PENGUATAN LITERASI BUDAYA SEBAGAI STRATEGI PENDIDIKAN DALAM MENJAGA IDENTITAS BANGSA DI ERA GLOBALISASI

 

Jihan Ulayya 

PENDAHULUAN

Literasi budaya bukan hanya soal tahu seni tradisional atau kebiasaan adat semata, Lebih dari itu, ia adalah kemampuan untuk memahami, menghargai, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa dalam diri kita. Di sekolah, penguatan literasi ini menjadi sangat penting agar karakter generasi muda tidak terhapus oleh pada masa kini yang seringkali terasa kosong. Pendidikan harus bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kecanggihan masa depan dengan kekayaan warisan masa lalu.

            Pemerintah sendiri, melalui Kemendikbudristek, sudah menegaskan bahwa karakter siswa harus berakar pada nilai budaya, yang kita kenal sebagai Profil Pelajar Pancasila. Artinya, literasi budaya bukan cuma teori di buku cetak, tapi bagaimana nilai-nilai itu dipraktikkan dalam pergaulan sehari-hari.

            Tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain. Banyak penelitian menunjukkan kalau literasi budaya siswa kita masih rendah (Rahman & Suryadi, 2021). Gempuran budaya luar lewat media digital membuat anak muda lebih dekat dengan pembaruan asing daripada budaya sendiri. Ditambah lagi, sekolah kadang masih menganggap budaya cuma sebagai materi saja, bukan inti dari pembelajaran yang bermakna (Allisya Oktaviasary, 2024).

            Momen Hari Pendidikan Nasional 2026 ini menjadi pengingat yang pas untuk berbenah. Semangat transformasi pendidikan saat ini ingin mengembalikan gagasan Ki Hadjar Dewantara: pendidikan harus selaras dengan alam dan zaman. Kita ingin pintar secara intelektual, tapi tetap punya moral yang kuat dan cinta tanah air. Tulisan ini akan membahas bagaimana literasi budaya bisa menjadi cara efektif untuk menjaga jati diri bangsa kita.

PEMBAHASAN

            Literasi budaya adalah fondasi identitas kita di tengah masyarakat yang beragam Di kelas, hal ini bukan sekadar tahu sejarah, tapi bagaimana siswa bisa menyerap dan menjalankan nilai-nilai tersebut (Eliyanti et al., 2024). Ada ikatan kuat antara budaya dengan pendidikan karakter. Nilai seperti gotong royong dan toleransi akan lebih mudah masuk ke hati siswa jika diajarkan melalui konteks budaya lokal yang nyata (Rahman & Suryadi, 2021). Itulah mengapa literasi budaya sangat strategis untuk membangun karakter bangsa.

            Dalam pendidikan formal, literasi budaya membantu siswa menghargai perbedaan dan menumbuhkan rasa bangga sebagai orang Indonesia (Islawiyah & Marsuki, 2026). Siswa yang paham budayanya biasanya lebih empati dan inklusif. Di sini, peran guru sangat vital. Guru bukan cuma mengajar materi, tapi juga menjadi contoh nyata dari nilai-nilai budaya tersebut (Nawir et al., 2025). Agar tidak membosankan, guru bisa menggunakan cara-cara kreatif seperti proyek seni, diskusi nilai lokal, atau kegiatan ekstrakurikuler (Rahmadani Islawiyah, & Nur Riswandy Marsuki, 2026). Ini membuat budaya tidak lagi terasa kuno, tapi menjadi gaya hidup yang transformatif.

Tantangan terbesarnya memang teknologi. Budaya populer global sangat mudah menggeser nilai lokal jika kita tidak punya tameng pendidikan yang kuat (Fatimah & Hidayati, 2023). Namun, riset membuktikan bahwa jika literasi budaya diperkuat, karakter siswa justru akan semakin kokoh. Keberhasilan ini tentu butuh guru yang juga melek budaya. Selain itu, dukungan lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar juga sangat membantu siswa mendapatkan pengalaman budaya secara langsung (Suhartono et al., 2022). Singkatnya, pendidikan berbasis nilai budaya adalah kunci menghadapi tantangan zaman (Sari & Nugroho, 2024).

KESIMPULAN

            Menguatkan literasi budaya bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menjaga identitas nasional kita. Saat ini, literasi budaya siswa memang masih perlu digenjot karena kuatnya pengaruh global dan kurikulum yang kadang kurang kontekstual. Kita butuh langkah nyata agar budaya menjadi fondasi dari setiap proses belajar, bukan sekadar seremonial.

            Budaya lokal yang dijadikan bahan ajar terbukti membuat sekolah jadi lebih asyik dan bermakna bagi siswa. Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada kolaborasi guru, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang bangga akan akar budayanya sendiri. Dengan begitu, generasi masa depan kita akan tumbuh menjadi pribadi yang kompetitif di tingkat dunia, namun tetap rendah hati dan setia pada identitas bangsanya.

DAFTAR PUSTAKA

Eliyanti, N. K., Septiani, L. E., Juliatni, N. K. E., Suryani, K., Kadu, J. G., Putrayasa, I. B., & Sudiana, I. N. (2024). Local culture-based learning in improving Indonesian literacy and literature in elementary schools. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 12(4), 458 462. https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v12i4

Fatimah, E. E., & Hidayati, Y. M. (2023). Menumbuhkan Budaya Membaca Siswa melalui Literasi Digital dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam. Jurnal Basicedu, 7(1), 228. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2996

Rahmadani Islawiyah, & Nur Riswandy Marsuki. (2026). PENGUATAN LITERASI BUDAYA SEBAGAI STRATEGI PENDIDIKAN BERBASIS NILAI BUDAYA DALAM MENJAGA IDENTITAS BANGSA DI ERA GLOBALISASI. Jurnal Psikososial Dan Pendidikan, 2(1), 580–589. Retrieved from https://publisherqu.com/index.php/psikosospen/article/view/3878

Nawir, M., Arfiani, F., Mukhlisah, N., & Amadyah, N. (2025). Gerakan literasi budaya di masyarakat. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 3(4), 1337–1340. https://doi.org/10.31004/jerkin.v3i4.661

Allisya Oktaviasary. (2024). Gempuran Budaya Modern terhadap Budaya Lokal Generasi Alpha: Tinjauan Literatur Review. (2024).Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra,10(4), 4330-4337. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i4.4123

Rahmadani Islawiyah, & Nur Riswandy Marsuki. (2026). PENGUATAN LITERASI BUDAYA SEBAGAI STRATEGI PENDIDIKAN BERBASIS NILAI BUDAYA DALAM MENJAGA IDENTITAS BANGSA DI ERA GLOBALISASI. Jurnal Psikososial Dan Pendidikan, 2(1), 580–589. Retrieved from https://publisherqu.com/index.php/psikosospen/article/view/387856  

Rahman, A., & Suryadi, K. (2021). Tantangan literasi budaya generasi muda di era globalisasi. Jurnal Sosial Humaniora,

Sari, M., & Nugroho, B. A. (2024). Pendidikan berbasis kearifan lokal dalam penguatan identitas nasional. Jurnal Pendidikan Karakter, 11(1), 33–45. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpka

Suhartono, S., Susiani, T. S., Ngatman, N., Salimi, M., & Hidayah, R. (2022). Analisis pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar pada masa pandemi. Jurnal Basicedu, 6(2), 1637–1644. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2172

 

Post a Comment

0 Comments