SHOLAT SUBUH DI WAKTU ISYA

 

Oleh : Prof Dr Muhlisin, M.Ag.

Malam itu udara di kampung Proto terasa sedikit lebih sejuk dari biasanya. Bulan Ramadhan telah memasuki hari-hari terakhirnya. Lampu-lampu rumah warga menyala redup, sementara aroma makanan berbuka masih tersisa di beberapa dapur. Di tengah kampung berdiri sebuah mushola sederhana bernama Mushola Alanwar, tempat warga biasa menunaikan sholat berjamaah setiap hari.

Hari itu adalah Sabtu malam Ahad, 14 Maret 2026, bertepatan dengan 25 Ramadhan 1447 Hijriyah. Di mushola kecil itulah seorang lelaki bernama Muhlisin dikenal sebagai imam tetap. Sosoknya sederhana, bersahaja, dan dikenal oleh warga sebagai orang yang rajin beribadah. Hampir setiap hari ia mengimami sholat lima waktu, terutama ketika jamaah membutuhkan seseorang untuk memimpin sholat.

Saat waktu magrib tiba,seperti biasa Muhlisin menuju ke mushola, setelah yang bersangkutan membatalkan puasa dengan 3 biji kurma dan air putih. Ketika azan magrib habis berkumandang, para jamaah berdatangan. Sholat magrib pun dilaksanakan dengan khusyuk. Usai sholat, Muhlisin pulang ke rumah untuk berbuka bersama keluarganya.

Di rumahnya yang merupakan depan mushola, dua anaknya sudah menunggu. Mereka adalah Hana dan Hani, dua gadis kecil yang selalu ceria setiap kali Ramadhan tiba.

“Abah, cepat duduk. Makanannya sudah disiapkan,” kata Hana sambil tersenyum.

Muhlisin duduk di ruang makan sederhana. Di hadapannya sudah tersedia segelas teh hangat, beberapa jenis makanan, seprti telor dan beberapa osengan ayam.

“Allahu akbar… alhamdulillah,” gumamnya pelan sebelum mulai berbuka.

Ia makan dengan tenang. Setelah seharian berpuasa, rasa hangat teh manis terasa sangat nikmat. Hana dan Hani sesekali bercanda kecil, membuat suasana rumah menjadi hangat.

Namun setelah perutnya terisi, rasa kantuk tiba-tiba menyerang.

“Wah… Abah kok jadi ngantuk sekali ya,” kata Muhlisin sambil menguap.

“Abah tidur sebentar saja,” kata Hani.

“Iya, sebentar saja. Nanti bangunkan Abah sebelum sholat,” jawab Muhlisin.

Ia pun masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur tipis. Awalnya ia hanya berniat memejamkan mata sejenak. Tetapi kelelahan seharian membuatnya tertidur cukup pulas.

Di luar rumah, waktu terus berjalan. Langit mulai semakin gelap. Beberapa warga sudah berjalan menuju mushola untuk menunggu waktu sholat isya dan tarawih.

Sementara itu, di kamar, Muhlisin masih tertidur.

Hana dan Hani saling pandang.

“Hani, Abah belum bangun,” bisik Hana.

“Bangunkan saja. Nanti Abah terlambat ke mushola,” jawab Hani.

Kedua anak itu lalu masuk ke kamar.

“Abah… Abah…” kata Hana sambil menggoyang pelan bahu ayahnya.

Muhlisin perlahan membuka mata.

“Hmm… sudah subuh ya?” gumamnya setengah sadar.

Hana dan Hani tidak terlalu memperhatikan kalimat itu.

“Abah bangun saja. Sudah waktunya ke mushola,” kata Hani.

Muhlisin duduk perlahan. Karena baru saja bangun dari tidur, pikirannya masih sedikit kabur. Ia melihat ke luar jendela yang gelap.

Dalam pikirannya, ia merasa bahwa waktu sudah menjelang subuh.

“Ah, mungkin aku tertidur lama,” pikirnya.

Tanpa banyak bertanya, ia segera mengambil air wudlu.

Air wudlu terasa dingin menyentuh wajahnya. Namun anehnya, rasa kantuk masih menyelimuti kepalanya. Ia tidak sempat mengecek jam, tidak pula bertanya kepada anak-anaknya waktu yang sebenarnya. Baginya, malam yang gelap itu terasa seperti suasana menjelang subuh.

Setelah selesai wudlu, Muhlisin segera berjalan menuju mushola.

Lampu Mushola Alanwar sudah menyala terang. Beberapa jamaah sudah duduk di dalam sambil membaca Al-Qur’an atau berbincang pelan menunggu iqamah.

Ketika Muhlisin masuk, para jamaah memberi salam.

“Assalamu’alaikum, Pak Imam,” kata salah seorang jamaah.

“Wa’alaikum salam,” jawab Muhlisin.

Muadzin yang bertugas malam itu juga menyapanya. Namun Muhlisin tidak banyak bicara. Ia langsung berdiri di depan saf untuk menjadi imam.

Iqamah pun dikumandangkan.

Para jamaah berdiri merapatkan saf.

“Luruskan saf… rapatkan saf…” kata Muhlisin seperti biasa.

Kemudian ia mengangkat tangan.

“Allahu akbar.”

Sholat pun dimulai.

Pada rakaat pertama semuanya berjalan biasa. Jamaah mengikuti bacaan imam dengan tenang.

Namun ketika masuk rakaat kedua, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek, Muhlisin berdiri tegak, lalu mengangkat tangan untuk membaca qunut.

