaman

Siapa yang bertanggung jawab menabuh genderang gotong royong di sekolah? Jawabannya dimulai dari guru. Guru adalah pengubah lagu. Gurulah yang merancang pembelajaran, menentukan bentuk tugas, dan menciptakan suasana kelas. Jika guru masih terjebak pada model pembelajaran yang terlalu kompetitif seperti memberi tugas individu, membandingkan nilai siswa secara terbuka, atau jarang memberi kesempatan diskusi maka gotong royong tidak akan pernah tumbuh. Guru harus berani mengambil risiko. Berani mencoba model pembelajaran kooperatif serta memberi tugas kelompok meskipun kadang terdapat siswa yang tidak berkontribusi. Yang tidak kalah penting guru harus memberi teladan. Gotong royong tidak bisa diajarkan hanya dengan ceramah. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika guru membantu membersihkan kelas, mendengarkan keluhan siswa dengan sabar, bekerja sama dengan guru lain dalam proyek antar kelas di situlah gotong royong diajarkan secara otentik.

            Selain guru, sekolah sebagai institusi juga harus berperan aktif. Sekolah adalah pentas tempat genderang gotong royong ditabuh. Jika sekolah hanya peduli pada nilai ujian dan prestasi individu, maka secara tidak sadar sekolah sedang memadamkan semangat gotong royong. Sekolah perlu membuat kebijakan yang mendorong kolaborasi. Misalnya, menyediakan ruang khusus untuk diskusi kelompok, mengadakan lomba antarkelas yang berbasis kerja tim (bukan lomba individu), atau memberikan penghargaan bagi siswa yang paling sering membantu temannya. Sekolah juga harus menyediakan waktu dan ruang untuk kegiatan kolektif. Jangan sampai jadwal sekolah begitu padat dengan materi akademik sehingga tidak ada ruang untuk kebersamaan. Yang terpenting, sekolah harus berani mengubah cara pandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur hanya dari berapa banyak siswa yang lulus dengan nilai sempurna, tetapi juga dari seberapa kuat rasa kebersamaan di antara mereka.

            Tabuhan genderang gotong royong tidak boleh berhenti di gerbang sekolah. Orang tua adalah penabuh yang paling berpengaruh di rumah. Gotong royong tidak bisa hanya diajarkan di sekolah, ia harus dipraktikkan sehari-hari di lingkungan keluarga. Orang tua bisa memulainya dengan hal-hal sederhana seperti melibatkan anak dalam tugas rumah tangga (membereskan tempat tidur, mencuci piring, atau merapikan ruang tamu). Mengajak anak berbagi dengan saudara atau tetangga yang membutuhkan atau sekadar membiasakan anak untuk mengucapkan terima kasih dan maaf. Orang tua juga perlu membatasi waktu gawai anak. Bukan dengan cara melarang secara kasar, tetapi dengan menyediakan aktivitas alternatif yang melibatkan kebersamaan seperti bermain board game bersama, memasak bersama, atau sekadar bercerita sebelum tidur. Yang paling penting adalah orang tua harus menjadi teladan. Anak tidak akan belajar gotong royong  jika orang tuanya sendiri tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial atau tidak pernah membantu tetangga.

            Yang terakhir, anak-anak sendiri adalah pemain musik utama. Mereka bukan hanya objek yang dibentuk oleh lingkungan, tetapi subjek yang bisa memulai perubahan. Anak perlu diberi kepercayaan. Jangan selalu menganggap anak tidak bisa diandalkan. Beri mereka tanggung jawab untuk memimpin proyek kelompok, menjadi koordinator dalam kegiatan sosial, atau memediasi konflik di antara teman-temannya. Sering kali, anak justru memiliki ide-ide kreatif yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Anak juga perlu diberi kesempatan untuk merasakan langsung bahwa membantu orang lain itu menyenangkan. Sekali mereka merasakan kebahagiaan saat temannya berhasil karena bantuannya, maka gotong royong akan tumbuh dari dalam diri mereka. Anak juga perlu diajak merefleksikan pengalaman mereka. Setelah kegiatan kelompok, ajak mereka berbicara "Apa yang paling menyenangkan dari kerja sama tadi? Apa yang membuat kalian kesulitan? Apa yang kalian pelajari tentang teman kalian?" Dari refleksi sederhana seperti ini, anak-anak akan menyadari bahwa kebersamaan bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan.

