Rosiana 
Tadris Matematika B

Pendahuluan

Perubahan dalam dunia pendidikan saat ini membawa dampak yang semakin memudarnya nilai gotong royong di lingkungan sekolah. Padahal, gotong royong merupakan salah satu kekuatan utama dalam membangun kebersamaan dan karakter peserta didik. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat belajar secara individu, tetapi juga ruang untuk saling membantu, berbagi pengetahuan, dan bekerja sama mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, revitalisasi nilai gotong royong menjadi penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Sejalan dengan itu, menurut Nadiem Anwar Makarim (2021), pendidikan yang baik dibangun melalui kolaborasi antara siswa, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar.

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun 2026 ini, peringatan tersebut terasa semakin penting ketika kita melihat kondisi pendidikan yang sedang mengalami perubahan. Persaingan antarsiswa kini terasa lebih kuat, sikap individualistis mulai muncul, dan semangat saling membantu yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia perlahan mulai berkurang, bahkan di lingkungan sekolah. Hal ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal prestasi, tetapi juga tentang bagaimana membangun kebersamaan dan kepedulian antar sesama.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pernah berpesan bahwa pendidikan adalah upaya memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sejak lama mengenal gotong royong sebagai cara hidup. Maka sudah sepatutnya gotong royong tidak hanya diingat sebagai pelajaran PPKn, tetapi benar-benar dihidupkan sebagai semangat dalam dunia pendidikan kita.

Esai ini mengajak kita untuk bersama-sama merenungkan: mengapa gotong royong begitu penting dalam pendidikan, dan bagaimana kita bisa menghidupkannya kembali di tengah zaman yang serba cepat ini?

Isi

Gotong Royong Bukan Sekadar Kerja Bakti

Gotong royong sering kali diasosiasikan dengan kegiatan kerja bakti seperti membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas umum. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi makna gotong royong sebenarnya jauh lebih luas. Gotong royong merupakan nilai yang menekankan bahwa suatu masalah akan lebih mudah diselesaikan secara bersama-sama dibandingkan secara individu. Nilai ini mencerminkan kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat (Nafisah et al., 2024).

Nilai ini juga sangat relevan dalam dunia pendidikan. Proses belajar tidak hanya berfokus pada penyerapan informasi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Salah satu karakter penting yang perlu dikembangkan adalah kemampuan bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, serta memiliki sikap berbagi, bukan hanya bersaingan.

Penelitian yang dilakukan oleh Sari Mardiana (2021), menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa belajar dalam kelompok kolaboratif tidak hanya mendapatkan nilai yang lebih baik, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi dan empati yang lebih tinggi. Mereka belajar bahwa keberhasilan bukan hanya milik diri sendiri keberhasilan teman adalah keberhasilan bersama.

Sayangnya, sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian dan ranking individu justru mendorong siswa untuk berpikir sebaliknya: "Kalau kamu pintar, kamu bisa mengalahkan yang lain." Pola pikir seperti ini bertentangan langsung dengan semangat gotong royong. Seperti yang diungkapkan oleh Hardiyanti et al., (2024) sistem penilaian yang terlalu kompetitif dapat melemahkan solidaritas sosial siswa dan menghambat terbentuknya karakter kolaboratif yang justru sangat dibutuhkan di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Maka, merevitalisasi gotong royong dalam pendidikan bukan berarti kita anti kompetisi. Justru sebaliknya kita ingin mencetak generasi yang mampu bersaing dengan cara yang sehat, sambil tetap menjaga semangat kebersamaan. Bersaing untuk menjadi lebih baik, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Penguatan Gotong Royong dalam Pendidikan

Bicara soal menghidupkan gotong royong di dunia pendidikan, kita tidak perlu menunggu kebijakan besar dari pusat. Banyak hal sederhana yang bisa dimulai dari sekolah, dari kelas, bahkan dari satu orang guru yang peduli. Salah satu cara yang paling mudah dan sudah terbukti efektif adalah melalui model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Dalam model ini, siswa belajar dalam kelompok kecil di mana setiap anggota punya peran dan tanggung jawab masing-masing. Tidak ada yang hanya "numpang nama" semua harus berkontribusi. Karimah et al., (2025) dalam studinya menemukan bahwa penerapan cooperative learning secara konsisten di sekolah dasar berhasil meningkatkan rasa tanggung jawab siswa dan mempererat hubungan sosial antar mereka.

Selain di dalam kelas, gotong royong juga bisa dihidupkan melalui kegiatan ekstrakurikuler berbasis komunitas seperti program bakti sosial, bank sampah sekolah, atau taman baca bersama. Kegiatan-kegiatan ini mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh buku teks mana pun: bahwa kita adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, dan kemajuan kita bergantung pada bagaimana kita saling menjaga.

Peran orang tua dan masyarakat juga tidak kalah penting. Nasution (2025) menekankan bahwa sekolah yang berhasil membangun budaya gotong royong adalah sekolah yang membuka diri terhadap keterlibatan aktif orang tua dan warga sekitar bukan hanya mengundang mereka saat pertemuan wali murid, tetapi benar-benar mengajak mereka menjadi bagian dari proses pendidikan.

Peran guru adalah sebagai teladan yang tidak kalah penting. Guru yang mau berbagi ilmu dengan sesama guru, yang mau berdiskusi dan bekerja sama dalam merancang pembelajaran, secara tidak langsung sedang mengajarkan gotong royong kepada siswa mereka. Seperti kata pepatah lama: anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar.

