Ni’ma Uqbal Kuroma
PENDAHULUAN
Pendidikan karakter sekarang ini menjadi hal yang sangat
penting untuk dibicarakan disekolah maupun didalam lingkungan masyarakat luas.
Hal ini dikarenakan semakin banyaknya masalah moral yang terjadi pada kalangan
remaja pada saat ini, seperti kurangnya rasa sopan santun, maraknya perkelahian
antar pelajar, hingga penggunaan gadget yang sudah sangat berlebihan
Penggunaan teknologi yang tidak terkontrol ini seringkali membuat
anak-anak menjadi asyik dengan dunianya sendiri dan melupakan lingkungan sosial
di sekitarnya. Pendidikan di sekolah selama ini biasanya hanya fokus pada
pencapaian nilai ujian akademik saja, padahal proses pembentukan sifat atau
karakter manusia yang baik juga merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Salah satu cara yang
paling efektif dan relevan untuk memperbaiki karakter generasi muda ini adalah
dengan kembali mengajak mereka belajar dari tradisi dan adat lokal yang ada di
daerah masing-masing.
Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki
kekayaan luar biasa berupa ribuan suku dan beragam budaya. Setiap suku bangsa
di nusantara pasti memiliki aturan adat, norma, atau kebiasaan baik yang sudah
diajarkan secara turun-temurun oleh para leluhur. Namun, sayangnya anak muda
zaman sekarang banyak yang merasa malu
dengan budayanya sendiri. Mereka lebih bangga mengikuti gaya hidup dari luar
negeri yang mereka lihat di media sosial karena dianggap lebih keren dan
modern. Padahal, jika kita mau melihat lebih dalam, di dalam setiap tradisi
lokal itu terdapat banyak sekali nilai positif yang sangat kuat, seperti nilai
kejujuran, semangat kerja sama, dan rasa hormat yang mendalam kepada orang tua
atau guru.
PEMBAHASAN
Pendidikan karakter yang berbasis pada adat lokal
sebenarnya jauh lebih mudah untuk diterima oleh para siswa disekolah. Hal ini
terjadi karena nilai nilai yang diajarkkan bukanlah sesuatu yang asing,
melainkan nilai yang sebenarnya sudah ada di sekitar lingkungan tempat mereka
tinggal sehari hari. Sebagai contoh, di lingkungan masyarakat yang masih
memegang teguh budaya gotong royong,siswa bisa langsung diajak untuk
mempraktikan cara saling membantu dalam membersihkan lingkungan sekolah tanpa
harus mengharapkan imbalan materi. Nilai nilai praktis seperti ini seringkali
lebih membekas dihati dan pikiran siswa dari pada mereka hanya sekedar membaca
teori teori etika yang ada di dalam buku paket pelajaran, meneurut suastika dan
Rahmawati (2019), pendidikan yang memanfaatkan kekayaan budaya lokal mampu
membuat siswa merasa lebih dihargai keberadaannya dan membuat mereka lebih
mengenal asal usulnya sendiri. Dengan mengenal jati dirinya, siswa tidak akan
mudah terpenggaruh oleh hal hal negatif yang datang dari arus globalisasi yang
tidak sesuai dengan norma kita.
Lebih dari sekadar perilaku sosilm tradisi lokal di
indonesia juga banyak sekali mengajarkan kita tentang cara menjaga alam dan
lingkungan hidup. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki aturan adat yang sangat
ketat mengenai larangan merusak hutan lindung, mengotori sumber air, atau
menangkap ikan dengan cara yang merusak. Jika nilai nilai kearifan lokan ini
dimasukan kedalam kurikulum sekolah, maka siswa secara otomatis akan belajar
tentang karakter tanggung jawab terhadap lingkungan sejak mereka masih kecil.
Hal ini menjadi sangat krusial karena saat ini dunia sedang plastik dan polusi
udara yang parah. Dengan mengenal dan mematuhi adat lokal yang pro
lingkungan,siswa akan menumbuhkan rasa cinta yang besar terhadap daerah tempat
tinggalnya. Karakter cinta tanah air yang dimulai dari tingkat lokal ini sering
disebut dengan istilah Cinta Banua (Wibowo,2022). Karakter yang kuat seperti
ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan pembangunan daerah dimasa yang
akan datang, karena generasi penerusnya memiliki kesadaran untuk menjaga aset
alam mereka sendiri.
