Anggun Sefia Ariani (20624059)
anggun.sefia.ariani24059@mhs.uingusdur.ac.id
Selama bertahun-tahun, kalau kita membahas tentang guru,
topik yang dibahas selalu sama yaitu tentang gaji kecil, kelas yang penuh dan
sesak, atau fasilitas sekolah yang sederhana dan kurang mendukung pembelajaran.
Meskipun semua tantangan ini memang benar adanya dan harus se segera mungkin
diatasi dan diselesaikan, fokus kita yang berlebihan terhadap kasus ini sering
kali menutupi krisis permasalaha yang jauh lebih dalam, yang menyerang jati
diri para pendidik.
Krisis ini muncul dari tiga gabungan masalah besar,
teknologi yang semakin maju, tuntutan di luar pembelajaran yang gila-gilaan,
dan otonomi guru yang makin hari makin terkikis. Jadi, masalah guru hari ini
yang terjadi itu bukan cuma soal perhitungan logistik, tapi sudah menjadi
perkelahian batin dan etika untuk mendefinisikan kembali, apasih sebenarnya
arti guru di era di mana kecepatan dan efisiensi data sudah menjadi “raja?”.
Esai ini akan menguak tiga sisi tantangan masa kini yang
masih jarang kita bicarakan, yang pertama ada krisis identitas saat kita
berhadapan dengan AI, beban pekerjaan dan mental yang tak terlihat, dan
terkikisnya kebebasan professional dikarenakan dipaksakan mengikuti manajemen
yang serba menggunakan data.
Dulu, peran guru itu jelas sebagai orang yang menjadi
sumber pengetahuan dan menyampaikan materinya yang sudah terstruktur dari buku
ke para murid. Tapi semenjak datangnya teknologi yang canggih terutama AI telah
merebut hak Istimewa dari seorang guru. Sekarang, pengetahuan berada di
jari-jari tangan kita. Bahkan algoritmanya bisa menyesuaikann materi samapi se
detail itu secara personal. Ini jelas menantang guru atas informasi
pembelajaran.
Kritis identitas muncul karena banyak guru yang tidak
diberikan persiapan dan pelatihan akan adanya pembelajaran berbasis teknologi
digital. Mereka bukan hanya sebagai pendamping dalam pembelajaran saja
melainkan harus menjadi Curator of Experience ( Kurator Pengalaman ). Tugas
mereka itu bukan lagi hanya mengatakan “ini loh yang harus kamu pelajari”
tetapi mengajarkan “bagaimana cara kamu memilih, dan merangkai informasi” di
Tengah pesatnya teknologi digital yang tiada habisnya. Perubahan pembelajaran ini
menimbulkan konflik internal, contohnya guru senior yang sudah lama mengajar
dan menghabiskan puluhan tahun menguasai materi mereka merasa profesionalnya
terancam. Sementara guru muda yang terbiasa bermainan digital dan selalu melek
terhadap perkembangan teknologi itu seringkali hanya tahu bagaimana penggunaan
teknologinya tapi kurang paham kedalaman pedagogisnya untuk benar-benar
mengintegrasikan teknologi itu dengan maksimal. Implikasinya sangat terasa.
Guru setiap hari dihadapkan pada dilemma: Haruskah mereka bersaing dengan AI
sangat cepat tanggap dalam personalisasi, atau haruskah mereka bekerja sama
dengannya? Kalau iya bekerja sama, apa lagi nilai manusiawi yang akan mereka
berikan?
Nilai tambah manusia sejati terletak pada pengembangan
karakter dan kemampuan non-teknis, seperti mengajarkan cara berpikir kritis,
menumbuhkan rasa empati, menanamkan etika digital, dan memfasilitasi dialog
filosofis. Ini semua adalah tujuan yang samapi saat ini masih menjadi milik
interaksi antarmanusia. Masalahnya, system evaluasi sekolah itu masih berfokus
pada cara mengukur akademik yang masih kuno. Ini membuat guru merasa terjebak,
harus berfokus pada hal yang bisa di ukur seperti AI, sambil mengorbankan
hal-hal yang justru berharga bagi siswa. Stres ini bukan lagi stress mengajar,
melainkan stress ketakutan akan hilangnya makna dan profesi mereka.
Selain perubahan teknologi, beban guru juga bertambah karena
adanya “Kurikulum Kedua”. Ini adalah istilah untuk pekerjaan atau tuntutan di
luar hal mengajar, yaitu kewajiban untuk aktif mengatasi masalah kesehatan
mental, terutama kemiskinan, masalah keluarga, dan krisis social yang dibawa
siswa ke kelas. Hari ini, guru diharapkan menjadi segalanya, mereka harus jadi
pekerja social, konselor, detector krisis, dan kadang bahkan menjadi penyedia
makanan, selain tugas utama mereka sebagai pengajar.
Kerja emosional adalah Upaya keras untuk mengelola dan
menahan emosi diri sendiri agar tetap terlihat professional. Bagi guru, ini
berarti harus selalu sabar, optimis, dan tenang, bahkan saat menghadapi siswa
yang sedang panik, orang tua yang marah, atau birokrasi sekolah yang
menyulitkan. Kerja emosional ini tidak pernah terhitung dalam jam mengajar atau
pada jumlah lembar tugas. Ironisnya, saat masyarakat makin rentan terhadap
masalah social dan mental, beban dukungan emosional ini justru jatuh ke pundak guru.
Mereka adalah benteng pertahanan pertama, seringkali tanpa pelatihan psikologis
yang memadai atau akses cepat untuk merujuk siswa ke ahli.
