Nama : Fidya Desi Aryani
NIM : 20624060
Mata Kuliah : Etika Profesi Keguruan A
Peringatan
Hari Guru Nasional 2025 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Bermartabat di
Era Digital” menjadi momen penting untuk merefleksikan kembali bagaimana
perubahan besar dalam dunia pendidikan menuntut guru memainkan peran yang
semakin kompleks. Sebelum arus digitalisasi memasuki setiap aspek kehidupan,
guru dikenal sebagai pusat pengetahuan, sumber informasi, dan teladan di kelas.
Namun di era ketika mesin pencari dapat memberikan jawaban hampir seketika,
kebutuhan terhadap guru justru semakin besar bukan lagi sekadar sebagai
penyampai materi, tetapi sebagai penjaga akal sehat, pembentuk karakter
digital, dan kompas moral bagi generasi yang tumbuh di tengah derasnya
informasi. Perkembangan teknologi memang membawa kemudahan dan peluang: akses
belajar tak terbatas, materi yang beragam, serta interaksi yang cepat. Namun,
di balik kemajuan tersebut, muncul pula tantangan baru banjir informasi yang
tidak semuanya benar, konten yang memengaruhi emosi negatif, dan budaya digital
yang sering kali abai terhadap etika. Di sinilah kehadiran guru menjadi semakin
fundamental. Guru bukan hanya pendidik, tetapi pengarah cara berpikir,
pembimbing moral, dan penjaga kewarasan di tengah dunia digital yang semakin
bising.
LATAR BELAKANG:
INFORMASI MELIMPAH, KEBIJAKSANAAN MENIPIS
Era digital
telah mengubah cara siswa memperoleh informasi. Jika sebelumnya pengetahuan
bergantung pada buku atau penjelasan guru, kini satu sentuhan jari mampu
membawa siswa pada jutaan informasi dari seluruh dunia. Namun, kecepatan dan
kelimpahan ini tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman. Banyak peserta
didik menerima informasi digital tanpa proses verifikasi, bahkan cenderung
membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Hal ini membuat mereka rentan
terhadap hoaks, provokasi, dan polarisasi opini di media sosial. Fenomena
tersebut menunjukkan bahwa keberadaan teknologi tanpa dibarengi kecakapan
literasi digital dapat menjadi ancaman serius bagi perkembangan karakter dan
pola pikir generasi muda.( Cynthia & Sihotang 2023)
Kebiasaan
mengonsumsi informasi secara instan juga membuat siswa cenderung menghindari
proses berpikir mendalam. Mereka terbiasa dengan jawaban cepat dan instan,
sehingga ketekunan, kesabaran, serta kemampuan analisis tergerus secara
perlahan. Jika kondisi ini dibiarkan, generasi digital bukan menjadi generasi
yang cerdas, tetapi generasi yang mudah terombang-ambing. Oleh karena itu, guru
memiliki peran vital untuk mengembalikan esensi belajar yang berorientasi pada
pemahaman, bukan sekadar konsumsi informasi. Guru perlu memandu siswa agar bisa
memilah, menimbang, lalu menentukan sikap secara bijaksana. Di sinilah peran
guru sebagai “penjaga akal sehat” menjadi sangat nyata.
GURU SEBAGAI TELADAN
DIGITAL: KETELADANAN YANG DIBUKTIKAN, BUKAN HANYA DIUCAPKAN
Dalam dunia
digital, keteladanan guru menjadi fondasi pembentukan karakter yang paling
kuat. Karakter tidak sekadar dipelajari, tetapi ditiru melalui contoh nyata,
sebagaimana ditekankan oleh Lickona (1992) dalam teori pendidikan karakternya.
Guru yang mampu menjaga etika digital, bersikap santun di media sosial, dan
bijak dalam menyikapi isu sensitif akan memberikan contoh konkret bagi peserta
didiknya. Keteladanan ini dapat terlihat melalui beberapa tindakan sederhana
tetapi berdampak besar, seperti: membagikan informasi dari sumber kredibel, menunjukkan
cara memverifikasi berita, berdiskusi mengenai konten negatif tanpa emosi, berinteraksi
secara sopan di platform digital, serta menunjukkan bagaimana mengelola jejak
digital dengan bertanggung jawab. Siswa lebih cepat memahami nilai-nilai
digital jika mereka melihat gurunya mempraktikkan hal-hal tersebut. Guru bukan
sekadar penyampai nasihat, tetapi figur yang kehadirannya mengajarkan banyak
hal tanpa harus selalu berbicara.
