Oleh : Lutfi Khasanah (20624006)
Pendahuluan
Di tengah derasnya arus globalisasi
dan pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan Indonesia sedang
menghadapi tantangan baru. Generasi muda saat ini sangat dekat dengan internet,
media sosial, dan budaya dari luar. Mereka bisa mendapatkan informasi dari
seluruh dunia hanya dengan menggunakan ponsel mereka. Hal ini memberikan banyak
kesempatan, tetapi juga ada risiko terhadap hilangnya identitas bangsa dan
berkurangnya rasa cinta kepada negara.
Dalam konteks inilah, peringatan
Hari Guru Nasional 2025 menjadi kesempatan yang sangat berarti untuk menekankan
kembali peran guru sebagai pendorong utama pendidikan karakter. Guru tidak
hanya bertugas dalam hal akademik, tetapi juga sebagai pembimbing moral,
penjaga nilai-nilai, dan agen yang membangun semangat kebangsaan. Saat generasi
digital semakin terpapar oleh budaya dari seluruh dunia, peran guru menjadi
sangat penting untuk memastikan rasa cinta tanah air tetap kuat meski banyaknya
informasi yang masuk. Seperti yang dikatakan oleh Rahmawati (2021), guru di
abad ke-21 perlu memiliki kemampuan mengajar, kemampuan sosial, dan kemampuan
digital sambil tetap menjadi panutan dalam mengajarkan nilai-nilai kebangsaan.
Isi
Menanamkan cinta tanah air pada
generasi digital bukanlah tugas yang sederhana. Generasi ini hidup dalam dunia
yang serba cepat, terbuka, dan lebih banyak terpapar budaya global daripada
budaya lokal. Arus informasi yang datang dari berbagai belahan dunia membuat
nilai-nilai nasional sering kali terpinggirkan. Di tengah kondisi tersebut,
peran guru menjadi semakin penting. Guru masa kini harus mampu mengintegrasikan
nilai-nilai nasionalisme ke dalam pembelajaran melalui cara yang kreatif,
menarik, dan sesuai dengan karakter siswa. Pembelajaran dapat dikaitkan dengan
kehidupan mereka sehari-hari, memanfaatkan teknologi, serta menghadirkan
kegiatan yang memberi pengalaman nyata tentang makna cinta tanah air. Dengan
pendekatan yang kontekstual dan relevan, guru dapat menumbuhkan nasionalisme
yang tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati oleh generasi digital.
Pertama, guru dapat memanfaatkan
teknologi untuk memperkenalkan budaya dan sejarah bangsa dengan cara yang lebih
menarik dan relevan bagi generasi digital. Melalui media digital seperti video
dokumenter, animasi edukatif, podcast, atau platform pembelajaran interaktif,
siswa dapat diajak mengenal pahlawan nasional, kekayaan budaya Nusantara, serta
perjalanan sejarah Indonesia dengan pengalaman belajar yang lebih hidup dan
mudah dipahami. Guru juga dapat melibatkan siswa dalam pembuatan konten
digital, seperti vlog budaya lokal atau infografik tokoh bangsa, sehingga
mereka bukan hanya menerima informasi, tetapi juga ikut berkontribusi dalam
melestarikan nilai kebangsaan. Pendekatan berbasis teknologi ini menjadikan
pembelajaran lebih menyenangkan, sesuai dengan karakter visual dan kreatif
generasi digital, sehingga nilai nasionalisme dapat tertanam secara alami tanpa
terkesan menggurui.
Kedua, guru perlu menjadi teladan
nyata dalam kehidupan sehari-hari karena nilai cinta tanah air tidak cukup
diajarkan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan
konkret. Ketika guru menunjukkan kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, serta
rasa hormat terhadap perbedaan suku, agama, dan budaya, siswa akan melihat
langsung bagaimana perilaku seorang warga negara yang mencintai bangsanya.
Sikap sederhana seperti menggunakan produk lokal, menjaga kebersihan lingkungan
sekolah, aktif dalam kegiatan sosial, atau menunjukkan kebanggaan terhadap
identitas Indonesia dapat menjadi contoh hidup bagi siswa. Keteladanan ini jauh
lebih berpengaruh daripada sekadar menyampaikan teori dalam buku, karena siswa
cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang hanya mereka dengar.
