Di tengah arus
perubahan iklim dan krisis lingkungan global, sekolah tak lagi sekadar ruang
belajar, melainkan arena pembentukan kesadaran masa depan. Pendidikan kini
dituntut menjawab tantangan zaman, bukan hanya mencetak lulusan cerdas secara
akademik, tetapi juga generasi yang peduli terhadap keberlanjutan. Dalam
kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4, pendidikan
berkualitas diarahkan untuk menjamin akses yang inklusif, merata dan
berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat bagi semua lapisan masyarakat (Buku sekolah ID, n.d.). Bahkan, pendidikan diakui memiliki
peran strategis sebagai penggerak utama pembangunan berkelanjutan karena mampu
membentuk nilai, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan
yang lebih berkelanjutan (BINUS University, 2024). Di sinilah
konsep ‘’sekolah hijau’’ menemukan relevansinya menjadikan lingkungan sebagai
bagian integral dari proses pendidikan.
Gagasan sekolah
hijau bukan sekadar menanam pohon di halaman sekolah. Ia merupakan pendekatan
pendidikan berbasis Education for Sustainable Development (ESD) yang
menekankan integrasi nilai lingkungan, sosial dan ekonomi dalam pembelajaran.
Sekolah dalam hal ini memiliki posisi strategis untuk menanamkan perilaku
berkelanjutan sejak dini melalui kurikulum, budaya sekolah hingga praktik
sehari-hari (Gianini Sonnevil, 2025). Di Indonesia beberapa inisiatif
telah muncul, seperti sekolah ramah lingkungan yang dirancang sebagai model
praktik baik untuk mendukung SDGs, sekaligus membentuk generasi yang sadar
lingkungan dan tanggap terhadap perubahan zaman (Yulia Suryanti, 2025).
Namun realitas
di lapangan menunjukkan bahwa integrasi SDGs dalam pendidikan Indonesia masih
berjalan tersendat. Kurikulum nasional kerap lebih menitikberatkan capaian
akademik ketimbang nilai keberlanjutan, sehingga pendidikan lingkungan belum
menjadi arus utama dalam pembelajaran (Septiyaningsih, 2025). Padahal pendidikan berbasis SDGs
tidak hanya berbicara soal pengetahuan, tetapi juga membangun karakter,
keterampilan berpikir kritis serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
global. Tanpa transformasi kurikulum yang menyeluruh, konsep sekolah hijau
berpotensi berhenti sebagai simbol bukan sistem.
Persoalan lain
yang tak kalah mendesak adalah ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia.
Data menunjukkan bahwa mutu pendidikan nasional masih tertinggal dibandingkan
banyak negara lain dengan berbagai indikator internasional menempatkan
Indonesia pada posisi yang belum menggembirakan (Milati
& Nugraheni, 2024). Ketimpangan akses di daerah terpencil dan wilayah 3T (terdepan,
terluar dan tertinggal) juga menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pendidikan
inklusif sebagaimana diamanatkan SDG 4 (BINUS University, 2024). Dalam konteks
ini, konsep sekolah hijau harus mampu menjangkau seluruh wilayah bukan hanya
menjadi privilese sekolah perkotaan.
Meski demikian,
peluang tetap terbuka masih sangat mungkin sekali dilakukan. Transformasi
pendidikan melalui program seperti Merdeka Belajar dan penguatan peran guru
sebagai agen perubahan menunjukkan arah baru yang lebih adaptif terhadap
kebutuhan zaman (Itjen Kemendikbudristek, 2024). Guru tidak
lagi sekadar pengajar, tetapi fasilitator yang mampu mengintegrasikan
nilai-nilai keberlanjutan dalam proses belajar. Dengan dukungan kebijakan yang
tepat, sekolah dapat menjadi pusat inovasi yang mendorong perubahan perilaku
masyarakat menuju gaya hidup berkelanjutan.
Pada akhirnya,
pertanyaan apakah pendidikan Indonesia mampu menjadi motor pembangunan
berkelanjutan bergantung pada komitmen bersama. Sekolah hijau bukan sekadar
konsep ideal melainkan kebutuhan mendesak di tengah krisis global. Jika pendidikan
mampu bertransformasi mengintegrasikan nilai SDGs dalam kurikulum, memperkuat
kapasitas guru, memperhatikan kesejahteraan mereka dan memastikan akses yang
merata, maka sekolah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan
generasi penjaga masa depan bangsa kita. Sebab di ruang kelas hari ini arah
pembangunan Indonesia esok hari sedang ditentukan.
Referensi
BINUS University. (2024). Peran Pendidikan dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) – S1 Creativepreneurship. https://binus.ac.id/bandung/creativepreneurship/2024/07/16/peran-pendidikan-dalam-mencapai-tujuan-pembangunan-berkelanjutan-sdg/
Buku sekolah ID. (n.d.). Peran Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Masa Depan Pendidikan - BUKUSEKOLAH.ID. Retrieved April 30, 2026, from https://bukusekolah.id/peran-sustainable-development-goals-sdgs-dalam-masa-depan-pendidikan/
Gianini Sonnevil. (2025, February). MELIHAT LEBIH DEKAT IMPLEMENTASI SEKOLAH BERKELANJUTAN. https://www.wwf.id/id/blog/melihat-lebih-dekat-implementasi-sekolah-berkelanjutan?utm_source=chatgpt.com
Itjen Kemendikbudristek. (2024). Transformasi Pendidikan Indonesia Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan melalui Merdeka Belajar – Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen. https://itjen.kemendikdasmen.go.id/web/?p=9358&utm_source=chatgpt.com
Milati, A., & Nugraheni, N. (2024). Peran SDGS Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(11), 287–291. https://doi.org/10.5281/zenodo.14286335
Septiyaningsih, I. C. (2025, February). Kurikulum dan SDGs: Sudahkan Pendidikan Indonesia Berorientasi Pada Masa Depan? – mocimu.id. https://mocimu.id/kurikulum-dan-sdgs-sudahkan-pendidikan-indonesia-berorientasi-pada-masa-depan/?utm_source=chatgpt.com
Yulia Suryanti. (2025, September). Generasi Hijau dari Sekolah Rakyat: Pendidikan Gratis, Masa Depan Berkelanjutan | Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. https://kemenlh.go.id/news/detail/generasi-hijau-dari-sekolah-rakyat-pendidikan-gratis-masa-depan-berkelanjutan?utm_source=chatgpt.com
)%20(1).png)
0 Comments