Rofiqotul Aini NIM 53325002
Program Studi Doktor PAI
Pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Pendahuluan
Pendidikan
memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis sejak dini melalui
proses internalisasi nilai, sikap, dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap
lingkungan. Dalam konteks ini, konsep green learning atau pembelajaran
berbasis lingkungan menjadi pendekatan yang relevan untuk mengintegrasikan
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dalam memahami dan
mencintai lingkungan hidupnya (UNESCO, 2017).
Green
learning tidak sekedar memanfaatkan lingkungan sebagai
media belajar, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keberlanjutan (sustainability
values) yang berorientasi pada pembentukan karakter peduli lingkungan.
Pendidikan karakter berbasis lingkungan ini menjadi semakin penting dalam
konteks lokal, seperti konsep “cinta banua” yakni kecintaan terhadap tanah
kelahiran yang mencakup kepedulian terhadap alam, budaya, dan kearifan lokal.
Penanaman nilai cinta banua melalui pendidikan diharapkan mampu membangun
identitas ekologis peserta didik serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam
menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya (Suyadi, 2013).
Sejumlah
penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan lingkungan
nyata sebagai sumber belajar mampu meningkatkan kesadaran ekologis, sikap
tanggung jawab, dan perilaku pro-lingkungan pada peserta didik. Hal ini sejalan
dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menekankan pentingnya education
for sustainable development (ESD), yaitu pendidikan yang tidak hanya
berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter
dan kompetensi untuk menghadapi tantangan global secara berkelanjutan (UNESCO,
2017).
Relevansi
pendekatan ini semakin menguat dalam momentum Hari Pendidikan Nasional
(Hardiknas) 2026, yang menegaskan kembali pentingnya transformasi pendidikan
menuju sistem yang lebih adaptif, berkarakter, dan berkelanjutan. Peringatan
Hardiknas tidak hanya menjadi refleksi atas capaian pendidikan nasional, tetapi
juga menjadi titik tolak untuk memperkuat integrasi nilai-nilai ekologis dan
kearifan lokal dalam praktik pembelajaran. Dalam konteks ini, green learning
berperan sebagai strategi konkret untuk mewujudkan pendidikan yang tidak hanya
mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam
menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari identitas kebangsaan.
Dalam
konteks pendidikan di Indonesia, penguatan karakter melalui pendekatan berbasis
lingkungan menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya
cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis.
Oleh karena itu, konsep model Green Learning for Bright Future menjadi
upaya inovatif dalam mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis lingkungan
dengan nilai-nilai lokal seperti cinta banua, sehingga mampu menciptakan
generasi masa depan yang berkarakter, berbudaya, dan berwawasan lingkungan.
Pembahasan
Menguatkan Karakter melalui Cinta Banua di Era
Modern
Di
tengah arus globalisasi, kedekatan anak dengan lingkungan lokalnya mulai
terkikis. Banyak yang lebih akrab dengan dunia digital daripada realitas
sekitarnya. Konsep “cinta banua” menjadi penting untuk mengembalikan
keterikatan itu. Melalui pembelajaran berbasis lingkungan, peserta didik diajak
mengenal, merawat, dan merasa memiliki alam serta budaya di sekitarnya.
Menguatkan
karakter melalui cinta banua merupakan strategi yang relevan dalam menghadapi
arus globalisasi. Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, generasi muda sering
kali mengalami keterputusan dengan identitas lokalnya. Cinta banua yang
mencakup rasa memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan
sosial dan alam sekitar dapat menjadi fondasi pembentukan karakter yang kuat.
Nilai-nilai seperti gotong royong, kepedulian terhadap alam, serta penghargaan
terhadap tradisi lokal menjadi penyeimbang terhadap budaya instan dan
individualistik yang kian dominan.