PERAN GURU SEBAGAI
PENGUAT LITERASI DIGITAL DAN MORAL SISWA
Literasi
digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi. Literasi
digital mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks informasi,
menganalisis pesan yang tersembunyi, serta mengenali bias dan tujuan tertentu
di balik suatu konten. Literasi digital juga berhubungan erat dengan
kemampuan manajemen emosi, empati, dan kesadaran sosial. Siswa harus mampu
memahami bahwa setiap tindakan digital memiliki konsekuensi moral. (Awaliah et
al. 2024) Guru dapat memperkuat literasi digital siswa melalui kegiatan
pembelajaran yang kontekstual seperti: analisis berita viral, diskusi
kelompok mengenai konten provokatif, simulasi deteksi hoaks, atau
studi kasus mengenai etika bermedia sosial. Dengan membuka ruang
refleksi seperti ini, guru membantu siswa memahami bahwa teknologi bukan
sekadar alat hiburan, tetapi juga ruang sosial yang memerlukan tanggung jawab.
Lebih jauh lagi, guru membantu siswa mengenali bahaya echo chamber, ujaran
kebencian, dan manipulasi digital. Dengan demikian, guru mengarahkan mereka
menjadi warga digital yang memiliki empati, toleransi, dan kemampuan membaca
situasi secara kritis.
TANTANGAN GURU DI ERA
DIGITAL DAN BENTUK PENGUATANNYA
Transformasi
digital tidak hanya menuntut perubahan pada peserta didik, tetapi juga pada
guru. Banyak guru menghadapi berbagai tantangan, di antaranya: ketimpangan
akses internet, kurangnya pelatihan literasi digital, teknologi yang terus
berkembang, dan beban administratif yang masih berat. Namun, berbagai inovasi
dalam bidang pendidikan telah membuka peluang besar untuk meningkatkan
kompetensi guru. Pemerintah menyediakan platform Merdeka Mengajar, Rumah
Belajar, serta berbagai pelatihan daring yang dapat diakses kapan saja. Selain
itu, komunitas belajar berbasis digital memungkinkan guru saling berbagi
strategi mengajar, materi, dan pengalaman. Kunci utama bagi guru adalah
memiliki semangat belajar berkelanjutan. Guru yang adaptif akan lebih mudah
memahami kebutuhan zamannya dan mampu menyelaraskan pembelajaran klasik dengan
pendekatan digital modern. Perpaduan keduanya akan menghasilkan pembelajaran
yang kaya, relevan, dan mendalam.
GURU SEBAGAI PENJAGA
MARTABAT BANGSA
Guru
memegang peran penting dalam menjaga martabat bangsa di era digital. Generasi
yang literat digital, mampu mengendalikan diri, serta memiliki kepekaan moral
adalah cerminan keberhasilan pendidikan yang berlandaskan kebijaksanaan.
Teknologi mampu menyediakan data, fakta, dan visual, tetapi nilai kemanusiaan
hanya dapat ditanamkan oleh guru yang mengajar dengan hati. Dalam konteks ini,
guru adalah benteng terakhir yang menjaga generasi muda dari degradasi moral,
perpecahan sosial, dan kedangkalan berpikir akibat konsumsi informasi yang
tidak terarah. Perannya tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan atau sistem
digital apa pun. Guru membimbing siswa melewati jalan terjal perkembangan
teknologi dengan cahaya kebijaksanaan dan ketulusan.
PENUTUP
Di tengah
hiruk-pikuk dunia digital yang dipenuhi informasi, opini, dan disinformasi,
guru hadir sebagai penjaga akal sehat, pelindung moral, dan pembimbing cara
berpikir generasi muda. Melalui keteladanan digital, literasi yang
komprehensif, serta bimbingan karakter yang konsisten, guru membentuk peserta
didik yang tidak hanya pandai dalam akademik, tetapi juga matang dalam moral,
sosial, dan emosional. Peringatan Hari Guru Nasional 2025 adalah wujud
penghormatan terhadap kontribusi besar guru sekaligus pengingat bahwa
pendidikan adalah pilar utama kemajuan bangsa. Selama guru masih berdiri dengan
komitmen dan semangat, masa depan Indonesia akan tetap cerah, kuat, dan
bermartabat. Guru adalah cahaya yang tak pernah redup dan selama cahaya itu
menyala, generasi Indonesia akan tumbuh dengan akal sehat yang terjaga di
tengah bisingnya dunia digital.
0 Comments