Akibat dari kerja emosional yang terus-menerus ini adalah
kelelahan karena merasa kasihan dan trauma. Guru jadi Lelah bukan karena
aktivitas fisik, tapi karena kelelahan mental yang mereka alami saat setiap
hari menyerap rasa sakit, kesedihan, dan kebutuhan emosional siswa. Kelelahan
ini adalah pemicu utama kelelahan total di kalangan pendidik dan jarang sekali
diakui dalam kebijakan kerja. Mereka pulang ke rumah bukan hanya membawa
tumpukkan tugas untuk dikoreksikan, tapi juga setumpuk kekhawatiran dan trauma
siswa yang tidak bisa mereka lepaskan.
Kurikulum Kedua ini menimbulkan konflik etika yang
serius, waktu yang digunakan untuk menenangkan siswa yang cemas atau
menyelesaikan perkelahian adalah waktu yang hilang dari mengajar materi
pelajaran. Guru merasa gagal di dua
sisi, gagal secara akademis karena tidak sempat menyelesaikan materi, dan gagal
secara moral karena merasa tidak bisa sepenuhnya menolong atau menyembuhkan
semua luka batin siswa. Beban ganda ini menuntut pengakuan jujur dan alokasi
sumber daya yang nyata, bukan sekedar pujian kosong bahwa “guru adalah
pahlawan”.
Tantangan ketiga yang paling merusak adalah hilangnya
kebebasan professional guru akibat apa yang kita sebut manajemen berbasis data
real-time. Di banyak sekolah, penggunaan Platform Manajemen Pembelajaran (LMS)
dan alat penilaian digital telah menghasilkan banjir data tentang kemajuan
siswa dan bahkan bagaimana cara guru mengajar. Para atasan kini bisa melihat
dasbor yang menampilkan skor, waktu respons siswa, dan tingkat penyelesaian
tugas.
Meskipun tujuannya adalah agar sekolah jadi lebih akuntabel
dan efisien, dampaknya pada guru di lapangan justru terasa mengganggu. Data
real-time cenderung mengubah mengajar dari sebuah keterampilan yang kompleks
dan penuh seni menjadi serangkaian ketaatan yang harus di ceklist oleh
administrasi. Ketika setiap keputusan mengajar bisa dipertanyakan berdasarkan metrik
di dasbor, guru dipaksa untuk mengajar sesuai data, bukannya mengajar sesuai
kebutuhan nyata siswa. Metode mengajar yang paling efektif seperti diskusi
mendalam, proyek kreatif jangka Panjang, atau eksplorasi topik yang tidak ada
di standar seringkali dikorbankan karena dianggap tidak efisien atau tidak
mudah diukur oleh sistem.
Paradoksnya begini, di satu sisi, guru didorong untuk
memberikan pembelajaran yang sangat personal dan adaptif, di sisi lain, mereka
diikat oleh kurikulum yang kaku dan pengawasan data yang ketat dari pusat.
Pembelajaran adaptif butuh fleksibilitas dan kebebasan, pengawasan dasbor menuntut
keseragaman dan control. Konflik ini secara langsung merendahkan profesi guru.
Coba bandingkan, keahlian seorang dokter atau pengacara tidak diatur secara
detail oleh metrik harian, lalu mengapa keahlian seorang guru harus
disederhanakan menjadi deretan angka di sebuah dasbor?
Hilangnya otonomi inni itu tidak hanya membuat guru tidak
bahagia saja, ini secara fundamental menurunkan kualitas Pendidikan. Guru yang
merasa tidak percaya untuk mengambil Keputusan terbaik cenderung memilih metode
mengajar yang paling aman dan mudah dipertahankan di hadapan atasan. Padahal,
metode ini sering kali adalah yang paling tidak menarik dan tidak efektif bagi
siswa. Untuk menarik dan mempertahankan pendidik hebat, system harus
mengembalikan kepercayaan pada kebijaksanaan dan keahlian guru sebagai
professional yang terampil, yang mampu menafsirkan data bukan sekadar
menjalankan perintah dari data itu.
Masalah guru saat ini sudah jauh melampui urusan uang,
ini adalah krisis tentang nilai dan eksistensi profesi. Guru modern terjebak di
antara tiga tekanan yang sangat menguras tenaga, keharusan mendefinisikan ulang
diri di era AI, beban tak terlihat dari kerja emosional yang menggerogoti
mental, dan hilangnya kebebasan professional karena control data yang terpusat.
Untuk menyelamatkan profesi ini, kita butuh perubahan
besar. Masyarakat harus mulai menghargai kebijaksanaan manusia seorang guru
kemampuan mereka membaca situasi emosional, menanamkan nilai-nilai luhur, dan
membangun koneksi antarmanusia di atas efisiensi algoritma semata. Sistem
Pendidikan harus secara resmi mengakui dan memberikan dukungan untuk Kurikulum
Kedua, menyediakan pelatihan Kesehatan mental yang memadai, dan mengurangi
beban emosional yang ditanggung guru.
Yang paling penting, otonomi harus dikembalikan. Guru
harus dipercaya untuk menjadi arsitek pembelajaran sejati yang menggunakan data
sebagai alat bantu, bukan sebagai penguasa yang mendikte setiap langkah mereka.
Hanya dengan mengakui dimensi psikologis, etis, dan eksistensial dari tantangan
ini, kita bisa memastikan guru tetap menjadi jangkar kemanusiaan di Tengah
derasnya arus perubahan algoritma.
0 Comments