Dalam
konteks pendidikan, penguatan karakter berbasis cinta banua dapat
diintegrasikan melalui pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan
peserta didik. Misalnya, kegiatan eksplorasi lingkungan, pengenalan budaya
lokal, hingga proyek berbasis komunitas mampu menumbuhkan kesadaran ekologis
dan sosial secara simultan. Pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada aspek
kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi afektif dan moral. Dengan demikian, peserta
didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial
dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dari Pengetahuan ke Aksi: Tantangan Nyata
Pendidikan Saat Ini
Salah
satu kritik terhadap pendidikan adalah terlalu menekankan “tahu” dibanding
“melakukan”. Banyak siswa paham tentang isu lingkungan, tapi belum tentu
bertindak ramah lingkungan. Green learning menjembatani kesenjangan ini
dengan menghadirkan pengalaman nyata: menanam, mengelola sampah, hingga
observasi lingkungan sekitar. Dalam semangat Hardiknas, pendidikan idealnya
tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi mendorong perubahan perilaku yang
konkret dan berkelanjutan.
Salah
satu persoalan mendasar dalam pendidikan saat ini adalah adanya jarak antara
apa yang diketahui peserta didik dan apa yang mereka lakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Tidak sedikit siswa yang mampu menjelaskan konsep pelestarian
lingkungan, perubahan iklim, atau pentingnya menjaga kebersihan, namun belum
tentu menerapkannya secara konsisten. Kondisi tersebut tidak lepas dari
pendekatan pembelajaran yang masih dominan bersifat teoritis dan berorientasi
pada capaian akademik semata. Penilaian yang lebih menitikberatkan pada hasil
ujian seringkali membuat aspek sikap dan praktik menjadi kurang mendapatkan
perhatian. Akibatnya, nilai-nilai yang diajarkan di ruang kelas tidak selalu
terinternalisasi dalam tindakan.
Dalam
konteks pendidikan lingkungan, hal ini menjadi tantangan serius karena tujuan
utamanya bukan sekadar memahami isu, tetapi juga membangun kebiasaan dan
tanggung jawab terhadap lingkungan. Di sinilah pentingnya pergeseran paradigma
menuju pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis pengalaman, seperti green
learning. Pendekatan ini membuka ruang bagi peserta didik untuk belajar melalui
interaksi langsung dengan lingkungan nyata. Pada dasarnya ketika siswa
“mengalami”, mereka cenderung lebih mudah “menghayati” dan akhirnya
“melakukan”.
Selain
itu, peran lingkungan sekolah sebagai ekosistem pendidikan juga menjadi kunci
dalam menjembatani pengetahuan dan aksi. Sekolah yang konsisten menerapkan
budaya ramah lingkungan seperti pengurangan plastik, program kebersihan rutin,
atau pemanfaatan ruang hijau akan memberikan contoh konkret bagi peserta didik.
Kebiasaan yang dibangun secara kolektif ini perlahan membentuk karakter dan
pola pikir yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi hanya
berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik sosial yang terus
diulang dan dibiasakan.
Peran Guru sebagai Agen Perubahan Ekologis
Tidak
bisa dipungkiri, keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada guru. Dalam
konteks green learning, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga
fasilitator dan role model dalam berperilaku ramah lingkungan. Guru yang
kreatif bisa mengubah lingkungan sekitar menjadi “kelas hidup” yang kaya makna.
Peran
guru dalam konteks pendidikan modern tidak lagi terbatas sebagai penyampai
materi, tetapi berkembang menjadi agen perubahan yang mampu membentuk cara
pandang dan perilaku peserta didik. Dalam isu lingkungan, posisi ini menjadi
sangat strategis karena guru berada di garis depan dalam menanamkan kesadaran
ekologis sejak dini. Apa yang dikatakan dan dilakukan guru di kelas—bahkan
kebiasaan kecil yang mereka tunjukkan seringkali menjadi rujukan bagi siswa
dalam bersikap terhadap lingkungan.
Sebagai
agen perubahan ekologis, guru dituntut untuk tidak hanya memahami konsep
keberlanjutan, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam praktik pembelajaran
yang kontekstual. Ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengaitkan
materi pelajaran dengan isu lingkungan sekitar, hingga merancang kegiatan
berbasis proyek yang melibatkan siswa secara aktif. Ketika pembelajaran tidak
lagi bersifat abstrak, melainkan dekat dengan realitas kehidupan siswa, maka nilai-nilai
ekologis lebih mudah dipahami sekaligus diinternalisasi.
