KOMPAS MORAL DI TANGAN GURU: MENGUKIR KARAKTER SISWA YANG KOKOH DI ERA DIGITAL

Nama   : Vara Azzahra

NIM    : 20624016

Kelas   : Etika Profesi Keguruan-A

PENDAHULUAN

Dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi tantangan yang paling kompleks dalam sejarah modernnya, sebuah dirupsi etika yang dipicu oleh teknologi. Kehadiran internet, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menawarkan kemudahan tanpa batas, kita menyaksikan bagaimana layar gawai menjadi jendela utama bagi jutaan pelajar di Indonesia. Mereka rata-rata menghabiskan lebih dari lima jam sehari menatap layar, berinteraksi di dunia yang diatur bukan oleh nilai-nilai luhur, melainkan oleh algoritma. Di ruang virtual, nilai-nilai sering kali dibentuk oleh tren yang viral, bukan oleh kebijaksanaan yang teruji. Karakter, yang seharusnya dibangun di atas fondasi integritas dan empati, kini rawan terkikis oleh erosi moralitas digital sebuah kondisi di mana cyberbullying dianggap biasa, dan polarisasi opini menjadi norma. Pada intinya bahwa banyaknya waktu yang dihabiskan dalam menatap layar gawai ini menyebabkan tidak tercukupinya dalam melaksanakan kegiatan yang lain seperti belajar, membaca,  bermain dengan teman-teman sebaya (Agnia, A. S. G. N., dkk 2021). Kemajuan dalam teknologi memiliki dampak yang besar terhadap komponen sosial dan budaya. Ketika terjadi perunahan di dalam kelas, hal ini mengakibatkan siswa cenderung bersikap lebih egois dan tidak peduli (Ngafifi, Muhamad,  2014). Di tengah tantangan ini, peran guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyalur pengetahuan, mereka kini adalah pemegang kompas moral yang vital bagi siswa. Guru memiliki tugas mendesak untuk membantu siswa menavigasi kompleksitas dunia digital, memastikan bahwa mereka tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kokoh.

ISI

Tantangan utama yang dibawa oleh era digital adalah lahirnya budaya serba cepat yang mendewakan hasil instan. Kondisi ini secara halus merusak kemampuan siswa untuk menghargai proses, membutuhkan waktu untuk berpikir kritis, dan merasa puas dengan usaha yang gigih. Paparan konten digital yang tidak terfilter, mulai dari cyberbullying, hingga tayangan yang menormalisasi perilaku tidak bertanggung jawab, dapat  merusak pandangan moral siswa secara diam-diam. Jika tidak dibimbing, ruang digital dapat menjadi tempat yang minim empati dan tinggi akan konflik. Oleh karena itu, tugas penting guru adalah menjadikan sekolah dan kelas sebagai tempat pembentukan etika dan karakter, tempat nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan.

Dalam proses pengukiran karakter, guru harus menyadari peran mereka sebagai teladan hidup bagi siswa. Siswa belajar karakter bukan dari definisi di buku, melainkan dari apa yang mereka lihat dan alami selama sehari-hari. Ketika seorang guru menunjukkan integritas, misalnya mengakui kesalahan di depan siswa, atau ketika mereka menunjukkan empati nyata terhadap masalah pribadi seorang siswa, nilai-nilai tersebut terekam sebagai pelajaran abadi. Guru harus menjadi contoh nyata dari individu yang mampu menggunakan teknologi secara bijak menunjukkan bahwa gawai dapat menjadi alat yang memberdayakan dan mencerdaskan, bukan sekadar pelarian atau sumber gangguan. Kualitas moral guru akan menjadi cetak biru yang membentuk perilaku dan keputusan siswa di masa depan, bahkan ketika mereka tidak lagi berada di ruang kelas.

Mengukir karakter di era digital menuntut strategi pedagogis yang cerdas dan adaptif. Salah satu langkah penting adalah dengan memperluas definisi literasi digital. Guru perlu membimbing siswa melampaui kemampuan teknis, menuju literasi digital beretika. Hal ini memuat diskusi mendalam tentang bagaimana memvalidasi sumber informasi untuk melawan hoaks, kesadaran akan jejak digital yang permanen dan konsekuensinya, serta pentingnya menjaga kesantunan saat berinteraksi di dunia maya. Tujuannya adalah memberdayakan siswa agar menjadi pencipta konten yang bertanggung jawab, bukan sekadar pengguna pasif yang mudah dipengaruhi oleh tayangan yang buruk tren sesaat.

Selain itu, karakter harus tumbuh dari refleksi dan pengalaman. Guru dapat mengintegrasikan pembelajaran berbasis dilema moral menggunakan isu-isu digital yang sedang hangat. Misalnya, mendiskusikan kasus penyalahgunaan kecerdasan buatan, atau etika dalam memberikan komentar anonim. Dengan mendiskusikan isu- isu digital ini siswa didorong untuk menganalisis konsekuensi moral dari berbagai tindakan, melatih kemampuan mereka untuk berempati dengan sudut pandang yang berbeda, dan merumuskan solusi yang bertanggung jawab. Kegiatan semacam ini secara langsung melatih mereka untuk menyesuaikan kembali "kompas moral" pribadi mereka dalam menghadapi situasi yang kompleks di dunia nyata.

Pengembangan karakter tidak semestinya dipisahkan dan diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Sebaliknya, nilai-nilai etika harus disatukan secara alami ke dalam semua bidang studi. Sebagai contoh, dalam pembelajaran Sains, guru memiliki kesempatan untuk menanamkan pentingnya kejujuran dalam pengumpulan data dan sikap objektif dalam analisis. Demikian pula, mata pelajaran seperti Sejarah dapat digunakan untuk menekankan toleransi dan pemahaman akan beragamnya sudut pandang. Dengan menjadikan aspek moral dan etika sebagai inti dari kurikulum dan kegiatan belajar siswa sehari-hari, guru dapat memastikan bahwa pembangunan karakter menjadi prasyarat dasar untuk mencapai kecerdasan akademik, bukan sekadar pelengkap atau beban kurikuler tambahan.

KESIMPULAN  

Di tengah hiruk pikuk inovasi dan perubahan, guru tetap memegang peran yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Mereka adalah sumber inspirasi, sumber keteladanan, dan yang paling utama, pemegang kompas moral. Teknologi mungkin dapat menggantikan guru sebagai saluran informasi, tetapi ia tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru dalam membentuk hati nurani dan karakter yang kokoh. Tantangan terbesar bukanlah menguasai perangkat digital, namun memastikan bahwa siswa mampu menggunakan kecerdasan mereka dengan landasan moral yang kuat. Dengan menerapkan strategi literasi digital yang beretikam dan menjadi teladan hidup yang konsisten, guru telah melakukan investasi terbesar bagi masa depan bangsa. Ketika kompas moral di tangan guru menunjuk ke arah integritas dan tanggung jawab, generasi digital akan mampu berlayar melintasi samudra teknologi, mengambil manfaatnya tanpa tersesat, dan pada akhirnya, menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermartabat.

DAFTAR PUSTAKA

Agnia, A. S. G. N., Furnamasari, Y. F., & Dewi, D. A. (2021). Pengaruh kemajuan teknologi terhadap pembentukan karakter siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai5(3), 9331-9335.

Ngafifi, Muhamad. 2014.”Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam Perspektif Sosial Budaya”. Jurnal Pembangunan Pendidikan : Pondasi dan Aplikasi.

 

Post a Comment

0 Comments