Dengan menjadi figur yang konsisten dan autentik, guru dapat menanamkan
nasionalisme yang kuat dan melekat pada diri generasi muda.
Ketiga, guru dapat mengajak siswa
terlibat dalam berbagai kegiatan berbasis proyek (project-based learning) yang
berfokus pada isu kebangsaan sebagai upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap
bangsa melalui pengalaman langsung. Melalui proyek seperti pembuatan konten
kreatif tentang budaya lokal, dokumentasi tradisi daerah, proyek literasi
sejarah, hingga kampanye digital mengenai pentingnya menjaga persatuan, siswa
tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mengaplikasikan pengetahuan
mereka dalam konteks nyata. Pendekatan ini memberi ruang bagi kreativitas,
kolaborasi, dan pemecahan masalah, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan
kekayaan budaya serta tantangan yang dihadapi bangsa. Dengan keterlibatan aktif
semacam ini, nilai-nilai nasionalisme dapat berkembang secara lebih alami dan
bermakna dalam diri siswa.
Keempat, guru juga perlu membangun
dialog terbuka dengan siswa sebagai cara untuk menanamkan nilai nasionalisme
secara lebih rasional dan relevan bagi generasi masa kini. Generasi digital
cenderung kritis, penuh rasa ingin tahu, dan memiliki perspektif yang
dipengaruhi oleh informasi global, sehingga mereka membutuhkan ruang aman untuk
bertanya, berdiskusi, serta mengungkapkan pandangan mereka tentang isu
identitas, globalisasi, dan tantangan kebangsaan. Dalam situasi ini, guru
berperan sebagai pendamping yang tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga
membantu siswa mengolah informasi, melihat persoalan dari berbagai sudut
pandang, dan menarik kesimpulan yang matang. Melalui komunikasi yang sehat dan
dialog yang setara, nilai-nilai nasionalisme dapat dipahami bukan sebagai
doktrin, melainkan sebagai kesadaran yang tumbuh dari pemahaman yang kritis dan
pengalaman nyata dalam kehidupan mereka.
Penutup
Di era globalisasi, menjadi guru
hebat bukan hanya tentang menguasai teknologi atau memahami metode pembelajaran
terbaru, tetapi juga tentang kemampuan menjaga nilai-nilai kebangsaan tetap
hidup dalam diri generasi muda. Arus informasi yang begitu cepat membuat
peserta didik lebih mudah mengenal budaya luar dibanding budaya sendiri,
sehingga cinta tanah air tidak lagi cukup diajarkan secara verbal atau melalui
hafalan nilai. Guru harus mampu menghadirkannya lewat keteladanan, kreativitas,
serta pemanfaatan teknologi yang dekat dengan dunia siswa. Dengan memadukan
integritas pribadi, inovasi dalam pembelajaran, dan penggunaan media digital
yang inspiratif, guru dapat menumbuhkan kesadaran nasionalisme yang relevan,
kontekstual, dan mudah diterima oleh generasi digital. Melalui pendekatan
semacam ini, nilai kebangsaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan dan
dihayati oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Pada Hari Guru Nasional 2025 ini,
marilah kita menghargai dedikasi para guru yang terus bekerja dalam sunyi untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru adalah lentera peradaban yang meski dunia
berubah begitu cepat, tetap setia menuntun generasi muda agar tidak kehilangan
arah. Semoga para guru Indonesia terus diberi kekuatan untuk menjadi inspirasi,
menjadi teladan, dan menjadi pilar utama yang menjaga martabat bangsa di tengah
gelombang globalisasi. Selamat Hari Guru Nasional, Guru Hebat, Indonesia
Bermartabat!
REFERENSI
Rahmawati, S. (2021). Kompetensi
Guru Abad 21 dan Tantangannya dalam
penanaman Nilai Kebangsaan.
Jurnal Ilmu Pendidikan Nasional, 9(1), 56–67.
Sudirman, R. (2020). Dampak
Globalisasi terhadap Identitas Nasional Remaja
Indonesia. Jurnal Sosiologi Pendidikan, 7(2), 88–100.
0 Comments