Masalah lain yang bisa diselesaikan dengan pendidikan
berbasis adat adalah hilangnya sopan santun. Sekarang banyak siswa yang berani
melawan guru atau orang tua. Dalam adat istiadat kita, biasanya ada tata krama
khusus tentang cara berbicara dan bersikap kepada orang yang lebih tua. Jika
sekolah membiasakan hal-hal kecil dari tradisi ini, seperti cara menyapa atau
cara makan yang sopan menurut adat setempat, maka karakter siswa akan menjadi
lebih halus dan beradab. Hal ini juga membantu dalam memperkuat literasi budaya
agar tradisi tersebut tidak hilang begitu saja ditelan zaman (Lestari et al.,
2021).
Namun, tantangannya adalah bagaimana cara membuat siswa
tertarik pada adat lokal. Guru harus bisa menghubungkan antara pelajaran di
kelas dengan praktik nyata di lapangan. Misalnya, daripada hanya menjelaskan
tentang pakaian adat secara teori, sekolah bisa mengadakan kegiatan rutin
mengenakan pakaian daerah atau belajar seni tradisional yang dikemas secara
menyenangkan. Sinergi antara pendidikan dan budaya ini sangat diperlukan agar
anak-anak merasa bahwa tradisi itu bukan sesuatu yang kuno, melainkan sesuatu
yang bisa menjadi kebanggaan (Hidayat & Nuryani, 2020).
Selain peran sekolah, pendidikan karakter berbasis adat
ini juga sangat bergantung pada peran keluarga di rumah. Orang tua adalah guru
pertama bagi setiap anak. Jika di sekolah anak diajarkan nilai-nilai tradisi,
namun di rumah orang tua tidak mendukung atau justru memberikan contoh yang
bertentangan, maka pembentukan karakter tersebut tidak akan berjalan maksimal.
Oleh karena itu, penting bagi pihak sekolah untuk selalu berkomunikasi dengan
orang tua siswa mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai luhur adat dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kerja sama yang baik antara rumah dan
sekolah, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang konsisten dalam menerapkan
kebaikan. Karakter yang terbentuk dengan cara ini akan jauh lebih kokoh dan
tidak mudah goyah Ketika mereka nantinya harus bergaul di lingkungan yang lebih
luas atau bahkan Ketika mereka harus merantau di daerah lain.
Jika pendidikan karakter berbasis adat ini berhasil
dijalankan, dampaknya bukan hanya untuk siswa saja, tapi juga untuk masyarakat
luas. Masyarakat akan menjadi lebih harmonis karena generasi mudanya punya
karakter yang kuat dan saling menghormati. Selain itu, tradisi yang terjaga
juga bisa membantu ekonomi masyarakat, misalnya melalui kerajinan tangan atau
pariwisata budaya yang dikelola oleh pemuda yang paham akan budayanya sendiri.
Jadi, pendidikan karakter ini punya manfaat yang sangat luas, dari mulai
perbaikan sifat individu sampai pada kesejahteraan orang banyak.
KESIMPULAN
Pendidikan karakter tidak boleh dilepaskan dari tradisi
dan adat lokal yang ada di sekitar kita. Adat lokal bukan hanya soal upacara
atau baju daerah, tapi soal nilai-nilai hidup yang bisa membentuk kepribadian
siswa menjadi lebih baik. Dengan belajar dari tradisi sendiri, siswa bisa
menjadi orang yang modern tapi tetap punya sopan santun dan rasa cinta pada
tanah airnya.
Harapannya, sekolah dan orang tua bisa bekerja sama untuk memperkenalkan
kembali nilai-nilai adat kepada anak-anak. Jangan sampai generasi masa depan
kita kehilangan arah karena lupa dengan budayanya sendiri. Pendidikan yang baik
adalah pendidikan yang bisa membuat seseorang menjadi pintar secara otak dan
juga mulia secara perilaku.
REFERENSI
Hidayat, R., & Nuryani, S. (2020). Sinergi Pendidikan dan Budaya Lokal
dalam Membentuk
Karakter Siswa di Era Digital. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5(2), 123-135.
Lestari, W., et al. (2021). Implementasi Kearifan Lokal dalam Kurikulum Sekolah Dasar untuk Penguatan Karakter Mandiri. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 8(1), 45-58.
Suastika, I. N., & Rahmawati, I. (2019). Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 4(11), 1560-1570.
Wibowo, A. (2022). Manajemen Pendidikan Karakter di Era Globalisasi: Perspektif Nilai-Nilai Tradisi Nusantara. Jakarta: Pustaka Pelajar.
.png)
0 Comments