Ikrima Aulia Zuhairina
Pendahuluan
Hari
Pendidikan Nasional 2026 mengajak kita untuk merenungkan tujuan pendidikan di
negara ini. Sesuai dengan judul yang diangkat hari ini: “Pintar Adalah
Kewajiban, Namun Berbudi Luhur Lebih Utama : Belajar Karakter dari Adat Banua”.
Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengharuskan kita merespons informasi
dengan cepat, kita sering kali terperangkap dalam perlombaan literasi yang hanya
fokus pada kepintaran tanpa memperhatikan etika. Namun, inti dari tema “Belajar
Setara, Berbudaya Banua, Membangun Banjar Sejahtera” tidak hanya soal kesetaraan
dalam penyebaran akses teknologi atau kecepatan internet, melainkan juga
kesetaraan dalam kualitas manusia yang memiliki karakter yang kuat. Kepintaran
adalah suatu keharusan, tetapi tanpa etika, ia menjadi kecerdasan yang kosong
dan kehilangan esensi kemanusiaan. Dengan demikian, belajar tentang karakter
berdasarkan adat Banua menjadi sangat penting agar generasi muda kita tetap
menjadi individu yang berbudi pekerti di tengah perkembangan zaman.
Isi
Pendidikan
karakter yang berlandaskan tradisi dan kebiasaan lokal adalah alat yang paling
ampuh untuk mengatasi masalah moral di era globalisasi. Saat inilah esensi dari
beretika diterapkan. Tradisi Banjar, contohnya dalam filosofi kehidupan yang
menekankan pentingnya hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan,
sesama, dan lingkungan. Etika seperti menghormati orang yang lebih tua dan sayang
kepada yang lebih muda bukan hanya sekedar etika kuno, tetapi merupakan dasar
budi pekerti yang perlu dimasukkan kembali ke dalam kurikulum pendidikan
formal. Ketika seorang pelajar belajar tentang literasi untuk menjadi pintar, ia
belajar bagaimana memahami dunia. Namun, ketika ia diajarkan tentang budi
pekerti melalui adat Banua, ia belajar bagaimana bersikap hormat di dalam dunia
tersebut. Itulah esensi etika yang lebih penting dibandingkan dengan sekedar
kecerdasan.
Transformasi
ini bukan untuk menolak kemajuan zaman, tetapi berusaha untuk menguatkan
identitas lokal lewat pembelajaran yang lebih relevan. Bayangkan terdapat kelas,
di mana di dalam kelas tersebut pelajaran matematika atau sains diajarkan
dengan mengintegrasikan cerita kearifan lokal, atau mata pelajaran
kewarganegaraan yang membahas nilai gotong royong dalam budaya masyarakat
Banua. Dengan pendekatan ini, siswa akan merasa lebih dekat dengan budaya
mereka sendiri. Pendidikan yang “Berbudaya Banua” akan menghasilkan lulusan
yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moralitas yang
telah tinggi. Dimana kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek ekonomi,
tetapi juga dari keharmonisan sosial yang muncul dari etika yang baik.
Setelah
membaca dan merenungkan esai di atas, saya tersadar akan satu hal yang mungkin
selama ini luput dari perhatian kita bersama yakni kita terlalu sibuk mengejar
kepintaran, tapi lupa bahwa yang paling utama adalah cara kita beretika. Seringkali
kita bangga ketika anak-anak bisa cepat dalam membaca, mahir dalam berhitung,
atau mudah menguasai teknologi. Tapi esai ini mengingatkan saya bahwa semua
kepintaran itu akan terasa hambar jika tidak dibungkus dengan budi pekerti.
Seorang yang pintar tapi tidak beradab bisa saja menggunakan kepintarannya
untuk berbohong, korupsi, atau perbuatan tidak baik lainnya. Sebaliknya, orang
yang beradab meski sederhana pintarnya, akan selalu membawa ketenangan dan
kebaikan di mana pun ia berada.
