Muhamad Basuki
Rahmat
Pendahuluan
Perkembangan era digital yang
terjadi semakin pesat membawa perubahan pola perilaku dan karakter peserta
didik. Akses yang begitu mudah terhadap informasi ternyata tidak selalu
berbanding lurus dengan kualitas moral dan spiritual siswa. Krisis karakter
seperti menurunnya kedisiplinan, empati sosial serta rendahnya religiusitas,
menjadi tantangan dalam dunia pendidikan.
Melihat fakta tersebut
pemerintah melalui Kemendikdasmen mencanangkan suatu gerakan “7 Kebiasaan Anak
Indonesia Hebat” (7 KAIH) sejak 27 Desember 2024. Gerakan ini merupakan langkah
strategis yang mengintegrasikan pola hidup atau kebiasaan (habit) ke dalam kehidupan siswa di Indonesia. Tujuan utama
pemerintah melaksanakan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat adalah untuk
membangun fondasi karakter dan kesehatan fisik/mental yang kuat sebagai modal
penting menuju Visi Indonesia Emas 2045 (Sinulingga, 2025).
Pertanyaan yang muncul
dan menggelitik dari gerakan ini adalah apakah gerakan ini sudah berdampak pada
siswa baik di rumah, sekolah dan masyarakat? Selanjutnya bagaimana agar gerakan
ini dapat terlaksana dan berdampak massif bagi siswa, orang tua dan sekolah?.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai otokritik penulis sebagai pendidik
sekaligus orang tua yang memiliki anak yang masih duduk dibangku sekolah.
Harapannya diskusi yang konstruktif dapat membuat gerakan ini menjadi lebih
berdampak serta bermakna sesuai tujuan yang diharapkan.
Dalam konteks ini, pendidikan
Islam sangatlah penting untuk turut hadir serta memberikan sumbangsih nyata.
Mengapa demikikan? Karena pendidikan Islam mememiliki peran strategis dalam membangun
keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Yang muaranya
akan berkahir pada karakter atau akhlak yang mulia sesuai ajaran Islam.
Karakter, 7 KAIH, dan Pendidikan
Islam
Menurut Lickona (2013) pendidikan
karakter mencakup moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral
feeling (perasaan tentang moral), moral action (perbuatan moral).
Mengacu pada teori tersebut maka karakter di sekolah dapat dilakukan dengan
pembiasaan (habituation) yang dilakukan secara terencana, konsisten,
kolaborasi dan terintegrasi.
Dalam paradigma
pendidikan Islam, pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari tiga pilar
utama yaitu iman, ibadah, dan akhlak. Ketiganya merupakan satu kesatuan
integratif yang membentuk kepribadian manusia secara holistik. Pendidikan Islam
yang mengintegrasikan iman, ibadah, dan akhlak secara seimbang dan
berkelanjutan mampu menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memahami ajaran
Islam secara kognitif, tetapi juga menghayati dan mengamalkannya dalam
kehidupan nyata (Sindi, A., & Suniarti, N, 2025).
Penulis berasumsi gerakan
ini akan terlihat berdampak pada siswa baik di sekolah, rumah dan masyarakat,
jika direkontruksi dengan mengintegrasi pendidikan Islam. Hal ini terjadi
karena dalam pendidikan Islam ada iman (keyakinan). Gerakan 7 KAIH tersebut
akan dilakukan bukan saja karena terbiasa, tetapi karena kesadaran bahwa
perilaku yang dilakukan bernilai ibadah. Akibatnya karakter akan lebih kuat,
tahan lama dan tidak mudah goyah ditengah maraknya arus informasi yang
berkonten negatif.
Adapun 7 KAIH yang
menjadi tujuan dari gerakan ini adalah menanamkan pola hidup sehat dan
pembentukan karakter unggul melalui kebiasaan bangun pagi, beribadah,
berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur
cepat. Kebiasaan-kebiasaan ini sangat berhubungan erat dalam diri peserta didik
sehari-hari. Kebiasaan tersebut mencakup aspek fisik, spiritual, intelektual,
dan sosial.
