Revitalisasi Nilai Gotong Royong dalam Dunia Pendidikan di Era Modern

SEFIRA PUTRI SALSABILA

Pendahuluan

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei menjadi momen penting untuk melihat kembali bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus atau memahami materi pelajaran, tetapi juga tentang membentuk karakter dan sikap sosial peserta didik (Kemendikbud, 2022). Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, dunia pendidikan menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah mulai berkurangnya rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di kalangan generasi muda.

Saat ini teknologi berkembang sangat cepat. Banyak aktivitas dilakukan secara digital, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Walaupun teknologi memberikan banyak manfaat, ada juga dampak yang dirasakan dalam kehidupan sosial. Banyak orang menjadi lebih sibuk dengan dunia masing-masing sehingga budaya saling membantu perlahan mulai berkurang. Hal ini juga terlihat di lingkungan pendidikan, misalnya siswa yang kurang peduli terhadap teman, sulit bekerja sama, atau lebih mementingkan diri sendiri.

Padahal, Indonesia sejak dulu dikenal memiliki budaya gotong royong. Nilai ini merupakan salah satu ciri khas masyarakat Indonesia yang mengutamakan kerja sama, tolong-menolong, dan rasa kebersamaan. Dalam kehidupan masyarakat, gotong royong biasanya terlihat saat kerja bakti, membantu tetangga yang sedang punya acara, atau membantu warga yang sedang mengalami kesulitan. Budaya seperti ini sebenarnya sangat baik karena dapat mempererat hubungan antar masyarakat.

Sayangnya, budaya gotong royong mulai mengalami penurunan, terutama di kalangan anak muda. Banyak siswa lebih fokus pada kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Jika hal ini terus dibiarkan, maka rasa peduli terhadap sesama bisa semakin hilang. Oleh karena itu, pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2026, penting bagi dunia pendidikan untuk kembali menanamkan nilai gotong royong kepada generasi muda agar karakter sosial mereka tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Isi

Gotong royong sebenarnya masih bisa diterapkan dalam dunia pendidikan melalui hal-hal sederhana. Contohnya seperti kerja kelompok, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, kegiatan sosial, atau saling membantu teman yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan seperti ini terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter siswa.

Dalam proses pembelajaran, kerja sama sangat penting karena manusia pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri. Ketika siswa belajar bekerja sama, mereka juga belajar menghargai pendapat orang lain, membagi tanggung jawab, dan menyelesaikan masalah bersama-sama (Jurnal Pendidikan Karakter, 2021). Nilai seperti ini sangat dibutuhkan, bukan hanya di sekolah tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja nantinya.

Namun kenyataannya, budaya gotong royong saat ini mulai menurun. Banyak siswa lebih fokus pada nilai pribadi dibandingkan kebersamaan. Ada yang enggan membantu teman karena takut tersaingi, ada juga yang lebih memilih sibuk dengan handphone dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Hal kecil seperti kurangnya sapaan antar teman atau tidak peduli ketika ada teman yang kesulitan juga menunjukkan bahwa rasa kebersamaan mulai berkurang.

Menurut saya, salah satu penyebab menurunnya budaya gotong royong adalah perubahan gaya hidup masyarakat modern. Sekarang banyak orang lebih terbiasa melakukan semuanya sendiri. Selain itu, media sosial juga membuat sebagian anak muda lebih aktif di dunia maya dibandingkan kehidupan nyata. Akibatnya, interaksi sosial secara langsung menjadi berkurang.

Lingkungan pendidikan sebenarnya memiliki peran besar untuk mengatasi masalah tersebut. Sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga tempat membentuk karakter siswa. Karena itu, sekolah perlu menciptakan budaya yang mendorong siswa untuk saling membantu dan peduli terhadap sesama.

Guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai gotong royong. Guru tidak hanya bertugas mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberi contoh sikap yang baik kepada siswa. Misalnya guru menunjukkan sikap ramah, menghargai pendapat siswa, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Sikap guru seperti itu akan menjadi contoh yang baik bagi peserta didik.