Sastra (2024), juga mencatat bahwa integrasi nilai gotong royong dalam kurikulum tidak harus berdiri sendiri sebagai mata pelajaran tersendiri ia bisa diselipkan secara natural ke dalam semua mata pelajaran, dari matematika berkelompok hingga proyek seni bersama yang paling penting adalah niat dan konsistensi.

Penutup

Gotong royong bukanlah nilai kuno yang ketinggalan zaman. Di tengah meningkatnya persaingan, nilai ini justru penting untuk membangun kebersamaan dalam dunia pendidikan. Revitalisasi gotong royong perlu dilakukan agar sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas, tetapi juga peduli dan mampu bekerja sama. Dengan demikian, pendidikan dapat membentuk generasi yang tidak hanya unggul, tetapi juga berkarakter.

Hari Pendidikan Nasional 2026 adalah saat yang tepat untuk kita semua guru, siswa, orang tua, dan seluruh masyarakat bergandengan tangan dan berkomitmen: bahwa pendidikan Indonesia bukan hanya soal mencetak individu yang cerdas, tetapi juga soal membentuk manusia yang peduli, yang mau berbagi, dan yang tahu bahwa keberhasilan sejati adalah keberhasilan yang dirasakan bersama.

Seperti sebatang lidi yang mudah patah sendirian, namun menjadi kuat ketika diikat bersama begitulah pendidikan kita: akan selalu lebih kuat ketika dijalani dengan semangat gotong royong. Mari kita hidupkan kembali nilai itu, mulai dari kelas kita, mulai dari hari ini.

Referensi

Azis, A. R., & Tamimi, A. R. (2025). Revitalisasi Konsep Gotong Royong dan Berakhlak Mulia dalam Profil Pelajar Pancasila Berbasis Nilai Al-Qur'an. TARBIYA ISLAMIA: Jurnal Pendidikan dan Keislaman15(1), 41-53. https://doi.org/10.36815/tarbiya.v15i1.3609

Dewantara, K. H. (1962). Karya Bagian Pertama: Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa: Jogjakarta.

Hanafiah, D., Martati, B., & Mirnawati, L. B. (2023). Nilai Karakter Gotong Royong Dalam Pendidikan Pancasila Kelas IV di Sekolah Implementasi Dasar. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah7(2), 539-551. http://dx.doi.org/10.35931/am.v7i2.1862

Karimah, N., Lestari, I., & Zakiah, L. (2025). MENINGKATKAN SIKAP GOTONG ROYONG SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TWO STAY TWO STRAY PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA. Kompetensi18(2), 135-144. https://doi.org/10.36277/kompetensi.v18i2.388

Makarim, N. Transformasi Pendidikan di Era Digital: Studi tentang Kepemimpinan.

Mustaghfiroh, V., & Listyaningsih, L. (2023). Strategi sekolah dalam menginternalisasikan nilai karakter gotong royong pada siswa di SMP Negeri 1 Prambon Nganjuk. Kajian Moral Dan Kewarganegaraan11(1), 382-397. https://doi.org/10.26740/kmkn.v11n1.p382-397

Nafisah, S., Abbas, E. W., & Prawitasari, M. (2024). IMPLEMENTASI ELEMEN GOTONG ROYONG DALAM PROFIL PELAJAR PANCASILA PADA PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMAN 1 KELUA. Jurnal Riset Penelitian Universal5(4).

Nasution, E. (2025). Pengembangan budaya organisasi sekolah berbasis kearifan lokal dalam pendidikan karakter siswa. Jurnal Kepengawasan, Supervisi dan Manajerial (JKSM)3(1), 26-31. https://doi.org/10.61116/jksm.v3i1.613

Pranadji, T. (2009). Penguatan kelembagaan gotong royong dalam perspektif sosio budaya bangsa: Suatu upaya revitalisasi adat istiadat dalam penyelenggaraan pemerintahan. In Forum Penelitian Agro Ekonomi (Vol. 27, No. 1, pp. 61-72).

Ramadhan, A. M., Arifin, S., Arum, D. S., Hardiyanti, M. T., Mardikaningsih, R., Wulandari, W., ... & Hariani, M. (2024). Gotong royong untuk memperkuat solidaritas dalam kehidupan masyarakat Dusun Batu Ampar Desa Tambaklekok. Economic Xilena Abdi Masyarakat3(1), 12-18.

Saraswati, P. T. (2025). REVITALISASI NILAI NILAI PANCASILA DALAM MENINGKATKAN KESADARAN KEWARGANEGARAAN GENERASI MUDA. Proceedings Law, Accounting, Business, Economics and Language2(1), 198-204.

Sari, P. M. (2021). PENGEMBANGAN E-LKPD BERBASIS REPRESENTASI DENGAN PENDEKATAN STEM TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MELATIHKANKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI DAN KOLABORASI PESERTA DIDIK (Doctoral dissertation, Universitas Lampung).

  Zuriatin, Z., Nurhasanah, N., & Nurlaila, N. (2021). Pandangan Dan Perjuangan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Nasional. Jurnal Pendidikan IPS11(1), 48-56. https://doi.org/10.37630/jpi.v11i1.442


Post a Comment

0 Comments