Esai
ini juga membuat saya mengetahui bahwa adat lokal bukanlah sesuatu yang kuno
atau ketinggalan zaman. Justru di dalam adat Banua ini tersimpan pelajaran
hidup yang tidak akan pernah hilang. Etika itulah yang membuat seseorang bisa
“menempatkan diri” dengan hormat di tengah masyarakat, bukan sekadar “menjadi
pintar” secara individu. Refleksi ini membawa saya pada sebuah kesimpulan
pribadi bahwa pendidikan sejati seharusnya tidak menciptakan manusia pintar
yang sombong, melainkan manusia beradab yang rendah hati. Esai ini mengajak
kita untuk berani mengubah pemikiran kita jangan hanya bangga dengan nilai
rapor atau gelar akademik, tetapi mulailah bangga ketika seseorang berkata,
“Kamu adalah pribadi yang beradab dan menghormati orang lain.”.
Di
akhir perenungan ini, saya teringat kembali judul esai tersebut: “Pintar Itu
Wajib, Tapi Beradab Itu Wajib Utama : Belajar karakter dari Adat Banua” Ya,
menjadi pintar adalah kewajiban agar kita bisa hidup mandiri dan bermanfaat.
Namun, menjadi beradab adalah kewajiban utama karena dari sanalah lahir
kehormatan, rasa hormat, dan kedamaian bersama. Tanpa adab, kepintaran hanyalah
lonceng tanpa suara. Tanpa budi pekerti, kecerdasan adalah pedang tanpa sarung.
Maka, mulai hari ini, saya ingin belajar beretika dari adat Banua. Bukan hanya
untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat lain. Karena pada akhirnya,
Banjar yang sejahtera tidak akan lahir dari masyarakat yang hanya pintar,
melainkan dari masyarakat yang berbudi pekerti luhur.
Penutup
Pendidikan
di tahun 2026 perlu mengambil langkah lebih lanjut dari sekadar fokus pada
angka kecerdasan. Mempelajari sifat-sifat dari budaya Banua adalah contoh
konkret bahwa beretika itu sangat penting. Menghidupkan kembali nilai-nilai
lokal dalam pembelajaran karakter merupakan strategi yang efektif untuk
membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga beradab. Mari kita
jadikan sekolah sebagai wadah di mana nilai-nilai mulia Banua ditanamkan,
dikembangkan, dan dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada
akhirnya, pintar hanya membawa kita pada kesuksesan, tetapi etika menjadikan
kita dihargai banyak orang. Selamat Hari Pendidikan Nasional, mari terus
belajar untuk setara, dan tetap bangga dengan budaya Banua, demi menciptakan
masyarakat Banjar yang sejahtera.
Daftar
referensi
Abidin,
M. (2025, May 2). Dari filosofi ke aksi: Menakar wajah baru pendidikan
Indonesia 2025. Kementerian Agama Lampung Timur.
Afriyadi,
M. M., Widiati, U., Arifin, I., Ramli, M., & Maba, A. P. (2024). Piil
Pesenggiri local wisdom as the base of character education in social studies
learning at Metro City Elementary School, Lampung.
Komalasari,
I., Rusdiana, I., & Halisa, E. N. (2022). Kearifan lokal dalam kumpulan
puisi Banjar sebagai media pembelajaran pada sekolah menengah. Lentera: Jurnal
Ilmiah Kependidikan.
Lathifah,
S. S., Talitha, S., Saepulrohman, A., Suhardi, E., Budiana, S., &
Kurniasih, S. (2024). Pendampingan integrasi kearifan lokal Kampung Urug ke
dalam bahan ajar. Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 6(4),
868–875.
Mansur.
(2024). Implemantasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sekolah di MIN
4 Banjar Sungai Lulut [Skripsi, UIN Antasari Banjarmasin].
Nurlaili,
F. I., & Sukirno. (2024). Nilai pendidikan karakter dan kearifan lokal
dalam cerita rakyat Banyumas serta implementasinya terhadap pembelajaran bahasa
Indonesia. Proceedings Series on Social Sciences & Humanities, 19, 123–127.
Sadiah,
E., Yanti, P. G., & Tarmini, W. (2024). Implementation of critical thinking
values in grade IV Indonesian language textbooks of the Merdeka Curriculum: A
content analysis in the application of the Pancasila student profile. Jurnal
Kependidikan, 10(4).
.png)
0 Comments