Selain itu, guru juga bisa menerapkan pembelajaran yang melibatkan kerja sama antar siswa. Contohnya seperti diskusi kelompok, presentasi bersama, atau proyek kelas. Dari kegiatan tersebut siswa belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai sendiri, tetapi bisa dicapai melalui kerja sama dengan orang lain.

Sekolah juga dapat mengadakan kegiatan yang melatih rasa kebersamaan, seperti kerja bakti, kegiatan sosial, atau bakti lingkungan. Walaupun terlihat sederhana, kegiatan seperti itu bisa membuat siswa lebih peduli terhadap lingkungan dan teman-temannya. Misalnya ketika siswa membersihkan kelas bersama-sama, mereka belajar tentang tanggung jawab dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Selain sekolah, keluarga juga memiliki pengaruh yang besar dalam menanamkan budaya gotong royong. Anak yang sejak kecil dibiasakan membantu orang tua di rumah biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain. Hal sederhana seperti membantu membersihkan rumah, menjaga adik, atau ikut kegiatan masyarakat dapat menjadi bentuk pembelajaran gotong royong sejak dini.

Menurut Jurnal Ilmu Pendidikan (2020), pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kerja sama antara sekolah dan keluarga sangat penting agar nilai gotong royong dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Di era digital sekarang, gotong royong sebenarnya masih bisa diterapkan dengan cara yang lebih modern. Misalnya siswa bekerja sama membuat proyek digital, membuat konten edukasi, atau melakukan kegiatan sosial melalui media online. Teknologi tidak selalu memberikan dampak negatif, tergantung bagaimana cara menggunakannya. Jika digunakan dengan baik, teknologi justru bisa membantu memperkuat kerja sama antar siswa.

Menurut saya, nilai gotong royong tetap penting dipertahankan karena budaya ini merupakan identitas bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan suka membantu sesama. Jika generasi muda mulai kehilangan nilai tersebut, maka lama-kelamaan budaya gotong royong bisa hilang.

Selain itu, gotong royong juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Di masa depan, siswa akan hidup di lingkungan kerja dan masyarakat yang membutuhkan kemampuan bekerja sama. Orang yang hanya mementingkan diri sendiri biasanya akan sulit beradaptasi dengan lingkungan sosial. Karena itu, membiasakan gotong royong sejak di bangku sekolah menjadi hal yang penting.

Saya juga pernah melihat sendiri bagaimana kerja sama bisa membuat suatu pekerjaan menjadi lebih mudah. Saat ada kegiatan bersih-bersih kelas atau acara sekolah, pekerjaan terasa cepat selesai jika semua siswa ikut membantu. Namun jika hanya beberapa orang yang bekerja sedangkan yang lain diam saja, suasana menjadi kurang nyaman. Dari situ saya menyadari bahwa gotong royong bukan hanya soal membantu pekerjaan, tetapi juga tentang rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.

Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan yang baik bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Pendidikan harus mampu menghasilkan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki rasa peduli, empati, dan semangat kebersamaan.

Penutup

Revitalisasi nilai gotong royong dalam dunia pendidikan merupakan hal yang penting untuk dilakukan, terutama di era modern seperti sekarang. Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup memang membawa banyak kemajuan, tetapi jangan sampai membuat generasi muda kehilangan rasa peduli terhadap sesama.

Melalui pendidikan, nilai gotong royong dapat kembali ditanamkan kepada siswa melalui kegiatan kerja sama, kegiatan sosial, dan pembiasaan sikap saling membantu di lingkungan sekolah maupun keluarga. Guru, orang tua, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga budaya tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Jika budaya gotong royong terus diterapkan, maka dunia pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Dengan begitu, semangat kebersamaan sebagai ciri khas bangsa Indonesia akan tetap terjaga untuk generasi berikutnya.

Referensi

Kemendikbud. 2022. Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta: Kemendikbud.

Universitas Negeri Yogyakarta. 2021. “Penerapan Nilai Gotong Royong dalam Pendidikan Karakter Siswa.” Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 11 No. 2.

Universitas Pendidikan Indonesia. 2020. “Peran Pendidikan dalam Menanamkan Nilai Sosial dan Kebersamaan.” Jurnal Ilmu Pendidikan.

 


Post a Comment

0 Comments