Lebih
dari itu, guru juga berperan sebagai teladan. Peserta didik cenderung meniru
apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang mereka dengar. Guru yang konsisten
menunjukkan perilaku ramah lingkungan—seperti mengurangi penggunaan plastik,
menjaga kebersihan, atau memanfaatkan sumber daya secara bijak—secara tidak
langsung sedang membangun budaya ekologis di lingkungan sekolah. Keteladanan
ini menjadi bentuk pendidikan karakter yang paling efektif karena berlangsung
secara alami dan berkelanjutan.
Namun,
peran strategis ini tentu membutuhkan dukungan yang memadai. Guru perlu
diberikan ruang untuk berinovasi, pelatihan yang relevan, serta kebijakan
sekolah yang mendukung penerapan pendidikan berbasis lingkungan. Tanpa dukungan
sistemik, upaya guru seringkali menjadi terbatas dan tidak berkelanjutan. Oleh
karena itu, dalam momentum seperti Hari Pendidikan Nasional, penting untuk
tidak hanya menyoroti peran guru secara normatif, tetapi juga memastikan adanya
penguatan kapasitas dan ekosistem yang memungkinkan mereka menjalankan peran
tersebut secara optimal.
Menuju Pendidikan Berkelanjutan: Harapan Pasca
Hardiknas
Hardiknas
seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan simbolik, tetapi berlanjut menjadi
gerakan nyata. Integrasi green learning dalam sistem pendidikan bisa
menjadi salah satu langkah konkret menuju pendidikan berkelanjutan. Harapannya,
setelah Hardiknas 2026, semakin banyak satuan pendidikan yang tidak hanya
berbicara tentang lingkungan, tetapi benar-benar menjadikannya bagian dari
budaya sekolah. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya mencetak generasi cerdas,
tetapi juga generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap masa depan bumi
Hardiknas
sering terasa seperti puncak perayaan, padahal yang lebih penting justru apa
yang terjadi setelahnya. Jika momentum ini dimaknai sebagai titik dorong, maka
agenda berikutnya adalah memastikan nilai-nilai yang digaungkan termasuk
kepedulian lingkungan benar-benar masuk ke praktik sehari-hari di sekolah.
Pendidikan berkelanjutan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebijakan yang
konsisten, kebiasaan yang diulang, dan komitmen yang dijaga dalam jangka
panjang.
Isu
keberlanjutan tidak cukup ditempatkan sebagai tema sesekali, melainkan perlu
menjadi lensa dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Di sini, green
learning berfungsi sebagai jembatan yang mengaitkan konsep akademik dengan
realitas ekologis di sekitar siswa. Ketika siswa melihat bahwa apa yang mereka
pelajari relevan dengan kehidupan nyata, peluang untuk membentuk sikap dan
kebiasaan berkelanjutan menjadi jauh lebih besar.
Harapan
pasca Hardiknas juga menyentuh aspek tata kelola. Sekolah perlu bergerak sebagai
ekosistem yang memberi contoh mulai dari pengelolaan sampah, efisiensi energi,
hingga pemanfaatan ruang hijau. Upaya ini akan lebih kuat jika didukung oleh
kebijakan daerah dan kemitraan dengan komunitas lokal. Dengan begitu,
pendidikan tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari gerakan sosial
yang lebih luas dalam menjaga lingkungan.
Di sisi
lain, penguatan kapasitas guru tetap menjadi kunci. Tanpa dukungan pelatihan
dan ruang inovasi, gagasan pendidikan berkelanjutan mudah berhenti di level
wacana. Guru perlu difasilitasi untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang
kreatif, kontekstual, dan berdampak nyata. Ketika guru bergerak, perubahan di
kelas bisa terjadi lebih cepat dan terasa langsung oleh peserta didik.
Penutup
Pada
akhirnya, harapan terbesar dari Hardiknas bukan hanya peningkatan capaian
akademik, tetapi lahirnya generasi yang mampu hidup selaras dengan
lingkungannya. Pendidikan berkelanjutan mengajak kita berpikir lebih jauh dari
sekadar “hari ini berhasil”, menuju “masa depan yang layak dihuni”. Tantangannya
memang tidak ringan, tetapi justru di situlah relevansi pendidikan diuji apakah
ia mampu menjawab kebutuhan zaman, atau tertinggal oleh perubahan yang semakin
cepat.
Referensi
UNESCO.
(2017). Education for Sustainable Development Goals: Learning Objectives.
Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Suyadi.
(2013). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
).png)
0 Comments