Menariknya,
kebiasaan-kebiasaan tersebut sejatinya memiliki keselarasan dengan ajaran
Islam. Dimana dalam ajaran Islam tidak
hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga mengatur pola hidup sehari-hari
yang mencakup kesehatan, kebersihan, disiplin, dan interaksi sosial. Jika
kebiasaan ini dapat dilaksanakan dengan baik oleh siswa, maka generasi yang
cerdas intelektual, emosional dan spiritual dapat terwujud.
Menurut hemat penulis gerakan
7 KAIH ini menjadi relevan untuk direkonstruksi melalui integrasi dalam
kerangka pendidikan Islam kontemporer agar tidak sekadar menjadi program
perilaku, tetapi juga menjadi sistem pembentukan karakter berbasis nilai-nilai
ilahiah.
Dalam kajian psikologi
modern, habit (kebiasaan) dipahami sebagai perilaku yang dilakukan secara
berulang dan membentuk pola otomatis dalam kehidupan seseorang. Dalam Islam,
konsep habit memiliki padanan dalam istilah ‘amal shalih dan istiqamah,
yaitu konsistensi dalam melakukan kebaikan.
Perubahan Kecil Yang Memberikan Hasil
Yang Luar Biasa
James Clear dalam bukunya
Atomic Habits menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui proses pengulangan
yang terus-menerus, sehingga tindakan tersebut tidak lagi membutuhkan banyak
usaha atau kesadaran. Dalam pandangannya, kebiasaan adalah sistem kecil yang
membentuk hasil besar dalam jangka panjang. Kebiasaan bukan sekadar rutinitas,
tetapi mekanisme pembentuk karakter dan identitas seseorang melalui tindakan
kecil yang konsisten (James C, 2025).
Pendidikan Islam
menekankan bahwa pembiasaan merupakan metode efektif dalam internalisasi nilai.
Hal ini senada bahwa konsep pembiasaan dalam pendidikan Islam berakar pada
ajaran Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin.
Prinsip-prinsip pendidikan pada masa itu, seperti keteladanan, pembentukan
karakter, dan penyebaran ilmu pengetahuan,
relevan dengan pendidikan
modern (Kurniawanto E, 2025).
Hal ini sejalan dengan pendekatan
pendidikan dalam Al-Qur’an, seperti nasihat Luqman kepada anaknya yang
menekankan keteladanan, dialog, dan pembiasaan moral sebagai strategi
pendidikan karakter (Salsabila S dkk, 2025). Dengan demikian, habit dalam
perspektif Islam bukan sekadar rutinitas, tetapi proses spiritualisasi perilaku
yang berakar pada iman dan bermuara pada akhlak mulia.
Relasi Iman, Ibadah, dan Akhlak dalam Pembentukan Kebiasaan
Iman, ibadah, dan akhlak merupakan
tiga dimensi yang tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan Islam. Iman berfungsi
sebagai fondasi keyakinan, ibadah sebagai manifestasi praktik, dan akhlak
sebagai hasil nyata dalam kehidupan sehari-hari. Relasi ketiganya bersifat
kausal dan integratif, ketika siswa memiliki iman yang kuat maka akan mendorong
perilaku ibadahnya. Disinilah ibadah akan memperkuat iman itu sendiri.
Selanjutnya ketika iman dan ibadah sudah terinternalisasi dalam diri siswa,
maka akan melahirkan akhlak yang mulia.
Dalam konteks pendidikan
kontemporer, pendekatan ini menuntut integrasi antara aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik. Pembelajaran dan pembiasaan tidak cukup hanya mentransfer
pengetahuan agama, tetapi harus menginternalisasikan nilai melalui pengalaman
nyata dan pembiasaan berkelanjutan.
Integrasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Dalam Pendidikan
Islam
Integrasi ini bertujuan untuk lebih
menginternalisasikan dalam diri siswa tentang 7 KAIH dengan nilai iman dan
akhlak dalam pendidikan Islam. a) Bangun pagi, merupakan disiplin spiritual
yang bukan sekadar rutinitas biologis, tetapi merupakan latihan kedisiplinan
spiritual yang terkait dengan ibadah seperti shalat Subuh. Kebiasaan ini
melatih tanggung jawab, ketepatan waktu, dan kesadaran akan kewajiban kepada
Allah. b) Beribadah, merupakan fondasi habit Islami. Didalamnya terdapat
perilaku seperti shalat, dzikir, dan mengaji yang dilakukan siswa dengan penuh
kesadaran, konsistensi dan keikhlasan. c) Berolahraga, keseimbangan jasmani dan
ruhani sangat didorong dalam Islam. Olahraga menjadi bagian dari habit yang
mendukung optimalisasi ibadah dan aktivitas kehidupan. d) Makan sehat dan bergizi,
secara pendidikan Islam menjelaskan bahwa etika konsumsi Islami atau kebiasaan
makan dalam Islam tidak hanya terkait kesehatan, tetapi juga nilai halal dan thayyib.
Halal merujuk pada keabsahan hukum, memastikan makanan diperoleh dengan cara
yang sah dan zatnya diizinkan syariat, sementara Tayyib merujuk pada kualitas,
kebersihan, dan manfaat gizi. Dengan seperti ini maka akan melahirkan generasi
penerus bangsa yang berkarakter, unggul dan berdaya saing. Untuk memenuhi gizi
anak dapat dimulai sejak anak dalam janin dimana orang tua memakan makanan yang
bergizi dan seimbang
Penutup
Rekonstruksi 7 kebiasaan anak
Indonesia hebat dalam perspektif pendidikan Islam kontemporer menunjukkan bahwa
habit tidak dapat dipisahkan dari iman dan akhlak. Kebiasaan yang dibangun
tanpa landasan spiritual berpotensi menjadi rutinitas kosong, sedangkan
kebiasaan yang berbasis iman akan melahirkan karakter yang kuat dan
berkelanjutan.
Pendidikan Islam memiliki
peran strategis dalam mengintegrasikan habit, iman, dan akhlak melalui
pendekatan pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman nyata. Dengan demikian, siswa
tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan
moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan zaman.
Menyambut hari Pendidikan
Nasional 2026 yang mengambil tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan
Pendidikan Bermutu Untuk Semua”, kita sangat menaruh harapan besar terhadap mutu
pendidikan nasional. Semoga Gerakan 7 KAIH yang sudah dicanangkan oleh Prof.
Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed-Kemendikdasmen dan sudah dilaksanakan di satuan
pendidikan menjadi ikhtiar bersama dalam mewujudkan karakter siswa.
Referensi
Clear, J. (2025). Atomic Habits:
Perubahan kecil yang memberikan hasil luar biasa (Terjemahan) edisi
kesebelas. Gramedia Pustaka Utama.
Eko Kurniawanto. (2025). Transformasi
Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library
Research: pendidikan pembiasaan. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, 3(2),
16–34. https://doi.org/10.61132/jbpai.v3i2.1000
Lickona, T. 2013. Pendidikan
Karakter. Bandung: Nusa Media
Munawaroh, H., Nada, N. K., Hasjiandito, A., Faisal, V. I. A.,
Heldanita, H., Anjarsari, I., & Fauziddin, M. (2022). Peranan Orang Tua
Dalam Pemenuhan Gizi Seimbang Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Pada Anak Usia
4-5 Tahun. Sentra Cendekia, 3(2). https://doi.org/10.31331/sencenivet.v3i2.2149
Salsabila, S., Alviona, C., Harahap, E.
N., & Yusriyah. (2025). Pendidikan Islam Kontemporer Dalam Nasehat
Luqman. IHSANIKA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(2),
362–377. https://doi.org/10.59841/ihsanika.v3i2.2738
Sindi, A., & Suniarti, N. (2025).
Hubungan Iman, Ibadah dan Akhlak Dalam Perspektif Pendidikan Islam. Edusiana:
Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(2), 291–300. https://doi.org/10.70437/edusiana.v3i2.1651
Sinulingga, N. N. (2025).
MEMBANGUN KARAKTER SEHAT DAN BERAKHLAK MULIA MELALUI 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA
HEBAT. Tarbiyatuna, 9(1).
.png)
0 Comments