Naf`a Rohmaniyya
20624021
Etika Profesi Keguruan
Kelas B
Saat
ini teknologi digital telah mengalami transformasi secara besar-besaran, khususnya
dalam dunia pendidikan Indonesia. Di tengah arus transformasi tersebut, peran
guru semakin bertambah dan krusial. Hari Guru Nasional 2025 kali ini akan hadir
dengan makna yang lebih mendalam, karena sekarang peran guru tidaklah sebatas
pendidik, melainkan juga sebagai inovator, pembimbing digital, dan penjaga karakter
peserta didik. Tema Hari Guru Nasional tahun ini yang berbunyi “Guru Hebat,
Indonesia Bermartabat di Era Digital” menggambarkan kebutuhan bangsa akan kehadiran
guru yang mampu menjadi perantara kemajuan teknologi dengan sistem pembelajaran
yang humanis. Dalam hal ini, kolaborasi antara guru dan teknologi bukanlah
suatu trend semata, melainkan telah menjadi kebutuhan mendesak untuk peningkatan
mutu pembelajaran sekaligus menjaga martabat pendidikan Indonesia. Esai ini
berupaya menghadirkan refleksi dan argumentasi tentang bagaimana kolaborasi
antara guru dan teknologi dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan sesuai
dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan nilai humanis yang menjadi inti
pendidikan.
Transformasi
peran guru dalam lingkup digital bukan berarti pergeseran otoritas, melainkan
perluasan ruang kontribusi. Menurut Wijaya (2020), guru di era digital dituntut
memiliki empat kompetensi utama: pedagogik, kepribadian, sosial, dan
profesional, yang kini harus ditopang oleh literasi digital yang memadai. Seorang
guru disebut hebat bukanlah karena kemampuan penguasaannya terhadap semua
teknologi, tetapi seorang guru dapat disebut hebat jika dia mempunyai keinginan
untuk terus belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi yang tepat guna meningkatkan
kualitas pembelajaran. Kini banyak guru yang awalnya asing terhadap teknologi telah
mahir dalam mengelola kelas secara virtual, memanfaatkan platform pembelajaran,
atau menggunakan bantuan alat evaluasi seperti kecerdasan buatan. Transformasi
ini hadir bukanlah karena tuntutan kurikulum semata, tetapi karena kesadaran
bahwa generasi zaman sekarang telah bergeser ke pembelajaran dengan cara yang
berbeda. Teknologi menjadi konsumsi sehari-hari bagi para siswa, oleh karena
itu guru diharuskan menguasai teknologi lebih baik dari peserta didik agar
lebih mudah menjangkau pikiran serta perhatian mereka. Hal ini menunjukkan
bahwa guru hebat tidak lahir dari kecanggihan alat, melainkan dari kemauan
mereka untuk terus berkembang dan belajar.
Di
samping itu, kolaborasi antara guru dan teknologi kini telah menciptakan
peluang dalam mewujudkan pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif. Teknologi
digital memudahkan siswa mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana
saja, karena itu pembelajaran tidaklah lagi terikat oleh ruang dan waktu.
Selain itu, teknologi dapat membantu guru dalam pemilihan metode pembelajaran
sesuai kebutuhan siswa. Misalnya, platform berbasis kecerdasan buatan dapat
memberikan rekomendasi materi sesuai kemampuan individu. Namun, keberhasilan
proses ini sangat bergantung pada kemampuan pengintegrasian teknologi seorang
guru dalam mendesain pembelajaran yang tepat. Menurut Prasetyo & Rahmawati
(2022), digitalisasi pendidikan yang tidak dibarengi penguatan kompetensi guru
justru dapat menimbulkan kesenjangan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan
dukungan yang berkelanjutan bagi seorang guru seperti pelatihan, komunitas
belajar, dan akses teknologi yang memadai. Kerja sama yang baik antara guru dan
teknologi tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga dapat menguatkan
posisi guru sebagai pilar utama dalam pendidikan bangsa.