“Allahummahdini fiman hadait…”

Beberapa jamaah langsung membuka mata.

“Lho… kok qunut?” bisik seseorang.

Yang lain mulai saling pandang.

“Ini… sholat subuh?” gumam jamaah lain pelan.

Namun karena sudah terlanjur menjadi makmum, mereka tetap mengikuti imam sampai selesai.

Sholat dua rakaat pun berakhir.

“Assalamu’alaikum warahmatullah…”

Muhlisin menoleh ke kanan dan kiri.

Sholat selesai.

Tetapi suasana mushola tiba-tiba terasa aneh.

Para jamaah saling pandang dengan wajah bingung.

“Ini… tadi sholat apa ya?” bisik seorang jamaah.

“Kayaknya sholat subuh,” jawab yang lain.

“Tapi sekarang kan waktu isya…”

Beberapa jamaah akhirnya berdiri lagi.

Tanpa banyak bicara, mereka menambahkan sendiri sholat isya empat rakaat secara sendirian.

Ada yang tersenyum menahan tawa, ada pula yang masih bingung dengan kejadian barusan.

Muhlisin sendiri masih duduk di depan saf sambil membaca dzikir.

Ia merasa semuanya berjalan seperti biasa.

Tidak lama kemudian, muadzin mendekatinya.

“Pak Muhlisin…” katanya pelan.

“Iya?”

“Ini tadi… panjenengan mengimami sholat subuh.”

Muhlisin mengernyitkan dahi.

“Subuh?”

“Iya. Padahal ini baru waktu isya.”

Muhlisin langsung terdiam.

“Lho… sekarang bukan subuh?” tanyanya kaget.

“Belum, Pak. Ini baru habis azan isya.”

Muhlisin memegang kepalanya.

“Ya Allah… berarti saya salah?”

Muadzin tersenyum kecil.

“Mungkin panjenengan masih mengantuk.”

Beberapa jamaah mulai mendekat.

Di antara mereka ada seorang lelaki yang dikenal suka bercanda, namanya Nasrudin.

Nasrudin menepuk bahu Muhlisin.

“Pak Imam… ini pertama kali dalam sejarah Mushola Alanwar,” katanya sambil tertawa pelan.

“Kenapa?” tanya Muhlisin dengan wajah masih bingung.

“Kita sholat subuh dulu sebelum isya.”

Beberapa jamaah ikut tertawa kecil.

Muhlisin hanya bisa tersenyum malu.

“Aduh… saya benar-benar tidak sadar. Tadi saya kira sudah subuh.”

Nasrudin mengangguk.

“Mungkin karena tidur setelah berbuka.”

“Iya… mungkin begitu.”

Kemudian Nasrudin berkata dengan nada serius tapi tetap santai.

“Begini saja, Pak Imam. Sekarang kita ulangi saja sholat isya berjamaah.”

Beberapa jamaah langsung mengangguk.

“Iya betul.”

“Daripada nanti bingung.”

Muhlisin menarik napas panjang.

“Baiklah… kalau begitu kita ulangi sholat isya berjamaah.”

Muadzin kembali berdiri.

Iqamah dikumandangkan sekali lagi.

Para jamaah tersenyum sambil merapatkan saf.

Malam itu Mushola Alanwar melaksanakan sholat berjamaah dua kali dengan cara yang tidak biasa.

Kali ini Muhlisin memastikan betul niatnya.

“Allahu akbar…”

Sholat isya dimulai.

Empat rakaat dijalankan dengan tenang dan khusyuk.

Ketika salam terakhir selesai, suasana mushola kembali normal.

Namun senyum masih terlihat di wajah para jamaah.

Nasrudin kembali mendekati Muhlisin.

“Pak Imam…”

“Iya?”

“Kalau besok subuh jangan sampai terbalik lagi ya… jangan-jangan nanti malah sholat isya.”

Seluruh jamaah tertawa.

Muhlisin pun ikut tertawa.

“Iya, iya… ini pelajaran bagi saya.”

Ia menatap para jamaah dengan wajah penuh rasa syukur.

“Terima kasih sudah mengingatkan saya.”

Nasrudin berkata santai.

“Yang penting kita tetap berjamaah.”

Muadzin menambahkan sambil tersenyum.

“Dan yang penting jangan tidur terlalu pulas sebelum isya.”

Malam itu Mushola Alanwar menyimpan cerita kecil yang akan dikenang warga cukup lama.

Cerita tentang seorang imam yang tanpa sengaja mengimami sholat subuh di waktu isya.

Bukan karena sengaja, bukan pula karena tidak tahu. Hanya karena kantuk yang datang setelah berbuka puasa di penghujung Ramadhan.

Namun dari kejadian itu, para jamaah justru merasakan kehangatan kebersamaan.

Tidak ada yang marah, tidak ada yang menyalahkan. Yang ada hanya tawa ringan dan saling mengingatkan dengan penuh persaudaraan.

Di akhir malam, ketika para jamaah mulai pulang, Muhlisin masih duduk sejenak di mushola.

Ia tersenyum sendiri.

“Ramadhan tahun ini benar-benar berkesan,” gumamnya.

Dari kejadian sederhana itu ia belajar satu hal penting, bahkan seorang imam pun bisa keliru, tetapi selama ada jamaah yang saling mengingatkan dengan kebaikan, semuanya akan kembali pada jalan yang benar.

Dan malam 25 Ramadhan 1447 Hijriyah itu pun menjadi kisah unik yang yang dialami warga Mushola Al Anwar Proto Barat.

 

Post a Comment

0 Comments