C.    Penutup

Kesimpulan

Gotong royong bukanlah nilai usang yang hanya cocok untuk masa lalu. Ia adalah denyut nadi kebudayaan Indonesia yang harus terus dijaga dan direvitalisasi sesuai dengan semangat zaman. Sekolah memiliki posisi strategis untuk menabuh genderang gotong royong karena di sekolahlah anak-anak menghabiskan sebagian besar masa pembentukan karakter mereka. Telah kita lihat bahwa gotong royong memudar karena individualisme, sistem penilaian yang terlalu kompetitif, dan pengaruh dunia digital. Dampaknya serius seperti empati tergerus, kemampuan kerja tim lemah, dan rasa memiliki terhadap sekolah hilang. Namun, gotong royong bisa dikemas ulang dalam format baru yang relevan seperti proyek kolaboratif digital, tutor sebaya, penilaian berbasis tim, dan jeda digital. Tabuhan genderang ini harus dilakukan bersama-sama dengan guru sebagai pengubah lagu, sekolah sebagai pentas, orang tua sebagai penabuh di rumah, serta anak-anak sebagai pemain musik utama. Jika salah satu pihak tidak bergerak, genderang tidak akan berbunyi nyaring. Sebaliknya, jika semua pihak bahu-membahu, suara genderang gotong royong akan menggema, membangunkan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang berhasil sendirian.

Pesan Inspiratif

      Fungsi genderang bukan sekadar untuk ditabuh dengan keras. Ia dipukul agar getarannya merambat, membangunkan yang tidur, dan mengajak yang ragu untuk ikut menari. Tabuhlah gotong royong di sekolah. Maka generasi ini akan menari bersama, bukan berdiri sendiri di atas panggung masing-masing. Kita tidak perlu menunggu kebijakan besar dari pemerintah. Kita tidak perlu menunggu kurikulum berubah. Kita bisa mulai hari ini, dari kelas kita sendiri. Mulai dari hal terkecil seperti meminta anak-anak duduk dalam lingkaran, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain. Atau memberi tugas kelompok yang dirancang dengan saksama. Atau sekadar mengucapkan "terima kasih sudah membantu temanmu" kepada seorang siswa. Di sanalah gotong royong sejati dimulai. Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional 2026 sebagai momen untuk berkomitmen bahwa kita, para pendidik, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, akan menjadi penabuh genderang yang tak kenal lelah. Karena di pundak kitalah masa depan generasi ini dititipkan. Dan masa depan hanya akan ramah pada mereka yang belajar untuk bekerja sama, bukan bersaing terus-menerus. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Saatnya menjembatani generasi dengan menabuh genderang kebersamaan.

D.    Referensi

Afriantoni, Avira, E., Fasari, F., Juniarti, D. A., & Mevu, P. A. (2025). Dampak Penggunaan Gadget dan Media Sosial terhadap Perkembangan Karakter dan Emosi Siswa Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Basicedu, 9(6), 1729–1738. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/basicedu.v9i6.10797

Anitasari, L., & Cahyono, A. (2023). Kurikulum dan Pola Ilmu Pengetahuan Pada Masa Orde Lama dan Orde Baru. Social Science Academik, 1(2), 93–98. https://doi.org/10.37680/ssa.v1i2.3390

Hanifa, S., Dewi, D. A., & Hayat, R. S. (2024). Analisis fenomena degradasi budaya gotong royong. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(1), 820–829. https://doi.org/http://doi.org/10.54373/imeij.v5i1.704

Marpaung, & Hotnauli, A. (2026). Implementasi Digital Detox Berbasis Permainan Tradisional dan Edukasi Budaya di Kampung Lali Gagdet Sidoarjo Jawa Timur [Universitas Negeri Yogyakarta]. In Eprints UNY. https://eprints.uny.ac.id/id/eprint/89763

Mukhlis, A. (2016). Pembelajaran Tutor Sebaya : Solusi Praktis Dalam Rangka Menyongsong Pembelajaran Sastra Yang Menyenangkan Bagi Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(2), 68–72.

Oktaiani, D., & Perianto, E. (2022). Pengaruh dukungan teman sebaya terhadap minat belajar siswa. Teraputik: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 6(1), 127–134. https://doi.org/10.26539/teraputik.611093

Oxtora, R. (2026). Save the Children catat 40 persen anak Indonesia terpapar digitalisasi. ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/5354125/save-the-children-catat-40-persen-anak-indonesia-terpapar-digitalisasi

Suparlan, H. (2014). FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA. Jurnal Filsafat, 25(1), 1–19.

Suratno, S. (2009). Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 13(2). https://doi.org/10.21831/pep.v13i2.1410

Widhiasmara, G. . ., & Chumdari. (2025). Implementasi project based learning untuk meningkatkan dimensi gotong royong dan kreatif sekolah dasar. Didaktika Dwija Indria, 13(5), 721–726.

 

Post a Comment

0 Comments