Beberapa
hasil pengalaman di lapangan menunjukkan inspirasi nyata dari adanya sinergi
ini. Marheni Widya, seorang guru kelas 6 di SD Negeri Sendangmulyo 04, Semarang
memanfaatkan fitur Reading Progress pada Microsoft Teams untuk meningkatkan
minat literasi dan keterampilan membaca murid terhadap teks berbahasa Inggris. Metode
ini dapat menganalisis hasil rekaman video atau audio pada saat murid membaca
sebuah teks. Hal tersebut tentunya dapat membantu murid untuk meningkatkan
keterampilan membaca secara efisien. Pengalaman ini sejalan dengan temuan
Arsyad (2021) bahwa kombinasi media digital dan strategi pedagogis aktif
meningkatkan motivasi sekaligus pemahaman siswa. Inspirasi lain juga datang
dari komunitas guru literasi digital yang saling berbagi praktik baik melalui
grup daring maupun secara tatap muka. Melalui komunitas ini, para guru dapat
saling berbagi rancangan pembelajaran, aplikasi edukasi, dan strategi
menghadapi siswa digital native. Adanya komunitas ini telah menjadi bukti nyata
bahwa teknologi tidak hanya menjadi perantara antara guru dengan siswa, tetapi
juga guru dengan guru lainnya. Dari sinilah lahir budaya belajar sepanjang
hayat, yang merupakan salah satu fondasi utama pendidikan bermartabat.
Pembelajaran
berkualitas di era digital menuntut guru untuk lebih dari sekadar menggunakan
teknologi saja, guru juga dituntut untuk dapat memahami kapan saja waktu yang tepat
dan kurang tepat dalam penggunaan teknologi digital. Inilah bentuk kearifan
pedagogis yang petlu dibangun. Karena teknologi tidak dapat menggantikan peran
guru dalam penanaman nilai karakter, empati, dan rasa tanggung jawab sosial
peserta didik. UNESCO (2021) menekankan bahwa pendidikan masa depan harus
menjaga keseimbangan antara kecakapan digital dan nilai-nilai kemanusiaan agar
peserta didik tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pribadi
yang beretika dan berkarakter. Dalam hal ini, guru berperan penting sebagai fondasi
utama dalam pembentukan moral dalam era digital, karena esensi pendidikan
sebagai proses memanusiakan manusia tidak dapat diambil alih perannya oleh
teknologi. Kolaborasi guru dan teknologi dikatakan sukses apabila keduanya
dapat terlaksana dengan beriringan, dimana teknologi menguatkan aspek kognitif
dan guru menguatkan aspek afektif dan karakter.
Sehingga
untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat di era digital ini, kita membutuhkan
peran guru diluar peran mengajarnya, tetapi juga peran dalam menginspirasi dan mengarahkan
peserta didik. Guru hebat adalah mereka yang menjadikan teknologi sebagai
mitra, bukan ancaman. Hari Guru Nasional 2025 ini akan menjadi momen penting atas
pengakuan perjuangan guru dalam beradaptasi dan berinovasi terhadap
perkembangan teknologi dan zaman, sekaligus bentuk ajakan kepada semua elemen
bangsa untuk mendukung peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru. Jika guru
semakin kuat maka pendidikan akan semakin bermakna, dan jika pendidikan
bermartabat maka masa depan bangsa pun terangkat. Oleh karena itu, kita harus
terus menjaga semangat perjalanan bersama atas transformasi pendidikan di era
digital. Seperti ungkapan yang layak direnungkan, “Ketika guru mengajar dengan
hati dan teknologi berjalan di sisi, Indonesia melangkah menuju masa depan yang
lebih bermartabat.”
DAFTAR
PUSTAKA
Arsyad, A. (2021). Media
Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Prasetyo, B., & Rahmawati, E.
(2022). Tantangan Transformasi Digital di Sekolah. Jurnal Inovasi Pendidikan,
14(3), 112–124.
UNESCO. (2021). AI and the
Future of Learning. Paris: UNESCO Publishing.
Wijaya, I. (2020). Kompetensi Guru
di Era Digital. Jurnal Pendidikan dan Teknologi, 5(2), 45–56.
0 Comments